Mag-log inWajah Sandra mendadak membeku.Matanya membelalak, lalu dia berbalik hendak pergi."Tunggu."Julian berhasil meraih pergelangan tangannya tepat pada waktunya."Apa maksudmu ini?"Rasa jijik melintas di mata Sandra, dan dia berusaha melepaskan diri.Julian tetap mencengkeramnya. "Nanti malam setelah pulang kerja, kita bicara sambil minum."Sandra melepaskan tangannya dan berjalan keluar.Dia tidak mengatakan iya.Tetapi juga tidak menolak.Julian memandangi punggungnya, pupil matanya sedikit menyempit.Malam harinya, Julian menunggu Sandra di sebuah bistro. Tak lama kemudian, Sandra masuk dengan mengenakan gaun lengan pendek berwarna biru muda."Sandra."Julian berjalan menghampirinya. Sandra melihat ke sekeliling, lalu ketika melihatnya, raut wajahnya sedikit muram.Dia melangkah mengikuti Julian ke meja dan duduk.Ini pertama kalinya dia datang ke bistro ini. Dia mengamati sekeliling, suasananya tenang.Setelah duduk, Julian berkata, "Mau minum apa? Sashimi di sini enak, mau coba?"Sa
"Kalau ada yang terasa sakit, bilang saja padaku, jangan ditahan-tahan."Mario menatapnya dengan mata perhatian dan penuh kasih sayang, membimbingnya.Amanda tidak ingin mengatakan apa-apa. "Aku benar-benar lelah."Setelah mengatakannya, dia memejamkan mata.Berbagai peristiwa yang terjadi belakangan ini melintas di benaknya, dan dia menegaskan, "Farrel, Viola, Kartika ... Michael juga, aku nggak akan membiarkan satu pun dari mereka lolos."Tangan besar Mario menepuk lengannya, berkata dengan lembut, "Serahkan padaku."Amanda tidak hanya mencari alasan saja.Dia memang sangat lelah.Setelah menghabiskan supnya, dia minum obat, yang membuatnya merasa mengantuk.Setiap kali suasana hatinya buruk, dia juga merasa sangat mengantuk.Ketidakpedulian dan kekejaman orang tuanya bagaikan mesin penggiling daging, mencabik-cabik hatinya hingga hancur.Dia lelah.Lelah jiwa dan raga.Tak lama kemudian, Amanda tertidur lelap. Mario memandangi wajahnya yang tertidur, matanya sedikit meredup.Pengawa
Hanya dalam sekejap, dia menjadi dingin dan tanpa ampun."Kembalikan uangnya!"Ketika suaranya terdengar, Maya dan Rendra tampak terkejut dan menoleh ke arah suaranya.Ryan tampak ketakutan.Gawat!Uangnya akan melayang.Ketika Mario melihatnya datang, dia sedikit terkejut, lalu berjalan cepat menghampirinya.Amanda menekan tombol kursi roda listriknya, melaju ke depan.Dia berjalan ke arah Mario, dan Mario berjalan ke arahnya.Akhirnya, mereka berhenti bersamaan."Kenapa kamu ke sini?"Mata Mario tampak suram. Pasti Amanda mendengar semuanya.Amanda segera menyembunyikan emosi di matanya. "Kalau aku nggak ke sini, aku nggak bisa mendengar kata-kata yang tulus itu."Dia perlahan menatap pasangan tua di belakang Mario.Dia sudah sejak kecil tahu bahwa dirinya tidak dicintai.Namun, dia selalu mengira orang tuanya bukan tidak menyayanginya, tetapi hanya lebih menyayangi Ryan saja.Namun, kata-kata barusan memberinya jawaban.Dia tidak pernah dicintai.Tidak peduli dengan siapa atau apa p
Mario melontarkan kata-kata itu dengan nada dingin, lalu berbalik hendak pergi.Plak!Punggungnya terasa sakit.Kartika yang marah mengambil majalah dan melemparkannya dengan keras ke punggung Mario."Mario, aku tantemu, keluargamu sendiri. Tega-teganya kamu begitu kepadaku!""Cuma demi seorang wanita. Kamu mau bermusuhan dengan seluruh keluarga cuma karena seorang wanita?!"Kartika menanyai dengan marah, suaranya serak karena emosi.Mario tidak menoleh. "Dia wanitaku."Jawaban singkat itu terdengar tegas dan mendalam.Seperti batu besar jatuh ke permukaan laut, menimbulkan gelombang besar.Mario keluar dari bangsal.Rendra sekeluarga sangat cemas dan tidak bisa berkutik. Begitu melihatnya keluar, mereka segera menghampiri."Mario, atas dasar apa kamu menahan kami!""Ya, ini menyalahi hukum. A-aku akan melaporkanmu!""Kakak Ipar, kami datang ke sini cuma mau bicara dengan Nyonya Kartika, kamu nggak boleh begini kepada kami."Ketiganya berbicara serempak, sangat riuh."Diam!"Mario mena
Amanda mendengar langkah kakinya menjauh, dan hatinya merasa sedikit gelisah.Tak lama kemudian, dia menerima pesan dari Mario.[Aku pergi dulu sebentar.]Amanda merasa curiga dan memanggil pengawal dari luar."Dokter Mario pergi ke mana?"Pengawal tidak berani menjawab secara langsung."Dia menerima telepon sebelum pergi, entah ke mana."Amanda tahu pengawal itu menyembunyikannya."Kalau kamu nggak mau bilang, aku cari sendiri saja."Pengawal itu pun terlihat bingung."Ini ...."Saat itu, Mario sudah sampai di lantai atas, di kamar rawat Kartika.Tepat sekali.Maya dan Rendra keluar dari dalam dengan senyum gembira, dan terkejut melihat Mario di depan pintu."Sedang apa kalian?"Mario bertanya dengan suara dingin.Maya dan Rendra merasa bersalah, menarik Ryan dan berusaha melarikan diri."Hentikan mereka!"Ekspresi Mario tampak tegas.Pengawal di belakangnya maju ke depan dan menghentikan mereka.Wajah mereka pucat. "Mario, m-mau apa kamu?""Kami cuma berbincang sebentar dengan tantem
Siapa sangka, Amanda ternyata begitu kejam, berani memutuskan hubungan dengan mereka dan mengatakan tidak akan memberi uang sepeser pun.Karena memang begitu, dia tidak perlu segan lagi!Sandra yang sedang lewat mendengar percakapan mereka, lalu berhenti dan menatap mereka."Kalian orang tua Amanda?""Ya, kami orang tuanya. Siapa kamu?" Rendra menatapnya dengan waspada.Sandra mengedipkan mata dan tersenyum tipis. "Aku teman Dokter Mario. Aku turut prihatin karena Amanda terluka, tapi Amanda juga menusuk Tante Kartika, tantenya Mario.""Dia sekarang masih dirawat di kamar rawat inap pribadi di lantai atas."Setelah selesai mengatakan itu, Sandra beranjak pergi.Sambil memandangi punggungnya, Rendra tampak merenung dan tiba-tiba menangkap informasi penting."Ayo, kita ke atas. Tagih ganti ruginya ke Kartika!"Amanda melihat raut wajah Mario yang garang, lalu setengah bercanda berkata, "Dokter Mario tadi gagah sekali.""Kendalikan dirimu, jangan terlalu terpesona." Bibir tipis Mario ters







