Home / Romansa / Pelakor itu Adikku / Bab 107. Tidak menyerah

Share

Bab 107. Tidak menyerah

Author: Rina Novita
last update Huling Na-update: 2025-07-28 20:52:40

Nadine termenung sendiri di atas ojek online yang membawanya pulang malam itu. Tangan kanannya masih dibalut perban tipis, padahal hanya lecet kecil karena sempat menyentuh aspal saat ia menjatuhkan diri secara dramatis di depan mobil Felix. Tapi bukan lukanya yang sakit, melainkan harga dirinya.

Kenapa sih dia dingin banget?

Apa aku kurang cantik? Kurang anggun? Kurang menarik?

Nadine menggigit bibir. Matanya menatap kosong dari balik helm milik abang ojek. Ia tidak habis pikir bagaimana bisa Felix menolak pesonanya begitu saja. Padahal ia sudah memainkan semua strategi yang biasanya berhasil, senyuman manis, tatapan sedih, bahkan kisah dramatis tentang Alma.

Begitu sampai di kost, Nadine langsung masuk ke kamar dan membanting tasnya ke atas kasur. Ia menatap cermin lama-lama.

Aku masih Cantik, kan? Masih oke banget, kok. Harusnya dia terpesona.

Malam itu Nadine tidak bisa tidur. Ia menyusun rencana baru. Besok ia harus tampil maksimal. Ia akan tunjukkan pada semua orang bahwa di
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (4)
goodnovel comment avatar
Nancy
Dr Felix akan lebih tegas dengan Nadine. lanjut ceritanya
goodnovel comment avatar
Sri Suharmi
kalo felix sampai jatuh dalam perangkap Nadine.... dah.... berarti si Nadine memang hebaat..... kasihan si almanya... masak kalah terus sama nadine...
goodnovel comment avatar
Yuli Faith
dia yg g nyadar......dirinya yg murahan di ingetin tapi g terima.....dasar sok cantik......
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Pelakor itu Adikku   Bab 205. Penyatuan Dua Hati

    “Arhan kabur dari rumah sakit!” Suara Septiana di seberang telepon membuat jantung Alma serasa berhenti berdetak. Ia berdiri terpaku di depan mobil, jemarinya yang memegang ponsel bergetar pelan. “Apa? Kapan kejadiannya?” tanyanya cepat. “Baru setengah jam yang lalu,” jawab Septiana, napasnya terdengar terburu-buru. “Tim kami sedang menyisir area sekitar. Sepertinya dia keluar lewat jalur belakang tanpa diketahui petugas jaga.” Alma menelan ludah. Suaranya lirih saat bertanya, “Apa dia berbahaya, Ana? Maksudku … kondisi mentalnya?” Septiana menghela napas. “Sebenarnya Arhan sudah menunjukkan kemajuan. Dia mulai tenang, mulai bisa berkomunikasi dengan baik. Tapi proses pemulihan mental tidak selalu linier. Bisa jadi tekanan emosional memicunya untuk bertindak impulsif. Meski begitu, aku yakin dia tidak akan menyakiti siapa pun.” Alma menunduk, berusaha menenangkan diri. “Aku hanya khawatir ... sebentar lagi acara pernikahanku. Aku takut dia datang dan membuat masalah.” “Tena

  • Pelakor itu Adikku   Bab 204. Tinggal hitungan hari

    Alma dan Felix serempak menoleh ke arah suara yang memanggil mereka. Seorang pria paruh baya dengan jas dokter berwarna putih mendekat dengan senyum ramah. Rambutnya sudah mulai memutih di sisi pelipis, namun tatapan matanya tajam dan berwibawa. “Dokter Alma, akhirnya saya bisa bertemu langsung dengan dokter yang selama ini sering dibicarakan di kalangan medis,” ucapnya dengan nada hangat. Felix segera tersenyum dan memperkenalkan. “Alma, ini Dokter Frans, dokter senior di Majestic Hospital. Beliau sudah lama menjadi konsultan di bidang onkologi dan juga anggota dewan kehormatan rumah sakit ini.” “Senang sekali bisa bertemu, Dokter Frans,” sahut Alma sopan, menyalami tangan pria itu. Frans terkekeh. “Ah, saya yang lebih senang, Dokter Alma. Siapa, sih, yang tidak kenal dengan Anda? Dokter muda berbakat yang berhasil menyelamatkan nyawa banyak pasien di RS Annisa. Kalau Dokter Alma bisa praktek di Majestic Hospital, saya yakin pasien akan berbondong-bondong datang ke sini. Nama Maj

  • Pelakor itu Adikku   Bab 203. Lebih Bijaksana

    Sore itu, ruang kerja Vico dipenuhi aroma kopi yang baru saja diseduh oleh Felice. Meja besar di tengah ruangan dipenuhi berkas-berkas tender dan laporan hasil kerja. Di salah satu sisi ruangan, Leonard berdiri bersandar pada dinding, tangan dimasukkan ke saku celana, sementara Vico duduk di kursinya dengan wajah serius. “Leonard, ayah butuh bantuanmu,” ujar Vico membuka pembicaraan, suaranya terdengar tegas. Leonard mengangkat alis. “Bantu apa, Yah?” Vico menatap Leonard lurus-lurus. “Ayah ingin kamu undang Alma makan malam. Ayah ingin mengenalnya lebih dekat. Lagipula, ayah rasa dia cocok untukmu.” Leonard memutar pandangannya, menatap ke luar jendela beberapa detik sebelum berbalik kembali. “Maksud Ayah?” Vico menghela napas. “Kau tahu kan, Alma yang menyelamatkan perusahaan kita. Ayah ingin membalas budi. Dan ayah pikir, kalau kau bisa bersama dengan Alma … hubungan bisnis kita akan semakin kuat. Sekaligus ayah tahu, Alma perempuan luar biasa. Ayah tidak ingin dia jat

  • Pelakor itu Adikku   Bab 202. Rencana Vico

    Alma turun dari panggung matanya masih memandang ke arah hadirin yang masih berdiri. MC akhirnya menutup acaraa “Bapak-Ibu yang kami hormati, silakan menikmati hidangan yang telah disediakan di ruang prasmanan.” Suara obrolan di antara para pengusaha masih terdengar, deru langkah kaki melintas di aula. Para pengusaha dan hadirin mulai bergerak ke arah Alma, tersenyum dan menyapa. Beberapa orang berjabat tangan dengannya, mengucapkan selamat dan ingin berbincang lebih dekat. Alma pun menjawab dengan ramah, dengan senyum hangat ia bicara dengan sopan, sesekali menganngguk ramah. Ia tetap menjaga wibawa, tak terlalu melepas jarak, namun cukup dekat agar mereka merasa terhormat. Di kursinya, Vico dan Hilmawan masih terpaku. Vico mematung, bibirnya gemetar, matanya memandang ke panggung kosong yang baru saja ditinggalkan Alma. Hilmawan menoleh, lalu menunduk. Keduanya belum bergerak, seperti kaku di tempat masing-masing. Tak lama kemudian, Alma melirik jam tangannya, wajahnya seketik

  • Pelakor itu Adikku   Bab 201. Pemilik PT. Angkasa

    Lampu sorot berhenti pada sosok yang duduk di deretan tengah, agak ke belakang. Sejenak, semua orang menahan napas. Kursi-kursi berderit pelan saat kepala para tamu serentak menoleh. Wajah-wajah tegang, dahi berkerut, bahkan beberapa mulut terbuka lebar, tak percaya pada apa yang baru mereka saksikan. Sinar lampu jatuh tepat pada Alma Azzahra, duduk tenang dengan balutan dress hitam elegan dan blazer putih. “Tidak …” bisik Vico dengan suara tercekat. Tangannya meremas lutut, keringat dingin mulai membasahi pelipis. “Tidak mungkin perempuan itu … lampu itu pasti salah.” Ia menelan ludah dengan susah payah, tetapi sorot lampu tak bergeser sedikit pun. Jantungnya berdebar tak beraturan, seakan mau meloncat keluar dari tempatnya. Hilmawan, yang duduk tak jauh dari sana, ikut ternganga. Matanya melebar, tubuhnya sedikit condong ke depan. Sejak awal ia memang sempat curiga Alma punya kaitan dengan PT Angkasa, tapi cara bicara Alma yang selalu merendah membuatnya menepis dugaan itu. Kini,

  • Pelakor itu Adikku   Bab 200. Ketegangan Tiada Akhir

    Semua orang di dalam aula menahan napas. Tatapan penuh harap mengarah ke MC yang berdiri tegak di atas panggung dengan map hitamnya. Ia kembali membuka lembaran catatan, sementara suasana mendadak hening. “Lima perusahaan yang berhasil memenangkan tender ini adalah…” suaranya lantang namun penuh jeda, membuat detik-detik itu terasa semakin tegang. “Pertama, PT Gelora Mandiri milik Bapak Vico Mahesa.” Seketika, senyum lebar merekah di wajah Vico. Dagu terangkat, tatapannya berkilat penuh kemenangan. Ia menoleh ke arah Alma, menunjukkan senyum penuh kesombongan seakan ingin berkata, lihat sendiri kan, aku memang layak bersaing di sini. “Yang kedua, PT Sejati Abadi milik Bapak Hilmawan.” Hilmawan tersenyum percaya diri. Tangannya bersedekap, ekspresi puas jelas terpancar di wajahnya. Ia bahkan sempat melirik Alma, seolah menegaskan bahwa semua ucapannya tadi bukan sekadar kesombongan belaka. Tiga nama perusahaan lain pun diumumkan, dan suasana semakin riuh. Para hadirin bertepuk ta

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status