LOGINTiga tahun menikah, kudapati suami dan adikku berzina di tempat kerja mereka. Sakit dan hancur, aku pun mulai mempersiapkan serangkaian pembalasan untuk pengkhianatan keduanya. Kalau kumulai dengan berselingkuh juga, seharusnya tidak masalah, bukan?
View More"Meghan! Jawab Ayah!"
Suara itu berat dan menggema di ruangan berbatu yang dingin. Meghan tersentak, kepalanya yang sedari tadi menunduk lemas mendadak tegak. Rasa kantuk yang luar biasa berat seketika sirna, berganti dengan keterkejutan yang menghantam dada. Hal pertama yang ia rasakan adalah paru-parunya. Paru-paru itu terasa kosong, ringan, dan tidak menyakitkan. Tidak ada selang oksigen yang menusuk hidungnya, tidak ada bau obat-obatan yang menyesakkan, dan tidak ada bunyi beeping mesin jantung yang selama dua puluh tujuh tahun menjadi melodi kematiannya. 'Aku masih hidup?' "Meghan! Apa kau mengerti sekarang?!" Meghan mengerjapkan mata, menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya lilin yang temaram. Di depannya berdiri seorang pria paruh baya dengan jubah beludru tebal. Di dada kiri jubah itu, tersemat lencana perak berbentuk burung thrush. Simbol dari keluarga Baron Valerius, gelar bangsawan rendah kelas tiga yang hanya memiliki sebidang tanah kecil di perbatasan kerajaan. "Ayah?" Suara Meghan keluar, terdengar jauh lebih jernih dan kuat dari suara serak Nadira yang biasanya. Baron Valerius menggebrak meja kayu jati di hadapannya. "Jangan memasang wajah linglung begitu! Pernikahanmu dengan Carl, adalah satu-satunya cara agar keluarga kita tidak bangkrut. Tidak akan ada lagi bangsawan tinggi yang mau melirik putri seorang Baron miskin sepertiku!" Meghan terpaku. Pikirannya berputar hebat. Ia ingat saat-saat terakhirnya sebagai Nadira di rumah sakit, saat dengungan mesin terasa pengap di telinga. Lalu kegelapan. Ia memandangi tangannya. Kulitnya putih, halus, dan tidak ada bekas jarum infus. Ia bukan lagi Nadira yang penyakitan. 'Bagaimana bisa aku hidup lagi?' "Meghan! Jawab Ayah! Jangan hanya diam seperti patung!" Suara bentakan itu membuat kepalanya berdenyut hebat. Seketika, serpihan memori yang bukan miliknya merangsek masuk ke dalam benak seperti air bah. Ia melihat potongan-potongan fragmen kehidupan lain. Sebuah kastel tua yang lembap, gaun-gaun yang mulai usang, dan cermin yang menampakkan wajah seorang gadis muda yang cantik, tapi selalu terlihat tertekan. Dalam kilasan memori itu, ia mendengar orang-orang memanggilnya dengan satu nama. Meghan. Ia kini tahu siapa dirinya di dunia ini. Ia adalah Meghan Valerius, putri tunggal dari seorang bangsawan kelas rendah yang gelarnya nyaris tak dianggap di ibu kota. Melalui memori sisa dari pemilik tubuh aslinya, Nadira menyadari bahwa Meghan baru saja pingsan karena stres memikirkan perjodohan paksa ini, tepat sebelum jiwanya masuk dan mengisi raga yang kosong itu. Nadira, atau sekarang Meghan, mendongak, menatap pria paruh baya di depannya yang ia kenali melalui memori tubuh ini sebagai ayahnya. Ia menghirup udara dalam-dalam. Tidak ada aroma antiseptik, hanya bau kayu terbakar dari perapian dan debu yang menempel pada tirai beludru usang di ruangan ini. "Meghan! Kau mendengarku tidak?!" Baron Valerius melangkah mendekat, bayangannya yang besar menyelimuti Meghan di bawah cahaya lilin. "Carl memang anak selir, tapi dia memiliki akses ke perbendaharaan luar. Dengan mahar yang dia tawarkan, kita bisa memperbaiki atap kastel ini dan melunasi utang-utang pada pengumpul pajak." Meghan masih membisu. Ia tidak sedang memikirkan atap kastel yang bocor atau status Carl. Pikirannya justru tertambat pada memori terakhir sebelum kegelapan merenggutnya. Wajah seorang pria yang menatapnya dengan rasa kasihan sekaligus jijik, menolak cintanya hanya karena ia dianggap sebagai beban yang sebentar lagi akan mati. 'Tuhan, Kau benar-benar mengabulkan doaku?' "Kapan pertemuan itu akan dilakukan?" tanya Meghan pelan, suaranya terdengar begitu tenang hingga sang Baron sempat tertegun. "Malam ini. Di pesta perayaan musim gugur kerajaan. Kau harus tampil sempurna," jawab ayahnya. Baron Valerius mengembuskan napas panjang, pundaknya yang tegang tampak sedikit merosot. "Bagus. Aku akan menyuruh pelayan menyiapkan gaun sutra biru. Itu satu-satunya gaun yang masih terlihat layak untuk bersanding dengan keluarga istana." Meghan hanya mengangguk kecil, membiarkan ayahnya berlalu keluar dari ruangan batu yang lembap itu. Begitu pintu kayu berat tertutup dengan dentuman pelan, Meghan segera beranjak menuju sebuah cermin besar dengan bingkai perak yang sudah menghitam karena oksidasi. Ia terpaku menatap pantulan dirinya.Wajah di cermin itu bukanlah wajah Nadira yang pucat dengan kantung mata hitam yang dalam. Meghan memiliki tulang pipi yang tegas, bibir penuh yang kemerahan, dan sepasang mata tajam yang tampak sangat hidup. Ia menyentuh lehernya, area yang biasanya selalu ditempeli alat medis, kini terasa halus tanpa cela. "Meghan Valerius. Dua puluh dua tahun. Sehat. Dan sangat jauh dari kematian,” bisiknya mencicipi nama baru itu di lidahnya. *** Meghan meremas pinggiran jendela kereta hingga buku jarinya memutih, seolah sedang mencekik takdir yang baru saja menyeretnya ke tahun 1290 ini. Di luar sana, gerbang istana yang menjulang tinggi tampak seperti rahang raksasa yang siap menelannya bulat-bulat. Ia bukan lagi Nadira yang terbaring pasrah menunggu ajal di balik selimut rumah sakit. Ia adalah Meghan Valerius, dan malam ini ia masuk ke medan perang dengan tubuh yang akhirnya bisa ia perintah sepenuhnya. Begitu pintu kereta terbuka, ia turun dengan satu tujuan. Memastikan perjodohan hina dengan anak selir itu gagal sebelum fajar menyingsing. Namun, langkah kakinya membeku tepat di ambang pintu aula yang megah. Di tengah kerumunan bangsawan, berdiri seorang pria yang sedang tertawa dingin. Cahaya lilin yang bergetar memahat garis wajah yang selama ini menghantui mimpi buruk Nadira. Mata elang itu, cara pria itu memutar gelas perak di tangannya, bahkan seringai tipis yang meremehkan itu. Semuanya identik dengan wajah pria yang telah membunuh harapannya di kehidupan lalu. "Itu adalah Pangeran Mahkota Ralph. Pemilik takhta yang sesungguhnya. Jangan berani-berani menatap matanya," bisik ayahnya dengan nada hormat yang terselip rasa takut. Meghan menyipitkan mata. 'Mengapa wajahnya sama dengan lelaki yang menolakku?'“Arhan kabur dari rumah sakit!” Suara Septiana di seberang telepon membuat jantung Alma serasa berhenti berdetak. Ia berdiri terpaku di depan mobil, jemarinya yang memegang ponsel bergetar pelan. “Apa? Kapan kejadiannya?” tanyanya cepat. “Baru setengah jam yang lalu,” jawab Septiana, napasnya terdengar terburu-buru. “Tim kami sedang menyisir area sekitar. Sepertinya dia keluar lewat jalur belakang tanpa diketahui petugas jaga.” Alma menelan ludah. Suaranya lirih saat bertanya, “Apa dia berbahaya, Ana? Maksudku … kondisi mentalnya?” Septiana menghela napas. “Sebenarnya Arhan sudah menunjukkan kemajuan. Dia mulai tenang, mulai bisa berkomunikasi dengan baik. Tapi proses pemulihan mental tidak selalu linier. Bisa jadi tekanan emosional memicunya untuk bertindak impulsif. Meski begitu, aku yakin dia tidak akan menyakiti siapa pun.” Alma menunduk, berusaha menenangkan diri. “Aku hanya khawatir ... sebentar lagi acara pernikahanku. Aku takut dia datang dan membuat masalah.” “Tena
Alma dan Felix serempak menoleh ke arah suara yang memanggil mereka. Seorang pria paruh baya dengan jas dokter berwarna putih mendekat dengan senyum ramah. Rambutnya sudah mulai memutih di sisi pelipis, namun tatapan matanya tajam dan berwibawa. “Dokter Alma, akhirnya saya bisa bertemu langsung dengan dokter yang selama ini sering dibicarakan di kalangan medis,” ucapnya dengan nada hangat. Felix segera tersenyum dan memperkenalkan. “Alma, ini Dokter Frans, dokter senior di Majestic Hospital. Beliau sudah lama menjadi konsultan di bidang onkologi dan juga anggota dewan kehormatan rumah sakit ini.” “Senang sekali bisa bertemu, Dokter Frans,” sahut Alma sopan, menyalami tangan pria itu. Frans terkekeh. “Ah, saya yang lebih senang, Dokter Alma. Siapa, sih, yang tidak kenal dengan Anda? Dokter muda berbakat yang berhasil menyelamatkan nyawa banyak pasien di RS Annisa. Kalau Dokter Alma bisa praktek di Majestic Hospital, saya yakin pasien akan berbondong-bondong datang ke sini. Nama Maj
Sore itu, ruang kerja Vico dipenuhi aroma kopi yang baru saja diseduh oleh Felice. Meja besar di tengah ruangan dipenuhi berkas-berkas tender dan laporan hasil kerja. Di salah satu sisi ruangan, Leonard berdiri bersandar pada dinding, tangan dimasukkan ke saku celana, sementara Vico duduk di kursinya dengan wajah serius. “Leonard, ayah butuh bantuanmu,” ujar Vico membuka pembicaraan, suaranya terdengar tegas. Leonard mengangkat alis. “Bantu apa, Yah?” Vico menatap Leonard lurus-lurus. “Ayah ingin kamu undang Alma makan malam. Ayah ingin mengenalnya lebih dekat. Lagipula, ayah rasa dia cocok untukmu.” Leonard memutar pandangannya, menatap ke luar jendela beberapa detik sebelum berbalik kembali. “Maksud Ayah?” Vico menghela napas. “Kau tahu kan, Alma yang menyelamatkan perusahaan kita. Ayah ingin membalas budi. Dan ayah pikir, kalau kau bisa bersama dengan Alma … hubungan bisnis kita akan semakin kuat. Sekaligus ayah tahu, Alma perempuan luar biasa. Ayah tidak ingin dia jat
Alma turun dari panggung matanya masih memandang ke arah hadirin yang masih berdiri. MC akhirnya menutup acaraa “Bapak-Ibu yang kami hormati, silakan menikmati hidangan yang telah disediakan di ruang prasmanan.” Suara obrolan di antara para pengusaha masih terdengar, deru langkah kaki melintas di aula. Para pengusaha dan hadirin mulai bergerak ke arah Alma, tersenyum dan menyapa. Beberapa orang berjabat tangan dengannya, mengucapkan selamat dan ingin berbincang lebih dekat. Alma pun menjawab dengan ramah, dengan senyum hangat ia bicara dengan sopan, sesekali menganngguk ramah. Ia tetap menjaga wibawa, tak terlalu melepas jarak, namun cukup dekat agar mereka merasa terhormat. Di kursinya, Vico dan Hilmawan masih terpaku. Vico mematung, bibirnya gemetar, matanya memandang ke panggung kosong yang baru saja ditinggalkan Alma. Hilmawan menoleh, lalu menunduk. Keduanya belum bergerak, seperti kaku di tempat masing-masing. Tak lama kemudian, Alma melirik jam tangannya, wajahnya seketik
Ruang observasi dipenuhi ketegangan. Hingga operasi berakhir dengan keberhasilan Alma, semua masih berada di ruang observasi. Suasana masih hening, hingga salah satu dokter senior akhirnya membuka suara. “Dia berhasil …” gumam seorang dokter spesialis bedah otak senior yang tadi paling keras memu
Alma melangkah ke dapur, mengikuti Nadine yang terlihat pucat dan memegangi perutnya. Di dekat wastafel, Nadine kembali muntah-muntah meski Alma melihat tidak ada yang keluar dari mulutnya. “Nadine?” Alma bertanya pelan “Kamu kenapa? Sakit apa?”Nadine menoleh pelan, mengusap mulutnya dengan tisu.
Beberapa hari berikutnya, rutinitas berjalan seperti biasa. Arhan dan Nadine yang sempat panik setelah mendengar Alma membicarakan keinginannya untuk kembali bekerja, kini sudah mulai tenang. Toh, wanita itu masih sibuk dengan urusan rumah dan segala sesuatunya berjalan seperti biasa. Yah, walau a
Nadine tertegun sesaat saat melihat sosok wanita yang berdiri di hadapannya. Wajah itu tidak asing. Aura arogannya juga masih sama seperti terakhir kali mereka bertemu. Ferika, ibu Arhan. Tatapan Ferika langsung turun ke arah perut Nadine yang mulai menonjol di balik seragamnya. Sorot matanya taja






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews