Share

Ayo bercerai?

Penulis: Aqilazahra
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-29 00:53:38

Irisha malah tertawa keras melihat perubahan ekspresi suaminya.

“Om cemburu?” godanya, mata berbinar penuh provokasi.

Revan berusaha mengatur napas, tetapi menghadapi istri mudanya itu membuat kepalanya berdenyut.

“Cemburu? Tidak mungkin,” lanjut Irisha. “Lagipula kita tidak punya perasaan apa pun. Kita bebas melakukan apa saja. Kalau Om mau bermain perempuan di luar sana, aku tidak akan peduli.”

Revan mendelik. “Irisha, pernikahan bukan permainan. Kalau kau mau main-main, lebih baik kamu pergi.”

Irisha membelalakkan mata. “Oh, jadi Om ingin kita bercerai?” Ia melipat tangan, menantang. “Oke. Ayo bercerai sekarang.”

Citt—

Revan menginjak rem mendadak. Mobil berhenti mendadak, tubuh Irisha terhempas ke depan.

“Auw!” pekik Irisha, memegang bahunya yang terbentur.

Namun, Revan tak memberi kesempatan ia mengeluh. Dalam satu tarikan kasar, ia menarik tubuh Irisha hingga menempel pada dadanya. Napasnya memburu, rahangnya keras.

Sebelum Irisha sempat menepis, bibir Revan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kau Khianati Aku, Kunikahi Ayahmu    Ayo bercerai?

    Irisha malah tertawa keras melihat perubahan ekspresi suaminya. “Om cemburu?” godanya, mata berbinar penuh provokasi. Revan berusaha mengatur napas, tetapi menghadapi istri mudanya itu membuat kepalanya berdenyut. “Cemburu? Tidak mungkin,” lanjut Irisha. “Lagipula kita tidak punya perasaan apa pun. Kita bebas melakukan apa saja. Kalau Om mau bermain perempuan di luar sana, aku tidak akan peduli.” Revan mendelik. “Irisha, pernikahan bukan permainan. Kalau kau mau main-main, lebih baik kamu pergi.” Irisha membelalakkan mata. “Oh, jadi Om ingin kita bercerai?” Ia melipat tangan, menantang. “Oke. Ayo bercerai sekarang.” Citt— Revan menginjak rem mendadak. Mobil berhenti mendadak, tubuh Irisha terhempas ke depan. “Auw!” pekik Irisha, memegang bahunya yang terbentur. Namun, Revan tak memberi kesempatan ia mengeluh. Dalam satu tarikan kasar, ia menarik tubuh Irisha hingga menempel pada dadanya. Napasnya memburu, rahangnya keras. Sebelum Irisha sempat menepis, bibir Revan

  • Kau Khianati Aku, Kunikahi Ayahmu    Semuanya Berantakan

    “Menikah?” Reino langsung menepis cepat, suaranya penuh gelisah. “Van, aku tidak bisa. Bagaimana dengan pernikahanku dan Irisha?” Ucapan itu membuat Revan tersentak dan langsung melangkah maju. Sorot matanya berubah tajam, mana mungkin Irisha menikah dengan Reino, sedangkan Irisha masih berstatus istrinya sendiri. Dada Revan terasa panas, tapi ia menahan diri, hanya rahangnya yang mengeras. Namun, Vania tak goyah. “Pah …” Vania menoleh pada ayahnya, suaranya lirih memaksa. “Tolong … bilang pada Mas Reino. Bilang kalau dia harus menikahi aku.” Keheningan menggantung berat. Andika memejamkan mata sesaat, seperti sedang menahan malu, marah, dan takut jadi bahan omongan. Dita berdiri di sampingnya, wajahnya pucat. Ia tak berani menatap Revan, apalagi Andika. Akhirnya, Andika membuka mata. Tatapan itu menajam. “Vania … lebih baik kau gugurkan anak itu.” Kata-kata itu terlempar seperti cambuk. “Papah tidak mau orang-orang tahu. Kalian berdua sudah membuat malu! Memalukan!” “Ma

  • Kau Khianati Aku, Kunikahi Ayahmu    Kehamilan Vania

    “Vania … kenapa kau bodoh sekali. Kenapa harus datang ke sini? Bagaimana kalau mamah tahu dia sedang hamil?” Reino mengumpat dalam hati. Dita mengusap lembut pipi Vania. “Vania, ada apa, sayang? Apa kamu sakit, Nak.” “Mah, aku …” Belum sempat Vania melanjutkan, Reino langsung memotong cepat. “Hai, Van? Kenapa pulang nggak kabarin mas dulu?” sela Reino dipaksakan tenang, padahal ketakutan bergemuruh di dadanya. Vania menunduk perlahan ketika Reino mendekat. Begitu jarak mereka cukup dekat, Reino membungkuk sedikit, tampak seperti kakak yang peduli. “Kalau kau berani buka mulut di depan ibuku … aku tidak segan melukaimu, Vania.” bisiknya. Wajah Vania sontak memucat. Ancaman itu sudah Irisha duga yang sedari tadi memperhatikan. Ia segera melangkah mendekat, tak ingin rencananya berantakan. “Hai, Van …” Irisha menatap perut Vania dari atas ke bawah. Senyumnya miring. “Kamu pucat banget. Apa kamu lagi sakit atau … ah iya, kenapa perutmu makin besar ya sekarang?” Kata-kata

  • Kau Khianati Aku, Kunikahi Ayahmu    Hinaan Dita

    Revan hanya tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip luka daripada ekspresi. Ia bahkan tampak lupa kalau mereka menikah bukan karena cinta, tapi karena tanggung jawab yang menjerat keduanya tanpa pilihan. Tanpa menoleh lagi pada Irisha, ia mulai menyuap nasi gorengnya. Tenang. Diam. Seakan kata-kata Irisha barusan tidak berarti apa apa. Irisha mendelik kecil. “Kenapa dia diam saja? Harusnya marah. Atau minimal menjelaskan lebih panjang. Kok malah seenaknya acuh begitu sih?” Waktu sarapan berakhir dalam keheningan yang menyesakkan. Hanya suara sendok bertemu piring yang terdengar, itu pun jarang. Begitu selesai makan, Revan mengambil kunci mobil. “Aku ke rumah sakit dulu,” ucapnya singkat. Tanpa menunggu respon, ia pergi. Irisha memandang punggungnya menjauh, dan rasa kesal yang bercampur cemburu makin mengambang di dadanya. Ia mengembuskan napas panjang, kemudian berdiri dan merapikan meja makan. “Ya sudahlah,” gumamnya, meski hatinya berantakan. Tak lama kemudian, i

  • Kau Khianati Aku, Kunikahi Ayahmu    Kau Cemburu?

    Revan tiba-tiba mendorong tubuhnya sedikit ke depan. Tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk membuat Irisha otomatis menelan ludah. “O-om mau apa?” tanyanya terbata, suara kecilnya memantul di antara ketegangan yang mendadak menebal. Revan tidak menjawab. Ia hanya menunduk sedikit … lalu meraih ponselnya di samping Irisha. Gerakannya sederhana, tapi cukup untuk membuat gadis itu makin salah tingkah. “Memangnya aku mau ngapain? Kenapa otakmy jadi me-sum seperti itu, hmmm?”goda Revan. “Sial! Irisha, kau tidak boleh terpancing sama wajah tampan pria ini!” Ia membatin, memarahi dirinya sendiri yang bahkan sudah tidak berani menatap langsung ke arah Revan. Melihat istrinya kikuk begitu, Revan justru tanpa sadar menatapnya dengan sorot gemas, campuran geli, sayang, dan sesuatu yang membuat Irisha makin gelagapan kalau saja ia melihatnya. Revan buru-buru meraih bajunya. Sementara itu, Irisha masih saja mencuri pandang, matanya bergerak cepat namun tak bisa menahan diri untuk mengag

  • Kau Khianati Aku, Kunikahi Ayahmu    Membuat keduanya retak

    Keesokan paginya, begitu membuka mata, Revan terlonjak kecil melihat Irisha sudah bangun. Gadis itu duduk di tepi ranjang dengan wajah cemberut. “Kau sudah bangun?” tanyanya gugup, suaranya serak. “Sudah,” jawab Irisha ketus. “Sejak satu jam yang lalu.” Revan menggaruk kepala yang sama sekali tidak gatal. “Kenapa? Ada apa?” Irisha langsung mendelik. “Om benar-benar gila! Aku itu baru pertama kali melakukan ini, kenapa pas waktu aku tidur kau masih saja menyentuhku? Sakit tahu!” Revan hampir tertawa, baru menyadari sikap polos, dan sekaligus menyebalkan istri barunya ini. “Oke, oke. Maaf,” ujarnya pelan, mencoba menenangkan. “Aku nggak mau maafin,” balasnya manja sambil memalingkan wajah. Revan menghela napas panjang. “Lalu apa yang harus om lakukan supaya kamu mau maafin? Siapa suruh kasih om obat perang-sang?” Irisha menatapnya tajam, seperti sudah menyiapkan jawabannya sejak tadi. Ini kesempatan emas, dan ia tidak mau menyia-nyiakannya. “Aku kira itu tidak akan ada

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status