Chapter: Dokter YudaIrisha menepuk bahu Bi Inah pelan, berusaha menenangkannya. Setelah napas wanita paruh baya itu mulai teratur, Irisha kembali bertanya. “Bi … kenapa rumah bisa berantakan seperti ini?” tanyanya cemas. Bi Inah menelan ludah, matanya masih tampak ketakutan. “Tadi ada Den Reino ke sini, Neng. Dia … dia mengacak-acak semua isi rumah. Termasuk kamar atas,” jelasnya terbata. “Apa?!” pekik Revan. Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, Revan langsung setengah berlari menuju kamarnya. Perasaannya tak enak, ia yakin Reino mencari sesuatu yang penting. Begitu tiba, amarahnya langsung meledak. Pintu kamarnya terbuka paksa, lemari porak-poranda, dan barang-barang pribadinya bersama Irisha berserakan di lantai. “Kurang ajar! Reino, apa yang kau lakukan!” teriak Revan penuh amarah. Irisha menyusul dengan langkah hati-hati, mendekat ke arah suaminya yang masih sibuk membongkar lemari. “Om?” panggilnya pelan. Revan tampak kalut. Tangannya terus mengacak-acak laci, mencari map beri
آخر تحديث: 2026-01-13
Chapter: Ketakutan akan Kehamilan IrishaDita buru-buru menarik lengan Reino dan pergi meninggalkan ruangan dengan langkah cepat. Setelah mereka pergi, keheningan kembali menyelimuti ruangan. Udara terasa berat, menyisakan ketegangan yang belum sepenuhnya menguap. Revan menghampiri Irisha yang duduk di samping ibunya. Ia menunduk, memastikan istrinya baik-baik saja. “Van?” panggil sang ibu lirih. “Ya, Mah?” jawab Revan lembut. “Jaga Irisha dan kandungannya baik-baik,” ucapnya dengan suara bergetar. “Mamah nggak mau satu-satunya penerus keluarga kita sampai kenapa-kenapa.” Revan mengangguk. “Iya, Mah. Aku janji. Aku akan menjaga mereka berdua.” Sang ayah melangkah mendekat, wajahnya sarat kekhawatiran. “Van, Reino dan Dita, mereka berdua sangat ambisius dan keras kepala. Papah justru takut mereka bertindak nekat dan mencelakai Irisha.” Sebelum Revan sempat menjawab, Irisha lebih dulu angkat bicara. “Tenang, Pah,” katanya lembut. “Risha bukan perempuan yang lemah. Dan lagian ada Om Revan sudah berjanji menjag
آخر تحديث: 2026-01-11
Chapter: Hamil“Kau pria mandul!” Teriakan dari Reino, seolah menghancurkan benda apa saja yang ada di ruangan itu. Suasana mendadak membeku. Semua orang terpaku, termasuk kedua orang tua Revan yang tampak terpukul oleh ucapan itu. Namun, tidak dengan Irisha. Ia justru tertawa cekikikan, seolah menikmati kekacauan yang terjadi. “Mandul?” Ulang Irisha sambil menyeringai. “Ya!” Reino menunjuk Revan dengan penuh amarah. “Kalau aku bukan anak kandungnya … berarti selama ini pria itu memang mandul!” “Reino, jaga ucapanmu!” potong Dita tajam. Ia segera menarik lengan putranya, mencoba menghentikannya. “Cukup, Mah!” teriak Reino sambil menghempaskan tangannya. “Aku memang bukan anak Revan! Dia bukan ayahku!” Plak! Tamparan keras mendarat di pipi Reino. Dita gemetar, air mata menggenang di matanya, sementara ruangan itu kembali sunyi, sunyi yang penuh luka dan kehancuran. “Mah …,” ucap Reino terbata, suaranya melemah setelah tamparan itu. Dita menatapnya dengan mata bergetar, menahan a
آخر تحديث: 2026-01-10
Chapter: Kau Pria mandulKeributan kecil mulai terdengar. Semua mata tertuju pada mereka. Revan melangkah maju, berdiri tepat di hadapan Reino, menatapnya dengan sorot tajam yang menekan. “Apa yang mau kau lakukan?” tanyanya dingin, amarah terselip jelas di balik nadanya. “Menghancurkanmu!” jawab Reino tanpa ragu. Dita yang melihat emosi putranya semakin tak terkendali segera meraih tangan Reino dengan kuat. “Rei … Rei … tenang dulu,” ucapnya terburu-buru, berusaha menenangkan. “Ini pasti salah paham. Mamah yakin papahmu sedang keliru menilai kita.” “Salah paham?” Revan mengulang dengan nada sinis. Ia menatap Dita tanpa sisa kelembutan. “Dita, akhiri sandiwara ini. Katakan sekarang … siapa sebenarnya ayah kandung Reino.” “Mas, kau benar-benar sudah gila!” teriak Dita histeris. “Reino anak kandung kita! Kau justru percaya pada perempuan gila itu?” tudingnya kasar ke arah Irisha. Irisha tetap diam. Tatapannya lurus, tak gentar, seolah ia tahu, kebohongan yang dipertahankan Dita akan runtuh dengan
آخر تحديث: 2026-01-08
Chapter: Hadiah kejutan tak terdugaSebelum kain penutup itu dibuka, Revan sempat menatapnya dengan rasa penasaran yang tak bisa ia sembunyikan. Setahunya, hadiah untuk ayahnya hanya satu. Kejutan demi kejutan dari Irisha membuat dadanya terasa tak tenang. “Silakan buka!” perintah Irisha tegas. Kain penutup pertama disingkap perlahan. Seketika, kilau sebuah jam tangan mewah terpampang jelas, jam koleksi limited edition yang selama ini hanya menjadi impian sang mertua. Pria tua itu mendekat, matanya membesar tak percaya. “Irisha … Revan …” Suaranya bergetar. “Bukankah ini jam terbaru itu? Jam yang hanya ada tiga buah di dunia?” Irisha tersenyum kecil. “Benar, Pah. Irisha mencarinya cukup lama dan tidak mudah mendapatkannya,” balas Revan kali ini. Sang ayah terdiam beberapa detik, lalu wajahnya berubah haru. Ia melangkah mendekat dan memeluk Irisha erat. “Terima kasih, Nak,” ucapnya tulus. “Papah benar-benar sangat menghargai ini.” “Sama-sama, Pah,” jawab Irisha hangat. “Ayo Om, pasangkan di tan
آخر تحديث: 2026-01-07
Chapter: Sebuah Rencana besarSetibanya di kamar, Irisha mengepalkan tangannya erat. Dadanya naik turun menahan gejolak emosi yang bergemuruh. “Nyonya Dita … belum saatnya kau hancur,” bisiknya penuh dendam. “Tunggulah. Pembalasanku akan datang, dan aku akan membuat hidupmu hancur, sehancur-hancurnya.” Pintu kamar mandi terbuka. Revan yang baru saja selesai menatap wajah istrinya dengan sorot khawatir. “Kau menangis?” tanyanya pelan. Irisha segera menghapus sisa air mata di pipinya, lalu memaksakan senyum. “Tidak,” jawabnya cepat. “Ini … tangisan bahagia.” Revan menatapnya lekat, seakan ingin menembus kebohongan itu. “Kau yakin?” tanyanya lagi. Irisha mengangguk pelan, meski suaranya sedikit bergetar. “Ya … yakin.” Revan menariknya ke dalam pelukan hangat, lalu mengecup kening istrinya dengan lembut. “Apa mereka mengganggumu lagi?” tanyanya penuh perhatian. Irisha menggeleng ringan, senyum kecil tersungging di bibirnya. “Tidak. Justru aku yang mengganggu mereka.” Revan terkekeh kecil, men
آخر تحديث: 2026-01-06
Chapter: Ide yang GagalCalvin memejamkan mata perlahan, air mata luruh membasahi pipinya. Rasa sesal dan penyesalan begitu dalam mencengkeram hatinya. “Mas tahu hatimu masih cinta sama Mas, Sha. Maafin Mas, jika mengecewakan kamu.”“Mas,” ucap Visha akhirnya, suaranya bergetar menahan tangis.“Yah sayang,” jawab Calvin, suaranya terdengar parau.“Berjuanglah, luluhkan dan ...” Visha terdiam, kalimatnya terhenti di tengah jalan. Dia tidak tega untuk melanjutkan kalimatnya. Dia tahu, apa yang dia harapkan dari Calvin sangatlah sulit.“Mas akan berusaha,” jawab Calvin, suaranya terdengar lemah. Dia tahu, dia harus berjuang untuk mendapatkan kembali hati Visha. Namun, dia juga tahu, jalan yang harus dia tempuh tidaklah mudah.“Mas, aku percaya kamu bisa,” ucap Visha, tangannya menggenggam erat ponsel. Dia memberikan dukungan penuh kepada Calvin, meskipun hatinya terluka.“Terima kasih sayang,” ucap Calvin, dengan lega. Dia bersyukur memiliki Visha, wanita yang selalu ada di sisinya, mendukungnya dalam s
آخر تحديث: 2024-09-22
Chapter: Penyesalan CalvinCalvin terkejut dengan suara Asih, ibu mertuanya yang meninggi. “Turun!” perintah Asih. “B-baik, Bu.” Calvin menjawab, dia pun membuka pintu dan menghampiri Asih. “Bu, Visha ...” “Mulai sekarang, jangan kamu temui lagi Visha dan Kai. Mereka bahagia meski tanpa kamu, pria pengecut yang selalu termakan hasutan mantan kekasihmu.” Calvin lagi-lagi terkejut dengan ucapan Asih. “Bu ... tapi Visha dan Kai, bagian dari keluarga Calvin.” “Bagian dari keluarga kamu? Lalu ke mana saja saat anakku tadi menangis, bahkan dengan tega kamu mengusirnya?” “Bu, Calvin benar-benar minta maaf! Calvin janji tidak akan mengulangi hal ini lagi.” Calvin berusaha meminta maaf pada Asih, tetapi Asih tak luluh begitu saja. “Cukup! Tinggalkan anak saya sekarang juga!” “Bu,” panggil Visha, dia berdiri dengan tegak, bibirnya gemetar. “Sha, ayok pulang? Maaf, jika Mas tadi ...” “Mas, pulanglah!” Visha menunduk, air matanya menetes. Calvin terdiam, hatinya terasa sesak. Dia mencintai Visha dan
آخر تحديث: 2024-09-21
Chapter: Keputusan AsihGreta tersenyum licik. Dia pun menambahkan kata-kata lagi untuk meracuni pikiran Calvin. “Oh, jangan-jangan kamu sengaja menggoda Pak Cokro?”Visha tersentak. “Tutup mulutmu!” teriaknya. “Calvin ... Calvin, kamu mau saja ditipu oleh wanita ini! Padahal aku sudah mengantarkan Visha ke depan ruanganmu, tetapi kenapa dia malah pergi ke ruangan Pak Cokro!”“Hentikan ucapanmu, Mbak Greta!” Visha kesal. “Aku bahkan tidak mengenal pria itu!”“Owh yah?” Greta mencemooh. “Aku tidak yakin. Jangan-jangan kamu ...” “Greta, sebaiknya kamu pergi ke ruanganmu!” perintah Calvin, suaranya dingin.Calvin meleraikan pelukannya. Dia berjalan selangkah, hatinya cemburu dan terhasut oleh ucapan Greta. Pandangannya tertuju pada Visha yang berdiri terdiam, wajahnya memerah menahan amarah.“Visha, sebaiknya kamu pulang. Biar Bara yang antar kamu,” ucap Calvin, suaranya terdengar dingin.“Mas, aku ke sini hanya untuk bertemu dengan kamu. Aku bawain ...” Visha mencoba menjelaskan, tetapi Calvin langs
آخر تحديث: 2024-09-20
Chapter: Amarah CalvinTanpa merasa curiga, Visha masuk ke dalam ruangan itu. Dia duduk di sofa, sesekali menatap satu per satu ruangan yang tampak mewah. "Jadi ini ruangan kerja Mas Calvin," ucapnya bangga.Visha berjalan menuju jendela, menatap indahnya pemandangan dari atas gedung bertingkat lima. Angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya, membawanya pada lamunan tentang masa depan bersama Calvin."Semoga saja dengan kedatanganku kemari, Mas Calvin akan sangat bahagia," gumam Visha, matanya berkaca-kaca.Pada saat Visha sedang melamun, pintu ruangan terbuka dengan suara berderit. Seorang pria gendut berwajah garang terkejut dengan pemandangan wanita yang berbaju merah berdiri dengan anggunnya di dekat jendela."Wow, bukannya aku baru beberapa menit memesan wanita cantik? Rupanya Carles cepat sekali mendapatkan wanita cantik!" katanya sembari melangkah mendekati Visha.Visha yang sedang melamun tak menyadari gerakan langkah kaki yang mendekat. Dia tersentak kaget saat merasakan tangan kekar itu melingka
آخر تحديث: 2024-09-19
Chapter: Jebakan GretaVisha berjongkok di depan Kai, puteranya yang polos. Tangannya menggenggam erat tangan mungil Kai, mencoba menenangkan. "Sayang, Jangan berbicara seperti itu yah, Nak. Papah Calvin—""Stop Bunda, Om Superman bukan Papah Kai!" teriak Kai, suaranya bergetar menahan tangis."Nak!" Visha terkesiap, hatinya tersayat mendengar kata-kata putranya.Kai menghempaskan tangannya, dia berbalik mendekati Asih, neneknya. "Nek, Kai mau tinggal di sini sama Nenek, Kai tidak mau bertemu dengan Om jahat."Asih memeluk erat Kai, tangannya mengusap perlahan rambut Kai. "Sayang, ayok sekarang Kai cuci kaki dan kita berangkat sekolah. Nanti Nenek yang antar kamu ke sekolah."Kai mengangguk, matanya berkaca-kaca. Dia pun bergegas pergi meninggalkan Visha yang berdiri terpaku, air matanya menetes perlahan."Bu?" panggil Visha, suaranya terengah-engah. "Kamu harus bersabar, Kai masih trauma pada Ayahnya, biarkan dia tenang dulu!" kata Asih, lembut.Visha hanya bisa mengangguk, hatinya pedih meliha
آخر تحديث: 2024-09-18
Chapter: Pertengkaran berujung menyakitiVisha berdecak kesal, matanya menatap layar ponsel yang menampilkan pesan dari Calvin. Jari-jarinya menekan tombol Power, mematikan layar yang menampilkan pesan yang membuatnya geram.“Menyebalkan, apa kamu pikir aku butuh uangmu!” gerutu Visha, suaranya meninggi. Dia melempar ponselnya ke atas ranjang, kepalanya tertunduk lesu.Visha enggan untuk menelepon kembali Calvin, apalagi menjelaskannya. Perasaannya campur, antara kesal, kecewa, dan sedikit takut.“Huhh! Kenapa jadi seperti ini?” gumam Visha, lelah. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri.Asih kembali mendekati Visha. “Bagaimana, apa suami kamu mengizinkannya?” tanyanya, matanya penuh harap.Visha menggigit bibirnya, ragu untuk mengatakan yang sebenarnya. “Iyah Bu, Mas Calvin sudah mengizinkan Visha untuk menginap di rumah Ibu,” jawabnya berbohong.“Ya sudah, ayok bantu Ibu membereskannya rumah ini?” Asih tersenyum, tangannya terulur untuk menggenggam tangan Visha.Keduanya seharian membereskan ruma
آخر تحديث: 2024-09-17