Chapter: Ayo bercerai?Irisha malah tertawa keras melihat perubahan ekspresi suaminya. “Om cemburu?” godanya, mata berbinar penuh provokasi. Revan berusaha mengatur napas, tetapi menghadapi istri mudanya itu membuat kepalanya berdenyut. “Cemburu? Tidak mungkin,” lanjut Irisha. “Lagipula kita tidak punya perasaan apa pun. Kita bebas melakukan apa saja. Kalau Om mau bermain perempuan di luar sana, aku tidak akan peduli.” Revan mendelik. “Irisha, pernikahan bukan permainan. Kalau kau mau main-main, lebih baik kamu pergi.” Irisha membelalakkan mata. “Oh, jadi Om ingin kita bercerai?” Ia melipat tangan, menantang. “Oke. Ayo bercerai sekarang.” Citt— Revan menginjak rem mendadak. Mobil berhenti mendadak, tubuh Irisha terhempas ke depan. “Auw!” pekik Irisha, memegang bahunya yang terbentur. Namun, Revan tak memberi kesempatan ia mengeluh. Dalam satu tarikan kasar, ia menarik tubuh Irisha hingga menempel pada dadanya. Napasnya memburu, rahangnya keras. Sebelum Irisha sempat menepis, bibir Revan
Huling Na-update: 2025-11-29
Chapter: Semuanya Berantakan “Menikah?” Reino langsung menepis cepat, suaranya penuh gelisah. “Van, aku tidak bisa. Bagaimana dengan pernikahanku dan Irisha?” Ucapan itu membuat Revan tersentak dan langsung melangkah maju. Sorot matanya berubah tajam, mana mungkin Irisha menikah dengan Reino, sedangkan Irisha masih berstatus istrinya sendiri. Dada Revan terasa panas, tapi ia menahan diri, hanya rahangnya yang mengeras. Namun, Vania tak goyah. “Pah …” Vania menoleh pada ayahnya, suaranya lirih memaksa. “Tolong … bilang pada Mas Reino. Bilang kalau dia harus menikahi aku.” Keheningan menggantung berat. Andika memejamkan mata sesaat, seperti sedang menahan malu, marah, dan takut jadi bahan omongan. Dita berdiri di sampingnya, wajahnya pucat. Ia tak berani menatap Revan, apalagi Andika. Akhirnya, Andika membuka mata. Tatapan itu menajam. “Vania … lebih baik kau gugurkan anak itu.” Kata-kata itu terlempar seperti cambuk. “Papah tidak mau orang-orang tahu. Kalian berdua sudah membuat malu! Memalukan!” “Ma
Huling Na-update: 2025-11-27
Chapter: Kehamilan Vania “Vania … kenapa kau bodoh sekali. Kenapa harus datang ke sini? Bagaimana kalau mamah tahu dia sedang hamil?” Reino mengumpat dalam hati. Dita mengusap lembut pipi Vania. “Vania, ada apa, sayang? Apa kamu sakit, Nak.” “Mah, aku …” Belum sempat Vania melanjutkan, Reino langsung memotong cepat. “Hai, Van? Kenapa pulang nggak kabarin mas dulu?” sela Reino dipaksakan tenang, padahal ketakutan bergemuruh di dadanya. Vania menunduk perlahan ketika Reino mendekat. Begitu jarak mereka cukup dekat, Reino membungkuk sedikit, tampak seperti kakak yang peduli. “Kalau kau berani buka mulut di depan ibuku … aku tidak segan melukaimu, Vania.” bisiknya. Wajah Vania sontak memucat. Ancaman itu sudah Irisha duga yang sedari tadi memperhatikan. Ia segera melangkah mendekat, tak ingin rencananya berantakan. “Hai, Van …” Irisha menatap perut Vania dari atas ke bawah. Senyumnya miring. “Kamu pucat banget. Apa kamu lagi sakit atau … ah iya, kenapa perutmu makin besar ya sekarang?” Kata-kata
Huling Na-update: 2025-11-25
Chapter: Hinaan DitaRevan hanya tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip luka daripada ekspresi. Ia bahkan tampak lupa kalau mereka menikah bukan karena cinta, tapi karena tanggung jawab yang menjerat keduanya tanpa pilihan. Tanpa menoleh lagi pada Irisha, ia mulai menyuap nasi gorengnya. Tenang. Diam. Seakan kata-kata Irisha barusan tidak berarti apa apa. Irisha mendelik kecil. “Kenapa dia diam saja? Harusnya marah. Atau minimal menjelaskan lebih panjang. Kok malah seenaknya acuh begitu sih?” Waktu sarapan berakhir dalam keheningan yang menyesakkan. Hanya suara sendok bertemu piring yang terdengar, itu pun jarang. Begitu selesai makan, Revan mengambil kunci mobil. “Aku ke rumah sakit dulu,” ucapnya singkat. Tanpa menunggu respon, ia pergi. Irisha memandang punggungnya menjauh, dan rasa kesal yang bercampur cemburu makin mengambang di dadanya. Ia mengembuskan napas panjang, kemudian berdiri dan merapikan meja makan. “Ya sudahlah,” gumamnya, meski hatinya berantakan. Tak lama kemudian, i
Huling Na-update: 2025-11-24
Chapter: Kau Cemburu?Revan tiba-tiba mendorong tubuhnya sedikit ke depan. Tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk membuat Irisha otomatis menelan ludah. “O-om mau apa?” tanyanya terbata, suara kecilnya memantul di antara ketegangan yang mendadak menebal. Revan tidak menjawab. Ia hanya menunduk sedikit … lalu meraih ponselnya di samping Irisha. Gerakannya sederhana, tapi cukup untuk membuat gadis itu makin salah tingkah. “Memangnya aku mau ngapain? Kenapa otakmy jadi me-sum seperti itu, hmmm?”goda Revan. “Sial! Irisha, kau tidak boleh terpancing sama wajah tampan pria ini!” Ia membatin, memarahi dirinya sendiri yang bahkan sudah tidak berani menatap langsung ke arah Revan. Melihat istrinya kikuk begitu, Revan justru tanpa sadar menatapnya dengan sorot gemas, campuran geli, sayang, dan sesuatu yang membuat Irisha makin gelagapan kalau saja ia melihatnya. Revan buru-buru meraih bajunya. Sementara itu, Irisha masih saja mencuri pandang, matanya bergerak cepat namun tak bisa menahan diri untuk mengag
Huling Na-update: 2025-11-22
Chapter: Membuat keduanya retak Keesokan paginya, begitu membuka mata, Revan terlonjak kecil melihat Irisha sudah bangun. Gadis itu duduk di tepi ranjang dengan wajah cemberut. “Kau sudah bangun?” tanyanya gugup, suaranya serak. “Sudah,” jawab Irisha ketus. “Sejak satu jam yang lalu.” Revan menggaruk kepala yang sama sekali tidak gatal. “Kenapa? Ada apa?” Irisha langsung mendelik. “Om benar-benar gila! Aku itu baru pertama kali melakukan ini, kenapa pas waktu aku tidur kau masih saja menyentuhku? Sakit tahu!” Revan hampir tertawa, baru menyadari sikap polos, dan sekaligus menyebalkan istri barunya ini. “Oke, oke. Maaf,” ujarnya pelan, mencoba menenangkan. “Aku nggak mau maafin,” balasnya manja sambil memalingkan wajah. Revan menghela napas panjang. “Lalu apa yang harus om lakukan supaya kamu mau maafin? Siapa suruh kasih om obat perang-sang?” Irisha menatapnya tajam, seperti sudah menyiapkan jawabannya sejak tadi. Ini kesempatan emas, dan ia tidak mau menyia-nyiakannya. “Aku kira itu tidak akan ada
Huling Na-update: 2025-11-21
Chapter: Ide yang GagalCalvin memejamkan mata perlahan, air mata luruh membasahi pipinya. Rasa sesal dan penyesalan begitu dalam mencengkeram hatinya. “Mas tahu hatimu masih cinta sama Mas, Sha. Maafin Mas, jika mengecewakan kamu.”“Mas,” ucap Visha akhirnya, suaranya bergetar menahan tangis.“Yah sayang,” jawab Calvin, suaranya terdengar parau.“Berjuanglah, luluhkan dan ...” Visha terdiam, kalimatnya terhenti di tengah jalan. Dia tidak tega untuk melanjutkan kalimatnya. Dia tahu, apa yang dia harapkan dari Calvin sangatlah sulit.“Mas akan berusaha,” jawab Calvin, suaranya terdengar lemah. Dia tahu, dia harus berjuang untuk mendapatkan kembali hati Visha. Namun, dia juga tahu, jalan yang harus dia tempuh tidaklah mudah.“Mas, aku percaya kamu bisa,” ucap Visha, tangannya menggenggam erat ponsel. Dia memberikan dukungan penuh kepada Calvin, meskipun hatinya terluka.“Terima kasih sayang,” ucap Calvin, dengan lega. Dia bersyukur memiliki Visha, wanita yang selalu ada di sisinya, mendukungnya dalam s
Huling Na-update: 2024-09-22
Chapter: Penyesalan CalvinCalvin terkejut dengan suara Asih, ibu mertuanya yang meninggi. “Turun!” perintah Asih. “B-baik, Bu.” Calvin menjawab, dia pun membuka pintu dan menghampiri Asih. “Bu, Visha ...” “Mulai sekarang, jangan kamu temui lagi Visha dan Kai. Mereka bahagia meski tanpa kamu, pria pengecut yang selalu termakan hasutan mantan kekasihmu.” Calvin lagi-lagi terkejut dengan ucapan Asih. “Bu ... tapi Visha dan Kai, bagian dari keluarga Calvin.” “Bagian dari keluarga kamu? Lalu ke mana saja saat anakku tadi menangis, bahkan dengan tega kamu mengusirnya?” “Bu, Calvin benar-benar minta maaf! Calvin janji tidak akan mengulangi hal ini lagi.” Calvin berusaha meminta maaf pada Asih, tetapi Asih tak luluh begitu saja. “Cukup! Tinggalkan anak saya sekarang juga!” “Bu,” panggil Visha, dia berdiri dengan tegak, bibirnya gemetar. “Sha, ayok pulang? Maaf, jika Mas tadi ...” “Mas, pulanglah!” Visha menunduk, air matanya menetes. Calvin terdiam, hatinya terasa sesak. Dia mencintai Visha dan
Huling Na-update: 2024-09-21
Chapter: Keputusan AsihGreta tersenyum licik. Dia pun menambahkan kata-kata lagi untuk meracuni pikiran Calvin. “Oh, jangan-jangan kamu sengaja menggoda Pak Cokro?”Visha tersentak. “Tutup mulutmu!” teriaknya. “Calvin ... Calvin, kamu mau saja ditipu oleh wanita ini! Padahal aku sudah mengantarkan Visha ke depan ruanganmu, tetapi kenapa dia malah pergi ke ruangan Pak Cokro!”“Hentikan ucapanmu, Mbak Greta!” Visha kesal. “Aku bahkan tidak mengenal pria itu!”“Owh yah?” Greta mencemooh. “Aku tidak yakin. Jangan-jangan kamu ...” “Greta, sebaiknya kamu pergi ke ruanganmu!” perintah Calvin, suaranya dingin.Calvin meleraikan pelukannya. Dia berjalan selangkah, hatinya cemburu dan terhasut oleh ucapan Greta. Pandangannya tertuju pada Visha yang berdiri terdiam, wajahnya memerah menahan amarah.“Visha, sebaiknya kamu pulang. Biar Bara yang antar kamu,” ucap Calvin, suaranya terdengar dingin.“Mas, aku ke sini hanya untuk bertemu dengan kamu. Aku bawain ...” Visha mencoba menjelaskan, tetapi Calvin langs
Huling Na-update: 2024-09-20
Chapter: Amarah CalvinTanpa merasa curiga, Visha masuk ke dalam ruangan itu. Dia duduk di sofa, sesekali menatap satu per satu ruangan yang tampak mewah. "Jadi ini ruangan kerja Mas Calvin," ucapnya bangga.Visha berjalan menuju jendela, menatap indahnya pemandangan dari atas gedung bertingkat lima. Angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya, membawanya pada lamunan tentang masa depan bersama Calvin."Semoga saja dengan kedatanganku kemari, Mas Calvin akan sangat bahagia," gumam Visha, matanya berkaca-kaca.Pada saat Visha sedang melamun, pintu ruangan terbuka dengan suara berderit. Seorang pria gendut berwajah garang terkejut dengan pemandangan wanita yang berbaju merah berdiri dengan anggunnya di dekat jendela."Wow, bukannya aku baru beberapa menit memesan wanita cantik? Rupanya Carles cepat sekali mendapatkan wanita cantik!" katanya sembari melangkah mendekati Visha.Visha yang sedang melamun tak menyadari gerakan langkah kaki yang mendekat. Dia tersentak kaget saat merasakan tangan kekar itu melingka
Huling Na-update: 2024-09-19
Chapter: Jebakan GretaVisha berjongkok di depan Kai, puteranya yang polos. Tangannya menggenggam erat tangan mungil Kai, mencoba menenangkan. "Sayang, Jangan berbicara seperti itu yah, Nak. Papah Calvin—""Stop Bunda, Om Superman bukan Papah Kai!" teriak Kai, suaranya bergetar menahan tangis."Nak!" Visha terkesiap, hatinya tersayat mendengar kata-kata putranya.Kai menghempaskan tangannya, dia berbalik mendekati Asih, neneknya. "Nek, Kai mau tinggal di sini sama Nenek, Kai tidak mau bertemu dengan Om jahat."Asih memeluk erat Kai, tangannya mengusap perlahan rambut Kai. "Sayang, ayok sekarang Kai cuci kaki dan kita berangkat sekolah. Nanti Nenek yang antar kamu ke sekolah."Kai mengangguk, matanya berkaca-kaca. Dia pun bergegas pergi meninggalkan Visha yang berdiri terpaku, air matanya menetes perlahan."Bu?" panggil Visha, suaranya terengah-engah. "Kamu harus bersabar, Kai masih trauma pada Ayahnya, biarkan dia tenang dulu!" kata Asih, lembut.Visha hanya bisa mengangguk, hatinya pedih meliha
Huling Na-update: 2024-09-18
Chapter: Pertengkaran berujung menyakitiVisha berdecak kesal, matanya menatap layar ponsel yang menampilkan pesan dari Calvin. Jari-jarinya menekan tombol Power, mematikan layar yang menampilkan pesan yang membuatnya geram.“Menyebalkan, apa kamu pikir aku butuh uangmu!” gerutu Visha, suaranya meninggi. Dia melempar ponselnya ke atas ranjang, kepalanya tertunduk lesu.Visha enggan untuk menelepon kembali Calvin, apalagi menjelaskannya. Perasaannya campur, antara kesal, kecewa, dan sedikit takut.“Huhh! Kenapa jadi seperti ini?” gumam Visha, lelah. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri.Asih kembali mendekati Visha. “Bagaimana, apa suami kamu mengizinkannya?” tanyanya, matanya penuh harap.Visha menggigit bibirnya, ragu untuk mengatakan yang sebenarnya. “Iyah Bu, Mas Calvin sudah mengizinkan Visha untuk menginap di rumah Ibu,” jawabnya berbohong.“Ya sudah, ayok bantu Ibu membereskannya rumah ini?” Asih tersenyum, tangannya terulur untuk menggenggam tangan Visha.Keduanya seharian membereskan ruma
Huling Na-update: 2024-09-17