Chapter: Rencana lainPanggilan itu terputus. Tanpa jeda, Revan langsung membuka aplikasi pesan dan mengetik cepat pada seseorang. Ekspresinya berubah serius, dingin, penuh perhitungan. Irisha yang sedari tadi memperhatikannya tak bisa menahan rasa penasaran. “Om?” Revan mengangkat wajahnya. “Iya, Sayang. Ada apa?” “Sekarang Mbak Reni sudah tahu semuanya,” lanjut Irisha. “Lalu … rencanamu ke depan bagaimana?” Revan meletakkan ponselnya, menatap Irisha dalam-dalam. “Menurut kamu, om harus apa?” Irisha menyilangkan tangan di dada, senyumnya mengembang penuh makna. “Beri pasangan mesum itu pelajaran. Yang pantas.” Revan mengangguk pelan. “Tentu. Tapi kita tidak bisa gegabah. Kita harus susun strategi dulu. Kamu tahu sendiri … Dita masih belum mengakui kalau Rieno bukan anakku.” Tatapan Irisha menggelap, senyum di bibirnya perlahan memudar. “Iya juga,” Irisha mengangguk pelan. “Mereka pasti akan mengelak.” “Betul,” sahut Revan tenang. “Kita tunggu saja hasil tes DNA Reino dan Yuda. Semoga …
Terakhir Diperbarui: 2026-01-21
Chapter: Membongkar Kebusukan Yuda dan DitaSetibanya di kediaman, Reni, wanita itu duduk dengan lesu di tepi sofa. Tatapannya menyapu foto pernikahannya dengan Yuda, pria yang selama dua puluh enam tahun menemani hidupnya, meski tak pernah ada satu pun anak yang lahir dari pernikahan itu. Bingkai foto itu terasa begitu berat untuk dipandang. Senyum mereka terpajang rapi, seolah menyimpan janji yang dulu diucapkan dengan keyakinan penuh. Reni menelan ludah, dadanya terasa sesak. Dengan tangan gemetar, ia meraih ponsel lalu menekan nama Yuda. Nada sambung terdengar panjang, namun tak kunjung ada jawaban. Sekali. Dua kali. Hingga akhirnya panggilan itu terputus dengan sendirinya. Reni menjatuhkan punggungnya ke sandaran sofa. Pandangannya kosong, pikirannya penuh oleh potongan-potongan kenangan yang kini terasa mencurigakan. “Apa benar Mas Yuda dan Mbak Dita …,” ucapnya bergetar, “… mereka selama ini mengkhianatiku?” Pertanyaan itu tak ada yang menjawab, namun perihnya terasa nyata. “Mas, angkat teleponnya jangan memb
Terakhir Diperbarui: 2026-01-20
Chapter: Kebusukan kakak kandungReni terbelalak. Tubuhnya seolah kehilangan tumpuan. “Apa … apa maksudnya, Mas?” ucapnya bergetar, “Mas Revan bercanda, kan?” Revan menggeleng pelan. Rahangnya mengeras, sorot matanya tetap dingin, seolah fakta itu sudah lama ia telan sendirian. “Saya berharap ini hanya bercanda. Tapi tidak, Ren.” Reni memundurkan tubuhnya. Tangannya refleks mencengkeram ujung meja agar tidak jatuh. “Tidak mungkin … Reino itu anak Mas Revan dan Mbak Dita. Semua orang bahkan tahu—” “Semua orang tahu dari cerita yang dibangun,” potong Revan tenang, tapi nadanya menyimpan luka yang dalam. “Tes DNA tidak pernah berbohong.” Hening menggantung, berat dan mencekik. “Lalu … apa hubungannya dengan Mas Yuda?” bisik Reni, matanya berkaca-kaca. Ia takut pada jawaban yang bahkan belum terucap. Revan menarik napas panjang. “Saya tidak ingin menuduh sembarangan. Tapi waktunya, sikap mereka, dan hasil tes itu … semuanya saling mengikat.” Reni menggeleng cepat, air mata mulai luruh. “Tidak … Mbak Dit
Terakhir Diperbarui: 2026-01-19
Chapter: Menemui ReniRevan hanya menggeleng pelan. Sudut bibirnya terangkat, senyum tipis yang tak bisa ia sembunyikan. Ada rasa lega yang perlahan merayap di dadanya. Ia sama sekali tak berniat bertemu dengan Reino. Ia memilih jalur yang paling dingin dan rapi, mengutus pengacaranya untuk datang langsung ke penjara dan menarik tuntutan itu atas namanya. Sementara itu, Dita sudah tiba di penjara. Tangannya saling meremas, jemarinya gemetar menahan cemas. Matanya terus menatap lurus ke depan, menunggu satu sosok yang sejak tadi membuat dadanya sesak. “Revan … Irisha …,” gumamnya penuh dendam. “Kalian boleh merasa menang sekarang. Tapi percayalah, aku akan membuat kalian membayar semua ini.” Langkah kaki terdengar mendekat. Reino muncul dari balik pintu besi, berjalan tertatih. Kakinya pincang, wajahnya babak belur, lebam ungu menghiasi pelipis dan rahangnya. Seketika, Dita menjerit histeris. “Reino!” Ia berlari menghampiri. “Astaga … apa yang mereka lakukan padamu, Nak?” Reino duduk perlahan
Terakhir Diperbarui: 2026-01-18
Chapter: Surat perjanjianKeesokan harinya, Irisha selesai menyiapkan sarapan dengan bantuan Bi Inah. Pagi itu hatinya terasa sedikit lebih ringan, bahkan ada rasa puas yang sulit ia sembunyikan. Terlebih setelah kabar yang ia terima semalam, keberadaan Reino akhirnya ditemukan. Pria itu kini mendekam di penjara. Irisha melangkah ke meja makan dengan senyum tipis di bibirnya. “Pagi, Sayang,” sapanya lembut. Revan sudah duduk di sana. Wajahnya tampak lebih segar dari biasanya, sorot matanya pun tidak lagi setegang kemarin. “Pagi juga,” balasnya, suaranya hangat. Irisha menyodorkan segelas susu dan sepiring sandwich ke hadapan Revan. Tangannya bergerak tenang, seolah beban yang selama ini mengimpit dadanya sedikit demi sedikit terangkat. Revan menatapnya sekilas, lalu tersenyum samar, menangkap perubahan kecil pada raut wajah istrinya pagi itu. “Oh iya, Om? Apa kau akan mengunjungi Reino di penjara?” tanya Irisha, suaranya terdengar ragu. Revan mengangkat wajahnya. “Menurut kamu, aku pergi atau—”
Terakhir Diperbarui: 2026-01-16
Chapter: Kebohongan demi Kebohongan akhirnya terkuakIrisha meraih kerah baju suaminya, menariknya sedikit agar Revan menatapnya lurus. “Kenapa diam? Apa Om sekarang sadar kalau mereka memang mirip?” sindirnya halus. “Risha, jangan bercanda!” Revan menggeleng cepat. “Dokter Yuda itu adik iparnya Dita. Mana mungkin mereka punya hubungan gelap?” Irisha mendengus kecil, senyum mengejek terbit di bibirnya. “Suamiku ini … ternyata polosnya kebangetan,” ledeknya ringan, namun sarat makna. Baik, aku lanjutkan dengan fokus pada Revan yang masih berpikir, ragu, dan mulai terusik—tanpa mengubah alur. Revan terdiam. Ucapan Irisha berputar-putar di kepalanya, menimbulkan kegelisahan yang perlahan merambat. Ia mengalihkan pandangan, rahangnya mengeras, seolah sedang menimbang sesuatu yang selama ini tak pernah ia sentuh. “Benar, mereka hampir mirip,” gumamnya pelan, hampir tak terdengar. Ia mencoba mengingat wajah Dokter Yuda, sorot mata itu, garis rahang yang tegas, cara pria itu menatap orang lain dengan dingin namun terukur. Lalu
Terakhir Diperbarui: 2026-01-14
Chapter: Ide yang GagalCalvin memejamkan mata perlahan, air mata luruh membasahi pipinya. Rasa sesal dan penyesalan begitu dalam mencengkeram hatinya. “Mas tahu hatimu masih cinta sama Mas, Sha. Maafin Mas, jika mengecewakan kamu.”“Mas,” ucap Visha akhirnya, suaranya bergetar menahan tangis.“Yah sayang,” jawab Calvin, suaranya terdengar parau.“Berjuanglah, luluhkan dan ...” Visha terdiam, kalimatnya terhenti di tengah jalan. Dia tidak tega untuk melanjutkan kalimatnya. Dia tahu, apa yang dia harapkan dari Calvin sangatlah sulit.“Mas akan berusaha,” jawab Calvin, suaranya terdengar lemah. Dia tahu, dia harus berjuang untuk mendapatkan kembali hati Visha. Namun, dia juga tahu, jalan yang harus dia tempuh tidaklah mudah.“Mas, aku percaya kamu bisa,” ucap Visha, tangannya menggenggam erat ponsel. Dia memberikan dukungan penuh kepada Calvin, meskipun hatinya terluka.“Terima kasih sayang,” ucap Calvin, dengan lega. Dia bersyukur memiliki Visha, wanita yang selalu ada di sisinya, mendukungnya dalam s
Terakhir Diperbarui: 2024-09-22
Chapter: Penyesalan CalvinCalvin terkejut dengan suara Asih, ibu mertuanya yang meninggi. “Turun!” perintah Asih. “B-baik, Bu.” Calvin menjawab, dia pun membuka pintu dan menghampiri Asih. “Bu, Visha ...” “Mulai sekarang, jangan kamu temui lagi Visha dan Kai. Mereka bahagia meski tanpa kamu, pria pengecut yang selalu termakan hasutan mantan kekasihmu.” Calvin lagi-lagi terkejut dengan ucapan Asih. “Bu ... tapi Visha dan Kai, bagian dari keluarga Calvin.” “Bagian dari keluarga kamu? Lalu ke mana saja saat anakku tadi menangis, bahkan dengan tega kamu mengusirnya?” “Bu, Calvin benar-benar minta maaf! Calvin janji tidak akan mengulangi hal ini lagi.” Calvin berusaha meminta maaf pada Asih, tetapi Asih tak luluh begitu saja. “Cukup! Tinggalkan anak saya sekarang juga!” “Bu,” panggil Visha, dia berdiri dengan tegak, bibirnya gemetar. “Sha, ayok pulang? Maaf, jika Mas tadi ...” “Mas, pulanglah!” Visha menunduk, air matanya menetes. Calvin terdiam, hatinya terasa sesak. Dia mencintai Visha dan
Terakhir Diperbarui: 2024-09-21
Chapter: Keputusan AsihGreta tersenyum licik. Dia pun menambahkan kata-kata lagi untuk meracuni pikiran Calvin. “Oh, jangan-jangan kamu sengaja menggoda Pak Cokro?”Visha tersentak. “Tutup mulutmu!” teriaknya. “Calvin ... Calvin, kamu mau saja ditipu oleh wanita ini! Padahal aku sudah mengantarkan Visha ke depan ruanganmu, tetapi kenapa dia malah pergi ke ruangan Pak Cokro!”“Hentikan ucapanmu, Mbak Greta!” Visha kesal. “Aku bahkan tidak mengenal pria itu!”“Owh yah?” Greta mencemooh. “Aku tidak yakin. Jangan-jangan kamu ...” “Greta, sebaiknya kamu pergi ke ruanganmu!” perintah Calvin, suaranya dingin.Calvin meleraikan pelukannya. Dia berjalan selangkah, hatinya cemburu dan terhasut oleh ucapan Greta. Pandangannya tertuju pada Visha yang berdiri terdiam, wajahnya memerah menahan amarah.“Visha, sebaiknya kamu pulang. Biar Bara yang antar kamu,” ucap Calvin, suaranya terdengar dingin.“Mas, aku ke sini hanya untuk bertemu dengan kamu. Aku bawain ...” Visha mencoba menjelaskan, tetapi Calvin langs
Terakhir Diperbarui: 2024-09-20
Chapter: Amarah CalvinTanpa merasa curiga, Visha masuk ke dalam ruangan itu. Dia duduk di sofa, sesekali menatap satu per satu ruangan yang tampak mewah. "Jadi ini ruangan kerja Mas Calvin," ucapnya bangga.Visha berjalan menuju jendela, menatap indahnya pemandangan dari atas gedung bertingkat lima. Angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya, membawanya pada lamunan tentang masa depan bersama Calvin."Semoga saja dengan kedatanganku kemari, Mas Calvin akan sangat bahagia," gumam Visha, matanya berkaca-kaca.Pada saat Visha sedang melamun, pintu ruangan terbuka dengan suara berderit. Seorang pria gendut berwajah garang terkejut dengan pemandangan wanita yang berbaju merah berdiri dengan anggunnya di dekat jendela."Wow, bukannya aku baru beberapa menit memesan wanita cantik? Rupanya Carles cepat sekali mendapatkan wanita cantik!" katanya sembari melangkah mendekati Visha.Visha yang sedang melamun tak menyadari gerakan langkah kaki yang mendekat. Dia tersentak kaget saat merasakan tangan kekar itu melingka
Terakhir Diperbarui: 2024-09-19
Chapter: Jebakan GretaVisha berjongkok di depan Kai, puteranya yang polos. Tangannya menggenggam erat tangan mungil Kai, mencoba menenangkan. "Sayang, Jangan berbicara seperti itu yah, Nak. Papah Calvin—""Stop Bunda, Om Superman bukan Papah Kai!" teriak Kai, suaranya bergetar menahan tangis."Nak!" Visha terkesiap, hatinya tersayat mendengar kata-kata putranya.Kai menghempaskan tangannya, dia berbalik mendekati Asih, neneknya. "Nek, Kai mau tinggal di sini sama Nenek, Kai tidak mau bertemu dengan Om jahat."Asih memeluk erat Kai, tangannya mengusap perlahan rambut Kai. "Sayang, ayok sekarang Kai cuci kaki dan kita berangkat sekolah. Nanti Nenek yang antar kamu ke sekolah."Kai mengangguk, matanya berkaca-kaca. Dia pun bergegas pergi meninggalkan Visha yang berdiri terpaku, air matanya menetes perlahan."Bu?" panggil Visha, suaranya terengah-engah. "Kamu harus bersabar, Kai masih trauma pada Ayahnya, biarkan dia tenang dulu!" kata Asih, lembut.Visha hanya bisa mengangguk, hatinya pedih meliha
Terakhir Diperbarui: 2024-09-18
Chapter: Pertengkaran berujung menyakitiVisha berdecak kesal, matanya menatap layar ponsel yang menampilkan pesan dari Calvin. Jari-jarinya menekan tombol Power, mematikan layar yang menampilkan pesan yang membuatnya geram.“Menyebalkan, apa kamu pikir aku butuh uangmu!” gerutu Visha, suaranya meninggi. Dia melempar ponselnya ke atas ranjang, kepalanya tertunduk lesu.Visha enggan untuk menelepon kembali Calvin, apalagi menjelaskannya. Perasaannya campur, antara kesal, kecewa, dan sedikit takut.“Huhh! Kenapa jadi seperti ini?” gumam Visha, lelah. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri.Asih kembali mendekati Visha. “Bagaimana, apa suami kamu mengizinkannya?” tanyanya, matanya penuh harap.Visha menggigit bibirnya, ragu untuk mengatakan yang sebenarnya. “Iyah Bu, Mas Calvin sudah mengizinkan Visha untuk menginap di rumah Ibu,” jawabnya berbohong.“Ya sudah, ayok bantu Ibu membereskannya rumah ini?” Asih tersenyum, tangannya terulur untuk menggenggam tangan Visha.Keduanya seharian membereskan ruma
Terakhir Diperbarui: 2024-09-17