LOGIN"Kak Regan!"Shanon menerobos masuk dengan wajah memerah, napasnya memburu, dan mata yang smarak oleh genangan air mata kekesalan. Di belakangnya, Riko tampak melangkah tergesa dengan raut cemas karena gagal menahan kedatangan gadis itu."Nona Shanon, Anda tidak boleh masuk begitu saja—" panggil Riko memotong, berusaha menghentikan pergerakannya.Namun, Shanon mengabaikan Riko sepenuhnya. Ia melangkah lebar mendekati meja kerja Regan, lalu mengebrak permukaannya dengan kedua tangan."Aku tidak peduli Mami bicara apa!" teriak Shanon dengan suara melengking penuh amarah. "Aku tidak akan biarkan wanita itu merebut Kakak dariku!"Regan memejamkan matanya rapat-rapat, menahan denyutan nyeri di pelipis yang mendadak menyerang. Ia benar-benar dibuat jengah dan kesal setengah mati oleh tingkah Shanon yang makin tak terkendali.Semenjak Maminya memunculkan niat perjodohan di antara mereka, Shanon seolah mendapat lampu hijau untuk bersikap posesif dan tak segan-segan mengklaim Regan sebagai mil
Di dalam ruang kerjanya yang bernuansa modern minimalis, Regan berdiri menatap pemandangan kota dari balik dinding kaca besar. Suasana hatinya masih mengeruh setelah rentetan kejadian di restoran tadi, terutama mengingat raut kesakitan Alena akibat cengkeraman Alres, serta penolakan Alena yang menganggap niat tulusnya hanya sekadar ajakan untuk bersandiwara.Dering nyaring dari ponsel di atas meja memecah hening. Regan melirik layar. Nama 'Mami' tertera di sana.Regan menghela napas pendek sebelum meraih ponselnya dan menggeser ikon hijau. "Ya, Mi?""Regan! Apa-apaan kamu ini?!" Suara melengking Miranti, ibu kandungnya, langsung menyambar tanpa salam. Nada bicaranya dipenuhi kejengkelan yang meluap-luap. "Shanon menelepon sambil menangis Histeris! Kamu menyuruh asistenmu mengusir adikmu sendiri di tempat umum?! Kamu lebih membela wanita tidak jelas itu ketimbang adikmu sendiri?!"Regan memijit pangkal hidungnya, sudah menduga Shanon akan mengadu dengan cerita yang dilebih-lebihkan. "S
Alres melangkah maju tanpa ragu, langsung meraih dan menarik pergelangan tangan Alena hingga wanita itu terpaksa berdiri dari kursinya.Regan yang melihat tindakan kasar itu tidak berdiam diri. Dengan sigap, ia menggenggam pergelangan tangan Alena yang satunya lagi, menahan pergerakan Alres. "Lepaskan," ucap Regan tegas, menatap Alres penuh ancaman."Kamu yang lepaskan!" balas Alres tak kalah keras, matanya menyalang penuh amarah.Alena meringis, berusaha memberontak dan melepas cengkeraman erat Alres. "Alres, lepaskan aku! Sakit!"Namun, Alres yang tersulut emosi seolah tuli. "Jadi ini alasanmu tidak ingin kembali padaku? Karena pria ini?""Itu bukan urusanmu!" sahut Alena lantang. "Aku berhak menjalin hubungan dengan pria manapun!""Secepat itu kamu mendapatkan penggantiku?!" bentak Alres, cengkeramannya di tangan Alena makin mengencang akibat amarah yang membakar dadanya.Alena semakin meringis kesakitan, matanya berkaca-kaca menahan nyeri. Melihat raut kesakitan di wajah Alena, Re
"Tidak mungkin!" suara cempreng Shanon menggema, memecah ketenangan restoran dan menarik perhatian beberapa pengunjung di sekitar mereka. Gadis itu berdiri, menatap Regan dengan sorot mata tak percaya campur aduk kemarahan."Kak Regan, jangan berbohong! Mana mungkin wanita ini calon kakak iparku? Jelas-jelas Mami akan menjodohkan kita!" tegas Shanon menyuarakan protesnya.Regan tetap duduk tenang tanpa sedikit pun raut goyah di wajahnya. “Shanon, aku bilang jangan bersikap kurang ajar.”Shanon tidak peduli, ia tetap menatap sinis pada Alena.Sementara itu, Alena mengernyit. Di dalam hatinya timbul berbagai pertanyaan. Mami? Siapa yang dimaksud mami oleh gadis ini? Dan sebenarnya siapa gadis yang bersikap sangat protektif pada Regan ini?Melihat bauran keheranan dan keraguan di mata Alena, Regan segera memecah kecanggungan. Ia menatap Alena lembut lalu mengarahkan pandangannya pada Shanon."Alena, perkenalkan. Dia ini Shanon ... adik angkatku. Maafkan atas ketidaksopanannya."Alena men
Langkah kaki Alres terasa berat saat menyusuri koridor rumah sakit yang dingin dan beraroma antiseptik tajam. Di dalam ruangan bernomor 14, ia berdiri mematung di balik kaca jendela steril, memperhatikan tubuh Keira yang terbaring lemah dengan selang oksigen menempel di hidungnya.Melihat sosok Keira di atas ranjang tidur itu, kata-kata Alena di ruang kerjanya tadi mendadak berputar kembali di kepala Alres seperti pita kaset rusak.“Kamu mengatakan kamu mencintaiku, tetapi kamu tidak sadar jika sampai detik ini, kamu tidak pernah berada di pihakku.”Dada Alres berdenyut nyeri. Ia tersadar, Alena sama sekali tidak salah. Setiap kali Keira berada dalam situasi kritis atau membutuhkan pertolongan, Alres akan secara refleks menjatuhkan segalanya. Termasuk perasaan Alena, demi memprioritaskan wanita ini. Ia seolah terikat dan tidak pernah benar-benar bisa lepas dari bayang-bayang Keira.Namun, detik berikutnya Alres langsung menggelengkan kepala, berusaha menepis pikiran sesat itu dari ben
Mobil Alres melaju kencang meninggalkan area parkir, menyisakan debu dan desingan mesin yang samar-samar menghilang. Alena berdiri diam di lobi Arta Group, memperhatikan keributan kecil yang baru saja terjadi di sana.Beberapa saat lalu, Alres terlihat tergesa-gesa menggotong Keira yang tampak lemah tak berdaya. Di belakangnya, Angel, Kevin, dan Dion menyusul dengan raut wajah yang diliputi kecemasan luar biasa.Alena sempat menangkap selentingan suara Angel yang panik, menyebutkan bahwa penyakit pneumonia Keira mendadak kambuh.“Apa yang terjadi pada Keira?” tanya Dion.“Aku juga tidak tahu, tiba-tiba Keira merasa sesak napas dan tiba-tiba pingsan,” jawab Angel. “Sepertinya pneumonianya kambuh.” Lanjutnya.Konon, penyakit itu diderita Keira sejak ia nekat menyelamatkan seseorang dari bahaya tenggelam bertahun-tahun lalu—alasan klasik yang selalu berhasil melunakkan hati Alres dan orang-orang di sekitarnya.Alena sudah menebaknya. Pasti alasan itu yang benar-benar membuat Alres terika







