เข้าสู่ระบบGedung pertemuan termewah di pusat kota malam itu disulap menjadi tempat perayaan ulang tahun Regantara Corporation yang sangat megah. Lampu-lampu kristal menggantung tinggi, memancarkan pendar keemasan yang menerangi jajaran kolega bisnis papan atas dan petinggi perusahaan.Di antara deretan tamu undangan, tampak Alres berjalan berdampingan dengan Keira. Awalnya Alres enggan membawa wanita itu setelah semua konflik yang terjadi, tetapi Keira terus merajuk dan memaksa hingga Alres tak punya pilihan selain menuruti kemauannya.Suasana aula utama mendadak riuh saat pintu utama terbuka lebar. Regan melangkah masuk dengan aura kepemimpinan yang begitu kuat. Di sisi kanannya, Alena tampil sangat anggun mendampinginya, sementara Shanon berada di sisi kirinya dengan gaun mewah.Pemandangan tersebut seketika mengundang bisik-bisik dan pertanyaan dari para tamu. Walau sebagian besar kolega mengenali sosok Alena, keberadaan wanita muda di sisi kiri Regan memicu spekulasi baru tentang posisi ked
Regan yang tadinya baru saja berbalik melangkah, kembali menghentikan kakinya. Ia menoleh dan menunggu Alena melanjutkan ucapannya."Aku ingin bertanya ...." Alena menatap Regan ragu sejenak. "Apakah kamu yang membantuku menghapus postingan-postingan jelek tentangku di internet?"Regan sempat terdiam sebentar, lalu mengangguk pelan tanpa berniat menutupi."Terima kasih, Regan," ucap Alena tulus, menyunggingkan senyum lega."Sudah seharusnya aku melindungimu, Alena," sahut Regan dengan suara berat dan hangat.Alena mendadak lidahnya kelu, tidak tahu harus membalas apa. Namun, rasa penasaran yang terendam sejak lama membuat sebuah ingatan lain melintas di benaknya. "Lalu ... siapa sebenarnya yang menyebarkan berita bohong itu?""Berita itu berasal dari media MND," terang Regan tenang. "Saat timku menginterogasi penulis artikelnya, dia mengaku dibayar oleh seseorang."Alena mengembuskan napas panjang, mendadak firasatnya menunjuk ke satu nama yang sangat akrab. "Apakah orang itu ... Keir
Alena masih membeku saat tatapan menuntut Shanon makin menghimpitnya. Namun, sebelum sepatah kata pun keluar dari mulut Alena, jemari hangat Regan bergerak melingkupi pergelangan tangannya di atas meja, menggenggamnya erat dan penuh perlindungan."Kamu tidak perlu tahu kado apa yang Alena berikan untukku," pangkas Regan tenang namun penuh penekanan, menatap Shanon lurus. "Apa pun yang Alena berikan, selalu jadi hal yang paling berharga buatku."Alena mengembuskan napas lega yang tak bersuara. Genggaman tangan Regan tidak hanya membungkam Shanon, tetapi juga berhasil menyelamatkannya dari situasi yang makin menyudutkan.Shanon mengerutkan bibir kesal. Sepanjang makan malam berlangsung, wanita itu terus-menerus melayangkan sindiran tajam dan mencari celah untuk menjatuhkan Alena, meski Regan selalu pasang badan dengan tangkapan reaksi yang dingin.Di tengah suasana tegang itu, ponsel Regan berdering di atas meja. Nama Miranti—maminya—tertera di layar. Regan menggeser tombol hijau dan me
Alena memejamkan mata rapat-rapat, pasrah dengan apa pun yang mungkin terjadi berikutnya di balik jarak yang makin terkikis itu. Namun, bukannya mendaratkan kecupan, Regan justru menarik dirinya sedikit, menahan pergerakannya dan menatap wajah Alena lebih dalam.Alena perlahan membuka mata. Menyadari Regan tidak melakukan hal yang melampaui batas, wajahnya seketika memerah menahan rasa malu yang membakar pipinya.Lantaran canggung luar biasa, Alena secara refleks mendorong dada Regan untuk menjauh. Malangnya, gerakan mendadak itu membuat keseimbangannya terganggu. Alena hilang kendali dan hampir saja jatuh terlentang jika saja gerakan cepat Regan tidak langsung menyambar dan menangkap tubuhnya."Hati-hati," bisik Regan seraya memeluk pinggang Alena erat, menahan bobot tubuh wanita itu.Suasana canggung mendadak menembus batas di antara mereka. Begitu posisi berdiri Alena kembali stabil, ia buru-buru melepaskan diri. Tanpa banyak bicara lagi, keduanya akhirnya memilih untuk menyudahi m
Keira yang berdiri tak jauh dari gerbang menatap tajam. Wanita itu baru saja keluar dari rumah sakit dan berniat kembali ke rumah Hartawan. Namun, langkahnya terhenti saat melihat Alres terduduk lemas di tanah dengan raut wajah hancur selepas kepergian Alena.Keira bergegas menghampirinya. "Alres? Ada apa denganmu?" tanya Keira cemas. Sejak mengenal pria itu, Keira tidak pernah melihat Alres sekeropos dan sekelemah ini.`Keira mencoba memegang lengan Alres dan menuntunnya berdiri untuk masuk ke dalam rumah. Namun, Alres menepis tangan Keira dengan dingin, lalu bangkit dan melangkah masuk menuju kamarnya tanpa memandang wanita itu.Sebelum benar-benar berlalu, Alres sempat bergumam datar, "Kamu sudah keluar dari rumah sakit?"“Iya, tadi aku meneleponmu beberapa kali, kamu tidak mengangkatnya.” Sebenarnya Alena kesal karena Alres tidak menjemputnya keluar dari rumah sakit.“Yang penting kamu sudah di sini,” jawab Alres sambil kembali menyeret kakinya.Keira berdiri mematung di koridor,
Alena menatap Alres dengan senyum miring yang dingin sebelum melangkahkan kaki pergi. Namun, langkahnya terhenti sejenak tepat di samping Alres yang masih mematung."Apa keuntungannya untukku membohongimu, Alres?" bisik Alena, suaranya kini tenang namun menghunus tajam. "Aku mendengar semua ucapanmu dan teman-temanmu waktu itu ... tentang rencanamu yang ingin menceraikanku, tentang malam-malam di mana kamu lebih memilih bersama Keira, dan tentang pertemuan bisnis yang ternyata cuma alasanmu untuk menemui wanita itu ke Landen."Alres bungkam seribu bahasa. Seluruh persendiannya kaku. Ia tidak pernah menyangka bahwa selama ini Alena mengetahui seluruh kebohongan dan rahasia yang ia tutupi rapat-rapat di belakangnya."Itulah alasan kenapa aku memilih pergi dan mengurus perceraian kita secara diam-diam," lanjut Alena tanpa menoleh. "Karena kalau aku mengatakannya secara terang-terangan sejak awal, kamu pasti cuma akan mempersulit dan menahanku untuk memuaskan ego milikmu ... bukan begitu?







