Masuk"Saya sangat menghargai kejujuran Nyonya Miranti," tutur Alena dengan suara lembut namun tegas, intonasinya begitu stabil dan menenangkan. "Setiap orang tua tentu memiliki kriteria dan harapan terbaik untuk masa depan putra mereka, dan saya sangat menghormati prinsip yang Nyonya pegang."Bella melirik Alena dengan napas tertahan, sementara Shanon menyunggingkan senyum kemenangan yang tertahan, merasa Alena akhirnya tersudutkan oleh statusnya sendiri.Namun, Alena menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan ketegasan. "Namun, perlu Nyonya ketahui," sambung Alena seraya menautkan kedua jemarinya di atas meja, "hubungan saya dan Regan saat ini murni dilandasi oleh rasa saling menghormati dan profesionalitas. Saya tidak pernah meminta, menuntut, apalagi memaksakan diri untuk masuk ke dalam keluarga Nyonya."Kalimat yang terlontar begitu lugas dan bermartabat itu seketika membuat Nyonya Miranti tertegun. Tak ada sedikit pun kesan mengemis restu atau pertahanan defensif dari Alena. Wanita d
Langkah kaki Alena dan Bella menyusuri trotoar tepi pantai menuju area restoran lain yang berada agak jauh dari tempat sebelumnya. Sepanjang perjalanan, Bella tidak berhenti menggerutu seraya mengibaskan tangannya ke udara."Dunia ini rasanya sempit banget, ya!" keluh Bella dengan raut wajah jengkel. "Niat hatiku membawamu ke sini itu untuk healing, Alena! Lepas dari semua drama, menghirup udara segar, dan bersenang-senang. Tapi kenapa malah ketemu orang-orang yang bikin naik darah secara beruntun?!"Alena hanya menyunggingkan senyum tipis, mendengarkan kekesalan sahabatnya dengan tenang. "Sudahlah, Bella. Yang penting kita tidak membiarkan mereka merusak suasana hati kita."Meski Alena akui, pertemuan dengan Alres adalah hal yang paling ingin ia hindari. Namun, entah mereka selalu dipertemukan.Tak lama kemudian, mereka menemukan sebuah restoran seafood bergaya saung kayu yang cukup megah dengan pemandangan langsung ke arah matahari terbenam. Tempatnya terlihat bersih dan nyaman. Nam
Bella menghentikan langkahnya, menatap bingung ke arah Alena yang mendadak berbalik dan mengajaknya pergi dari pintu masuk restoran seafood terbuka di tepi pantai itu."Kenapa, Alena? Tempat ini padahal—"Kalimat Bella terhenti ketika matanya mengikuti arah pandangan Alena. Di salah satu meja dekat sudut kaca yang menghadap langsung ke laut, duduk seorang pria dengan kemeja putih yang lengannya digulung asal-asalan. Sosok itu tampak begitu kacau, dengan mata merah membiru dan sebotol minuman keras yang sudah setengah kosong di meja.Alres. Pria itu tampak hancur, tenggelam dalam penyesalan mendalam setelah kebenaran tentang gelang manik-manik dan insiden danau membongkar seluruh kebohongannya.Sebelum Alena dan Bella sempat melangkah keluar dari area restoran, seorang pelayan yang membawa nampan tak sengaja menyenggol kursi Alres, membuat botol kaca di mejanya bergeser dan jatuh berdentang ke lantai. Suara nyaring itu memancing perhatian Alres. P
Langkah Shanon dan Nyonya Miranti yang menghampiri saung pantai seketika memancing ketegangan. Shanon, dengan senyum sinis dan dagu terangkat tinggi, tampak sudah tidak sabar untuk melancarkan serangan verbal. Di sampingnya, Nyonya Miranti—ibu dari Regan—melangkah dengan raut wajah kaku.Selama ini, Nyonya Miranti selalu memandang Alena dengan sebelah mata. Di telinga wanita paruh baya itu, Shanon kerap membisikkan berbagai cerita buruk dan hasutan negatif, menggambarkan Alena sebagai wanita manipulatif, tidak tahu aturan, dan memanfaatkan kebaikan anaknya, Regan."Mami lihat sendiri, kan? Dia benar-benar santai berlibur setelah membuat kerusuhan!" bisik Shanon memompa emosi Nyonya Miranti saat mereka makin dekat.Namun, sebelum Shanon sempat melontarkan makian lebih lanjut, sebuah insiden mendadak terjadi di area pasir tak jauh dari mereka.Seorang anak kecil yang sedang berlari membawa es krim tiba-tiba tersandung akar pohon kelapa dan jatuh tersungkur.
Mobil sedan hitam itu segera melaju meninggalkan area rumah sakit, membelah jalanan kota yang lengang di bawah pendar lampu malam.Suasana di dalam kabin terasa begitu hangat dan menenangkan. Setelah ketegangan hebat yang baru saja ia lalui, kehadiran Bella bagai pelabuhan yang aman."Jadi ...." Bella melirik sekilas ke arah Alena sambil tetap fokus menyetir. "Bagaimana rasanya setelah berhasil menyeret Keira ke kantor polisi? Apakah kamu puas?"Alena menoleh ke samping, menatap garis wajah sahabat setianya itu. Alena menggeleng pelan, lalu menyunggingkan senyum tipis di bibirnya."Bukan cuma sekadar puas, Bella," jawab Alena dengan suara dingin namun tenang. "Apa yang didapatkan Keira sekarang ... dia jauh lebih pantas mendapatkannya setelah semua hal busuk yang ia lakukan."Bella tersenyum lebar, sudut bibirnya terangkat membentuk garis kepuasan. Ia memukul setir pelan dengan satu tangan. "Begitu dong! Ini baru sahabatku, Alena
Dua petugas kepolisian bersama empat pengawal pribadi Alena yang bersiap di pintu langsung tersadar dari keterkejutan mereka."Bawa mereka yang terlibat ke kantor polisi sekarang juga," perintah Regan dingin, matanya beralih sekilas menunjuk Keira yang masih terengah-engah di lantai dan Angel yang gemetaran di pojok dinding. "Pastikan semua bukti kejahatan dan manipulasi medis ini diserahkan langsung ke penyidik utama.""Baik, Tuan!" tegas komandan polisi.Petugas kepolisian segera maju mengunci kedua lengan Keira yang mencoba memukul dan meronta, sementara pengawal Alena menghadang jalan Angel agar tak bisa melarikan diri."Lepaskan aku! Regan, kamu dibohongi wanita ini! Lepaskan aku!" jerit Keira histeris saat tubuhnya dipaksa berdiri dan diseret keluar dari ruang perawatan.Namun, seruan dan tangisan histeris itu tak lagi digubris oleh siapa pun. Kerusuhan yang Keira ciptakan malam itu akhirnya berakhir di bawah pengawalan ketat menuju mobil tah







