FAZER LOGINSebuah restoran mewah bernuansa fine dining di pusat kota Hilstown menjadi saksi bisu kejengkelan Bella yang sudah membumbung tinggi. Sudah hampir satu jam ia duduk sendirian di meja sudut yang telah dipesan, membolak-balik menu yang sama berulang kali sambil terus memantau layar ponselnya.Tidak ada pesan, tidak ada panggilan masuk, apalagi permintaan maaf. Pria kencan buta yang katanya anak tunggal pemilik Samudra Group itu sama sekali tidak memunculkan batang hidungnya."Dasar tidak bersopan santun! Kalau tahu begini, lebih baik aku latihan di studio dari pagi," gumam Bella kesal.Dengan perasaan gusar, Bella meraih tas tangannya dan hendak berdiri untuk melangkah pergi. Namun, baru saja ia menegakkan tubuhnya, sebuah suara bariton yang tak asing menyapa tepat di samping mejanya."Bella? Lho, kebetulan sekali ketemu di sini."Bella menoleh kaget. Matanya membelalak mendapati sosok Dion berdiri rapi dengan kemeja kasual yang digulung rapi hingga siku. Bagi Bella, siapa pun yang bera
Regan tersenyum tipis. Pria itu menyatukan jemari mereka, menuntun Alena melangkah melewati meja kerjanya menuju sebuah pintu tersembunyi di sudut kantor. Di balik pintu itu, terdapat ruangan privat khusus CEO—sebuah ruangan santai berdesain modern dengan sofa empuk yang tenang dan jauh dari jangkauan siapa pun."Duduklah dulu," bisik Regan lembut.Sebelum memulai pembicaraan, Regan melangkah ke sudut meja kecil, menuangkan segelas air hangat, lalu menyodorkannya ke tangan Alena. Ia duduk tepat di samping wanita itu, menatap Alena lurus-lurus dengan binar mata yang sabar."Sekarang, ceritakan padaku. Apa yang terjadi?"Alena menyesap air hangat itu perlahan untuk menenangkan debar dadanya. Ia menghela napas panjang, lalu mulai membuka suara. Tanpa ada yang ditutupi, Alena menceritakan semuanya dari awal—mulai dari bayang-bayang luka kecelakaan maut kedua orang tuanya, pertemuannya dengan Rafael di kantor Bramantyo Group, lembaran dokumen investigasi yang disimpan pria itu, hingga tudu
"Halo, Non Alena...?" suara Pak Adrian di seberang telepon terdengar berat dan dipenuhi kecemasan yang amat mendalam."Iya, Pak Adrian. Bagaimana hasilnya?" tanya Alena cepat, suaranya parau menahan debar di dada. Bella yang duduk di sampingnya seketika ikut terdiam, merasakan perubahan atmosfer yang mendadak tegang.Pak Adrian menghela napas panjang sebelum memulai penjelasannya. "Laporan investigasi rahasia baru saja selesai dihitung oleh tim audit kita, Non. Kondisi Bramantyo Group saat ini ... jauh lebih parah dan berbahaya dari sekadar krisis keuangan biasa."Alena mengepalkan tangannya di balik meja. "Maksud Pak Adrian?""Tiga bulan lalu, Bramantyo Group secara ugal-ugalan mengalihkan porsi terbesar dana investasi mereka ke proyek pelabuhan bayangan di wilayah pesisir selatan," tutur Pak Adrian dengan intonasi rendah dan penuh kehati-hatian. "Mereka tergiur keuntungan konsorsium bernilai triliunan rupiah. Namun, proyek itu ternyata merupakan kedok d
“Alena, aku ...!”Suara nyaring itu terhenti seketika di ambang pintu dapur. Bella mematung dengan mata membelalak lebar, mendapati pemandangan yang sama sekali tak ia duga: Regan sedang merengkuh tubuh Alena dalam dekapan hangat.Suasana seketika berubah canggung. Alena refleks merenggangkan pelukannya, sementara Regan mengurai dekapannya dengan tenang tanpa rasa canggung sedikit pun. Bella yang menyadari dirinya telah mengganggu momen intim tersebut menyunggingkan senyum ringis yang serba salah."A-aduh ... maaf! Aku tidak tahu kalau ada Pak Regan di sini," ujar Bella gagap seraya berbalik badan. "Aku keluar dulu deh, nanti aku balik lagi—""Bella, tunggu!" cegah Alena cepat. "Tidak perlu pergi, masuk saja."Regan melirik jam tangannya sejenak, lalu pandangannya beralih menatap Bella yang berdiri agak canggung di sudut ruangan. Sorot mata pria itu mendadak meredup, menyisa kilat keheranan yang diwarnai rasa cemburu tipis yang ta
"Aku tahu kamu butuh waktu untuk mencerna semuanya, Alena. Tapi perusahaanku tidak punya banyak waktu.Aku menawarkan proposal kerja sama investasi antara Hartawan Corp dan Bramantyo Group. Ini adalah transaksi yang adil. Kemarin di kantor, aku hanya menunjukkan sebagian kecil dari dokumen itu sebagai bukti.Aku memegang seluruh berkas lengkap beserta bukti otentik keterlibatan keluarga besar Regantara dalam tragedi satu tahun lalu. Tandatangani kerja sama ini besok sore, dan seluruh berkas utuh itu akan menjadi milikmu sepenuhnya. Aku tunggu jawabanmu sebelum jam 3 sore." Penawaran Rafael begitu halus namun sangat menyudutkannya. Rafael dengan sengaja memegang kartu as—fakta bahwa ia masih menyimpan sisa dokumen lengkap yang belum ditunjukkannya. Alena kini benar-benar dijepit oleh dilema besar: menyetujui kerja sama yang akan menyelamatkan perusahaan keluarga Rafael demi mendapatkan sisa bukti itu, atau menolaknya dan berisiko kehilangan jejak selamanya. Alen
Panggilan telepon berdering beberapa kali sebelum akhirnya terdengar suara berat dan serak khas pria paruh baya di seberang sana."Halo, Non Alena?" sapa Pak Adrian dengan nada terkejut sekaligus hangat. "Ada apa menelepon larut malam begini, Non? Apakah ada masalah penting di kantor atau ada sesuatu yang terjadi?"Alena memusatkan seluruh fokusnya. Ia mencoba merapikan intonasi suaranya agar tidak terdengar panik atau penuh prasangka."Maaf mengganggu waktu istirahat Pak Adrian," tutur Alena pelan dan penuh hormat. "Saya ... sebenarnya ada satu hal yang tiba-tiba mengusik pikiran saya, Pak.""Sampaikan saja, Non. Apa yang bisa saya bantu?" sahut Pak Adrian ramah.Alena mengambil napas pendek, lalu bertanya dengan nada hati-hati. "Ini tentang Regan, Pak Adrian. Saya tiba-tiba terpikir ... bagaimana alur sejarahnya sampai Regan akhirnya bisa bertemu kembali dengan keluarga kandungnya—keluarga besar Regantara? Bisakah Pak Adrian menceritakannya sedikit pada saya?"Di seberang telepon, P







