Share

Bab 18

Author: Ayyliana
last update publish date: 2026-08-24 19:11:17

Alena baru saja keluar dari ruang rapat Hartawan Corporation ketika ia mengembuskan napas panjang. Pertemuan tadi berlangsung hampir dua jam.

Dulu, ia mungkin akan menganggap pembahasan laporan keuangan, proyek investasi, hingga perkembangan anak perusahaan sebagai sesuatu yang membosankan. Namun sekarang, justru semakin banyak hal yang membuatnya tertarik.

Ia memang belum memahami semuanya. Masih banyak istilah yang harus dipelajari, laporan yang harus dibaca berulang kali, serta keputusan yan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 199

    Keheningan seketika menyergap di antara mereka. Pertanyaan telak yang dilontarkan Alena menggantung di udara, menuntut penjelasan yang masuk akal di tengah pemandangan pasukan taktis bersenjata lengkap yang masih sibuk membereskan area sekitar.Mendengar ucapan itu, Regan sontak terdiam. Pria itu langsung beradu pandang dengan Biru dalam sepersekian detik. Dari tatapan mata mereka, terlihat jelas ada kecanggungan dan kegelisahan tersembunyi—sebuah rahasia besar yang selama ini dijaga rapat-rapat dari Alena, kini hampir tersingkap di permukaan.Bella, yang berdiri di samping Alena, ikut menyipitkan mata. Ia baru saja menyadari keanehan yang sama. Selama ini ia mengira Regan hanyalah seorang CEO muda yang brilian dan berjuang memulihkan nama baik keluarganya. Namun, melihat kedisiplinan tingkat militer dan kepatuhan mutlak para pengawal itu, insting sosialitanya langsung menangkap bahwa ada dimensi lain dari diri Regan yang jauh lebih gelap dan berbahaya.Meski sempat diselimuti kepani

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 198

    Suasana di halaman tengah pabrik tua itu berubah menjadi medan perang dalam hitungan detik. Lampu sorot yang menyilaukan dari segala penjuru mengunci pergerakan anak buah Bramantyo yang kini panik bukan kepalang. Terjebak di antara tembok beton yang tertutup rapat dan puluhan pria bersenjata dari pihak Regan, mereka kehilangan seluruh keunggulan jumlah."Serang!" teriak salah satu pengawal Bramantyo nekat, mencoba memimpin perlawanan.Namun, pertempuran itu berlangsung sangat singkat. Anak buah Regan yang terlatih khusus bergerak cepat dan terkoordinasi. Bentrokan fisik tak terhindarkan; suara hantaman, jeritan kesakitan, dan bunyi pentungan besi yang beradu mendominasi udara malam. Dalam waktu kurang dari lima menit, sebagian besar preman bayaran itu sudah tersungkur tak berdaya di atas tanah beton, dikepung ketat oleh pasukan Regan.Di tengah kekacauan itu, pemimpin pengawal Bramantyo—pria bertubuh gempal yang tadi sempat meremehkan Regan—mencoba merangkak mundur, berniat kabur ke a

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 197

    Beberapa menit sebelum mobil mereka memasuki kawasan industri:Di tengah kejar-kejaran sengit di jalan raya, Biru yang fokus memegang kemudi sempat melirik ke arah Regan melalui kaca spion sambil berteriak di atas deru mesin."Re! Mobil-mobil itu terus menempel ketat di belakang kita! Gimana, kita kabur ke jalur tol kota atau ...?"Mendengar pertanyaan itu, Regan justru tersenyum miring. Seringai licik tersungging di bibirnya."Kabur? Tentu tidak, Biru," jawab Regan dingin. "Justru sebaliknya ... bawa mereka ke Sektor A. Kawasan industri terbengkalai di ujung distrik."Biru sempat mengerutkan kening heran saat membanting setir. "Sektor A? Bukannya itu area buntu? Kalau kita masuk ke sana, kita bisa benar-benar terjebak!""Tenang saja," potong Regan dengan sorot mata penuh perhitungan. "Kita memang akan terlihat terjebak di sana. Biar mereka pikir kita masuk perangkap. Tapi sebenarnya, akulah yang sedang menggiring mereka masuk ke dalam sangkar burung. Aku sudah menghubungi unit pengam

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 196

    Decitan ban yang bergesekan dengan aspal basah masih menyisakan dengung di udara. Di balik kemudi SUV hitam yang melintang di tengah area parkir gelap itu, wajah Biru tampak tegang namun penuh determinasi, sementara Bella duduk di kursi penumpang depan dengan napas memburu.Mendengar instruksi penuh desakan itu, Regan tidak membuang waktu sedetik pun. Ia langsung menarik tangan Alena, menerobos sela-sela mobil, dan membukakan pintu belakang. Tanpa menunggu aba-aba kedua, Alena segera melompat masuk ke dalam kabin, disusul oleh Regan yang langsung membanting pintu hingga tertutup rapat."Injak gasnya, Biru!" seru Regan setengah berteriak begitu tubuhnya terhempas di kursi belakang.Tanpa perlu diperintah dua kali, Biru langsung menginjak pedal gas dalam-dalam. SUV berbadan kokoh itu melompat ke depan, memecah keheningan malam dan meninggalkan para pengawal Bramantyo yang berteriak marah di belakang sana.Di dalam mobil yang melaju kencang, suasana masih diselimuti ketegangan sisa pelar

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 195

    Suasana di koridor belakang klub malam Eclipse mendadak terasa begitu dingin dan mencekam. Di bawah temaram lampu dinding koridor, Alena terpaku di tempatnya. Jantungnya berdegup kencang seolah hendak melompat keluar dari rongga dadanya.Pria paruh baya berjas rapi yang berdiri beberapa langkah di hadapan mereka adalah Bramantyo—ayah kandung Rafael, salah satu tokoh kunci dari keluarga elite yang turut memegang kendali atas aliansi gelap bersama Paman Haris, serta musuh bebuyutan keluarga besar Hartawan dan Regantara. Dan ... ia adalah sahabat dekat Ayahnya dulu, mungkin bisa di sebut mantan sahabat sekarang.Bramantyo menyipitkan matanya, menatap tajam ke arah Alena yang mengenakan sisa seragam pelayan, lalu beralih memindai sosok Regan yang berdiri di samping wanita itu dengan tatapan penuh selidik."Alena Hartawan ...." panggil Bramantyo dengan nada suara rendah, dingin, dan penuh nada intimidasi yang khas. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman sinis. "Menarik sekali. Putri k

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 194

    Antoni mengangkat dagunya tinggi-tinggi, tersenyum licik dengan mata sayunya yang nyaris terpejam. Pengaruh alkohol telah mengikis benteng terakhir kewarasannya, membuatnya merasa tak tersentuh dan begitu bangga atas kebusukan yang ia perbuat."Bukti?" tawa Antoni terdengar serak, meremehkan pertanyaan Bella. "Kamu pikir kami sebodoh itu meninggalkan jejak sembarangan? Semua dokumen aslinya ... surat pemalsuan tanda tangan Albert, catatan transaksi gelap dengan Bramantyo, sampai rencana eksekusi Hartawan ... semuanya tersimpan rapi!"Bella menahan napasnya, telinganya mendengarkan seksama lewat earpiece. "Tersimpan di mana? Jangan-jangan cuma omong kosong ....""Omong kosong?" Antoni mendengus kesal, menepuk dadanya sendiri dengan bangga. "Tersimpan di brankas pribadi di ruang bawah tanah vila pribadi Papa di pinggiran kota! Hanya aku dan Papa yang tahu kata kuncinya! Tidak ada yang bisa ... hic ... membukanya ..."Belum sempat Antoni melanjutkan kalimatnya, matanya mendadak terpejam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status