Share

Bab 17

Author: Ayyliana
last update publish date: 2026-08-24 19:10:28

Alres tiba di rumah ketika hari mulai gelap. Tidak ada Keira bersamanya. Dari pesan yang diterimanya beberapa jam lalu, Keira masih memiliki urusan di luar dan akan pulang lebih malam.

Begitu memasuki rumah, Alres tidak langsung menuju kamar. Pandangan pria itu justru menangkap sosok Alena di halaman belakang.

Wanita itu duduk di tepi kolam, kedua kakinya terendam di dalam air. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai, sementara pandangannya kosong menatap permukaan kolam yang sesekali beriak.

Alre
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Duryati Duryati
si Aires terlalu menyepelekan Alena...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 186

    Sinar matahari pagi merayap naik, memantulkan bias cahaya keemasan di celah-celah tirai jendela kamar utama Vila Amarilis. Aroma kopi hangat dan udara pegunungan yang segar menyusup masuk, membawa kesadaran perlahan bagi Regan yang terbaring di atas tempat tidur.Regan mengerjap perlahan, merasakan kepalanya berdenyut berat dan tenggorokannya kering seperti terbakar. Ia memijit pelipisnya yang nyeri, lalu bangkit bersandar di kepala ranjang.Ia langsung mengenali tempat ini. Ini adalah kamarnya di Vila Amarilis. Semalam, setelah ia ambruk di ruang VIP bar akibat terlalu banyak menenggak whisky, pasti Biru yang membawanya kemari.Saat kesadarannya pulih sepenuhnya, tatapan mata Regan yang tadinya sayu akibat mabuk mendadak berubah tajam. Nyala api determinasi kembali berkobar di dalam dirinya.Ia sadar, ia tidak bisa terus menerus berdiam diri dalam keputusasaan atau sekadar meratapi nasib. Menangisi masa lalu dan meratapi dosa keluarganya tidak akan mengembalikan keadilan bagi orang t

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 185

    Langkah kaki Regan terasa sangat berat saat ia meninggalkan Vila Amarilis. Kepedihan, rasa bersalah, dan ketakutan kehilangan Alena menghimpit dadanya hingga nyaris sesak. Tak sanggup kembali ke kediamannya yang kosong dan menyesakkan, Regan melajukan mobilnya tanpa arah yang jelas, hingga akhirnya ia memutuskan untuk singgah di sebuah bar eksklusif di pusat kota Hilstown.Sebelum masuk, ia merogoh saku jasnya dan mendial nomor Biru, sahabat setianya.Di belahan kota yang berbeda, Biru saat itu tengah menikmati makan malam romantis bersama Bella di sebuah restoran mewah. Ponselnya berdering nyaring, menampilkan nama Regan di layar.Biru mengangkat panggilan tersebut. “Halo ... Re.”“Biru, aku sedang berada di Bar tempat biasa, kamu bisa datang?”Biru terdiam sesaat, dengan sedikit kening berkerut karena Regan sangat jarang mengajaknya minum di tempat umum seperti ini—terlebih di jam-jam genting.Setelah mendengar suara parau dan hancur dari sahabatnya di ujung sambungan, Biru langsung

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 184

    Langit sore di kawasan dataran tinggi Hilstown mulai menyaput cakrawala dengan warna jingga keemasan. Suasana di Vila Amarilis terasa begitu tenang, tempatnya yang tersembunyi di tengah rimbunnya pohon pinus, jauh dari hiruk-pikuk kota dan intrik bisnis yang menyesakkan.Di ruang tengah vila yang menghadap langsung ke taman, Regan berdiri di dekat jendela besar dengan tatapan kosong. Pikirannya berkecamuk hebat setelah percakapannya dengan Oma Risa pagi tadi. Beban moral, rasa bersalah, dan ketakutan kehilangan Alena bergemuruh menjadi satu di dadanya.Tidak ada lagi waktu untuk menutupi kebenaran. Provokasi Rafael dan rasa penasarannya yang kian mendalam membuat Regan sadar, kebohongan ini hanya akan menghancurkan mereka berdua dari dalam.Pintu utama vila terbuka perlahan. Langkah kaki yang ringan namun ragu-ragu terdengar memasuki ruangan. Regan menoleh dan mendapati Alena berdiri di sana, mengenakan mantel musim dingin tipis dengan sorot mata yang menyiratkan kelelahan batin yang

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 183

    "Wah, Nona Alena Hartawan ... Kamu luar biasa," suara Rafael mengalir dengan nada sinis. "Bisa-bisanaya kamu memblokir sistem pencairan dana dan rekening secara sepihak pagi ini? Apa karena kamu ingin mengingkari janjimu?"Alena mengepalkan tangannya di atas meja, menahan gejolak amarah yang mendesak dadanya. "Jangan pura-pura bodoh, Rafael! Aku memblokir dana itu karena aku tahu persis dokumen pengajuan dan laporan keuangan yang kamu berikan untuk meyakinkanku tentang kematian kedua orang tuaku adalah palsu! Kamu pikir aku akan membiarkanmu menjarah uang perusahaanku demi menutupi kejahatanmu?"Alih-alih terkejut, panik, atau marah karena kedoknya terbongkar, Rafael justru tertawa semakin kencang. Suara tawa itu menggema di telinga Alena, menyulut kecurigaan yang tajam. Rafael sudah tidak peduli dengan imagenya di depan Alena."Dokumen itu palsu? Ya, mungkin saja," jawab Rafael santai, tanpa beban sedikit pun. "Tapi omong-omong so

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 182

    Layar ponsel Alena menyala terang, menampilkan nama yang paling ia nantikan di tengah pekatnya malam: Regan.Alena langsung meraih ponsel tersebut dan menggeser tombol hijau."Regan ...?" sapa Alena cepat, ada nada lega bercampur tanya yang terselip di balik suaranya.Di ujung sambungan sana, suara helaan napas berat terdengar jelas sebelum Regan akhirnya bersuara. Suara pria itu terdengar sedikit lelah, namun jauh lebih tenang dari sebelumnya. "Maaf mengganggumu larut malam begini, Lovely ... Apa aku membangunkanmu?"Alena mengubah posisinya menjadi bersandar di kepala ranjang, menarik selimut tipis untuk menutupi bahunya. "Tidak, aku belum tidur. Aku baru saja mau berbaring." Alena terdiam sejenak, lalu bertanya dengan nada lembut, "Bagaimana urusanmu di rumah keluargamu? Semuanya baik-baik saja?"Terdengar tawa kecil yang sarat akan ironi di seberang sana. "Ya ... bisa dibilang begitu. Rumah itu selalu sama, penuh dengan drama dan k

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 181

    Suasana meja makan yang tadinya riuh oleh omelan Mami Miranti mendadak berubah senyap. Tiba-tiba saja, seseorang datang dari arah belakang dan merangkul bahu Regan dengan begitu sok akrab."Wahhh... siapa ini? Tamu agung kita, CEO Regantara Group yang terkenal dingin, akhirnya sudi menginjakkan kaki lagi di sini?"Sosok itu adalah Antoni, putra kandung Om Haris.Tanpa ragu sedikit pun, Regan langsung mengangkat bahunya dan menepis kasar tangan Antoni yang masih bertengger di pundaknya. Mereka sama sekali tidak pernah sedekat itu. Di dalam ingatan Regan, luka masa kecilnya masih terekam jelas—Antoni adalah orang pertama yang selalu merundung, menindas, dan membuatnya merasa tersingkirkan saat pertama kali ia dibawa masuk ke Kediaman Regantara. Itulah salah satu alasan terbesar mengapa Regan lebih memilih tumbuh mandiri dan tinggal di luar negeri sejak usia muda.Antoni mendengus pelan, mengangkat kedua tangannya ke udara dengan gestur mengejek. "Sant

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status