MasukSuasana di koridor belakang klub malam Eclipse mendadak terasa begitu dingin dan mencekam. Di bawah temaram lampu dinding koridor, Alena terpaku di tempatnya. Jantungnya berdegup kencang seolah hendak melompat keluar dari rongga dadanya.Pria paruh baya berjas rapi yang berdiri beberapa langkah di hadapan mereka adalah Bramantyo—ayah kandung Rafael, salah satu tokoh kunci dari keluarga elite yang turut memegang kendali atas aliansi gelap bersama Paman Haris, serta musuh bebuyutan keluarga besar Hartawan dan Regantara. Dan ... ia adalah sahabat dekat Ayahnya dulu, mungkin bisa di sebut mantan sahabat sekarang.Bramantyo menyipitkan matanya, menatap tajam ke arah Alena yang mengenakan sisa seragam pelayan, lalu beralih memindai sosok Regan yang berdiri di samping wanita itu dengan tatapan penuh selidik."Alena Hartawan ...." panggil Bramantyo dengan nada suara rendah, dingin, dan penuh nada intimidasi yang khas. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman sinis. "Menarik sekali. Putri k
Antoni mengangkat dagunya tinggi-tinggi, tersenyum licik dengan mata sayunya yang nyaris terpejam. Pengaruh alkohol telah mengikis benteng terakhir kewarasannya, membuatnya merasa tak tersentuh dan begitu bangga atas kebusukan yang ia perbuat."Bukti?" tawa Antoni terdengar serak, meremehkan pertanyaan Bella. "Kamu pikir kami sebodoh itu meninggalkan jejak sembarangan? Semua dokumen aslinya ... surat pemalsuan tanda tangan Albert, catatan transaksi gelap dengan Bramantyo, sampai rencana eksekusi Hartawan ... semuanya tersimpan rapi!"Bella menahan napasnya, telinganya mendengarkan seksama lewat earpiece. "Tersimpan di mana? Jangan-jangan cuma omong kosong ....""Omong kosong?" Antoni mendengus kesal, menepuk dadanya sendiri dengan bangga. "Tersimpan di brankas pribadi di ruang bawah tanah vila pribadi Papa di pinggiran kota! Hanya aku dan Papa yang tahu kata kuncinya! Tidak ada yang bisa ... hic ... membukanya ..."Belum sempat Antoni melanjutkan kalimatnya, matanya mendadak terpejam
Waktu berjalan cepat. Di meja sofa VIP yang lebih privat, botol demi botol minuman beralkohol kelas atas berpindah tangan. Antoni, yang terbuai oleh kecantikan dan cara bicara Bella yang memikat, sama sekali tidak menyadari bahwa ia tengah dicekoki minuman secara perlahan namun pasti oleh wanita tersebut.Bella terus memainkan peran dengan sempurna—ia pura-pura ikut meneguk gelas demi gelas, padahal ia memastikan sebagian besar alkohol masuk ke tenggorokan Antoni yang sudah mulai teler.Dari sudut tersembunyi, Regan, Alena, dan Biru mengawasi setiap gerak-gerik mereka dengan napas tertahan.Efek alkohol mulai bekerja telak pada Antoni. Pria itu tertawa terbahak-bahak atas lelucon kecil yang dilemparkan Bella, sementara matanya mulai sayu dan pertahanannya runtuh sepenuhnya. Ia merasa sangat nyaman dan bangga bisa menaklukkan wanita berkelas di hadapannya.Melihat waktu yang tepat, Bella memasang ekspresi penasaran, lalu melancarkan serangan verbal terakhirnya sesuai rencana. Ia sengaj
Klub malam Eclipse berkilau dalam balutan lampu neon temaram yang memantul di atas lantai dansa bergemerlap. Dentuman musik deep house berbass rendah menghentak dada, memadati ruangan yang dipenuhi oleh para kaum elite kota, pengusaha, serta lingkaran dalam Paman Haris. Di salah satu sudut VIP yang agak tersembunyi namun memiliki pandangan jelas ke lantai dansa, Alena dan Regan bersiap dalam penyamaran mereka.Meskipun menyamar, penampilan keduanya sama sekali tidak kehilangan pesona alami mereka. Alena dan Regan mengambil peran sebagai pelayan malam itu—sebuah kedok sempurna untuk mengawasi situasi tanpa menarik perhatian dari orang-orang berjas rapi di sekitar area VIP.Mengenakan kemeja rapi berkerah dengan rompi pelayan dan rambut yang diikat rapi, Alena membawa nampan berisi gelas-gelas kristal berisi sampanye. Di sisi lain, Regan berdiri tegap dengan balutan seragam serupa, tatapan matanya setajam elang mengawasi setiap gerak-gerik di area lantai dansa. Sementara itu, Biru menya
"Tunggu, dengar dulu!" Bella mengangkat kedua tangannya, berusaha meredam kepanikan Alena dan Biru yang kompak menolak idenya tadi. "Kalian tidak usah panik begitu. Antoni dan orang-orang lingkaran dalam Paman Haris itu tidak mengenalku. Aku bisa masuk dengan mudah dan berpura-pura menjadi perwakilan dari salah satu keluarga elite luar kota."Regan mengerutkan keningnya dalam-dalam. "Tetap saja terlalu beresiko, Bell. Lingkungan Antoni bukan tempat yang aman untuk dimainkan sembarangan. Kalau identitas palsumu terbongkar—""Tunggu sebentar, Re. Aku setuju sama Regan soal ini," sela Biru tiba-tiba, memotong ucapan Bella. Pria itu melangkah maju dengan ekspresi tidak setuju yang terpatri jelas di wajahnya. "Ide ini terlalu berbahaya, Bell. Kamu sedang berhadapan dengan tikus-tikus berdasi yang licik.”Bella ingin membantah, tetapi Biru tetap melanjutkan ucapannya.“Kalau sampai ada satu saja orang di lingkaran Antoni yang curiga atau mengenali gerak-gerikmu, keselamatanmu taruhannya. Ki
Setelah kepergian Biru dan Bella ke teras luar, ruang tengah itu kembali diliputi keheningan yang intens. Regan masih berdiri tegak beberapa langkah di hadapan Alena, menatap wanita itu dengan sorot mata penuh harap dan kelembutan yang mati-matian ia tahan.Alena membuang muka, menggigit bibir bawahnya pelan. Ia tahu benteng pertahanannya hampir runtuh sepenuhnya akibat insiden panik tadi. Namun, gengsi dan sisa-sisa kewarasannya menolak untuk menyerah begitu saja.Bagi Alena, memaafkan Regan detik ini sama saja dengan mengkhianati kenangan orang tuanya. Ia bertekad pada dirinya sendiri: ia tidak akan melunak sepenuhnya, tidak akan kembali ke pelukan pria itu, sampai ia memegang bukti nyata bahwa keluarga Regantara—terutama mendiang ayah Regan—benar-benar bersih dari konspirasi busuk tersebut.Meski demikian, ego dinginnya tidak sanggup mengusir pria itu begitu saja.Alena melirik sekilas ke arah meja makan kecil di sudut ruangan yang sudah terhidang seporsi sarapan hangat. Dengan rau







