Compartir

[3]

Autor: Major_Canis
last update Fecha de publicación: 2026-07-01 11:38:35

Victor duduk dengan tenang di kursi belakang. Seolah pembicaraan yang baru saja terjadi antara pria itu dan Tara, hanya sekadarnya saja. Padahal bagi Tara, butuh nyali yang sangat besar dan pertaruhan harga dirinya untuk mengatakan hal itu.

Agak lama Tara menatap Victor—meski hanya melalui kaca spion tengah. Memerhatikan bagaimana pria itu duduk dengan tenang. Matanya terpejam seolah menikmati perjalanan menuju apartement mewah di pusat kota.

Pada akhirnya, Tara memecah keheningan di antara mereka.

“Anda yakin saya harus merahasiakan kepulangan Anda?”

Sekali lagi, pertanyaan itu Tara utarakan. Bukan tanpa sebab, meski hubungan Victor dan Adrian terasa berjarak tapi secara bisnis, mereka saling terkait. Ada banyak hal yang harus Adrian bicarakan pada Victor sebelum memutuskan kebijakan baru di Ashbourne Corp. Dan terkadang hal itu membuat Adrian kesal lantaran Victor dirasa menghalangi beberapa kebijakannya.

“Menurutmu?” tanya Victor sembari tersenyum tipis.

Tak ada yang bisa Tara lakukan selain mengangguk setuju. “Jika itu yang Anda perintahkan, saya akan melakukannya dan akan segera menyiapkan apa yang Anda minta,” kata Tara.

“Bagus.”

Hanya itu yang Victor katakan. Begitu tiba di lobi, seorang pria bersetelan hitam menyambut mereka. Namun sebelum Victor benar-benar turun dari mobil, ia berkata, “Berhati-hatilah berkendara, Tara. Jangan biarkan dirimu lengah jika ingin berada di titik puncak.”

Ucapan itu membuat Tara termangu. Bahkan hingga sosok Victor dan asistennya menghilang dari lobi apartement, Tara masih mencerna semua obrolannya dengan Victor. Sampai dering ponsel membuyarkan pikirannya.

Sayangku.

Nama itu muncul di layar. Andai saja ia tak ingat semua hal yang terjadi hari ini, mungkin Tara dengan senang hati menerima panggilan itu. Bertanya apa pun yang Adrian butuhkan dan berusaha memenuhinya hanya agar pria itu senang.

“Ya?” sahut Tara datar.

“Di mana kau?” tanya Adrian dengan nada agak ketus. “Liora membutuhkanmu. Cepatlah.”

Mata Tara memejam kuat.

Liora.

Benar. Anak adopsi yang Adrian usulkan untuk menghibur kondisi rahim Tara. Sebersit keraguan merayap begitu saja dalam benak Tara. Mungkinkah ...

“Ya, 30 menit lagi aku sampai di rumah,” kata Tara dan segera memutuskan sambungan telepon itu. Tangannya mencengkeram ponsel dengan kuat. Pemikiran buruk yang sempat melintas, segera ia singkirkan. Tara pun meminta sopir untuk mengantarnya kembali ke rumah.

Tak lama kemudian, ia tiba di rumah.

“Apa yang terjadi padamu?” tanya Adrian, langkahnya terhenti begitu melihat perban yang melingkar di pelipis Tara. Sorot matanya tampak terkejut. “Kenapa kau tak segera memberiku kabar?”

Tara tersenyum tipis. “Aku takut mengganggumu. Bukankah ... kau sibuk?” Sorot matanya menatap Adrian tajam.

Hal itu membuat Adrian mengernyit bingung juga aneh karena sikap Tara begitu berbeda. Apa yang telah terjadi padanya?

“Tentu saja tidak. Kau bisa menghu—“

“Di mana Liora?” sela Tara sembari melangkah memasuki ruang tamu kediaman Ashbourne—rumah yang selama lima tahun terakhir ia anggap sebagai tempat untuknya pulang. Ia merasa menjadi bagian dari rumah ini seolah seperti miliknya sendiri.

“Kau tak ingin mengatakan apa yang terjadi padamu?” Adrian menahan langkah Tara.

“Aku tergelincir.” Sebenarnya Tara cukup terkejut dengan sikap Adrian. Biasanya Adrian hanya sekadarnya saja bertanya seputar keadaan Tara. Tapi kali ini, jelas terlihat kekhawatiran dalam sorot matanya.

“Kau tak perlu khawatir,” kata Tara kembali melanjutkan langkahnya.

Dulu, melangkah masuk ke dalamnya selalu menghadirkan rasa bangga yang diam-diam ia simpan. Sekarang, perutnya terasa mual. Ada sesuatu yang naik ke tenggorokan, membuatnya ingin memuntahkan segalanya—termasuk perhatian yang tiba-tiba Adrian tunjukkan.

Adrian menatapnya beberapa detik lebih lama dari biasanya. Alisnya sedikit berkerut, seolah mencoba membaca sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa ia pahami. “Kau yakin?” tanyanya lagi. “Kau terlihat ... pucat.”

Tara masih tersenyum. “Mungkin saja aku terlihat pucat. Wajar saja karena aku hampir mengalami kejadian buruk.”

“Kejadian buruk?” kening Adrian berkerut dalam. “Lain kali berhati-hatilah,” peringat Adrian dengan tegas. “Besok kau masih harus bertemu dengan perwakilan Ceso Grup. Jangan sampai mempermalukanku.”

Rahang Tara mengetat. Tentu saja. Gunanya Tara bagi Adrian adalah ‘wajah’ Ashbourne. Untuk memperlancar semua urusan Adrian serta negosiasi alot, Tara yang menangani. Selebihnya, Adrian hanya tinggal menikmati jalan yang sudah lancar tanpa hambatan yang berarti.

“Kau tenang saja,” kata Tara sembari menatap Adrian lekat. “Aku tak akan mengecewakanmu.”

Adrian tersenyum lebar. “Itu baru istriku.” Saat Adrian akan merangkul Tara, wanita itu refleks menyingkir. Membuat Adrian mengerutkan kening. “Kenapa?”

“Ah, tidak.” Tara berusaha bersikap normal padahal dalam hatinya, ia benar-benar merasa muak dan kesal setengah mati. Bagaimana bisa Adrian memainkan peran begitu sempurna—pagi hari bercinta dengan kakak kembarnya di ruang kerja rumah ini, lalu dengan entengnya bersikap manis dan lembut di depan Tara. Seolah tak terjadi apa pun.

Sialnya, Tara baru mengetahui sedikit demi sedikit kebohongan yang Adrian lakukan padanya. Dan akan Tara cari tahu sampai ke akarnya.

“Kalau ada yang membuatmu tidak nyaman, kau bisa bilang padaku,” ujar Adrian. “Atau… kau marah padaku?”

Pertanyaan itu keluar begitu saja. Spontan. Seolah itu satu-satunya penjelasan yang masuk akal bagi perubahan kecil Tara yang ia tangkap.

Tara menatapnya heran, lalu menggeleng pelan. “Marah?” ulangnya, suaranya tetap lembut. “Kenapa aku harus marah?”

Berhubung Adrian masih menatapnya dengan sorot heran, Tara kembali berkata untuk menyingkirkan keraguan di benak pria itu. “Tidak ada apa-apa,” lanjut Tara ringan. “Aku hanya lelah. Itu saja.”

Adrian akhirnya mengangguk, meski samar-samar rasa heran masih tertinggal di wajahnya. Ia mengikuti langkah Tara memasuki rumah. “Oh, aku lupa mengatakan padamu, kakakmu berkunjung. Katanya ia merindukan Liora.”

Tentu saja Kara ada di rumah ini.

“Oh ya? Sejak kapan?” tanya Tara berusaha riang. Biasanya ia senang dengan kunjungan Kara karena merasa, Kara adalah satu-satunya saudari yang ia miliki.

Tak pernah Tara bayangkan sebelumnya, orang yang sangat dekat dengannya, adalah orang yang mengkhianatinya begitu besar.

“Satu jam lalu,” sahut Adrian.

Pembohong! Maki Tara dalam hati.

Mereka pun berjalan beriring menuju ruang tamu dan kemudian ... suara itu terdengar. Tawa riang seorang anak dan suara lembut nan merdu milik seorang wanita.

Liora Ashbourne—anak perempuan berusia 5 yang mereka adopsi tak lama setelah menikah. Dia duduk di karpet ruang keluarga, dikelilingi mainan. Wajah kecilnya berbinar, tubuhnya setengah bersandar pada sosok yang duduk di sampingnya.

Kara Evangeline.

Wanita itu tertawa pelan, jemarinya menyelip di rambut Liora dengan begitu alami—Seolah memang itu tempatnya sejak awal.

“Ah, kau sudah pulang?” Kara menoleh, senyumnya mengembang begitu melihat mereka. “Aku hanya mampir sebentar. Aku merindukan Liora.”

Mata Kara terbeliak tak percaya saat menatap Tara. “Apa yang terjadi padamu, adikku yang manis?”

Ia pun mendekat dan saat akan menyentuh luka di pelipis Tara, Tara menepisnya dengan kasar.

“Maafkan aku,” kata Tara seketika. “Aku—“

Bukan hanya Tara yang terkejut, Kara juga. Biasanya Tara tak pernah menampik perhatian darinya.

“Aku tak apa-apa, Kara. Hanya tergelincir,” sahut Tara berusaha tenang.

“Astaga,” kata Kara penuh simpati. “Lain kali berhati-hatilah, Tara.”

Kalimat itu semula terdengar wajar namun kini bagi Tara, perhatian itu benar-benar memuakkan. “Iya, terima kasih atas perhatianmu.”

Sementara itu, Liora langsung menoleh ke arah Adrian, lalu berdiri kecil dan berlari mendekat. “Papa!” serunya riang.

Adrian membungkuk, mengangkatnya dengan mudah, senyum tipis muncul di wajahnya. Beberapa kali ia menciumi pipi putrinya. “Anak Papa baik hari ini?” tanyanya.

“Iya!” jawab Liora semangat, lalu matanya melirik ke arah Kara, seolah mencari konfirmasi.

Kara tersenyum bangga. “Dia sangat manis hari ini. Kau tenang saja, Adrian.”

Tara berdiri di sana. Diam namun diam-diam memerhatikan interaksi mereka. Kali ini jauh lebih lekat dan terus menegaskan satu pemikiran yang tak masuk akal. Akan tetapi melihat semua kedekatan ini, kenapa tak masuk akal? Justru semuanya tampak jelas sekarang.

Sungguh, ia sangat bodoh. Apa yang Kara katakan pagi tadi benar. Kenapa ia mudah sekali dibodohi? Bahkan hal sesepele ini saja, ia tak menyadarinya.

“Liora,” panggil Kara lembut, menepuk pelan bahu anak itu. “Ayo sapa ibumu.”

Ibumu. Rasanya Tara ingin sekali terbahak hingga menangis.

Liora menoleh ke arah Tara. Tatapan kecil itu tidak lagi sehangat saat menatap Kara. Ia mengerutkan kening, lalu menggeleng. “Aku tak mau,” katanya cepat.

Suasana mendadak sedikit hening. Biasanya, di titik ini, Tara akan mendekat, berlutut, membujuk dengan sabar, dan memberikan usapan lembut di puncak kepala Liora. Namun kali ini, ia hanya berdiri mematung.

“Kenapa?” tanya Kara, masih dengan nada lembut.

“Karena Mama galak,” jawab Liora tanpa ragu. “Mama sering sekali tak memperbolehkanku makan banyak permen. Banyak aturan.”

Biasanya, Tara akan menegur, menjelaskan mana yang baik untuk Liora, atau mencoba memperbaiki. Namun tidak hari ini. Tidak setelah semua yang ia dengar. Dan setelah ia tahu ... siapa yang sebenarnya berdiri di depannya.

Tara yakin seratus persen, Liora adalah anak dari Kara dan Adrian. Saat ini, ia lebih fokus memerhatikan kemiripan anak itu dengan orang tuanya. Dan tak bisa dimungkiri, Liora benar-benar perpaduan Adrian dan Kara.

Tara menarik napas pelan lalu tersenyum tipis. “Tidak apa-apa,” katanya tenang.

Semua orang menoleh padanya dengan sorot heran.

Tara menatap Liora sejenak—bukan dengan marah, bukan juga dengan kecewa. Hanya tatapan datar dan tanpa ekspresi. Lalu ia berkata pelan, “Lakukan saja apa yang kau inginkan, Liora.”

Ia pun mendekat dan mengusap puncak kepala Liora. “Aku tak akan pernah melarangmu lagi.”

Ia berhenti sebentar sebelum beranjak menuju kamarnya. Pandangan itu beralih sekilas ke arah Kara. Dan untuk pertama kalinya, ia berkata penuh penekanan. “Lagi pula… ada ibumu, kan?”

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Kau Pilih Dia, Aku Ambil Segalanya   [ENDING]

    Victor memeluknya semakin erat. Dua tahun pernikahan tidak pernah mengurangi sedikit pun rasa cintanya kepada Tara. Justru semakin lama, semakin banyak alasan yang membuat Victor bersyukur karena wanita itu akhirnya memilihnya. Kini, ketika Tara kembali memberinya kabar tentang kehadiran seorang anak, perasaan itu seolah tumbuh semakin besar.Victor melepaskan pelukannya sedikit, lalu menatap wajah Tara. Matanya masih menyimpan rasa haru yang begitu jelas.“Aku akan menjadi ayah lagi.”Tara tersenyum. “Ya.”Victor tertawa kecil. Ada kebahagiaan yang begitu sederhana di wajahnya, tetapi justru itu yang membuat Tara ikut terharu. “Aku mencintaimu,” bisiknya.Tara menatapnya beberapa saat. Kalimat itu mungkin sederhana, tetapi ia tahu betapa dalam maknanya bagi Victor. Pria itu tidak pernah menjadi seseorang yang terlalu banyak berbicara tentang perasaannya. Namun, setiap kali Victor mengucapkan cinta kepadanya, Tar

  • Kau Pilih Dia, Aku Ambil Segalanya   [165] a

    Dua tahun berlalu sejak pernikahan besar itu. Nama Tara semakin bersinar sebagai salah satu perempuan yang patut diperhitungkan dalam dunia bisnis. Berbagai proyek besar berhasil ditanganinya, dan kemampuannya dalam melihat peluang membuat banyak orang mulai menghormatinya.Victor tidak pernah menghalangi apa pun yang ingin dilakukan Tara. Sebaliknya, pria itu selalu menjadi orang pertama yang memberikan dukungan. Ia tahu Tara tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan dan tidak pernah mengambil keputusan tanpa pertimbangan.Dan karena kesibukan itu juga, hampir selama empat bulan terakhir, mereka bahkan tidak memiliki waktu untuk menikmati kehidupan keluarga karena kesibukan mengurus proyek baru. Karena itu, ketika semuanya akhirnya selesai, Victor memutuskan membawa Tara, Liora, dan Lawrence berlibur ke sebuah pulau privat.Hanya mereka berempat yang berada di sana bersama beberapa pelayan yang menemani kebutuhan mereka.Tara benar-benar merasa ini waktu li

  • Kau Pilih Dia, Aku Ambil Segalanya   [165] b

    Berita pernikahan Victor dan Tara tidak berhenti sampai di tempat Adrian menjalani hukumannya. Kabar tersebut juga tersebar ke tempat Leonard, Kara, dan Helena menjalani hukuman mereka. Foto Tara dalam balutan gaun pengantin bersama Victor muncul di berbagai pemberitaan yang bisa mereka lihat. Bagi sebagian orang, berita itu mungkin hanya kabar mengenai sebuah pernikahan besar. Namun, bagi mereka yang pernah menjadi bagian dari kehidupan Tara, berita tersebut memiliki arti yang jauh lebih besar.Leonard membaca berita tersebut dalam diam. Tatapannya berhenti cukup lama pada foto Tara bersama Victor. Ia berada di salah satu sudut lapangan rumah tahanan tempatnya menghabiskan sebagian besar waktunya.Ada rasa sesak yang perlahan memenuhi dadanya, bukan karena ia masih berharap sesuatu dari wanita itu, tetapi karena akhirnya ia benar-benar menyadari bahwa kehidupan Tara sudah berjalan jauh tanpa mereka.Ia tidak pernah membayangkan semuanya akan berakhir seperti in

  • Kau Pilih Dia, Aku Ambil Segalanya   [165] a

    Enam bulan berlalu sejak Tara menerima lamaran Victor. Dalam waktu tersebut, banyak hal berubah. Kondisi Tara semakin membaik, bayinya tumbuh sehat, dan kehidupan di mansion terasa semakin ramai dengan kehadiran bayi kecil mereka.Setelah melewati masa pemulihan dan mempersiapkan segala sesuatu dengan baik, akhirnya hari yang mereka nantikan tiba.Pernikahan Victor dan Tara digelar dengan begitu mewah. Para tamu yang hadir berasal dari berbagai kalangan. Keluarga, sahabat, rekan bisnis, hingga orang-orang penting yang selama ini mengenal Victor dan Tara memenuhi tempat acara. Dekorasi dibuat mewah, tetapi tetap elegan.Semuanya dipersiapkan dengan sangat matang, seolah Victor ingin memastikan tidak ada satu pun hal yang membuat hari penting itu terasa kurang sempurna bagi Tara. Namun, bagi Tara, kemewahan itu bukan bagian terpenting dari hari tersebut.Yang membuatnya bahagia adalah kenyataan bahwa untuk pertama kalinya, ia berdiri di sebuah pernikahan ta

  • Kau Pilih Dia, Aku Ambil Segalanya   [164]

    Tidak lama setelah Victor selesai menggendong bayi kecil itu, pintu ruang perawatan kembali terbuka. Liora muncul bersama Vivian dan Gilbert. Gadis kecil itu langsung menghentikan langkahnya ketika melihat Victor berdiri di sisi ranjang dengan bayi kecil di dalam dekapannya.Matanya langsung berbinar. “Apa itu ... adikku?”Victor tersenyum. “Ya. Ini adikmu.”Liora berjalan mendekat dengan langkah hati-hati. Ia berdiri di samping Victor dan memperhatikan bayi yang masih tertidur dengan wajah penuh rasa ingin tahu. “Dia kecil sekali.”Tara tertawa pelan. “Kau juga dulu sekecil itu.”“Benarkah?”“Tentu saja.”Liora menatap adiknya lagi. Kemudian ia mengulurkan satu jari dan menyentuh tangan kecil bayi itu dengan sangat hati-hati. “Dia lucu sekali. Dia mirip sekali denganmu, Mommy Tara.”Victor mengangguk. “Menurutmu begitu?”&ldq

  • Kau Pilih Dia, Aku Ambil Segalanya   [163]

    Victor tiba di rumah sakit dengan langkah terburu-buru. Begitu mendapatkan kabar dari Vivian bahwa Tara sudah dibawa ke ruang persalinan, ia langsung meninggalkan semua urusan yang masih harus diselesaikannya. Perjalanan yang biasanya terasa panjang kini seolah tidak cukup cepat baginya.Saat Victor akhirnya sampai di depan ruang persalinan, pintu baru saja terbuka. Seorang perawat keluar, dan beberapa saat kemudian Victor melihat Tara yang sudah dipindahkan ke ruang perawatan.Ia berhenti di ambang pintu.Tara tampak lelah. Wajahnya masih pucat setelah melewati proses persalinan, tetapi ada senyum tipis di wajahnya. Di dalam dekapannya, seorang bayi kecil tertidur dengan tenang.Victor tidak langsung bergerak.Matanya perlahan memerah ketika melihat pemandangan itu. Selama beberapa detik, ia hanya berdiri di sana, seolah sedang memastikan bahwa semua yang ada di hadapannya benar-benar nyata.Tara menoleh. “Victor?”Pria itu akhirnya mendekat. Tatapannya tidak pernah lepas dari bayi y

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status