Share

[2]

Penulis: Major_Canis
last update Tanggal publikasi: 2026-07-01 11:38:14

Jalanan tampak lengang. Tara berkendara dengan kecepatan stabil. Lampu lalu lintas berganti warna, kendaraan bergerak perlahan, dan langit siang itu tampak cerah.

Berbeda dengan dirinya yang dikelilingi cahaya mendung. Tangannya menggenggam setir, tapi pikirannya jauh tertinggal.

Suara itu kembali terngiang.

“Namanya tidak pernah tercatat sebagai istri.”

“Yang terdaftar itu milikku.”

“Aku akan menyingkirkannya.”

Napas Tara tersendat. Ia mencoba fokus tapi apa yang baru saja terjadi datang silih berganti merusak konsentrasi.

Lima tahun ia hidup dalam sesuatu yang bahkan tidak pernah ada.

Tangannya mengencang di setir. Dadanya terasa semakin sesak. Ada sesuatu yang naik dari dalam dirinya—campuran antara marah, hancur, dan hampa.

Lampu lalu lintas di depannya berubah menjadi kuning. Tara tidak menyadari hal itu. Pikirannya kembali ke satu hal yang baru saja ia genggam beberapa waktu lalu—lembaran kertas yang membuktikan semuanya. Nama itu. Tanggal itu.

Semuanya nyata. Bukan mimpi.

Klakson terdengar nyaring dari arah samping dan membuat Tara tersentak. Matanya membelalak saat sebuah mobil melaju dari arah kanan, terlalu dekat dan semuanya terjadi begitu cepat.

Refleksnya datang terlambat dan semuanya terjadi dalam hitungan detik. Suara benturan terdengar keras, diikuti hentakan yang membuat tubuhnya terdorong ke depan. Dunia berputar. Kepalanya terbentur dan untuk sesaat ... semuanya sunyi.

Lalu terdengar suara yang sangat berisik—kacau, tumpang tindih. Orang-orang berteriak. Pintu mobil dibuka paksa. Seseorang memanggilnya. “Tolong, dia masih sadar!”

Tara mengerjap pelan. Pandangannya buram. Tubuhnya terasa berat, tapi tidak ada rasa sakit yang benar-benar tajam.

“Miss, Anda bisa mendengar saya?”

Ia ingin menjawab, tapi suaranya tertahan di tenggorokan. Satu hal yang tiba-tiba muncul di benaknya—aku harus ke bandara.

Waktu terasa begitu cepat.

Tara tidak benar-benar ingat bagaimana ia bisa sampai di rumah sakit terdekat, bagaimana pemeriksaan dilakukan, atau bagaimana ia duduk di kursi itu dengan tangan yang masih sedikit gemetar.

Yang ia ingat hanya satu kalimat.

“Selamat, Anda hamil. Sekitar tiga minggu. Untungnya, apa yang terjadi pada Anda tidak membahayakan kandungan Anda. Tolong ... berhati-hatilah berkendara.”

Dunia seolah berhenti lagi.

“Aku ... Hamil?” suaranya nyaris tak terdengar.

Dokter itu mengangguk, menjelaskan sesuatu yang tidak sepenuhnya ia tangkap. Kondisi awal, usia kehamilan, dan hal-hal yang harus dijaga.

“Itu tidak mungkin.” Tara tertawa. Lebih pada menertawakan hal yang begitu konyol. “Aku ... hamil?” ulangnya sekali lagi. Kali ini ia mengusap perutnya yang masih rata.

“Kenapa Anda tak percaya?” Dokter Evans mengernyit heran. “Lalu hasil pemeriksaan ini milik siapa kecuali milik Anda, Miss Tara.”

Tara menatap hasil pemeriksaan yang ada di tangannya sekali lagi. Ia belum lupa hasil pemeriksaan kandungan dokter keluarga Ashbourne, orang yang dipercaya Adrian untuk mengurus kesehatan keluarganya, termasuk Tara. Dia bilang, Tara sulit untuk punya anak.

Ada banyak hal yang diberitahukan serta obat-obatan yang harus Tara minum. Adrian sering kali memberi dukungan, jika belum memiliki anak, baginya tak masalah. Mereka bisa mengadopsi seorang anak. Dan karena dukungan Adrian itulah, Tara setuju adanya proses adopsi.

Tapi yang sekarang Tara hadapi adalah lembar pemeriksaan yang lain.

Tiga minggu usia kehamilannya.

Pikirannya mencoba mengingat. Dan kemudian… satu malam itu muncul. Malam di mana Adrian pulang dalam keadaan mabuk. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, pria itu menyentuhnya—meski dingin dan tanpa perasaan, tapi bagi Tara malam itu menjadi malam yang tak terlupakan.

Saat itu, Tara bahkan sempat berpikir—mungkin semuanya akan membaik. Seks yang menyenangkan biasanya membuat mood pasanganmu ada di titik terbaik.

“Jadi aku ... “ Air matanya lolos satu per satu tanpa bisa dicegah. “Aku benar-benar hamil?”

“Tentu saja,” Dokter Evans cukup aneh dengan tanggapan wanita di depannya ini. “Anda sehat, kandungan Anda tak bermasalah. Jadi ... kenapa Anda ragu jika saat ini Anda hamil?”

Sekali lagi, Tara tertawa tapi penuh kegetiran. “Jadi selama ini, apa mungkin ... dokter itu berbohong?”

“Ya?”

“Ah, tidak.” Tara berusaha mengendalikan dirinya. Apa yang harus ia rasakan sekarang? Bahagiakah? Sedih? Atau hancur?

Anak ini…

Anak dari pria yang baru saja ia dengar ingin menyingkirkannya. Entah ia sadari atau tidak, ia tertawa. Menertawakan takdir yang menimpanya. “Luar biasa,” gumamnya lirih.

Di saat hidupnya runtuh, sesuatu justru tumbuh di dalam dirinya.

Ponselnya kembali bergetar. Nama Victor kembali muncul di layar.

Victor.

Tara menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat.

“Tara, kau sudah di mana?” suara pria itu terdengar tenang, seperti biasa. Tidak mendesak, tapi cukup untuk membuatnya sadar akan apa yang ia lewati.

Tara menutup matanya sejenak, lalu menarik napas panjang. Ia tidak boleh terdengar kacau. “Dalam perjalanan, Daddy,” jawabnya, berusaha menjaga suaranya tetap stabil.

“Baiklah. Aku akan mendarat satu jam lagi.”

Panggilan itu pun berakhir.

Tara menatap pantulan dirinya di cermin yang ada di ruang pemeriksaan. “Terima kasih atas penjelasan Anda, Dokter.” Ia berusaha untuk berdiri.

“Sebaiknya Anda berhati-hati dan jangan melakukan pekerjaan berat,” kata si dokter memberi peringatan.

Tara hanya menanggapi dengan anggukan pelan. Lalu ia meninggalkan rumah sakit dengan perasaan yang campur aduk. Tidak ada waktu untuk memikirkan langkah selanjutnya. Dan jangan sampai ia hancur sebelum waktunya.

Jangan.

***

Bandara dipenuhi orang-orang yang datang dan pergi. Suasana yang hidup, kontras dengan apa yang Tara rasakan. Ia berdiri tidak jauh dari pintu kedatangan, mencoba terlihat normal meski tubuhnya masih terasa nyeri. Ia juga berusaha agar luka yang ia derita di tangan dan pelipis, tak terlalu kentara meski ...

Tara yakin Victor akan banyak bertanya apa yang terjadi padanya.

Dan kemudian, ia melihatnya.

Victor Alistair Ashbourne.

Pria itu berjalan dengan langkah tenang, aura berwibawanya tetap terasa meski tanpa usaha berlebihan. Tatapannya langsung menangkap Tara, dan untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang berubah di sana.

Sedikit mengernyit dan sorot matanya langsung tertuju pada perban yang menempel di pelipis Tara. “Tara, apa yang terjadi padamu?”

Tara tersenyum tipis. “Tidak ada, Daddy. Hanya ... luka kecil.”

Kening Victor berkerut dalam. “Kelihatannya itu bukan luka kecil, Tara.”

“Saya baik-baik saja. Sungguh,” kata Tara berusaha meyakinkan. “Saya hanya sedikit jatuh kemarin,” jawabnya ringan. “Tidak apa-apa. Anda tidak perlu khawatir.”

Victor tidak langsung menanggapi. Tatapannya masih tertahan beberapa detik lebih lama, seolah menimbang apakah ia harus percaya atau tidak. Namun akhirnya, ia mengangguk kecil. “Baiklah jika kau berkata seperti itu.”

Mereka pun berjalan berdampingan menuju mobil.

“Kenapa Anda tidak ingin Adrian tahu Anda datang?” tanya Tara pelan setelah mereka duduk di dalam mobil.

Victor menatap lurus ke depan. “Aku ingin memberinya kejutan,” jawabnya tenang. “Dan aku juga ingin melihat langsung perkembangan proyek Neo Group.”

Ia melirik Tara sekilas. “Dan orang yang paling tepat untuk menjelaskannya… adalah kau. Penjelasanmu jauh lebih spesifik dan memuaskanku untuk beberapa hal.”

Tara termangu. Ia tidak menyangka. Di saat semua orang memanfaatkannya, masih ada seseorang justru mengakuinya. Ia mengangguk kecil. “Saya akan menyiapkan laporan lengkapnya.”

“Aku juga butuh laporan keuangan proyek yang dipegang Adrian. Aku bisa mendapatkannya darimu, kan?”

Tara menoleh dan menatap Victor dengan heran. “Bukankah Anda bisa memintanya langsung dari Tuan Hans?”

Hans adalah manager keuangan di bawah pengawasan Adrian. Apa pun yang Adrian butuhkan untuk kelancaran proyek yang dikelolanya, semua berasal dari persetujuan Hans.

“Kau benar,” Victor tersenyum tipis. “Tapi seperti yang kukatakan, aku tak ingin Adrian tahu jika aku kembali.”

Meskipun aneh, tapi Tara memilih mengangguk mengiyakan saja. Di lobi bandara, mobil mewah sudah menunggu untuk mengantarkan Victor ke tempat yang ia inginkan. Mobil pun bergerak meninggalkan bandara. Beberapa saat berlalu tanpa ada yang bicara di antara mereka. Lalu Victor kembali bersuara, nada bicaranya sedikit lebih ringan.

“Ngomong-ngomong,” katanya, “aku dengar perayaan ulang tahun pernikahan kalian akan segera diadakan.”

Jantung Tara berdegup pelan. Ironis sekali jika ia masih mengharapkan perayaan itu sama seperti tahun-tahun sebelumnya. “Ya,” jawabnya singkat.

“Apa yang kau inginkan sebagai hadiah?” lanjut Victor. “Sebagai ayah mertua, aku rasa aku belum pernah benar-benar menanyakan itu padamu.”

Tara menoleh dan menatap Victor agak lama sebelum akhirnya kembali memerhatikan jalanan.

“Katakan saja apa pun yang kau inginkan,” kata Victor dengan tenang. “Sebagai bagian dari keluarga Ashbourne, kurasa kau pantas mendapatkan hadiah dariku.”

“Apa ... pun?” tanya Tara menegaskan.

“Ya.” Victor menanggapi dengan tegas. “Apa pun.”

Tara tidak langsung menjawab.

Tatapannya kembali lurus ke depan. Semua hal yang terjadi dalam hidupnya, kembali terputar. Selama ini, ia hanya berada di luar. Menjalankan apa yang diminta, menjadi wajah yang dipercaya, dan tangan yang menyelesaikan masalah.

Namun tak pernah sekalipun menjadi orang yang memegang kendali.

Dan hasilnya? Ia kehilangan segalanya bahkan sebelum sempat menyadarinya. Pernikahan yang bukan miliknya. Kehidupan yang dibangun di atas kebohongan yang rapi. Jika ia tetap berada di tempat yang sama, maka apa pun yang ia lakukan hanya berakhir sia-sia.

Tidak akan pernah berarti.

Tara menghela napas panjang. Jemarinya saling meremas satu sama lain—bukan karena rapuh, tapi karena sesuatu yang mulai terbentuk di dalam dirinya.

Kesadaran akan apa yang terjadi dan apa yang harus ia lakukan untuk menanggulanginya.

Ia tidak butuh pengakuan dan tidak butuh belas kasihan. Tara butuh posisi yang absolut. Sesuatu yang tidak bisa diambil darinya begitu saja. Sesuatu yang membuatnya… tidak lagi bisa disingkirkan.

Tara menoleh pelan. Sorot matanya berbeda dari sebelumnya—tidak lagi terasa kosong dan tidak lagi ragu.

Penuh tenang, ia pun berkata, “Jadikan aku CEO Ashbourne, Daddy,” ucapnya akhirnya, suaranya rendah namun tegas. “Apa itu bisa kau berikan sebagai hadiah untukku?”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (5)
goodnovel comment avatar
Yati Syahira
cerai dan pe4gi baik taraamankan asetmu dan proyekmu
goodnovel comment avatar
Ros
Cinta kadang membuat buta hati dan pikiran seseorg. Bagus Tara , sdh waktunya move On. Semoga jabatan CEO diksh sm mertua nya. Biar km tdk diremehkan oleh suami mu. Dan bilang juga kemertua.Aku hamil. Tp jgn bilang2 Adrian suami nya.Dan setelah jd CEO ksh tau pernikahan nya dgn adrian tdk pernah ada
goodnovel comment avatar
Rania Humaira
seharusnya si tara ini sadar diri dg suami yg jarang bahkan nyaris g pernah menyentuhnya kecuali ketika mabuk. tapi cinta membuatnya bodoh dan buta.
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Kau Pilih Dia, Aku Ambil Segalanya   [163]

    Victor tiba di rumah sakit dengan langkah terburu-buru. Begitu mendapatkan kabar dari Vivian bahwa Tara sudah dibawa ke ruang persalinan, ia langsung meninggalkan semua urusan yang masih harus diselesaikannya. Perjalanan yang biasanya terasa panjang kini seolah tidak cukup cepat baginya.Saat Victor akhirnya sampai di depan ruang persalinan, pintu baru saja terbuka. Seorang perawat keluar, dan beberapa saat kemudian Victor melihat Tara yang sudah dipindahkan ke ruang perawatan.Ia berhenti di ambang pintu.Tara tampak lelah. Wajahnya masih pucat setelah melewati proses persalinan, tetapi ada senyum tipis di wajahnya. Di dalam dekapannya, seorang bayi kecil tertidur dengan tenang.Victor tidak langsung bergerak.Matanya perlahan memerah ketika melihat pemandangan itu. Selama beberapa detik, ia hanya berdiri di sana, seolah sedang memastikan bahwa semua yang ada di hadapannya benar-benar nyata.Tara menoleh. “Victor?”Pria itu akhirnya mendekat. Tatapannya tidak pernah lepas dari bayi y

  • Kau Pilih Dia, Aku Ambil Segalanya   [162]

    Hari itu, Tara merasa begitu senang dan bahagia. Wajahnya tampak berbinar cerah sejak pagi. Setelah beberapa hari beristirahat di rumah, ia akhirnya datang ke kantor untuk melakukan serah terima tugas kepada orang yang akan menggantikannya sementara selama masa cuti.Tara sebenarnya tidak terlalu menyukai gagasan meninggalkan pekerjaannya dalam waktu cukup lama. Namun, ia juga memahami bahwa kali ini tubuhnya membutuhkan lebih banyak waktu untuk beristirahat. Karena itu, ia memastikan semua pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya telah dijelaskan dengan baik sebelum dirinya benar-benar mengambil cuti.Namun, ia tidak menyangka akan mendapatkan begitu banyak kejutan.Beberapa teman kerjanya sudah menyiapkan hadiah kecil untuknya. Teman-teman satu divisi datang memberikan ucapan, bahkan beberapa orang dari divisi lain ikut menyempatkan diri untuk menemui Tara. Mereka memberikan berbagai perlengkapan bayi, bunga, dan beberapa hadiah sederhana yang membuat Tara berkali-kali tersenyum.“S

  • Kau Pilih Dia, Aku Ambil Segalanya   [161]

    Malam semakin larut, tetapi Tara masih belum bisa tidur. Ia sudah beberapa kali mencoba memejamkan mata, tetapi pikirannya terus kembali pada percakapannya dengan Vivian. Entah mengapa, sosok Isabel tiba-tiba memenuhi pikirannya. Wanita yang bahkan tidak pernah ia temui itu justru membuat Tara memikirkan banyak hal tentang Victor.Tara tahu bahwa Isabel pernah menjadi seseorang yang sangat berarti bagi Victor. Tara tidak ingin membandingkan dirinya dengan Isabel. Ia bahkan merasa tidak pantas melakukannya. Namun, semakin ia memikirkan semua itu, semakin banyak pertanyaan yang muncul di kepalanya.Ponselnya tiba-tiba berdering. Tara mengambilnya dan melihat nama Victor di layar. Ia segera menerima panggilan tersebut.“Belum tidur?” suara Victor terdengar dari seberang.“Belum.”Victor terdiam sesaat. “Kau terdengar berbeda.”Tara menghela napas pelan. “Aku ... hanya tidak bisa tidur.”“Ada masalah?” tanya Victor dengan nada cemas.“Tidak ada.”“Tara.” Nada suara Victor membuat Tara tah

  • Kau Pilih Dia, Aku Ambil Segalanya   [160]

    Beberapa hari kemudian, Victor mendapatkan sebuah agenda meeting yang mengharuskannya pergi ke luar negeri. Pertemuan tersebut tidak bisa diwakilkan dan diperkirakan akan berlangsung selama beberapa hari. Setidaknya, Victor harus berada di luar negeri selama satu minggu.Sejak mengetahui hal itu, Victor terlihat tidak terlalu tenang. Bukan karena urusan pekerjaannya, melainkan karena ia harus meninggalkan Tara dalam kondisi seperti sekarang.“Kau benar-benar harus pergi?” tanya Tara ketika Victor kembali memastikan jadwal keberangkatannya.“Ya.”“Kalau begitu, pergilah. Urusan ini tak bisa ditunda.”Victor menatapnya seolah tidak menyangka jawaban Tara akan sesingkat itu.Tara tersenyum kecil. “Ini hanya pekerjaan, Victor. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Aku akan baik-baik saja.”“Aku tahu kau bisa menjaga dirimu sendiri.”“Kalau begitu, kenapa wajahmu seperti itu?”Victor tidak langsung menjawab. Ia justru kembali me

  • Kau Pilih Dia, Aku Ambil Segalanya   [159]

    Dua hari berlalu sejak Tara diminta untuk beristirahat total di rumah. Untuk sementara waktu, ia tidak lagi membuka pekerjaan yang terlalu berat dan mulai membiasakan dirinya mengikuti saran dokter.Kamar yang diminta Victor juga sudah selesai dibuat. Letaknya di lantai satu, dekat taman di sudut mansion, dan kini siap didekorasi sesuai keinginan Tara. Dan seperti apa yang Victor katakan, bagian ini terasa lebih tenang, nyaman, dan benar-benar terasa lebih hangat dibanding sudut rumah lainnya.Berbagai barang yang mereka beli dari beberapa butik mulai berdatangan. Liora tampak sangat antusias ketika melihat semua perlengkapan bayi tersebut. Ia bahkan ikut membawa beberapa barang kecil ke dalam kamar calon adiknya, meski sebagian besar waktu justru dihabiskannya dengan melihat-lihat setiap benda yang ada di sana.“Yang ini untuk adik, kan?” tanya Liora sambil mengangkat sebuah pakaian bayi.“Iya,” jawab Tara.“Kalau yan

  • Kau Pilih Dia, Aku Ambil Segalanya   [158]

    Setelah selesai dari butik pertama, Tara mengira mereka akan langsung pulang. Namun, Victor ternyata sudah memiliki rencana lain.“Kita mau ke mana lagi?” tanya Tara ketika mereka kembali berhenti di depan sebuah butik perlengkapan bayi lainnya.Victor membelokkan kursi roda yang membawa Tara masuk. “Masih ada beberapa barang yang belum kita beli.”Tara menatapnya tidak percaya. “Bukankah tadi sudah cukup banyak?”“Belum.”“Tapi—““Masih ada yang diperlukan, Tara.” Pria itu hanya tersenyum. “Ayo. Kau bisa melihat-lihat dulu. Kalau memang tidak ada yang kau sukai, kita tidak perlu membeli apa pun.”Tara akhirnya menuruti apa yang Victor katakan. Namun, setelah memasuki butik kedua, ia segera menyadari bahwa perkataan Victor tidak sepenuhnya benar. Mereka kembali melihat pakaian bayi, perlengkapan tidur, selimut, hingga berbagai barang kecil yang m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status