เข้าสู่ระบบ“Kita sudah sampai, Nona Tara,” kata sopir memberitahu.
Sekali lagi Tara menghela panjang. Siap tak siap, ia harus menghadapi hari ini. “Terima kasih.”
Sopir itu mengangguk sopan saat membukakan pintu mobil untuk Tara. Membiarkan wanita itu turun dan mengingatkan agar hati-hati melangkah.
Begitu langkah Tara mulai memasuki area lobi, suasana di kantor pusat Ashbourne Group terasa berbeda.
Perbedaannya tidak terlihat secara kasat mata. Tidak
Keheningan langsung menyelimuti ruangan. Tidak ada yang bersuara satu pun, bahkan beberapa direksi yang sebelumnya terlihat santai tanpa sadar memperbaiki posisi duduk mereka.Tatapan mereka berpindah dari Adrian ke Tara lalu kembali lagi. Seolah sedang menyaksikan sesuatu yang seharusnya tidak terjadi. Karena selama bertahun-tahun, tidak ada yang pernah melihat Tara membantah Adrian di depan orang lain.Sepanjang yang mereka tahu, Tara selalu mengalah dan mematuhi apa pun yang Adrian katakan. Namun wanita yang berdiri di ruangan ini sekarang tampak berbeda.Adrian mengatupkan rahangnya sesaat. "Aku bertanggung jawab atas keamanan data perusahaan."Tara mengangguk pelan seolah mengakui fakta tersebut. "Dan Tuan Keith bertanggung jawab memastikan data yang diberikan perusahaan sesuai dengan kenyataan yang ada.""Aku tetap berhak menentukan apa yang bisa diakses."Jawaban itu mendapatkan senyum tipis dari Tara sebagai respons. "Tidak selama da
"Terima kasih sudah datang menemuiku."Wanita itu terlihat sedikit lega mendengar ucapan tersebut. "Saya hanya merasa seseorang harus mengetahui hal ini.""Aku akan memeriksanya lebih lanjut."Wanita itu mengangguk sebelum akhirnya meninggalkan ruangan. Begitu pintu tertutup, Tara mengembuskan napas panjang dan memijat pelipisnya perlahan.Setelah wanita dari divisi keuangan itu meninggalkan ruangan, Tara tidak langsung membuka kembali map yang baru saja diterimanya. Ia duduk diam selama beberapa saat, membiarkan berbagai kemungkinan berputar di kepalanya. Matanya terus saja tertuju pada tumpukan berkas itu. Terlalu banyak pertanyaan yang muncul hanya dari beberapa lembar dokumen tersebut.Dan yang paling mengganggunya adalah fakta bahwa pola transaksi itu membentang jauh ke belakang, seolah telah menjadi bagian dari sistem yang berjalan begitu lama hingga nyaris tak terlihat lagi.Serta ... selain orang yang menandatangani berkas ini, masih
“Kau bisa memulainya, Tuan Keith. Maaf membuatmu menunggu,” kata Victor dengan senyum tipis.Lima belas menit telah berlalu tanpa ada satu pun suara yang menyatakan keberatannya atas keputusan Victor. Di mata pria itu, mereka yang sebelumnya begitu lantang bersuara tak lebih dari pengecut. Mereka hanya berani menyerang dari balik kerumunan, namun tak cukup berani mempertanggungjawabkan pendapatnya saat diminta berbicara secara terbuka.“Baik, Tuan Victor.”Keith Sullivan terlihat mengembuskan napas lega sebelum berdiri dari kursinya. Pria berusia sekitar lima puluh tahun itu merupakan salah satu partner senior dari firma audit independen yang selama ini dikenal memiliki reputasi sangat baik di dunia bisnis. Selama bertahun-tahun, timnya menangani audit berbagai perusahaan multinasional, konglomerasi keluarga, hingga beberapa perusahaan publik berskala besar.Mereka bukan tim yang mudah dipengaruhi. Dan itulah alasan Victor memilih
“Kita sudah sampai, Nona Tara,” kata sopir memberitahu.Sekali lagi Tara menghela panjang. Siap tak siap, ia harus menghadapi hari ini. “Terima kasih.”Sopir itu mengangguk sopan saat membukakan pintu mobil untuk Tara. Membiarkan wanita itu turun dan mengingatkan agar hati-hati melangkah.Begitu langkah Tara mulai memasuki area lobi, suasana di kantor pusat Ashbourne Group terasa berbeda.Perbedaannya tidak terlihat secara kasat mata. Tidak ada keributan yang mengganggu aktivitas para karyawan. Lift tetap bergerak naik turun seperti biasa. Para staf masih membawa tablet dan dokumen sambil berjalan cepat dari satu divisi ke divisi lain.Namun ada sesuatu yang berubah. Sesuatu yang tidak terlihat, tetapi bisa dirasakan—Ketegangan. Bisik-bisik yang biasanya hanya ada di ruang istirahat kini menyebar hingga ke koridor-koridor kantor. Setiap orang tahu apa yang akan dimulai hari ini.Audit eksternal.Dan lebih
Pagi itu Tara turun ke lantai bawah sedikit lebih awal dari biasanya.Meski Tara tidur lebih nyenyak dibanding beberapa malam terakhir, ia tetap terbangun sebelum alarmnya berbunyi. Mungkin karena hari ini audit resmi dimulai. Atau mungkin karena pikirannya sudah terlalu terbiasa mempersiapkan berbagai kemungkinan bahkan sebelum hari benar-benar dimulai.Langkahnya melambat ketika memasuki area lantai satu yang masih terasa tenang.Rumah itu belum sepenuhnya hidup.Sebagian besar pelayan masih bergerak dalam senyap. Cahaya matahari pagi yang lembut masuk melalui jendela-jendela besar, membiaskan warna keemasan di lantai marmer yang mengilap.Tara sempat mengira dirinya orang pertama yang bangun. Namun aroma kopi yang samar langsung membantah dugaan itu. Saat memasuki ruang makan, ia menemukan Victor sudah berada di sana.Seperti biasa. Duduk di tempat yang sama.Secangkir kopi hitam berada di dekat tangannya sementara sebuah tablet me
Tak butuh waktu lama, seorang pelayan segera menyajikan kopi sebelum kembali menghilang.Keheningan singkat tercipta namun Adrian memecahnya lebih dulu."Tempat ini cukup bagus,” kata Adrian."Ya.""Aku tidak tahu kalau kau tinggal di sini." Adrian tersenyum canggung.Victor mengangkat cangkir kopinya. "Aku merasa tak perlu memberi tahu siapa pun."Adrian menggeser posisi duduknya. "Setidaknya kau memberiku kabar saat kembali dari perjalanan bisnis ke pulang dari luar negeri. Kau bahkan tidak memberiku kesempatan menjemputmu."Victor meletakkan cangkirnya setelah menyesap isinya sedikit. "Aku bisa pulang sendiri.""Padahal aku anakmu."Victor menyeringai tipis. "Kau juga direktur perusahaan yang sangat sibuk. Iya, kan?"Sindiran halus itu tidak luput dari pendengaran Adrian. Ia mengatupkan rahang sesaat.Percakapan mereka terus berputar di sekitar hal-hal yang sebenarnya tidak penting. Rumah. Perjalan







