Share

[53]

Penulis: Major_Canis
last update Tanggal publikasi: 2026-08-10 12:00:45

“Kita sudah sampai, Nona Tara,” kata sopir memberitahu.

Sekali lagi Tara menghela panjang. Siap tak siap, ia harus menghadapi hari ini. “Terima kasih.”

Sopir itu mengangguk sopan saat membukakan pintu mobil untuk Tara. Membiarkan wanita itu turun dan mengingatkan agar hati-hati melangkah.

Begitu langkah Tara mulai memasuki area lobi, suasana di kantor pusat Ashbourne Group terasa berbeda.

Perbedaannya tidak terlihat secara kasat mata. Tidak

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kau Pilih Dia, Aku Ambil Segalanya   [118] b

    Victor hanya mendengarkan. Jemarinya yang semula bertumpu di sandaran kursi perlahan saling bertaut, sementara tatapannya tetap tertuju pada Vivian."Dia mengatakan seluruh dunia sedang salah paham."Vivian berhenti sejenak, seolah masih mengingat dengan jelas setiap kata yang diucapkan wanita itu di lobi hotel."Lalu dia berkata," napasnya terembus pelan, "dia adalah wanita yang sebenarnya menikah dengan Adrian. Bukan Tara."Keheningan segera memenuhi ruang keluarga. Yang terdengar hanya detak halus jam dinding dan suara angin malam yang berembus melewati jendela besar di sisi ruangan.Gilbert tanpa sadar mengalihkan pandangannya kepada Victor. Ia sudah mengenal pria itu selama bertahun-tahun. Bagi orang lain, wajah Victor mungkin terlihat sama seperti biasanya, tetapi Gilbert tahu sorot mata yang perlahan mengeras itu adalah tanda bahwa pikirannya sedang bekerja.Vivian memperhatikan perubahan kecil tersebut. Sudut bibirnya terangkat tipis

  • Kau Pilih Dia, Aku Ambil Segalanya   [118] a

    “Saya cukup penasaran, siapa tamu yang datang malam ini?” Gilbert berkata sembari melirik ke arah spion tengah.Sejak meninggalkan mansion yang Tara tempati, Victor memilih diam. Seolah menikmati perjalanan tapi dari sorot matanya terlihat jelas jika pria itu tampak berpikir, siapa tamu yang menunggunya di rumah.“Andai aku tahu, Gilbert,” kata Victor pelan. “Aku tak perlu menduga-duga.”Perjalanan menuju tempat Victor tinggal tak terasa hingga akhirnya, mobil pun memasuki area kompleks perumahan mewah. Tak butuh waktu lama, mobil pun berhenti tepat di pintu utama.Victor baru saja melangkah memasuki foyer ketika kepala pelayan menghampirinya."Selamat malam, Tuan."Victor menyerahkan jas yang sejak tadi disampirkan di lengannya. "Apa tamunya masih menungguku?”"Ya, Tuan. Beliau sudah menunggu hampir satu jam."Victor mengernyit tipis. "Siapa dia?”Kepala pelayan belum semp

  • Kau Pilih Dia, Aku Ambil Segalanya   [117] b

    Liora berlari sekencang yang ia bisa, rambutnya yang diikat dua bergoyang ke sana kemari mengikuti setiap langkah mungilnya. Senyum lebar menghiasi wajah polos itu, seolah seluruh dunia menjadi jauh lebih baik hanya karena melihat Tara akhirnya pulang.Refleks, Tara segera berjongkok.Tubuh kecil itu langsung menabraknya tanpa ragu. Memeluk lehernya erat hingga nyaris membuat keseimbangannya goyah.Tara membalas pelukan itu dengan kedua lengannya, memejamkan mata sejenak. Aroma sampo strawberry kesukaan Liora begitu akrab memenuhi indra penciumannya, sementara pipi Liora yang hangat menempel di bahunya.Entah mengapa ... semua beban yang sejak pagi memenuhi dadanya perlahan terasa sedikit lebih ringan."Aku merindukanmu," gumam Liora lirih.Tara tersenyum, lalu mengecup puncak kepala anak itu berkali-kali. "Aku juga.”Liora mundur sedikit, lalu menatap wajah Tara lekat-lekat. Alis kecilnya perlahan bertaut. “Kau terlihat l

  • Kau Pilih Dia, Aku Ambil Segalanya   [117] a

    Suara mesin mobil memenuhi keheningan yang sejak tadi menyelimuti perjalanan mereka meninggalkan kompleks pengadilan. Tak seorang pun berniat memulai percakapan. Gilbert yang duduk di kursi depan sesekali memeriksa layar tabletnya, memastikan tak ada perkembangan baru dari tim hukum, sementara Victor duduk di samping Tara.Sesekali Gilbert melaporkan beberapa hal terkait pekerjaan yang mereka tinggalkan selama proses sidang hari ini.Berbeda dengan Tara yang langsung menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi. Kelopak matanya perlahan terpejam, bukan karena ingin tidur, melainkan karena tubuhnya benar-benar kehabisan tenaga. Sejak pagi ia nyaris tak menyentuh makanan. Sidang yang berlangsung berjam-jam, sorotan media, pertanyaan tanpa henti, hingga konfrontasi dengan Adrian dan keluarganya telah menguras seluruh energi yang ia miliki.Ia menarik napas panjang, berusaha mengendurkan ketegangan yang sejak tadi memenuhi bahu dan tengkuknya.Victor melirik se

  • Kau Pilih Dia, Aku Ambil Segalanya   [116] b

    “Silakan kenakan pakaian ini,” kata petugas sembari menyodorkan sebuah pakaian yang warnanya tampak lusuh. Lalu ia pun mendorong sebuah formulir ke hadapannya. "Tanda tangan."Adrian mengenakan pakaian itu dengan enggan dan mengambil pena dengan berat hati. Untuk pertama kalinya sejak memasuki gedung itu, jemarinya sedikit bergetar. Bukan karena takut, melainkan karena baru sekarang ia benar-benar menyadari bahwa semua ini bukan lagi ancaman.Bukan sekadar mimpi buruk atau pun kesalahpahaman yang bisa diselesaikan besok pagi. Ini nyata. Dan setiap tanda tangan yang ia bubuhkan membawa dirinya selangkah lebih jauh dari kehidupan yang selama ini ia kenal."Ikut saya." Seorang petugas lain berdiri di samping pintu.Adrian mengangkat kepalanya. Di balik pintu itu, lorong lain telah menunggunya. Lorong yang akan membawanya menuju proses berikutnya. Proses yang tak pernah sekalipun ia bayangkan harus ia jalani.Ia terus berjalan mengikuti ara

  • Kau Pilih Dia, Aku Ambil Segalanya   [116]a

    Mobil terus melaju menuju tempat yang belum pernah Adrian dan Leonard datangi. Bahkan sekadar untuk membayangkannya saja, tak pernah terbersit di pikiran mereka. Di dalam mobil, mereka diapit dua petugas berwajah datar dan minim ekspresi. Mereka tampak tenang, berbeda dengan Adrian dan Leonard. Meski pria paruh baya itu sejak tadi diam saja, tapi Adrian tahu, Leonard gelisah.Pria yang selama ini selalu tampil percaya diri itu kini terlihat jauh lebih tua. Rambutnya yang mulai memutih tampak berantakan, sementara kedua tangannya terlipat di atas pangkuan dengan jemari yang sesekali bergerak gelisah.Tak satu pun dari mereka membuka suara. Bukan karena tidak ada yang ingin dikatakan, melainkan karena keduanya sama-sama tahu bahwa tak ada lagi kalimat yang mampu mengubah keadaan.Adrian memejamkan mata sejenak. Semua ini pasti hanya sementara. Dia yakin tim pengacaranya akan menemukan jalan keluar. Itulah kalimat yang terus ia ulang di dalam kepalanya.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status