Share

Demam

Penulis: YOSSYTA S
last update Tanggal publikasi: 2026-09-09 00:55:57
BALIK LAGI KE ZOYA - JAM 11.05 MALEM.

Dalam tidurnya yang demam, Zoya mimpi.

Mimpi Enzo nelpon. Mimpi dia angkat dan mengobrol. Mimpi mereka ketawa bersama.

`TRIINNNGG... TRIINNNGG...`

Suara hp dari meja. Pelan. Tenggelam sama suara kipas.

Zoya tak bangun. Terlalu lelap karena obat. Alisnya berkerut. Air mata keluar dari sudut mata.

Di layar hp yang nyala sebentar itu tertulis, `ENZO CALLING...`

Lalu layar mati lagi.

Pagi jam 5, Zoya kebangun. Tenggorokan kering. Badan masih an
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kau Rebut Suamiku, Ku Nikahi Adikmu    Surprise di Pagi Hari

    POV ZOYA - RUMAH JOGJA. "Aku masih di rumah sakit, Zoy. Nenek belum bisa pulang." Suara Enzo di telepon terdengar lemas. Zoya mengangguk padahal Enzo tak melihat. "Iya, aku ngerti." "Tunggu aku, ya! Paling telat minggu ini aku pulang. Janji." "Iya." "Zoya!" panggilan Enzo pelan. "Ya." "Aku ... benar-benar kangen sama kamu. Jauh dari kamu ternyata begitu menyiksa." Zoya tak menjawab hanya tersenyum kecil. Dia juga sama. Tapi, tentu saja tak mau mengaku. "Em ... udah dulu, ya. Nenek manggil. Kamu baik-baik di sana. Jangan sampai sakit lagi, oke?" "Hem." Lagi, Zoya hanya bisa mengangguk pasrah. "Aku ... mau jujur sama kamu sekarang. Aku benar-benar sayang kamu, Zoya!" Dug! Hati Zoya menghangat. Tangannya otomatis meremas ujung baju. Ada perasaan haru juga bahagia. Namun, untuk menjawab. Bibirnya seolah kelu. Enzo diam menunggu berapa detik. Hening, tak ada jawaban. 'Jawab apa gak, ya? Tapi, aku malu,' batin Zoya bimbang. Walau Zoya tak mau menjawa

  • Kau Rebut Suamiku, Ku Nikahi Adikmu    Restu Dari Nenek

    HARI KE-5 PAGI - JAM 08.30. POV ENZO - RS JAKARTA. Sinar matahari masuk dari jendela kamar rumah sakit. Untuk pertama kalinya 5 hari ini, Enzo bangun dengan dada lega. Nenek sudah baikan. Duduk di atas kasur, rambut disanggul rapi. Wajahnya udah ada warna lagi. Dan, tadi pagi habis 1 mangkok bubur ayam. "Alhamdulillah." Enzo duduk di kursi, genggam tangan Neneknya. "Nenek, udah mendingan." Nenek senyum. Keriputnya keliatan semua. "Iya, Sayang. Nenek kangen dirawat sama kamu, Enzo." Hening sebentar. Enzo narik napas. Ini saatnya. "Nek," panggil Enzo pelan. "Hmm ... kenapa, Sayang?" "Nek... aku mau jujur." Jantung Enzo `duk duk`, merasa sedikit gugup. "4 bulan yang lalu... aku udah nikah, Nek." Nenek diam. Dua detik. Terus matanya langsung melebar. "Hah?! Nikah?! Sama siapa?" Enzo ketawa kecil. Garuk leher. Grogi juga takut. "Sama orang Jogja, Nek. Namanya Zoya. Cantik. Pinter masak. Galak dikit." Dia nunjuk foto di galeri. Foto Zoya lagi masak, rambu

  • Kau Rebut Suamiku, Ku Nikahi Adikmu    Telepon Penuh Kedamaian

    Di sore hari. Zoya masih betah tiduran di kasur. Kompres nempel di jidat. Raka lagi mode jadi adik yang baik. Duduk anteng di samping, punggung nyender sambil main hp. "Tadi aku telpon Bang Enzo," kata Raka pelan. Zoya langsung nengok. Mata sayu kebuka. Dahi mengerut. "Terus?" "Diangkat." Jantung Zoya langsung `duk. "Terus aku marahin dia," lanjut Raka. "Aku bilang kamu sakit. Aku bilang kamu nungguin." Air mata Zoya netes. "Terus... dia bilang apa?" Raka garuk kepala. "Dia... dia sepertinya nangis, Mbak. Katanya dia galau. Dia pengen langsung pulang tapi neneknya masih sakit belum bisa ditinggal." Zoya merem. Air matanya makin deres. "Berarti... dia belum lupa ya, Ka?" Raka angguk pelan. "Enggak, Mbak. Dia enggak lupa kok, sama Mbak. Cuma ... dia manusia juga. Sama-sama ketakutan kayak kita."Zoya cuma diam. Hening beberapa saat. "Ya udah." Akhirnya Raka balik ngomong. "Mending sekarang, Mbak istirahat. Dan jangan mikir yang macam-macam lagi!" Zoya anggu

  • Kau Rebut Suamiku, Ku Nikahi Adikmu    Demam

    BALIK LAGI KE ZOYA - JAM 11.05 MALEM. Dalam tidurnya yang demam, Zoya mimpi. Mimpi Enzo nelpon. Mimpi dia angkat dan mengobrol. Mimpi mereka ketawa bersama. `TRIINNNGG... TRIINNNGG...` Suara hp dari meja. Pelan. Tenggelam sama suara kipas. Zoya tak bangun. Terlalu lelap karena obat. Alisnya berkerut. Air mata keluar dari sudut mata. Di layar hp yang nyala sebentar itu tertulis, `ENZO CALLING...` Lalu layar mati lagi. Pagi jam 5, Zoya kebangun. Tenggorokan kering. Badan masih anget. Reflek pertama, cek hp. `Satu Panggilan Tak Terjawab - ENZO - 23.04` Jantung Zoya berhenti sedetik. Terus langsung nyeri. "Kemarin malem... dia nelpon?" "Pas aku tidur?" "Terus sekarang... udah gak nelpon lagi?" Dia langsung nelpon balik. 'Tut ....' Satu kali. Tak terjawab. Dua kali. Masih sama. Tiga kali. `NOMOR YANG ANDA TUJU SEDANG TIDAK AKTIF.` Mati. Hp Enzo mati. Zoya duduk di kasur. Badan gemeteran. Bukan karena demam. Tapi, karena lagi-lagi harus kecew

  • Kau Rebut Suamiku, Ku Nikahi Adikmu    Saling Salah Paham

    'Ding!' Tiba-tiba hp di meja getar. Sekali. Seketika itu juga Zoya bangun dan segera meraih ponsel. Wajahnya langsung berbinar saat melihat layar. Namun, ternyata itu hanya 'Chatan' Bu RT yang bilang terimakasih dan mau pesen kue lagi sama Bu Fatimah buat besok. Badan Zoya kembali lemes, kecewa, tak bersemangat. Akhirnya dia memilih untuk pergi mandi dan meluapkan kesedihan di sana. Malamnya. JAM 9. Rumah sudah gelap. Lampu 5 watt nyala lagi. Suara jangkrik dari luar. Zoya tiduran di kasur. Mantengin layar hp yang masih centang satu, belum berubah dari tadi siang. Abu-abu. Ngegantung. Dia scroll ke atas. Chat terakhir mereka. Dari Enzo. `Aku baru sampai Jakarta.' Itu aja. Gak ada "aku kangen", gak ada "jaga diri baik-baik". Lalu pikirannya kembali teringat akan kata terakhir yang terucap dari bibir Enzo sebelum pergi kemarin. Bisikan di depan pintu. "Simpen baik-baik ya! Itu jatah aku buat 5 hari ke depan." Deg! Dadanya bergetar. Pipinya langsung mer

  • Kau Rebut Suamiku, Ku Nikahi Adikmu    Centang Satu

    HARI KE-2. Jam 10 pagi. Kerjaan rumah udah kelar semua. Dari nyuci, masak, sampai nyiram bunga depan. Tapi tangan Zoya masih gatel. Gatel pingin megang hp. Dia duduk di kursi kayu ruang depan. Kipas "hadiah Enzo" muter di sampingnya. `Ngiiiing... ngiiiing...` Anginnya dingin. Tapi dada Zoya panas. Zoya buka WA. Nama `ENZO` paling atas. Foto profilnya masih foto mereka berdua di lapangan. Enzo senyum sambil nunjuk kipas, Zoya ketawa nutup muka malu-malu. Jarinya mulai gatal pingin neken tombol di atas layar. Inisiatif pingin ngechat duluan. `Ah, gak papa kan, aku ngechat dia duluan?` `Enz... udah sampe Jakarta?` `Nenek gimana?` `Kamu udah makan belum?` `Di sana dingin gak?` Dibaca ulang sampai tiga kali, kayak ngulang gerakan ngambil air wudhu. Jantung deg-degan. Pikiran tak tenang. Tapi akhirnya dihapus semua. "Gak usah ah. Nanti dia malah keganggu. Katanya mau ngurus Neneknya 'kan? Masa iya baru 2 hari udah manja." 10 menit kemudian ngetik la

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status