LOGIN"Ke Superstar Pusat. Supermarket milik keluarga Bautista." Zoya mengerutkan dahi. "Ngapain kita ke sana?" "Memperkenalkan istriku," jawab Enzo santai sambil menyalakan mobil sport hitamnya. "Sekalian pamer. Hehehe..." "Huh, pamer?!" Zoya makin bingung. "Buat apa?" "Ya, buat semua orang tau, kalau kamu ini istriku. Istri Enzo Alvaro Bautista, si pewaris tunggal Superstar Mart terbesar di Indonesia." Enzo tersenyum tengil, bangga. Zoya cuma bisa geleng kepala. "Mulai kumat lagi deh sombongnya." 30 MENIT KEMUDIAN - SUPERSTAR PUSAT, JAKARTA SELATAN. Mobil Enzo berhenti tepat di lobi utama. Dari dalam mobil, Zoya langsung kaget. Tangannya mencengkeram seatbelt erat-erat. Gedungnya megah. Ramai. Tulisan besar 'SUPERSTAR MART' berkilau keemasan. Itu tempatnya dulu. Tempat dia bekerja 2 tahun sebagai kasir dengan seragam biru pudar. Tempat di mana dia dipanggil "Zoya si lelet" oleh seniornya. "Enzo, eh, Mas..." Saking groginya, suaranya pelan. Wajah glowing yang tadi can
Setelah kejadian nasi goreng gosong itu, meja makan bubar dengan suasana yang masih canggung. Damar pergi ke kantor dengan rasa kesal di dada. Mukanya ditekuk. Sepanjang jalan di mobil, ia masih teringat tawa Zoya bersama Enzo. Tawa yang tidak pernah ia dapatkan. Dan rasa asin nasi goreng Frisca yang masih menempel di lidahnya. "Akh, brengsek!" gerutu Damar sambil memukul setir. Sementara di rumah. Enzo belum berniat untuk pergi ke kantor. Sama sekali tidak. Ia masih mengenakan kemeja putih santai, duduk di sofa ruang tengah sambil menatap Zoya yang sedang membereskan piring-piring bekas sarapan tadi. "Sayang, udah selesai?" tanya Enzo. Zoya mengangguk. "Udah. Tinggal piringnya Frisca dan wajan yang gosong itu aja yang belum dicuci. Kayaknya harus direndam dulu." Enzo tertawa kecil, lalu menarik tangan Zoya. "Udah, biarin aja Bi Ijah yang cuci. Sekarang kamu ikut aku." "Loh, mau kemana? Kamu gak ke kantor?" "Gak," Enzo menjawab santai. Ia mengambil kunci mobil sp
"Siapa yang ngajarin kamu masak ini, Zoya?" Pak Deon tidak menunggu jawaban. Ia mengunyah lagi. Pelan-pelan. Matanya mulai berkaca-kaca. Rasa bawang putih yang tidak gosong, rasa kecap yang pas, telur yang wangi, ayam suwir yang gurih. Rasa itu... Hampir sama persis. Sama persis dengan masakan mendiang istrinya, Alena. Mamanya Enzo. Yang telah meninggal 8 tahun yang lalu. Rasa yang sudah 8 tahun tidak pernah ia rasakan lagi di rumah ini. Tenggorokan Pak Deon yang biasanya keras dan dingin itu tercekat. Melihat anaknya diam begitu, Nenek yang sudah paham langsung tersenyum dan bersuara lantang. "Gimana, Deon? Enak kan?" Nenek menatap Zoya lalu menatap Pak Deon dengan mata haru. "Sama persis kayak masakannya mamanya Enzo dulu, kan?" `JLEB!` Satu kalimat Nenek itu seperti petir di meja makan. Vanessa yang duduk di sebelah Pak Deon langsung tertusuk. Wajahnya yang dandan menor itu langsung pucat. Tangannya yang memegang sendok mengepal. Karena selama 5 tahun menj
Malam itu Enzo tidak tidur. Punggungnya menghadap Zoya. Matanya menatap kosong ke jendela yang gelap. Di sampingnya, Zoya sudah tertidur, tapi tidurnya gelisah. Sesekali menggumam takut. Enzo masih kesel. Kesel banget karena Zoya masih gak mau ngomong jujur soal Damar di dapur tadi. Tapi di sisi lain, melihat Zoya yang tidur sambil memeluk guling erat, wajahnya masih pucat, amarahnya perlahan berubah menjadi tekad. Enzo menarik selimut Zoya yang melorot. Pelan. Dalam hati, di jam 2 pagi itu, Enzo berjanji. 'Aku janji, Zoya. Aku akan lakuin apa saja. Aku akan berjuang buat kamu bahagia. Sampai kamu betah di sisiku. Sampai kamu benar-benar bisa melupakan mantan suamimu itu.' Keesokkan paginya. Jam lima subuh. Zoya terbangun dengan posisi yang masih dipeluk Enzo dari belakang. Pelan dia berbalik badan menghadap Enzo. Dia melihat wajah tenang Enzo yang masih terpejam. Tampan. Sangat tampan. Bibirnya tersenyum kecil. Tangannya mulai terulur menyentuh pipi Enzo pelan. Tak
Dapur itu masih gelap. Hanya lampu kecil di atas kompor yang temaram. Damar masih berdiri di tempat yang sama. Di depan kulkas. Gelas kosong di tangannya. Di meja, masih ada genangan air bekas tumpahan Zoya tadi. Bukti kalau Zoya memang habis panik di sini. Dan di ambang pintu... Enzo muncul. Napasnya masih berat. Rahangnya mengeras. Matanya merah menahan amarah. Kaos putihnya terlihat tegang karena ototnya yang mengepal. Damar menoleh. Tidak kaget sama sekali. Bahkan... bibirnya menyunggingkan senyum kecil. Senyum yang tenang. Senyum yang justru bikin darah Enzo makin naik. "Eh," kata Damar pelan, santai. "Enzo." Enzo tidak menjawab. Ia melangkah masuk. `Tap... tap...` Sampai jaraknya hanya tinggal satu meter dengan Damar. "Jadi kamu yang bikin Zoya takut?" suara Enzo akhirnya keluar. Serak. Tertahan. Damar meletakkan gelasnya di meja. Pelan. "Aku gak sengaja lihat dia di sini. Mau ambil air. Sama kayak dia. Jadi aku cuma sapa. Apa gak boleh?" "Menyapa?" Enzo te
"ZOYA?! SAYANG?! KAMU DIMANA?!" Suara Enzo menggema dari tangga. Cepat. Panik. Langkah kakinya `tap tap tap` turun dengan ngos-ngosan. Di dapur yang gelap itu, Zoya langsung kalang kabut. Damar masih berdiri di depan kulkas. Menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan. Menyesal, rindu, cemburu, jadi satu. "Zoya, aku cuma..." Damar melangkah maju lagi. Tangannya terulur. "JANGAN!" Zoya memotong cepat. Suaranya hampir menangis. "Jangan mendekat!" Tanpa pikir panjang, Zoya langsung meletakkan gelasnya `BRAK!` di atas meja marmer. Airnya tumpah kemana-mana. Tidak peduli. Dan... Zoya lari. Lari sekencang-kencangnya meninggalkan dapur. Melewati Damar. Tidak menoleh lagi. Piyama satin creamnya berkibar. Damar terpaku. Tangannya masih menggantung di udara. Ingin menahan, tapi tidak berani. Hanya bisa berbisik lirih. "Zoya..." Di ujung lorong... `BUG!` Zoya hampir nabrak sesuatu yang keras dan hangat. Enzo. Enzo yang baru turun tangga dengan napas ngos-n







