Share

Jebakan Frisca

Penulis: YOSSYTA S
last update Tanggal publikasi: 2026-10-24 00:12:07

PUKUL 9 MALAM - DI KAMAR.

Dari sore, Zoya sudah cantik, sudah wangi, rambut diurai masih sedikit basah, habis keramas. Dia pakai baju tidur satin dari Lyora. Hatinya deg-degan menunggu Enzo pulang.

Tapi, kenapa belum pulang juga?

Sejak kejadian Damar maksa peluk di kolam siang tadi, dia pengen banget cerita ke Enzo. Biar gak salah paham.

`KLEK!` Pintu kamar kebuka.

Enzo pulang. Mukanya kusut, dingin, tanpa senyum. Beda sama pagi tadi yang janjiin mau bawain es krim.

Rupanya 2 jam lalu Fri
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kau Rebut Suamiku, Ku Nikahi Adikmu    Jebakan Frisca

    PUKUL 9 MALAM - DI KAMAR. Dari sore, Zoya sudah cantik, sudah wangi, rambut diurai masih sedikit basah, habis keramas. Dia pakai baju tidur satin dari Lyora. Hatinya deg-degan menunggu Enzo pulang. Tapi, kenapa belum pulang juga? Sejak kejadian Damar maksa peluk di kolam siang tadi, dia pengen banget cerita ke Enzo. Biar gak salah paham. `KLEK!` Pintu kamar kebuka. Enzo pulang. Mukanya kusut, dingin, tanpa senyum. Beda sama pagi tadi yang janjiin mau bawain es krim. Rupanya 2 jam lalu Frisca sudah kirim bom kedua. Setelah foto, dia kirim video Damar peluk Zoya di pinggir kolam. Videonya dipotong, pas Zoya berontak gak keliatan. Caption Frisca, "Enzo, maaf. Aku liat Zoya sama Damar di taman tadi siang, akrab banget peluk-pelukan. Dan aku dengar, Zoya bilang masih sayang sama Damar. Dia mau nikahin kamu karena mau balas dendam sama aku, dan cuma mau manas-manasin Damar." "Ternyata selama ini kita dibohongi sama Zoya!" JEDERR! Otak Enzo muter liar sepanjang jalan pulang. 'Jad

  • Kau Rebut Suamiku, Ku Nikahi Adikmu    Pertengkaran Hebat

    Frisca muncul dari balik pintu masuk rumah. HP masih di tangan. Muka merah padam. Napasnya ngos-ngosan. Dari tadi dia sudah berada di sana. Sembunyi di balik pilar. Sengaja merekam. Menahan emosi melihat semuanya dari awal.Damar kaget, langsung pucat pasi."F-Frisca?! Kamu... kamu dari kapan di sini?"Frisca jalan cepat, hentakin kaki.`TUK TUK TUK!` Sepatu hak tingginya nusuk lantai marmer sampai berdecit."JANGAN PURA-PURA BEGO, DAMAR! AKU LIAT SEMUANYA! DARI KAMU PELUK ZOYA! DARI KAMU BILANG MAU BALIKAN! SEMUANYA AKU DENGER!"Damar panik, ngeles cepat. Sambil geleng kepala, dia angkat tangan kayak orang ketangkep basah."Bukan! Bukan kayak gitu! Tadi itu..." Diam sejenak, otaknya sibuk mencari alasan yang masuk akal. Keringetnya netes, gelagapan. "Zoya tadi mau jatuh. Dia kesandung, mau jatuh ke kolam. Jadi, aku reflek, gak sengaja! Sumpah!""KESANDUNG?!" Frisca tertawa sinis, air matanya sudah mau netes tapi ditahan. Bibirnya bergetar nahan marah."DAN, KAMU REFLEK PELUK DIA SAM

  • Kau Rebut Suamiku, Ku Nikahi Adikmu    Kolam Renang

    Satu minggu Enzo jadi WO dadakan. Hari ini dia masih keluar lagi. Cek final lighting gedung sama Nenek. Zoya ditinggal di rumah. Akhirnya bisa napas. Duduk santai di pinggir kolam renang, kaki dicelupin ke air, sambil telponan sama Enzo. "Mas, udah selesai?" Di telpon, suara Enzo capek tapi semangat, "Udah. Tapi biasa, Nenek tadi bawel banget. Kamu di rumah jangan kemana-mana ya! Nanti aku bawain es krim kesukaan kamu." "Iya, Mas. Makasih, ya." Zoya senyum. Wajahnya berseri dan hatinya pun menghangat, tidak seperti hari kemarin, tegang. Telpon mati. `TUT...` Zoya pindah duduk di kursi rotan, senderan. Angin siang sepoi-sepoi terasa sejuk menerpa wajah. Untuk pertama kalinya seminggu ini dia bisa duduk santai tanpa mikirin kebaya, gedung, atau tatapan Frisca. Tapi ketenangan itu tak lama. `Tap... tap...` Langkah kaki. Zoya noleh. Dan langsung kaku. Damar. Damar berdiri di belakang, dekat pintu masuk rumah. Pakai kaos oblong, muka kusut. Tak ada Frisca di deketny

  • Kau Rebut Suamiku, Ku Nikahi Adikmu    Persiapan Pesta

    KEESOKAN Harinya - JAM 7 PAGI. Ruang makan masih dingin. Habis kejadian bom semalam. Pak Deon belum turun sarapan. Damar dan Frisca pun sama, masih di kamar. Tapi satu orang udah rapi dari jam 6 pagi. Kemeja putih, rambut sisir ke belakang. Enzo. Zoya bangun dengan mata bengkak habis nangis semalam. Masih tetap menyiapkan makanan untuk semua orang. Begitu meliat Enzo lagi teleponan sambil bawa map tebal, ia pun heran. "Mas? Kamu mau kemana pagi-pagi begini?" Enzo matiin telepon, senyum. Mode kucing besarnya balik lagi. Gak ada sisa marah semalam. "Ngurus istri mau jadi pengantin lagi, Sayang." Dia tarik kursi lalu duduk. "Ngomong-ngomong orang-orang gak ada yang sarapan?" "Gak tau. Mungkin mereka masih marah." Zoya masih terlihat sedikit sedih. "Sudahlah, biarkan saja mereka. Yang terpenting kamu gak boleh capek-capek. Harus banyak istirahat. Agar pas pesta nanti kamunya vit, jangan sampai sakit." "Iya, betul kata Enzo." Nenek yang baru datang langsung nyahut.

  • Kau Rebut Suamiku, Ku Nikahi Adikmu    Perlawanan Enzo

    "Oke, jika itu maunya Papa."Satu ruangan langsung nengok ke Enzo.Suara Enzo pelan. Tapi dinginnya nusuk sampai ke tulang.Frisca yang tadinya udah senyum kemenangan, langsung tegak duduk. Vanessa juga ikut nahan napas.Enzo tarik Zoya lebih rapat ke pelukannya. Rahangnya mengeras, `KREK!` terdengar jelas."Jika dalam satu tahun Zoya tak juga hamil. Maka--"Dia jeda. Sengaja.Semua orang tahan nafas. Wajahnya kaku, tegang. Bahkan jam dinding yang terdengeran pelan seolah langsung berhenti berdetak.Lalu Enzo natap Pak Deon lurus, senyumnya miring. Senyum yang paling ditakutin relasi bisnisnya."-aku yang akan keluar dari rumah ini, bersama Zoya!"`JEDERRR!!`Satu rumah auto kaget!"Mas ...." Dengan mata sembab, Zoya langsung geleng kepala panik. Tangannya narik-narik lengan Enzo. "Mas, jangan ngomong gitu."Nenek yang tadinya mau marah ke Pak Deon, langsung `HAH?!` Matanya melotot! Tongkatnya hampir lepas! "ENZO! JAGA BICARA KAMU!"Pak Deon lebih kaget lagi. Wajah bos besarnya yang t

  • Kau Rebut Suamiku, Ku Nikahi Adikmu    Usulan Nenek

    Di RUANG TENGAH - JAM 8 MALAM. Nenek sengaja mengumpulkan semua orang di ruang keluarga. Beliau duduk di sofa utama. Pak Deon di samping kanan. Zoya dan Enzo di samping kiri, bergandengan tangan saling menguatkan. Sementara Frisca dan Vanessa duduk di samping Pak Deon, pura-pura pasang wajah manis. Damar baru turun telat. Habis ngurung diri di kamar, seharian nemenin anaknya main. Dia duduk di pojok, paling jauh dari Zoya. Di sebelah Frisca. Mukanya masih kucel kayak tadi pagi. "Deon, Ibu mau ngomong serius," ucap Nenek mulai membuka percakapan. "Iya Bu, ada apa?" jawab Pak Deon dengan wajah serius mulai menanggapinya. "Kita harus adain pesta pernikahan Enzo dan Zoya. Bulan depan!" Pak Deon kaget. "Pesta? Buat apa? Kan mereka sudah nikah?" Frisca dan Vanessa di belakang saling lirik. `Hah! Pesta?` Damar juga kaget, ngangkat muka. Baru kali ini dia denger ada pesta. Nenek natap Pak Deon tajam. "Sudah nikahnya kan di Jogja. Kalau di sini belum. Kalau nanti Zoya ben

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status