Share

Mulai Kepanasan

Author: YOSSYTA S
last update publish date: 2026-10-04 22:31:42
'CIIIT!`

Suara rem mobil sport hitam mewah milik Enzo berhenti mulus tepat di depan gerbang rumah besar keluarga Bautista.

Enzo turun duluan. Kemeja putihnya agak berantakan, jasnya sudah ia lempar di jok belakang. Tanpa ragu, ia buka pintu penumpang dan kembali mengangkat tubuh Zoya dengan bridal style. Tidak diturunkan sama sekali dari kantor.

"Mas, turunin... aku bisa jalan kok," bisik Zoya malu-malu.

"Diam. Kakimu bengkak," jawab Enzo pelan.

Pintu rumah dibuka, Enzo masuk sambil te
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kau Rebut Suamiku, Ku Nikahi Adikmu    Kolam Renang

    Satu minggu Enzo jadi WO dadakan. Hari ini dia masih keluar lagi. Cek final lighting gedung sama Nenek. Zoya ditinggal di rumah. Akhirnya bisa napas. Duduk santai di pinggir kolam renang, kaki dicelupin ke air, sambil telponan sama Enzo. "Mas, udah selesai?" Di telpon, suara Enzo capek tapi semangat, "Udah. Tapi biasa, Nenek tadi bawel banget. Kamu di rumah jangan kemana-mana ya! Nanti aku bawain es krim kesukaan kamu." "Iya, Mas. Makasih, ya." Zoya senyum. Wajahnya berseri dan hatinya pun menghangat, tidak seperti hari kemarin, tegang. Telpon mati. `TUT...` Zoya pindah duduk di kursi rotan, senderan. Angin siang sepoi-sepoi terasa sejuk menerpa wajah. Untuk pertama kalinya seminggu ini dia bisa duduk santai tanpa mikirin kebaya, gedung, atau tatapan Frisca. Tapi ketenangan itu tak lama. `Tap... tap...` Langkah kaki. Zoya noleh. Dan langsung kaku. Damar. Damar berdiri di belakang, dekat pintu masuk rumah. Pakai kaos oblong, muka kusut. Tak ada Frisca di deketny

  • Kau Rebut Suamiku, Ku Nikahi Adikmu    Persiapan Pesta

    KEESOKAN Harinya - JAM 7 PAGI. Ruang makan masih dingin. Habis kejadian bom semalam. Pak Deon belum turun sarapan. Damar dan Frisca pun sama, masih di kamar. Tapi satu orang udah rapi dari jam 6 pagi. Kemeja putih, rambut sisir ke belakang. Enzo. Zoya bangun dengan mata bengkak habis nangis semalam. Masih tetap menyiapkan makanan untuk semua orang. Begitu meliat Enzo lagi teleponan sambil bawa map tebal, ia pun heran. "Mas? Kamu mau kemana pagi-pagi begini?" Enzo matiin telepon, senyum. Mode kucing besarnya balik lagi. Gak ada sisa marah semalam. "Ngurus istri mau jadi pengantin lagi, Sayang." Dia tarik kursi lalu duduk. "Ngomong-ngomong orang-orang gak ada yang sarapan?" "Gak tau. Mungkin mereka masih marah." Zoya masih terlihat sedikit sedih. "Sudahlah, biarkan saja mereka. Yang terpenting kamu gak boleh capek-capek. Harus banyak istirahat. Agar pas pesta nanti kamunya vit, jangan sampai sakit." "Iya, betul kata Enzo." Nenek yang baru datang langsung nyahut.

  • Kau Rebut Suamiku, Ku Nikahi Adikmu    Perlawanan Enzo

    "Oke, jika itu maunya Papa."Satu ruangan langsung nengok ke Enzo.Suara Enzo pelan. Tapi dinginnya nusuk sampai ke tulang.Frisca yang tadinya udah senyum kemenangan, langsung tegak duduk. Vanessa juga ikut nahan napas.Enzo tarik Zoya lebih rapat ke pelukannya. Rahangnya mengeras, `KREK!` terdengar jelas."Jika dalam satu tahun Zoya tak juga hamil. Maka--"Dia jeda. Sengaja.Semua orang tahan nafas. Wajahnya kaku, tegang. Bahkan jam dinding yang terdengeran pelan seolah langsung berhenti berdetak.Lalu Enzo natap Pak Deon lurus, senyumnya miring. Senyum yang paling ditakutin relasi bisnisnya."-aku yang akan keluar dari rumah ini, bersama Zoya!"`JEDERRR!!`Satu rumah auto kaget!"Mas ...." Dengan mata sembab, Zoya langsung geleng kepala panik. Tangannya narik-narik lengan Enzo. "Mas, jangan ngomong gitu."Nenek yang tadinya mau marah ke Pak Deon, langsung `HAH?!` Matanya melotot! Tongkatnya hampir lepas! "ENZO! JAGA BICARA KAMU!"Pak Deon lebih kaget lagi. Wajah bos besarnya yang t

  • Kau Rebut Suamiku, Ku Nikahi Adikmu    Usulan Nenek

    Di RUANG TENGAH - JAM 8 MALAM. Nenek sengaja mengumpulkan semua orang di ruang keluarga. Beliau duduk di sofa utama. Pak Deon di samping kanan. Zoya dan Enzo di samping kiri, bergandengan tangan saling menguatkan. Sementara Frisca dan Vanessa duduk di samping Pak Deon, pura-pura pasang wajah manis. Damar baru turun telat. Habis ngurung diri di kamar, seharian nemenin anaknya main. Dia duduk di pojok, paling jauh dari Zoya. Di sebelah Frisca. Mukanya masih kucel kayak tadi pagi. "Deon, Ibu mau ngomong serius," ucap Nenek mulai membuka percakapan. "Iya Bu, ada apa?" jawab Pak Deon dengan wajah serius mulai menanggapinya. "Kita harus adain pesta pernikahan Enzo dan Zoya. Bulan depan!" Pak Deon kaget. "Pesta? Buat apa? Kan mereka sudah nikah?" Frisca dan Vanessa di belakang saling lirik. `Hah! Pesta?` Damar juga kaget, ngangkat muka. Baru kali ini dia denger ada pesta. Nenek natap Pak Deon tajam. "Sudah nikahnya kan di Jogja. Kalau di sini belum. Kalau nanti Zoya ben

  • Kau Rebut Suamiku, Ku Nikahi Adikmu    Jadi Kompor

    `Deg!` Enzo langsung diem. Tangannya yang lagi ngelus punggung Zoya berhenti. Itu pertama kalinya Zoya ngomongin trauma itu langsung. Enzo natap Zoya dalam. Gak ada senyum miringnya. Gak ada mode kucing besarnya. "Zoya." Suara Enzo pelan, tapi berat. "Dengerin aku baik-baik." Dia pegang kedua pipi Zoya, hapus air matanya pakai jempol. "Aku, nikahin kamu bukan buat pabrik anak, Zo. Aku nikahin kamu karena aku mau hidup sama kamu. Bangun pagi liat muka manyun kamu. Berantem rebutan selimut sama kamu. Dengerin kamu ngomel kalau aku pulang telat." "Anak itu rezeki. Kalau dikasih, Alhamdulillah, kita jaga sama-sama. Kalau belum dikasih, ya kita usahakan sama-sama. Ke dokter sama-sama, doa sama-sama. Bukan salah kamu sendirian." Enzo narik napas. "Damar ninggalin kamu karena dia goblok. Dia gak sabaran. Dia dengerin omongan ibunya, bukan dengerin hati istrinya sendiri. Dan liat sekarang? Dia dapet apa? Tiap hari berantem sama Frisca." "Aku beda, Zo. Aku gak akan pernah j

  • Kau Rebut Suamiku, Ku Nikahi Adikmu    Nenek kecewa

    'GUBRAG!' Enzo langsung lemes jatuhin diri ke ranjang. "YA ALLAH, ZOYA!" Zoya lempar bantal ke muka Enzo. "SALAH AKU APA, Tuhan?!" Enzo ketawa sambil jambak rambut sendiri. Frustasi. "Kenapa timingnya pas banget? Nenek baru aja doain hamil! Kamu malah..." Zoya nutup muka pake selimut, malu plus ikut ngakak juga. "Maaf, Mas Kucing... gagal. Gagal bikin anak." Enzo merangkak, peluk Zoya dari belakang. "Gak papa, gagal malam ini. Kita tunda minggu depan, oke." Enzo menciumi pipi Zoya gemas. "Ikh, MAS, lepas!" "Loh, aku ngomong apa tadi? Aku ngomong tunda jadwal bikin anaknya. Bukan tunda peluknya. Peluknya mah, tetap jalan!" Enzo ambil wedang jahe yang tadi masih anget, kasih ke Zoya. "Nih, minum lagi! Kan wedang jahe emang buat itu juga. Biar gak sakit perut." Zoya minum wedang jahe. Enzo elus-elus punggung Zoya pelan. Malam itu, tak jadi serang-serangan. Yang ada, Enzo jadi tukang pijet perut, tukang ambil wedang jahe, plus tukang elus punggung Zoya. K

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status