Home / Romansa / Kawin Grebek / 95. Aku Bukan Ibumu

Share

95. Aku Bukan Ibumu

Author: Rizu Key
last update publish date: 2026-10-28 21:45:52

"Apa katamu?!" Lilis semakin terkejut, begitu juga Cita yang duduk di sebelahnya.

"Ya. Dan Zain...." Rayhan meraih bayi mungil itu dan memangkunya dengan hangat. "Dia adalah anak kandungku yang selama ini aku sembunyikan dari kalian."

"A-apa?!" Lilis menjerit tertahan, kedua tangannya spontan menutupi mulutnya sendiri karena syok berat. Wajahnya seketika pucat pasi mendengar pengakuan mematikan dari putranya.

Di saat yang sama, Cita pun ikut tersentak hebat. Ia sama sekali tak men
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Null_null
Kepo banget maria wkwk
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Kawin Grebek   96. Kita Cerai Saja

    Rayhan menarik napas dalam-dalam, dadanya naik turun menahan emosi yang nyaris meledak. Ia sama sekali tidak bisa tinggal diam mendengar sang ibu merendahkan tempat tinggal mereka."Mamah bilang tempat ini kotor?" Suara Rayhan dingin, penuh ketegasan yang menyiratkan rasa tidak terima. Ia mempererat rangkulannya di pinggang Cita. "Tempat ini bersih, Mah. Cita selalu membersihkannya setiap hari dengan sangat rajin. Bahkan, nggak peduli lelah, dia selalu memasak makanan lezat untukku, memastikan aku makan dengan layak setiap kali aku pulang jualan."Lilis mendengus sinis, menatap putranya dengan tatapan tak percaya. "Makanan lezat? Rumah kontrakan sempit seperti kandang ayam ini kamu sebut layak? Apa lagi itu? Kamu jualan?""Ya. Memangnya kenapa, Mah. Yang penting aku kerja cari uang halal," sahut Rayhan lagi.Lilis menggeleng cepat. "Rayhan, sadarlah! Mamah melahirkan dan membesarkan kamu bukan untuk hidup susah di tempat kumuh seperti ini!"Mendengar itu, pertaha

  • Kawin Grebek   95. Aku Bukan Ibumu

    "Apa katamu?!" Lilis semakin terkejut, begitu juga Cita yang duduk di sebelahnya."Ya. Dan Zain...." Rayhan meraih bayi mungil itu dan memangkunya dengan hangat. "Dia adalah anak kandungku yang selama ini aku sembunyikan dari kalian.""A-apa?!" Lilis menjerit tertahan, kedua tangannya spontan menutupi mulutnya sendiri karena syok berat. Wajahnya seketika pucat pasi mendengar pengakuan mematikan dari putranya.Di saat yang sama, Cita pun ikut tersentak hebat. Ia sama sekali tak menyangka Rayhan akan melontarkan kebohongan sebesar dan senekat itu di hadapan ibunya sendiri. Namun, ia hanya bisa diam.Pandangan Lilis kini terpaku pada bayi mungil di pangkuan Rayhan. Zain adalah cucu yang selama ini tak pernah ia ketahui keberadaannya, yang tiba-tiba diakui sebagai darah daging Rayhan sendiri setelah putranya itu menghilang tanpa kabar dan tak bisa dilacak oleh orang suruhannya.Tekanan darah Lilis mendadak melonjak drastis. Napasnya mulai memburu tidak teratur. Matan

  • Kawin Grebek   94. Hamil Duluan

    Rayhan masih membeku di ambang pintu, seolah kedua kakinya tertanam erat ke lantai yang dingin. Tatapan matanya yang tadi dipenuhi rasa curiga dan amarah kepada Adi, seketika luntur, berganti dengan rasa terkejut yang luar biasa."Mamah?" gumam Rayhan sangat pelan, hampir tak terdengar oleh tenggorokannya yang mendadak kering.Sosok wanita paruh baya berpenampilan elegan dengan pakaian rapi itu sedang duduk di atas tikar di dalam ruang tamu kontrakan yang sempit. Wanita itu tak lain adalah Lilis, ibu kandungnya. Baik Lilis maupun Cita tampaknya belum menyadari kehadiran Rayhan di depan pintu karena fokus mereka tertuju satu sama lain."Kamu sebaiknya jauhi anakku!" tegur Lilis dengan suara dingin, tegas, dan penuh penekanan.Cita yang duduk di hadapannya sembari memangku Zain dalam dekapannya hanya bisa diam dengan ekspresi bingung. Wanita muda itu memilih diam, tak berani membantah sepatah kata pun. Bibirnya bergetar pelan, menahan luapan emosi dan rasa takut yang m

  • Kawin Grebek   93. Jangan Macam-Macam

    Hari berikutnya Rayhan sudah sembuh. Pagi itu ia mulai berjualan lagi dan kini berpamitan dengan sang istri."Aku berangkat dulu, Cit," pamit Rayhan sembari mengulurkan tangan kanannya dan Cita segera mencium punggung tangan suaminya."Iya, Mas. Hati-hati dan semoga laris," sahut Cita dan wanita itu mendapatkan kecupan lembut di keningnya."Aduh. Mesranyaaaa!" Suara seruan Adi mengejutkan mereka berdua. Spontan Rayhan melepas pelukannya.Tetangga baru mereka itu selalu saja antusias dengan hubungan Cita dan Rayhan."Mas Adi," sapa Cita salah tingkah."Hai, Adikku Cita! Halo adik ipar," sahut Adi ceria. "Mau berangkat kerja, nih? Udah sembuh?""Iya," jawab Rayhan singkat dengan ekspresi yang lansung kembali datar."Oh. Ya udah sana. Tenang aja nanti biar Cita dan Zain aku yang bantu urus. Kamu yang penting jangan lupa bawa mantol," ucap Adi semangat sembari mengingatkan."Sudah aku siapkan." Lalu Rayhan terdiam dan langsung menautkan kedua alisnya.

  • Kawin Grebek   92. Berubah Manja

    Pukul enam lewat tiga puluh menit, suasana di sekitar rumah tampak berbeda dari biasanya. Lapak sayur di belakang kecamatan hari ini kosong, tidak ada sosok Rayhan yang sibuk menata dagangan atau melayani ibu-ibu langganan setianya.Di dalam kamar, Rayhan masih terlelap pulas. Pria itu benar-benar mengistirahatkan tubuhnya yang semalam dihantam demam tinggi.Cita yang sudah bangun sejak subuh bergerak sigap. Setelah merapikan tempat tidur dan menyiapkan wadah kue, ia memutuskan untuk tetap berangkat mengantar kue ke warung Bu Is. Dengan menggendong Zain di depan dadanya menggunakan kain jarik, Cita melangkah ringan menuju warung Bu Is yang tidak jauh dari rumah mereka."Pagi, Bu Is," sapa Cita ramah setibanya di warung."Eh, Mbak Cita," balas Bu Is sambil menerima nampan berisi aneka kue basah yang dibawa Cita. "Ini kok...?""Iya, Bu Is. Kue hari ini nggak sebanyak kemarin, soalnya Mas Rayhan lagi sakit, masuk angin semalem gara-gara kehujanan. Jadi saya cuma bisa buat setengahnya aja

  • Kawin Grebek   91. Wasiat

    "Apaan, sih, Mas?!" Cita mengerjap tak percaya mendengar tebakan ngawur suaminya dengan wajah memerah. Wanita itu mendengus gemas, lalu tanpa ragu kembali mendaratkan cubitan yang lebih keras di lengan Rayhan."Aw! Aduh, Cita! Katanya tadi nggak mau 'gituan', tapi kok malah nyubit-nyubit begini? Kamu beneran ngajak ribut atau kode keras, sih?" protes Rayhan dengan suara serak khas orang demam, meski matanya masih menyipit menahan sakit kepala.Alih-alih menjawab, Cita mendengus kesal sambil mengangkat piring kecil yang sejak tadi dibawanya. Ia tunjukkan benda-benda di atas piring itu tepat di depan wajah sang suami."Nih, lihat!" seru Cita.Rayhan mengerutkan dahi, menatap bingung ke arah piring kecil yang berisi sedikit minyak goreng dan sebuah uang koin seribu rupiah. Pria itu diam sembari menatal heran."Kamu... mau goreng koin, Cit? Buat apa? Mau menggadaikan uang lewat dukun pakai minyak?" tanya Rayhan mulai melantur.Kesabaran Cita hampir saja habis. Wanita itu semakin gemas hin

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status