Masuk
"Yulia pasti suka," gumam seorang pemuda dengan melihat tentengan plastik yang dia bawa.
Hujan gerimis masih menyapu jalanan kota Jambire, menyisakan kabut tipis di trotoar yang ramai oleh kendaraan dan pejalan kaki yang berlalu-lalang dengan payung warna-warni. Di antara kerumunan itulah, seorang pemuda berjaket cokelat lusuh berdiri diam, menggenggam dua kantong plastik berisi makanan yang masih hangat. Uapnya mengepul samar dari celah-celah kantong bening, tapi pemuda itu tak memperhatikan setelahnya. Matanya hanya menatap lurus ke seberang jalan. Ryan Putra Nagara, nama pemuda tersebut. Usianya baru dua puluh tiga tahun, wajahnya belum sepenuhnya dewasa, tapi garis lelah sudah tertanam di bawah matanya. Lengan bajunya basah, beberapa helai rambutnya menempel di dahi karena keringat dan gerimis yang bercampur, dan tubuhnya sedikit gemetar. Ini bukan karena dia kedinginan, tapi karena ada sesuatu di depan sana yang tak bisa diterima oleh akalnya. "Bukankah itu..." Di balik kaca restoran mewah bernama Lotus Moon, dia melihat sosok yang sangat dia kenal. Yulia Citra, kekasih yang selama dua tahun ini menjadi alasan dia menahan lapar, menahan sakit, bahkan menahan mimpi-mimpi yang dulunya ingin ia gapai. Dan di samping gadis itu, ada pria lain. Pria itu berperawakan tinggi, dengan jas rapi di tubuh. Ada senyuman yang menawan dan menggoda. Lengan pria itu memeluk pinggang Yulia, dan mereka tampak tertawa bahagia seperti sepasang kekasih yang tengah dimabuk cinta. Ryan terpaku, nafasnya tercekat. Seolah-olah dunia berhenti. Apa yang dilihatnya tentu mengejutkan, karena ini adalah hal yang tidak pernah dibayangkannya. Tangannya refleks menggenggam plastik makanan lebih erat, hingga terdengar bunyi "krek" dari kotak styrofoam di dalamnya. Ayam wijen madu, favorit Yulia. Makanan itu dia beli dari gajinya hari ini, hasil lembur dua malam tanpa tidur. Dia tidak bisa diam saja melihat kejadian ini. Langkahnya cepat menyeberang, menerobos gerimis, masuk ke restoran tanpa peduli matanya masih memerah karena menahan lelah dan juga kantuk. “Yulia!” Suara Ryan menggema, menghentikan percakapan dan tawa para pelanggan. Semua kepala menoleh, dan Yulia memutar tubuhnya perlahan. Sekilas, ada ekspresi kaget di wajahnya. Tapi kemudian berubah jadi kesal, lalu tatapan itu terlihat, jijik? “Kamu ngapain ke sini?” suaranya datar, sinis, seperti tidak sedang bicara pada pacarnya, melainkan pada gelandangan yang salah masuk ke tempat elit. “Kamu bilang mau ketemu, jadi aku datang. Aku juga beliin makanan kesukaanmu.” Li Shen mengangkat plastik makanan yang dia tenteng. “Astaga, masih saja kamu percaya omongan kayak gitu? Heh!” Yulia terkekeh sinis. “Kau pacarnya?” Pria di samping Yulia ikut bicara, menuding ke arah Ryan. “Iya... iya. Aku, aku pacarnya.” Ryan menjawab terbata dengan mengangguk kaku. “Huh, cuma Mantan. Mulai sekarang kamu bukan siapa-siapa lagi, Ryan. Kita sudah selesai, kita end.” Yulia mendesah keras, lalu menegakkan tubuh. “Yulia, aku kerja mati-matian buat kamu. Aku rela nggak makan, juga nggak tidur. Semuanya buat kamu!” ujar Li Shen seperti sedang bernegosiasi. “Lalu kenapa? Emangnya itu berarti aku harus terus sama kamu selamanya? Dengar ya, aku capek hidup miskin. Aku nggak mau makan bubur di pinggir jalan tiap malam minggu cuma karena kamu bilang 'uang kita mepet'. Aku butuh hidup nyaman. Butuh cowok yang bisa bayarin makananku, beliin make-up dan baju baru juga. Aku ingin masa depan yang cerah, jika kamu sadar diri!” Mendengar ocehan Yulia, Ryan berdiri membeku. Dunia seakan kehilangan warna. Hujan, lampu, musik jazz pelan di restoran, semuanya hilang dari pendengarannya. Hal indah, dan semua mimpi-mimpi yang dirajutnya selama dua tahun ini sirna. Kekasih yang diperjuangkan, nyatanya menyerah hanya karena dia miskin. Tidak bisa memberikan kenyamanan dan keistimewaan materi. “Lagian, kamu pikir kamu siapa? Lulusan teknik yang kerja jadi kuli freelance? Kamu nggak akan pernah bisa sukses, Ryan. Hidupmu cuma penuh mimpi dan beban.” Yulia melipat tangannya di dada, bersikap sinis dengan pria yang selama ini berusaha memanjakannya. Perkataan yang menghina itu membuat sesuatu pecah dalam dada Ryan. Hancur, remuk dan kecewa bercampur jadi satu. “Jadi, selama ini semua pengorbananku sia-sia?” gumamnya lirih, seperti untuk dirinya sendiri. “Pengorbanan itu tidak cukup kalau kamu nggak punya masa depan, Ryan.” Yulia mengangkat alis dengan maksud meremehkan. "Ayo, Zein. Kita pergi dari sini. Aku sudah malas lihat wajah memelasnya," ajaknya kemudian, lalu dia meraih lengan cowok barunya. "Hm, ayok!" Pria yang katanya memiliki masa depan cerah itu mengulurkan tangan pada Yulia, lalu menoleh dan tersenyum sinis pada Ryan. Langkah kaki mereka menjauh. Satu... dua... tiga... lalu menghilang di balik pintu kaca. Semoga Ryan masih berdiri sendiri, menggenggam plastik makanan yang kini remuk dan meneteskan kuah di lantai. Hujan yang turun deras dari atap restoran membasahi kakinya. Bukan hanya tubuhnya yang terasa dingin, tapi jiwa dan hatinya juga. Air matanya memang tidak jatuh, tapi tubuhnya seperti kosong. Seperti boneka yang baru saja kehilangan tali penopangnya. Dia berjalan keluar restoran tanpa suara, sedangkan kantong plastik ditinggalkan begitu saja di atas meja. Toh isinya tak berguna lagi. Langkahnya pelan menembus hujan, menyusuri trotoar yang terasa sangat panjang. Kepalanya tertunduk, tangannya masuk ke saku jaket, meremas kalung giok kecil yang selalu dia pakai. Giok pemberian kakeknya. Satu-satunya warisan keluarga, karena memang tidak memiliki harta berlebih. “Jangan pernah lepaskan giok ini, Ryan. Suatu hari nanti, dia akan menjagamu ketika dunia tidak lagi punya tempat untukmu,” kata kakeknya waktu itu. Hari itu, Ryan tidak mengerti dan hanya mengangguk untuk menyenangkan sang kakek. Ryan sendiri tidak tahu, makna apa yang terkandung dalam nasehat tersebut. Dia hanya tahu bahwa hatinya sudah tidak punya bentuk lagi, karena setelahnya kakeknya pun pergi untuk selamanya. Dan kini? Dunia baru saja memberitahu dirinya bahwa pengorbanan hanyalah lelucon jika tidak dibayar dengan uang dan kekuasaan. Giok warisannya tidak berarti apa-apa, sebab tidak bisa membahagiakan Yulia. "Apakah selalu, orang sepertiku harus kalah? Beginikah nasib orang miskin sepertiku?" pertanyaan Ryan ini, yang tidak memerlukan jawaban, seharusnya.Ryan merasa seperti tikus yang terjebak dalam perangkap tikus raksasa, dengan musuh-musuh tak terlihat mengintai dari segala penjuru. Seminggu setelah acara tunangan yang penuh gejolak itu, ia mulai menjalani rutinitas baru sebagai perawat pribadi Pak Darma di rumah yang megah.Pagi-pagi buta, udara kota masih dingin menusuk tulang, kabut tipis menyelimuti jalanan basah oleh embun malam. Ryan naik sepeda motor tua miliknya menuju rumah sakit untuk shift terakhirnya sebelum sepenuhnya pindah tugas. Lampu jalan kuning redup menerangi wajahnya yang lelah, bayangan pohon-pohon di pinggir jalan seolah-olah mengawasi gerakannya.Tiba-tiba, dari belakang, suara deru motor lain mendekat dengan cepat. Dua motor hitam tanpa plat nomor menyusulnya, pengendaranya mengenakan jaket kulit gelap dan helm full-face yang menyembunyikan wajah."Hei, berhenti!" teriak salah satu dari mereka, suara kasar seperti geraman serigala. Ryan memacu gas motornya, jantungnya berdegup kencang. Jalanan licin karena
Ryan merasa hatinya seperti terperangkap dalam labirin gelap yang tak berujung. Sudah dua hari ini ia mondar-mandir di koridor rumah sakit yang dingin dan steril, mencari keberadaan Dr. Wardana. Udara disana terasa lembab, bercampur bau obat dan desinfektan yang menusuk hidung. Lampu neon yang berkedip-kedip di langit-langit membuat bayangannya memanjang, seolah-olah mengejek kegelisahannya."Dokter Wardana? Beliau sedang melakukan penelitian sosial di luar negeri," kata perawat senior dengan suara datar, sambil menatap layar komputer di meja resepsionis. "Tidak ada detail lebih lanjut, maaf. Kami tidak bisa hubungi beliau sekarang."Ryan menghela napas panjang, tangannya memegang erat ponsel yang sudah kehabisan baterai. Penelitian sosial atau rahasia? Di negara mana? Tidak ada petunjuk sama sekali. Ia tahu, tanpa Dr. Wardana, pelindung utamanya hilang.Sementara itu, dinas kesehatan seperti serigala lapar yang mengintai. Pagi tadi, ia melihat mobil dinas berwarna putih parkir di dep
Tiga hari setelah pertemuan dengan keluarga Sudirga, Ryan duduk di kantin rumah sakit sambil mengaduk kopi dinginnya tanpa diminum. Pikirannya melayang, bukan ke lima puluh juta rupiah yang sudah disimpan dengan aman di bawah kasur, tapi ke masalah baru yang muncul. "Yan, kamu dengar belum?" Pak Broto duduk di seberangnya dengan nasi goreng dan teh manis. "Pagi ini ada orang dari Dinas Kesehatan dateng." Ryan mengangkat wajah. "Dinas Kesehatan? Ngapain?" "Katanya mau investigasi. Ada laporan tentang 'praktik medis ilegal' di rumah sakit ini." Pak Broto menurunkan suaranya. "Dan yang bikin aku khawatir, mereka nyebut-nyebut nama kamu." Jantung Ryan langsung berdegup cepat. "Namaku? Kenapa?" "Entahlah. Tapi tadi pagi mereka ketemu sama Dokter Hendra di ruangannya. Lumayan lama, hampir satu jam. Keluar-keluar, mereka bawa map tebal dan Dokter Hendra keliatan stres banget." "Sial." Ryan mengusap wajahnya. Ini yang dia takutkan. Penyelamatan Pak Darma memang ajaib, terlalu ajaib
Ryan baru saja selesai memandikan pasien stroke di ruang 304 ketika Suster Dewi berlari menghampirinya dengan wajah panik."Yan! Yan! Ada yang nyariin kamu di lobby!"Ryan mengelap tangannya dengan handuk. "Siapa? Keluarga pasien?""Bukan! Perempuan muda, cantik, pakai blazer mahal, bawa bodyguard segala!" Suster Dewi berbisik dengan mata berbinar. "Kayaknya orang kaya banget deh. Mobilnya Mercy hitam, plat nomornya cantik lagi!"Jantung Ryan langsung dag-dig-dug. "Jangan-jangan...""Iya! Dia nyebut nama kamu. Ryan Putra Nagara. Bilang mau ketemu langsung, penting banget katanya.""Sial." Ryan mengusap wajahnya. Akhirnya mereka menemukan dia juga."Kenapa sih? Emang ada masalah?" Suster Dewi penasaran."Nggak ada apa-apa. Bilang saja aku saja lagi sibuk, nanti aku ke sana.""Udah aku bilang gitu tadi. Eh, dia malah bilang dia mau nunggu sampai kamu selesai. Sekarang lagi duduk di kursi tunggu sambil main HP, tapi keliatan nggak sabar banget."“Hahhh…” Ryan menghela napas panjang. Tida
Ryan terlelap dalam tidur yang gelisah. Keringat membasahi dahinya, nafasnya tersengal-sengal seperti orang habis berlari. Tapi dia tidak bermimpi biasa, ini berbeda. Sungguh, sangat berbeda. Baik tempat dan keadaan sekelilingnya. Ryan membuka mata dan mendapati dirinya berdiri di sebuah tempat yang mustahil. Bukan di kamar kontrakannya yang sempit, bukan rumah sakit, bukan juga tempat yang pernah dia kenal. Dia berdiri di tengah hamparan kabut putih tebal yang menggelinding pelan seperti ombak. Lantai di bawah kakinya seperti kaca hitam yang memantulkan bayangan dirinya, tapi bayangannya bergerak sendiri, tidak sinkron dengan gerakan tubuhnya. "Apa ini, aku ada di mana?" Ryan menoleh ke segala arah. Tidak ada langit. Tidak ada bumi. Hanya kabut, keheningan, dan sensasi hampa yang mencekam. "Akhirnya kau datang juga, anak muda." Ryan tersentak. Suara itu terdengar berat, bergema, seperti datang dari segala arah sekaligus. Dari dalam kabut, muncul sosok tua berjenggot puti
Ryan baru pulang shift malam pukul sebelas lewat. Kakinya pegal, matanya perih, dan perutnya keroncongan karena cuma sempat makan mie instan siang tadi. Gang Mawar 7 yang biasanya sepi di jam segini ternyata rame, tapi bukan rame yang baik.Ada tiga motor gede terparkir sembarangan di depan kontrakan. Lampu depan masih nyala, mesin masih bunyi menderu. Dari arah halaman, terdengar teriakan dan suara barang pecah."Sial, ada apa lagi?" Ryan mempercepat langkah.Pemandangan yang menyambutnya bikin darahnya naik. Lima orang berjaket kulit hitam dengan logo serigala di punggung sedang mengacak-acak halaman kontrakan. Pot bunga Bu Surti dilempar, jemuran diobrak-abrik, bahkan kursi plastik ditendang sampai patah.Yang paling bikin Ryan naik darah, Bu Surti berlutut di tanah sambil menangis, menggenggam kaki salah satu preman."Maafin saya, Bang! Saya janji minggu depan pasti bisa bayar!"Preman itu, bertubuh besar dengan tato di leher, menendang tangan Bu Surti sampai perempuan paruh baya







