MasukLangit kota Jambire semakin gelap, seperti gambaran hati Ryan Putra Nagara. Hujan belum juga reda, bahkan rintiknya turun makin deras menghantam genting, trotoar, dan tubuh kurus Ryan yang terus melangkah tanpa arah.
Tanpa sadar, kakinya melangkah membawa tubuh menelusuri gang demi gang, jalan demi jalan, hingga ia sampai di kawasan konstruksi di tepi distrik industri Nanjo. Proyek pembangunan gedung pencakar langit, simbol kemajuan kota. Dia terus berdiri, meski cuaca buruk mengguyur tiada henti. Kreak... kreak... Ryan berdiri di seberang pagar seng yang berderak diterpa angin. Di dalam, suara mesin dan teriakan pekerja terdengar samar. Cahaya kuning dari lampu proyek menciptakan bayangan panjang dari crane besar yang menggantung di atas langit gelap. Tangan Ryan gemetar, bukan karena hawa dingin, tapi karena hatinya terasa kosong. Kecewa dengan apa yang terjadi pada hubungannya dengan Yulia Citra. “Semua sia-sia…” gumamnya lirih. Lagi, langkahnya tanpa sadar melewati pagar seng yang terbuka sedikit. Tak ada yang memperhatikan karena para pekerja sibuk dengan kesibukan bekerja, mengangkat baja dan mengatur posisi fondasi. Ryan berjalan di antara kerangka bangunan yang menjulang. Hujan menetes dari helm-helm para buruh yang berteriak sambil memberi isyarat dengan lampu senter. Tapi mereka tidak memperhatikan seorang pemuda kurus yang berjalan seperti hilang akal, dengan jaket lusuh yang melekat di tubuhnya seperti kulit kedua. Lagi, Ryan menatap langit yang diselimuti awan kelabu gelap, lalu menunduk. Tangannya merogoh kerah jaket dan menggenggam kalung giok yang menggantung di lehernya, giok kecil dengan ukiran tak beraturan, yang terasa dingin, tetapi juga satu-satunya benda miliknya yang berharga, menurutnya. “Kalau memang hidupku harus berakhir hari ini, ya sudah.” Ryan berkata dengan suara yang terdengar putus asa. Suara mesin crane menderu keras di atas sana, lalu tiba-tiba... KREEEAAAAAKKKKK!! Suara besi berat yang tergelincir dari atas langit-langit proyek lantai 12, satu balok baja raksasa tergelincir dari pengaitnya. Para pekerja yang melihatnya langsung berteriak keras, memperingatkan. “AWASSSSS!!” "Hai, minggir!" teriak yang lain. "PERGI!!" Tapi Ryan seakan tuli, tidak mendengar teriakan para pekerja. Langkahnya masih pelan, lehernya tertunduk dengan pikiran yang melayang entah ke mana. Dua detik kemudian, satu pekerja berlari, tapi tak sempat. Crane operator menghentikan mesin, semua mata tertuju ke bawah. BRAAAAAKKKK!!! Balok baja seberat satu ton jatuh tepat di atas kepala Ryan, menghantam tubuhnya dan menciptakan suara menggelegar seperti guntur meledak di tengah proyek. Terlihat darah yang muncrat ke mana-mana, dan yang melihat itu merasa jika waktu seakan berhenti. Semua orang diam, tak ada yang berani mendekat. Debu mengepul di sekitar, menghalangi pandangan. Paku, pasir, dan air hujan bercampur menjadi lumpur merah. "Apa orang itu hancur?" tanya salah satu pekerja. "Entahlah, kemungkinan besar iya." Pekerja lain menjawab, dan itu jawaban yang masuk akal. "Ngeri sekali," sahut yang lain sambil bergidik. Tapi kemudian, dari balik celah balok baja yang terguling sedikit, terlihat tubuh Ryan yang masih utuh. Kepalanya memang terluka parah, darah mengucur dari pelipis dan dahi, membasahi wajahnya, mengalir menuruni leher hingga jatuh tepat ke giok kecil yang ada di dadanya. Dan saat tetes darah itu menyentuh permukaan giok, cahaya hijau tiba-tiba menyala samar dari dalam batu itu. Tidak terlalu terang, tapi cukup untuk membuat para pekerja yang mulai mendekat mematung di tempatnya. Tubuh Ryan memang tidak bergerak, tapi di dalam jiwanya, sesuatu sedang berlangsung. Seperti adegan di film-film, dalam sebuah lorong panjang. *** Dalam kesadaran batin yang terasa gelap, dingin dan kosong. Ryan merasa melayang di tengah kehampaan. Tapi perlahan, ia melihat cahaya hijau membentuk sebuah lorong. Di ujung lorong itu, berdiri sosok pria tua berjubah putih panjang, rambut putihnya juga panjang terikat di tengah, dengan giok besar mengambang di atas telapak tangannya. “Akhirnya, sang pewaris darah telah datang.” Suaranya bergema, seperti penuh dengan kekuatan dan kemampuan. “Siapa, siapa kau?” tanya Ryan, suaranya bergetar karena memang tidak mengenal pria tua tersebut. “Namaku tidak penting, anak muda. Yang penting, darahmu telah membangunkan giok ini. Giok yang menyimpan ilmu dan kekuatan leluhurmu.” Pria tua itu memberikan penjelasan yang tidak bisa dicerna dengan cepat oleh Ryan sendiri. “Leluhurku?” tanya Ryan yang justru bingung. “Leluhur para penyembuh, para penjaga keseimbangan tubuh dan jiwa. Jiwa-jiwa murni yang kini dilupakan oleh zaman. Dunia kini hanya percaya pada teknologi, tetapi lupa pada keseimbangan. Kau, ditakdirkan untuk mengembalikannya.” Penjelasan panjang itu seperti tidak masuk akal, membuat Ryan menggeleng. Dia tidak percaya begitu saja, apalagi dia tidak tahu di mana dirinya sekarang berada. Dalam diam, Ryan ingat jika dia baru saja jatuh, kemungkinan besar tubuhnya hancur, dalam sebuah kecelakaan yang tak biasa. Atau mungkin, sekarang ini dia sudah mati dan berada di dunia para dewa? Ya, mungkin saja begitu, bukan? “Aku hanya orang yang gagal, semua orang meninggalkanku. Apakah saat ini aku sudah mati?” Ryan ingin kepastian dari rasa yang membingungkan. "Tidak, anak muda." Sosok tua itu menjawab dengan mengulurkan tangan, menyentuh keningnya. Dan tiba-tiba, gelombang informasi masuk ke kepala Ryan. Ribuan jalur meridian tubuh, teknik-teknik akupunktur kuno, mantra penyembuh, energi spiritual dan formasi giok pelindung, juga keahlian napas dan penyaluran Qi setelah berada di kepalanya. “Ingat ini, giokmu akan bersinar ketika kamu gunakan untuk menyelamatkan, atau menghancurkan. Pilihanmu menentukan takdirmu.” Pria tua itu memberikan pesan terakhir, lalu menghilang. *** "Hah? Apa... apa tadi?" Ryan tersentak, napasnya memburu. Matanya terbuka lalu memperhatikan sekitar. Saat ini, ia berbaring di atas lumpur, dan tubuhnya, utuh? Luka di kepalanya juga sembuh, dan hal ini membuat para pekerja menatapnya seolah-olah sedang melihat hantu. “Dia hidup…” “Gila… barusan dia tertimpa balok seberat satu ton!” “Ini, mustahil…” Meski ikut bingung, Ryan perlahan bangkit. Matanya menatap sekeliling, dan untuk pertama kalinya dunia terasa berbeda. Semua terlihat jernih, lebih tajam. Dia bisa mendengar detak jantung orang-orang di sekelilingnya, bahkan bisa melihat titik tekanan darah di tubuh mereka. Benar, dia merasakan energi yang luar biasa seperti yang dikatakan pria tua dalam minpin dan alam bawah sadarnya. Lalu Ryan melihat giok di lehernya, giok kecil itu kini bersinar samar. Dia tidak tahu apa yang terjadi, tapi dia juga tahu satu hal. Kini dirinya telah kembali, bukan sebagai Ryan yang lemah dan tidak memiliki apa-apa. tapi sebagai seseorang yang tidak akan pernah bisa diinjak-injak lagi. "Hai, kamu tidak apa-apa?" tanya seseorang, membuat Ryan tersadar dan menoleh. Dia kembali sadar dengan keadaan sekitar.Fajar belum menyingsing ketika courtyard kastil Dragon Council sudah dipenuhi aktivitas. Puluhan kultivator terbaik dari seluruh dunia berkumpul, wajah-wajah yang Ryan kenal dari turnamen, dan banyak lagi yang baru dia lihat untuk pertama kali."Formasi Dragon Unity!" Dmitri berteriak dengan suara yang menggelegar, berdiri di tengah courtyard. "Ini adalah formasi yang digunakan seribu tahun lalu untuk mengurung The Ancient One. Lima Master di pusat, dikelilingi oleh lima puluh kultivator elite dalam lima lingkaran konsentris."Dia menunjuk ke diagram besar yang digambar di tanah dengan kapur. "Setiap lingkaran mewakili satu elemen. Crimson Dragon di utara, Azure Dragon di timur, White Dragon di barat, Black Dragon di selatan, dan Green Dragon di tengah sebagai penyeimbang."Ryan berdiri di tengah diagram, merasakan berat tanggung jawab di pundaknya. Di sekelilingnya, May, Carlos, Kenzo, dan puluhan kultivator lain mengambil posisi mereka."Ayo mulai!" Zhou Liang berteriak. "Kita hanya
Ryan dan Clarissa tiba di kastil Dragon Council menjelang tengah malam. Suasana yang biasanya tenang kini dipenuhi ketegangan yang bisa dirasakan di udara. Kultivator berjaga di setiap sudut, wajah mereka sangat serius dan waspada. "Ini buruk," kata Clarissa berbisik sambil menggenggam tangan Ryan lebih erat. "Aku belum pernah melihat kastil dalam keadaan seperti ini." Carlos berlari menghampiri mereka begitu mereka memasuki hall utama. Wajahnya yang biasanya ceria kini dipenuhi kekhawatiran. "Hermano, Clarissa, cepat!" dia mendorong keduanya menuju ruang pertemuan besar. "Semua Elder sudah berkumpul. Bahkan mereka yang biasanya tidak pernah meninggalkan teritorinya juga ikut datang." Di dalam ruang pertemuan, pemandangan yang mengejutkan menanti. Tidak hanya lima Elder yang biasa Ryan kenal, tapi ada tujuh Elder tambahan dengan wajah-wajah yang hanya dia lihat dalam potret kuno di dinding kastil. Mama Zola berdiri di kepala meja yang panjang, wajahnya lebih serius dari yang
Dua minggu setelah insiden dengan Arjuna, Ryan kembali ke Seoul. Kastil Dragon Council terasa seperti rumah kedua sekarang, tempat di mana dia belajar, bertarung, dan akhirnya menemukan jati dirinya.Tapi malam ini, dia tidak ada di kastil. Dia berdiri di depan klinik kecil di distrik Gangnam, tempat di mana dia bertemu lagi dengan Clarissa sebagai sesama healer, sebelum semua kehebohan tentang kultivator dan naga dimulai.Klinik itu sudah tutup, tapi Ryan punya kunci. Dia masuk dengan hati-hati, menyalakan lampu yang redup. Ruang tunggu yang familiar, meja resepsionis tempat Clarissa selalu duduk dengan senyum hangatnya, ruang pemeriksaan di mana mereka bekerja berdampingan selama berbulan-bulan."Kenangan yang indah, bukan?"Ryan berbalik dan melihat Clarissa berdiri di pintu, mengenakan gaun sederhana berwarna biru muda yang membuat matanya terlihat seperti samudra. Rambutnya dibiarkan tergerai, berkilau di bawah cahaya lampu."Kamu datang?" Ryan berkata dengan lega, meski dia yang
Tiga hari setelah pertempuran di reruntuhan Dieng, Ryan duduk di beranda rumah safehouse Council di pinggiran Yogyakarta. Matahari pagi menyinari Gunung Merapi di kejauhan, menciptakan pemandangan yang tenang, sangat kontras dengan kekacauan yang baru saja terjadi.Di sampingnya ada Arkan, atau nama sebenarnya yang baru terungkap, Arjuna, duduk dengan cangkir teh yang gemetar di tangannya. Pria itu terlihat sangat berbeda dari tiga hari lalu. Mata hijau zamrudnya yang dulunya dingin dan kosong kini terlihat normal sebagai manusia."Pasien-pasienmu sudah sembuh semua." Arjuna berkata pelan, memecah keheningan. "Begitu karma hitamku dibersihkan, kutukan yang kutanamkan pada mereka otomatis terbatalkan. Rani, gadis kecil itu sudah bangun kemarin. Dokter bilang itu seperti keajaiban."Ryan mengangguk, merasakan lega yang mendalam. "Itu kabar baik.""Tapi itu tidak mengubah apa yang sudah kulakukan," kata Arjuna melanjutkan, suaranya penuh penyesalan. "Dalam dua puluh tahun terakhir, aku m
Cahaya hijau dan hitam yang bertabrakan semakin intens, menciptakan pusaran energi yang membuat tanah bergetar dan udara bergolak. Ryan dan Arkan masih berdiri saling menggenggam tangan, tubuh keduanya gemetar hebat dari pertempuran spiritual yang terjadi."RYAN, LEPASKAN!" Clarissa berteriak dengan putus asa, mencoba menerobos pusaran energi tapi terlempar kembali oleh kekuatan yang terlalu besar.Di dalam pusaran itu, Ryan merasakan kesadarannya mulai terpecah. Karma hitam dari ratusan korban Arkan membanjiri pikirannya. Dari mulai teriakan mereka, rasa sakit mereka, bahkan kemarahan mereka yang mati sebelum waktunya.["Kenapa dia boleh hidup sementara aku mati?""Tidak adil! Aku masih punya anak kecil!""Umurku dicuri... pencuri... pembunuh..."]Ryan jatuh berlutut tapi tetap tidak melepaskan genggaman Arkan. Api crimson di tangannya mulai melemah, hampir padam sepenuhnya."Ryan, lepaskan dia!" Carlos mencoba mendekat tapi gelombang energi melemparnya beberapa meter ke belakang. "I
Pertarungan berlangsung brutal dan tanpa ampun. Arkan bergerak dengan kecepatan yang mencengangkan, satu tangan menyembuhkan luka-lukanya sendiri dengan mengambil kehidupan dari pepohonan di sekitar, tangan lainnya melontarkan energi hitam yang mematikan.Ryan hampir tidak bisa mengikuti. Setiap kali dia melontarkan api crimson, Arkan sudah berpindah posisi. Setiap kali dia mencoba menyerang jarak dekat, energi gelap Arkan membuatnya terpental."Kau terlalu lambat!" Arkan berteriak sambil melontarkan gelombang energi hitam yang merobohkan tiga pilar batu sekaligus.Ryan melompat menghindari reruntuhan, mendarat dengan keras di tanah yang berdebu. Napasnya tersengal, liontin giok di dadanya sudah setengah hitam dari menyerap energi gelap yang bocor dari serangan Arkan."Ryan, kamu harus mengakhiri ini!" Carlos berteriak dari pinggir area. "Dia terlalu kuat kalau kamu terus bertahan!""Serang titik lemahnya!" May menambahkan. "Dia tidak bisa menggunakan kedua kekuatannya secara bersamaa







