Share

Bab 2. Berdarah-darah

last update Terakhir Diperbarui: 2025-08-03 00:45:50

Langit kota Jambire semakin gelap, seperti gambaran hati Ryan Putra Nagara. Hujan belum juga reda, bahkan rintiknya turun makin deras menghantam genting, trotoar, dan tubuh kurus Ryan yang terus melangkah tanpa arah.

Tanpa sadar, kakinya melangkah membawa tubuh menelusuri gang demi gang, jalan demi jalan, hingga ia sampai di kawasan konstruksi di tepi distrik industri Nanjo. Proyek pembangunan gedung pencakar langit, simbol kemajuan kota. Dia terus berdiri, meski cuaca buruk mengguyur tiada henti.

Kreak... kreak...

Ryan berdiri di seberang pagar seng yang berderak diterpa angin. Di dalam, suara mesin dan teriakan pekerja terdengar samar. Cahaya kuning dari lampu proyek menciptakan bayangan panjang dari crane besar yang menggantung di atas langit gelap.

Tangan Ryan gemetar, bukan karena hawa dingin, tapi karena hatinya terasa kosong. Kecewa dengan apa yang terjadi pada hubungannya dengan Yulia Citra.

“Semua sia-sia…” gumamnya lirih.

Lagi, langkahnya tanpa sadar melewati pagar seng yang terbuka sedikit. Tak ada yang memperhatikan karena para pekerja sibuk dengan kesibukan bekerja, mengangkat baja dan mengatur posisi fondasi.

Ryan berjalan di antara kerangka bangunan yang menjulang. Hujan menetes dari helm-helm para buruh yang berteriak sambil memberi isyarat dengan lampu senter. Tapi mereka tidak memperhatikan seorang pemuda kurus yang berjalan seperti hilang akal, dengan jaket lusuh yang melekat di tubuhnya seperti kulit kedua.

Lagi, Ryan menatap langit yang diselimuti awan kelabu gelap, lalu menunduk. Tangannya merogoh kerah jaket dan menggenggam kalung giok yang menggantung di lehernya, giok kecil dengan ukiran tak beraturan, yang terasa dingin, tetapi juga satu-satunya benda miliknya yang berharga, menurutnya.

“Kalau memang hidupku harus berakhir hari ini, ya sudah.” Ryan berkata dengan suara yang terdengar putus asa.

Suara mesin crane menderu keras di atas sana, lalu tiba-tiba...

KREEEAAAAAKKKKK!!

Suara besi berat yang tergelincir dari atas langit-langit proyek lantai 12, satu balok baja raksasa tergelincir dari pengaitnya. Para pekerja yang melihatnya langsung berteriak keras, memperingatkan.

“AWASSSSS!!”

"Hai, minggir!" teriak yang lain.

"PERGI!!"

Tapi Ryan seakan tuli, tidak mendengar teriakan para pekerja. Langkahnya masih pelan, lehernya tertunduk dengan pikiran yang melayang entah ke mana.

Dua detik kemudian, satu pekerja berlari, tapi tak sempat. Crane operator menghentikan mesin, semua mata tertuju ke bawah.

BRAAAAAKKKK!!!

Balok baja seberat satu ton jatuh tepat di atas kepala Ryan, menghantam tubuhnya dan menciptakan suara menggelegar seperti guntur meledak di tengah proyek. Terlihat darah yang muncrat ke mana-mana, dan yang melihat itu merasa jika waktu seakan berhenti. Semua orang diam, tak ada yang berani mendekat. Debu mengepul di sekitar, menghalangi pandangan. Paku, pasir, dan air hujan bercampur menjadi lumpur merah.

"Apa orang itu hancur?" tanya salah satu pekerja.

"Entahlah, kemungkinan besar iya." Pekerja lain menjawab, dan itu jawaban yang masuk akal.

"Ngeri sekali," sahut yang lain sambil bergidik.

Tapi kemudian, dari balik celah balok baja yang terguling sedikit, terlihat tubuh Ryan yang masih utuh. Kepalanya memang terluka parah, darah mengucur dari pelipis dan dahi, membasahi wajahnya, mengalir menuruni leher hingga jatuh tepat ke giok kecil yang ada di dadanya.

Dan saat tetes darah itu menyentuh permukaan giok, cahaya hijau tiba-tiba menyala samar dari dalam batu itu. Tidak terlalu terang, tapi cukup untuk membuat para pekerja yang mulai mendekat mematung di tempatnya.

Tubuh Ryan memang tidak bergerak, tapi di dalam jiwanya, sesuatu sedang berlangsung. Seperti adegan di film-film, dalam sebuah lorong panjang.

***

Dalam kesadaran batin yang terasa gelap, dingin dan kosong. Ryan merasa melayang di tengah kehampaan. Tapi perlahan, ia melihat cahaya hijau membentuk sebuah lorong. Di ujung lorong itu, berdiri sosok pria tua berjubah putih panjang, rambut putihnya juga panjang terikat di tengah, dengan giok besar mengambang di atas telapak tangannya.

“Akhirnya, sang pewaris darah telah datang.” Suaranya bergema, seperti penuh dengan kekuatan dan kemampuan.

“Siapa, siapa kau?” tanya Ryan, suaranya bergetar karena memang tidak mengenal pria tua tersebut.

“Namaku tidak penting, anak muda. Yang penting, darahmu telah membangunkan giok ini. Giok yang menyimpan ilmu dan kekuatan leluhurmu.” Pria tua itu memberikan penjelasan yang tidak bisa dicerna dengan cepat oleh Ryan sendiri.

“Leluhurku?” tanya Ryan yang justru bingung.

“Leluhur para penyembuh, para penjaga keseimbangan tubuh dan jiwa. Jiwa-jiwa murni yang kini dilupakan oleh zaman. Dunia kini hanya percaya pada teknologi, tetapi lupa pada keseimbangan. Kau, ditakdirkan untuk mengembalikannya.”

Penjelasan panjang itu seperti tidak masuk akal, membuat Ryan menggeleng. Dia tidak percaya begitu saja, apalagi dia tidak tahu di mana dirinya sekarang berada.

Dalam diam, Ryan ingat jika dia baru saja jatuh, kemungkinan besar tubuhnya hancur, dalam sebuah kecelakaan yang tak biasa. Atau mungkin, sekarang ini dia sudah mati dan berada di dunia para dewa? Ya, mungkin saja begitu, bukan?

“Aku hanya orang yang gagal, semua orang meninggalkanku. Apakah saat ini aku sudah mati?” Ryan ingin kepastian dari rasa yang membingungkan.

"Tidak, anak muda." Sosok tua itu menjawab dengan mengulurkan tangan, menyentuh keningnya.

Dan tiba-tiba, gelombang informasi masuk ke kepala Ryan. Ribuan jalur meridian tubuh, teknik-teknik akupunktur kuno, mantra penyembuh, energi spiritual dan formasi giok pelindung, juga keahlian napas dan penyaluran Qi setelah berada di kepalanya.

“Ingat ini, giokmu akan bersinar ketika kamu gunakan untuk menyelamatkan, atau menghancurkan. Pilihanmu menentukan takdirmu.” Pria tua itu memberikan pesan terakhir, lalu menghilang.

***

"Hah? Apa... apa tadi?" Ryan tersentak, napasnya memburu. Matanya terbuka lalu memperhatikan sekitar. Saat ini, ia berbaring di atas lumpur, dan tubuhnya, utuh?

Luka di kepalanya juga sembuh, dan hal ini membuat para pekerja menatapnya seolah-olah sedang melihat hantu.

“Dia hidup…”

“Gila… barusan dia tertimpa balok seberat satu ton!”

“Ini, mustahil…”

Meski ikut bingung, Ryan perlahan bangkit. Matanya menatap sekeliling, dan untuk pertama kalinya dunia terasa berbeda. Semua terlihat jernih, lebih tajam. Dia bisa mendengar detak jantung orang-orang di sekelilingnya, bahkan bisa melihat titik tekanan darah di tubuh mereka. Benar, dia merasakan energi yang luar biasa seperti yang dikatakan pria tua dalam minpin dan alam bawah sadarnya.

Lalu Ryan melihat giok di lehernya, giok kecil itu kini bersinar samar. Dia tidak tahu apa yang terjadi, tapi dia juga tahu satu hal. Kini dirinya telah kembali, bukan sebagai Ryan yang lemah dan tidak memiliki apa-apa. tapi sebagai seseorang yang tidak akan pernah bisa diinjak-injak lagi.

"Hai, kamu tidak apa-apa?" tanya seseorang, membuat Ryan tersadar dan menoleh. Dia kembali sadar dengan keadaan sekitar.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kebangkitan Giok Karana (Karma Dari Giok Leluhur)   Bab 13. Waktu yang Dipercepat

    Ryan merasa seperti tikus yang terjebak dalam perangkap tikus raksasa, dengan musuh-musuh tak terlihat mengintai dari segala penjuru. Seminggu setelah acara tunangan yang penuh gejolak itu, ia mulai menjalani rutinitas baru sebagai perawat pribadi Pak Darma di rumah yang megah.Pagi-pagi buta, udara kota masih dingin menusuk tulang, kabut tipis menyelimuti jalanan basah oleh embun malam. Ryan naik sepeda motor tua miliknya menuju rumah sakit untuk shift terakhirnya sebelum sepenuhnya pindah tugas. Lampu jalan kuning redup menerangi wajahnya yang lelah, bayangan pohon-pohon di pinggir jalan seolah-olah mengawasi gerakannya.Tiba-tiba, dari belakang, suara deru motor lain mendekat dengan cepat. Dua motor hitam tanpa plat nomor menyusulnya, pengendaranya mengenakan jaket kulit gelap dan helm full-face yang menyembunyikan wajah."Hei, berhenti!" teriak salah satu dari mereka, suara kasar seperti geraman serigala. Ryan memacu gas motornya, jantungnya berdegup kencang. Jalanan licin karena

  • Kebangkitan Giok Karana (Karma Dari Giok Leluhur)   Bab 12. Tekanan dari Dinas

    Ryan merasa hatinya seperti terperangkap dalam labirin gelap yang tak berujung. Sudah dua hari ini ia mondar-mandir di koridor rumah sakit yang dingin dan steril, mencari keberadaan Dr. Wardana. Udara disana terasa lembab, bercampur bau obat dan desinfektan yang menusuk hidung. Lampu neon yang berkedip-kedip di langit-langit membuat bayangannya memanjang, seolah-olah mengejek kegelisahannya."Dokter Wardana? Beliau sedang melakukan penelitian sosial di luar negeri," kata perawat senior dengan suara datar, sambil menatap layar komputer di meja resepsionis. "Tidak ada detail lebih lanjut, maaf. Kami tidak bisa hubungi beliau sekarang."Ryan menghela napas panjang, tangannya memegang erat ponsel yang sudah kehabisan baterai. Penelitian sosial atau rahasia? Di negara mana? Tidak ada petunjuk sama sekali. Ia tahu, tanpa Dr. Wardana, pelindung utamanya hilang.Sementara itu, dinas kesehatan seperti serigala lapar yang mengintai. Pagi tadi, ia melihat mobil dinas berwarna putih parkir di dep

  • Kebangkitan Giok Karana (Karma Dari Giok Leluhur)   Bab 11. Jejak yang Hilang

    Tiga hari setelah pertemuan dengan keluarga Sudirga, Ryan duduk di kantin rumah sakit sambil mengaduk kopi dinginnya tanpa diminum. Pikirannya melayang, bukan ke lima puluh juta rupiah yang sudah disimpan dengan aman di bawah kasur, tapi ke masalah baru yang muncul. "Yan, kamu dengar belum?" Pak Broto duduk di seberangnya dengan nasi goreng dan teh manis. "Pagi ini ada orang dari Dinas Kesehatan dateng." Ryan mengangkat wajah. "Dinas Kesehatan? Ngapain?" "Katanya mau investigasi. Ada laporan tentang 'praktik medis ilegal' di rumah sakit ini." Pak Broto menurunkan suaranya. "Dan yang bikin aku khawatir, mereka nyebut-nyebut nama kamu." Jantung Ryan langsung berdegup cepat. "Namaku? Kenapa?" "Entahlah. Tapi tadi pagi mereka ketemu sama Dokter Hendra di ruangannya. Lumayan lama, hampir satu jam. Keluar-keluar, mereka bawa map tebal dan Dokter Hendra keliatan stres banget." "Sial." Ryan mengusap wajahnya. Ini yang dia takutkan. Penyelamatan Pak Darma memang ajaib, terlalu ajaib

  • Kebangkitan Giok Karana (Karma Dari Giok Leluhur)   Bab 10. Tawaran Menarik

    Ryan baru saja selesai memandikan pasien stroke di ruang 304 ketika Suster Dewi berlari menghampirinya dengan wajah panik."Yan! Yan! Ada yang nyariin kamu di lobby!"Ryan mengelap tangannya dengan handuk. "Siapa? Keluarga pasien?""Bukan! Perempuan muda, cantik, pakai blazer mahal, bawa bodyguard segala!" Suster Dewi berbisik dengan mata berbinar. "Kayaknya orang kaya banget deh. Mobilnya Mercy hitam, plat nomornya cantik lagi!"Jantung Ryan langsung dag-dig-dug. "Jangan-jangan...""Iya! Dia nyebut nama kamu. Ryan Putra Nagara. Bilang mau ketemu langsung, penting banget katanya.""Sial." Ryan mengusap wajahnya. Akhirnya mereka menemukan dia juga."Kenapa sih? Emang ada masalah?" Suster Dewi penasaran."Nggak ada apa-apa. Bilang saja aku saja lagi sibuk, nanti aku ke sana.""Udah aku bilang gitu tadi. Eh, dia malah bilang dia mau nunggu sampai kamu selesai. Sekarang lagi duduk di kursi tunggu sambil main HP, tapi keliatan nggak sabar banget."“Hahhh…” Ryan menghela napas panjang. Tida

  • Kebangkitan Giok Karana (Karma Dari Giok Leluhur)   Bab 9. Kerajaan Karana

    Ryan terlelap dalam tidur yang gelisah. Keringat membasahi dahinya, nafasnya tersengal-sengal seperti orang habis berlari. Tapi dia tidak bermimpi biasa, ini berbeda. Sungguh, sangat berbeda. Baik tempat dan keadaan sekelilingnya. Ryan membuka mata dan mendapati dirinya berdiri di sebuah tempat yang mustahil. Bukan di kamar kontrakannya yang sempit, bukan rumah sakit, bukan juga tempat yang pernah dia kenal. Dia berdiri di tengah hamparan kabut putih tebal yang menggelinding pelan seperti ombak. Lantai di bawah kakinya seperti kaca hitam yang memantulkan bayangan dirinya, tapi bayangannya bergerak sendiri, tidak sinkron dengan gerakan tubuhnya. "Apa ini, aku ada di mana?" Ryan menoleh ke segala arah. Tidak ada langit. Tidak ada bumi. Hanya kabut, keheningan, dan sensasi hampa yang mencekam. "Akhirnya kau datang juga, anak muda." Ryan tersentak. Suara itu terdengar berat, bergema, seperti datang dari segala arah sekaligus. Dari dalam kabut, muncul sosok tua berjenggot puti

  • Kebangkitan Giok Karana (Karma Dari Giok Leluhur)   Bab 8. Geng Serigala Timur

    Ryan baru pulang shift malam pukul sebelas lewat. Kakinya pegal, matanya perih, dan perutnya keroncongan karena cuma sempat makan mie instan siang tadi. Gang Mawar 7 yang biasanya sepi di jam segini ternyata rame, tapi bukan rame yang baik.Ada tiga motor gede terparkir sembarangan di depan kontrakan. Lampu depan masih nyala, mesin masih bunyi menderu. Dari arah halaman, terdengar teriakan dan suara barang pecah."Sial, ada apa lagi?" Ryan mempercepat langkah.Pemandangan yang menyambutnya bikin darahnya naik. Lima orang berjaket kulit hitam dengan logo serigala di punggung sedang mengacak-acak halaman kontrakan. Pot bunga Bu Surti dilempar, jemuran diobrak-abrik, bahkan kursi plastik ditendang sampai patah.Yang paling bikin Ryan naik darah, Bu Surti berlutut di tanah sambil menangis, menggenggam kaki salah satu preman."Maafin saya, Bang! Saya janji minggu depan pasti bisa bayar!"Preman itu, bertubuh besar dengan tato di leher, menendang tangan Bu Surti sampai perempuan paruh baya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status