Share

Bab 167

Author: Darrel Gilvano
Jangan bercanda!

Kalaupun Jimmy memberinya, Felix tidak mungkin berani menerima uang itu! Lag ipula, uang itu memang hasil kemenangan Jimmy.

"Kamu yang mengajakku ke sini, jelas harus bagi dua!" Jimmy tertawa pelan sambil mengedipkan mata ke arah Felix. "Lain kali kalau ada kesempatan cari uang segila ini lagi, ingat panggil aku!"

Kecepatan menghasilkan uang seperti ini benar-benar bikin ketagihan! Kalau bisa beberapa kali lagi, dia sudah bisa terbebas dari utang!

Mendengar ucapan Jimmy, Izzul d
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 633

    Baru saja lelaki tua itu selesai mengucapkan satu kalimat, seteguk darah hitam kembali menyembur dari mulutnya."Jangan bicara!" sela Jimmy dengan suara berat. "Aku keluarkan racunnya dulu!""Ng ... nggak ada gunanya .... Racunnya sudah masuk ke jantung dan meridian .... Bahkan dewa pun ... sulit menyelamatkanku ...."Lelaki tua itu menggeleng pelan. Dia meraih tangan Jimmy dan menggenggamnya erat-erat, wajahnya dipenuhi kegembiraan."Sebelum mati ... aku masih bisa ... bertemu Tuan .... Mati sekarang pun ... aku nggak akan nyesal ....""Aku bilang jangan bicara!" bentak Jimmy sambil mendongak. Dia menatap lelaki tua itu dengan sorot mata tajam.'Sialan! Situasi belum jelas, kenapa malah langsung bunuh diri pakai racun? Apa nyawa benar-benar semurah itu?'Masih banyak pertanyaan yang ingin dia ajukan kepada lelaki tua ini. Dia tidak ingin orang tua ini mati begitu saja.Aliran energi sejati terus mengalir dari telapak tangan Jimmy ke tubuh lelaki tua itu. Namun, tak lama kemudian dia m

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 632

    Karena tidak ada yang mau menampung tiga "pembawa sial" itu, mereka terpaksa mencari tempat singgah sendiri.Setelah berkeliling cukup lama, mereka akhirnya menemukan sebuah rumah tua kosong yang nyaris roboh di kota itu.Meskipun bangunannya sudah sangat usang, setidaknya masih cukup untuk berteduh dari angin dan hujan.Toh mereka bertiga bukan tipe orang yang terlalu pilih-pilih, jadi untuk sementara mereka tinggal di sana.Untungnya, supermarket di kota itu masih belum menolak menjual barang kepada mereka. Mereka masih bisa membeli makanan dan minuman. Kalau tidak, mungkin mereka harus turun ke sungai untuk menangkap ikan.Malam harinya, setelah mengganjal perut dengan beberapa potong roti, mereka menyalakan lilin dan duduk mengobrol di dalam rumah reyot itu.Saat mereka sedang menganalisis berbagai kemungkinan, Jimmy tiba-tiba merasakan adanya aura yang tidak biasa.Akhirnya datang juga! Jimmy tersenyum puas. Dia segera memberi isyarat kepada Sabrina dan Yunan.Kelopak mata keduany

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 631

    Setelah itu, Jimmy juga menelepon tiga keluarga besar, yaitu Keluarga Saif, Keluarga Gutawa, dan Keluarga Riyardi. Ketiganya mengatakan bahwa masalah ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan mereka. Bahkan kalau Jimmy tidak mengungkitnya, mereka pun tidak tahu bahwa kejadian seperti itu pernah ada.Menjelang tengah hari, Sabrina dan Yunan kembali ke hotel. Saat menceritakan pengalaman mereka, Sabrina hanya bisa tertawa getir.Awalnya, dia berniat menyewa ekskavator dan berpura-pura akan meratakan rumah itu. Namun, begitu mendengar bahwa dia ingin menghancurkan rumah itu, pihak penyedia langsung mengusirnya.Bahkan ketika Sabrina menawarkan harga fantastis sebesar 1 miliar, mereka tetap bergeming. Dia bahkan ingin menyewa ekskavator, lalu mengoperasikannya sendiri hanya untuk berpura-pura, tetapi mereka tetap tidak mau.Sabrina bahkan hampir terpikir untuk membeli ekskavator sendiri!Saat Sabrina menceritakan hal itu kepada Jimmy, pemilik hotel tiba-tiba datang dengan tergesa-gesa.

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 630

    Malam makin larut dan suasana kian sunyi. Jimmy duduk sendirian di tengah reruntuhan yang dipenuhi rumput liar itu.Dengan bantuan cahaya dari ponsel, dia masih bisa melihat beberapa perabot yang telah lama lapuk.Tempat ini memang sudah sangat rusak. Namun, jejak kehidupan Sabrina dan Nara di masa lalu masih samar-samar terlihat.Jimmy sangat ingin bertemu dengan sosok yang disebut-sebut sebagai hantu itu. Sayangnya, harapan itu harus pupus.Dia sudah menunggu di antara reruntuhan yang dipenuhi ilalang itu sejak malam hingga fajar menyingsing, tetapi tidak ada satu pun hantu yang datang mencarinya.Sepanjang malam itu, Jimmy juga memikirkan banyak hal. Namun, satu hal tetap tidak bisa dia pahami.Apa sebenarnya tujuan orang itu diam-diam menjaga rumah tua yang nyaris roboh ini? Kalau memang ingin menunggu mereka kembali, bukankah lebih masuk akal jika rumah itu diperbaiki?Di satu sisi melarang siapa pun menyentuh rumah itu, di sisi lain membiarkannya hancur perlahan oleh waktu. Bukan

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 629

    Tidak mungkin semua itu ulah arwah. Sabrina berdiri di sini dalam keadaan sehat walafiat, dari mana datangnya arwah?Setelah menceritakan berbagai kejadian aneh itu, sang nenek masih tak lupa mengingatkan mereka, "Hari sudah hampir gelap. Jangan di sini lagi, cepat pergi! Aku ini bukan mau nakut-nakuti kalian. Kalau nggak percaya, coba saja tanya orang-orang di kota. Pokoknya jangan sekali-kali berniat menguasai rumah itu.""Baik, baik, kami ngerti. Terima kasih atas peringatannya, Nek," jawab Jimmy sambil mengangguk berulang kali.Nenek ini berniat baik mengingatkan mereka. Mustahil Jimmy membantah dan mengatakan semua itu omong kosong.Orang lain boleh percaya. Yang jelas, mereka tidak percaya.Nenek itu memang berhati baik. Karena khawatir mereka tidak mendengarkan, dia bahkan menunggu sampai melihat mereka pergi dengan mobil sebelum akhirnya menghela napas lega dan meninggalkan tempat itu.Setelah kembali ke Kota Hijoar, mereka mencari sebuah rumah makan sederhana untuk makan malam

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 628

    Ketiganya menoleh ke belakang dengan heran, memandang seorang nenek yang memanggul keranjang kecil di punggungnya.Usia nenek itu sudah cukup lanjut, tubuhnya sedikit membungkuk. Rambutnya pun hampir seluruhnya memutih. Sekilas, usianya mungkin sekitar 70 tahun.Apakah nenek itu sedang berbicara kepada mereka? Ketiganya saling memandang dengan bingung.Akhirnya, dari kejauhan Jimmy bertanya kepada sang nenek, "Nenek bicara sama kami?""Dasar anak ini, kalau bukan sama kalian, sama siapa lagi?" timpal sang nenek sambil melambaikan tangan kepada mereka. "Cepat kembali! Jangan dekati tempat angker itu!""Tempat angker?" Sabrina sedikit mengernyit, lalu menunjuk reruntuhan yang hampir tertelan rumput liar dan bertanya, "Maksud Nenek rumah tua ini?""Iya, iya!" Nenek itu mengangguk berulang kali, lalu mengingatkan dengan sungguh-sungguh, "Tempat itu aneh sekali! Kalian masih muda, jangan main-main sama nyawa sendiri."Aneh? Ketiganya kembali saling berpandangan. Rumah reyot seperti itu mema

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 216

    Keduanya berjalan keluar dari Restoran Sanusi. Begitu sampai di luar, Laura langsung menepis tangan Jimmy dengan kesal."Sekarang kamu puas banget ya?" Laura menatap Jimmy dengan jengkel.Jimmy menggeleng sambil tersenyum. "Cuma beresin dua sampah, nggak ada yang perlu dibanggakan.""Kamu ...." Laur

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 211

    Melisa mengirim foto itu kepadanya, bukankah memang untuk memancingnya datang?Hanya Laura yang masih polos, mengira Melisa benar-benar mau memperkenalkan "orang penting" kepadanya!Wajah Laura menunjukkan sedikit kebingungan, lalu dia menatap Melisa dan Heston, meminta penjelasan."Ternyata kamu ng

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 212

    Dua tamparan Jimmy tadi sama sekali tidak ringan. Begitu dua tamparan mendarat, kepala Melisa langsung berdengung. Dari sudut bibirnya mengalir sedikit darah.Saat Jimmy melepaskan tangannya, Melisa bahkan tidak bisa berdiri tegak. Tubuhnya oleng, lalu dia jatuh terduduk di lantai."Melisa!" Laura t

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 214

    Saat melihat wajah asli Jimmy dengan jelas, kelopak mata Izzul langsung berkedut keras. Rasa takut yang luar biasa langsung menyerang, hampir membuatnya jatuh terduduk di lantai.Izzul masih bisa memaksakan diri untuk berdiri, tetapi beberapa orang yang masuk bersamanya tidak punya ketenangan sepert

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status