LOGINDi bawah desakan Jimmy, mereka akhirnya masuk ke kamar. Selain Mukhtar, Edgar dan Edward juga ikut masuk. Jelas, mereka ingin melihat bagaimana Jimmy melakukan akupunktur pada Yasmin.Jimmy tidak bertele-tele, langsung menjadikan Yasmin sebagai bahan ajar, mengajari Mukhtar cara menusukkan jarum di tempat.Mendengar semua itu, hati Yasmin langsung diliputi kekesalan. Jadi, dia dijadikan kelinci percobaan?"Pfft!" Tiba-tiba, tanpa peringatan, Yasmin menyemburkan seteguk darah."Kak!""Yasmin!"Edward dan Edgar langsung berseru bersamaan.Edward bahkan buru-buru maju. Wajahnya penuh amarah saat menatap Jimmy. "Hei! Berani sekali kamu mencelakai kakakku!""Pergi sana! Pergi jauh-jauh!" balas Jimmy dengan kesal, tetapi tangannya tetap bergerak tanpa berhenti.Edward marah besar. Baru saja ingin menyerang, dia langsung ditahan oleh Edgar."Dokter Mukhtar, gimana kondisi cucuku?" Edgar menatap cucunya dengan cemas, lalu bertanya kepada Mukhtar."Ini justru hal baik, nggak perlu khawatir." Mu
Yasmin sebenarnya ingin menolak, tetapi Edgar sudah lebih dulu melotot ke arahnya."Baiklah, kalau begitu suruh saja dokter sakti ini mengobatiku." Yasmin menggertakkan gigi. "Aku juga ingin lihat seberapa hebat kemampuanmu. Jangan sampai mengecewakanku lho!"Sambil berbicara, Yasmin tak lupa melotot dengan galak pada Jimmy. Bagus juga! Biar kakeknya melihat sendiri, apakah Jimmy benar-benar hebat! Bagaimanapun, dia tetap tidak percaya!"Jangan galak begitu sama aku." Jimmy menatap Yasmin sambil tersenyum tipis. "Kalau aku sampai kaget dan tanganku gemetar, bisa-bisa aku malah bikin kamu cacat saat pengobatan ....""Kamu ...!" Ekspresi Yasmin langsung berubah. Matanya menatap ke arah Jimmy dengan dingin.Sambil memijat kepalanya, Edward diam-diam mengacungkan jempol ke arah Jimmy. 'Gila, berani juga dia! Berani-beraninya mengancam kakakku yang galak itu! Cuma dari ini saja, tambah sepuluh poin juga nggak berlebihan, 'kan?'Namun, setelah dipikir lagi, Edward cepat-cepat menggeleng. 'Ka
Ketika menerima telepon dari Mukhtar, Jimmy bahkan belum menempuh 5 kilometer. Sekali menebak, Jimmy sudah tahu orang tua itu pasti ingin dia mengajar langsung lagi di tempat.Karena memang belum pergi jauh, Jimmy pun menyetujuinya. Tak lama, Jimmy kembali ke Toko Obat Aramu.Mukhtar langsung berlari ke pintu untuk menyambutnya."Jimmy?" Melihat Jimmy turun dari mobil, tiga orang dari Keluarga Sutomo langsung tertegun, menatapnya dengan ekspresi kaget.Kakak beradik itu sampai membelalak. Ini ... ini dokter hebat yang dimaksud Mukhtar? Jimmy itu dokter sakti? Jelas-jelas lebih cocok disebut orang gila!Pada saat yang sama, Jimmy juga melihat Yasmin dan lainnya di dalam. Seketika, wajah Jimmy menjadi suram. Mukhtar memanggilnya kembali untuk mengobati Yasmin? Bercanda ya?Mukhtar sama sekali tidak menyadari kejanggalan di antara mereka, masih tersenyum sambil menunjuk Yasmin kepada Jimmy. "Pak Jimmy, ini pasiennya. Luka dalamnya cukup serius ....""Haha ...." Saat Mukhtar sedang menjela
"Bagian mana yang luka? Coba aku lihat." Jimmy segera maju memeriksa."Luka dalam!" Yunan memutar bola mata padanya, lalu mengangkat alis. "Mau aku lepas baju biar kamu lihat?"Sudut mulut Jimmy sedikit berkedut, lalu dia bertanya lagi, "Yasmin yang melukaimu?""Pertanyaan bodoh!" Yunan berdecak, menatap Jimmy seperti melihat orang bodoh. Kalau bukan Yasmin yang melukainya, masa iya dia melukai diri sendiri?"Bicara yang benar!" Jimmy mengangkat tangan dan mengetuk ringan kening Yunan. "Maksudku, kamu selemah itu? Sampai-sampai Yasmin saja bisa melukaimu?""Dia malah lebih parah dariku!" balas Yunan dengan tidak terima, lalu melotot dengan kesal ke arah Jimmy. "Semua ini gara-gara kamu!"Jimmy sempat terdiam, antara kesal dan ingin tertawa. "Kamu yang melukainya, tapi malah nyalahin aku? Masih punya rasa malu nggak sih?"Memangnya ada hubungan dengannya? Sudah tidak ada orang lain yang bisa disalahkan ya?"Memang gara-gara kamu!" Yunan mendengus, lalu berkata, "Hari ini dia seperti mak
Ya, Jimmy memang berniat menjadikan Sabrina sebagai umpan.Dengan mengatasnamakan Sabrina, dia akan mengumumkan hadiah besar untuk mencari pemilik setengah liontin giok yang lain, dengan tujuan memancing orang-orang dari masa lalu itu keluar. Ini bisa dianggap sebagai strategi ganda.Mengetahui tujuan Jimmy, Sabrina langsung menyetujuinya tanpa ragu."Kalau begitu, terima kasih." Jimmy menatap Sabrina dengan rasa terima kasih. "Tenang saja, aku akan menjamin keselamatanmu.""Aku percaya padamu." Sabrina mengangguk kuat, "Lagi pula, ini memang sudah seharusnya kulakukan."Nara memiliki budi besar padanya. Kalau dia belum melihat sendiri kekuatan Jimmy, mungkin dia masih akan khawatir Jimmy gagal membalas dendam dan malah terbunuh. Namun sekarang, dia sama sekali tidak khawatir.Meskipun Jimmy tidak mengatakannya secara langsung, dari telepon tadi saja sudah terlihat bahwa di belakang Jimmy ada kekuatan besar yang patuh padanya. Dalam situasi seperti ini, memang tidak ada yang perlu dia
Saat Sabrina sadar kembali, Nara sudah tidak diketahui keberadaannya. Pintu masuk gua tempat dia berada juga telah ditutup rapat oleh Nara dengan ranting-ranting.Kisah antara Sabrina dan Nara pun benar-benar berakhir di sana."Siapa nama anak itu?" tanya Argani segera."Dia nggak bilang." Sabrina menggeleng dan menghela napas. "Waktu itu aku juga nggak ngerti kenapa dia nggak langsung memberitahuku nama anak itu. Baru bertahun-tahun kemudian aku paham, mungkin dia takut aku jatuh ke tangan orang-orang itu, jadi nggak berani beri tahu aku!""Atau mungkin ... dia sendiri juga nggak tahu nama anak itu. Jadi meskipun waktu itu diberi tahu, juga nggak ada gunanya."Argani berpikir sejenak, lalu merasa itu masuk akal. Setelah terdiam beberapa saat, dia kembali berkata dengan serius, "Kita harus cari cara untuk menemukan anak itu.""Nggak perlu dicari lagi." Jimmy tiba-tiba berdiri. Wajahnya muram. "Kak Sabrina, ikut aku pulang sebentar.""Hah?" Mendengar kata-kata Jimmy, ketiganya langsung
"Pak Yahya nggak mau." Andra menggeleng sambil tersenyum getir. "Dia orangnya sangat bijaksana dan nggak ingin merepotkan kita. Dia lebih memilih tetap tinggal di rumah sakit sini ...."Jimmy akhirnya mengerti dan diam-diam semakin mengagumi Yahya.Keduanya mengobrol sejenak, lalu kembali ke kamar p
"Jangan, jangan ...."Wajah Zisel langsung pucat pasi. Tangan yang mencengkeram baju Jimmy pun bergetar tanpa henti. Jimmy menatap Zisel dengan ekspresi tak berdaya.Bukannya dia pongah sekali waktu di perusahaan Keluarga Sucipto dulu? Kenapa sekarang malah ketakutan setengah mati?Wajah Wirya tampa
Setelah memikirkan hal itu, Jimmy pun segera melanjutkan langkahnya dan pergi. Baru berjalan tidak jauh, tiba-tiba muncul perasaan aneh di hatinya. Perasaan itu seolah sedang diawasi seseorang.Jimmy sedikit menyipitkan mata, lalu tiba-tiba menoleh ke belakang. Namun, tidak ada satu pun bayangan di
Melihat sosok Jimmy yang menghilang dari pandangannya, Sabrina merasa penasaran. Jelas-jelas Jimmy adalah orang hebat, kenapa dia berpura-pura lemah? Apa tujuan Jimmy berbuat seperti itu?Orang suruhan Sabrina sangat profesional. Mereka membawa mayat-mayat itu pergi dengan cepat, bahkan noda darah d







