로그인"Aku nggak bisa kehilangan tanganku! Ayah, tolong ampuni aku!" Sammy tak peduli dengan rasa sakit di kakinya. Dia merangkak sambil berlutut ke depan Pandu, lalu memeluk kakinya dan terus memohon."Pergi sana, sialan!" Pandu menendangnya dengan kasar. Wajahnya penuh kebencian saat memekik, "Tanganku saja sudah nggak bisa diselamatkan, kamu masih mau selamatin tanganmu? Mimpi!"Tanpa menghiraukan permohonan Sammy, Pandu langsung menyuruh orang-orangnya menyeretnya ke mobil. Kalau bukan karena membela bajingan ini, mana mungkin dia menyinggung iblis seperti Jimmy!Dia tidak membunuh Sammy bukan karena kasihan, tetapi karena tidak ingin membuatnya mati terlalu mudah!Sammy terus meronta dan memohon, tetapi sia-sia. Tak lama, anak buah Pandu menyeretnya masuk ke mobil dan segera pergi.Mendengar teriakan Sammy yang semakin menjauh, para pengikutnya yang tersisa pun pucat pasi. Mereka buru-buru bangkit dari tanah, ingin segera pergi dari tempat ini. Kalau bisa, kabur dari Bataram malam ini j
Pandu benar-benar berlutut! Begitu datang, hal pertama yang dia lakukan bukan membalas dendam untuk anak angkatnya, melainkan menampar anak angkatnya, lalu berlutut dengan sangat rendah diri.Aksi Pandu ini langsung membuat semua orang tercengang. Hati Sammy pun langsung terasa dingin setengah mati.Jimmy menatap Pandu dari atas ke bawah. Bahkan dia sendiri agak bingung melihat pria itu langsung berlutut.Setelah terdiam sejenak, Jimmy bertanya, "Kita pernah bertemu?"Pandu menatap Jimmy dengan penuh ketakutan, lalu meratap, "Pak Jimmy mungkin lupa, kita pernah bertemu di arena pacuan kuda. Aku tahu kehebatan Pak Jimmy. Hari ini anak angkatku menyinggungmu, silakan beri hukuman sesuka hati ...."Arena pacuan kuda? Jimmy sedikit mengernyit. Yang mana? Setelah berpikir sejenak, dia akhirnya ingat."Kamu orangnya Izzul?" Jimmy menatap Pandu. Di Bataram, sepertinya dia hanya pernah ke arena pacuan kuda itu sekali.Pandu langsung mengangguk, wajahnya penuh ketakutan. Hari itu, ratusan orang
Jimmy menatap Sammy dengan ekspresi tidak bersahabat. "Aku kasih kamu dua pilihan. Berlutut sendiri di sini sampai ayah angkatmu datang atau aku patahkan kakimu sampai kamu berlutut!"Mendengar itu, Sammy langsung murka. "Sialan ...."Bam! Belum sempat dia selesai berbicara, Jimmy sudah menendang lututnya. Krak! Suara tulang retak terdengar jelas."Arghhh!" Tempurung lututnya hancur. Sammy langsung menjerit kesakitan dan terjatuh ke tanah dengan tubuh gemetar. Rasa sakit luar biasa membuat wajahnya berkerut, bola matanya hampir melotot keluar."Kamu masih punya satu kaki lagi." Jimmy menatapnya dengan dingin. "Mau berlutut sendiri atau mau aku bantu lagi?"Sambil berbicara, Jimmy melangkah maju dan mengarahkan kakinya ke lutut Sammy yang satunya."Aku berlutut sendiri! Aku berlutut ... ah ...." Sammy langsung gentar, tidak berani lagi membantah. Dia segera berusaha bangkit. Meskipun kesakitan luar biasa, dia tetap memaksa dirinya berlutut.Dia sadar kalau tidak patuh, kaki satunya juga
Saat keluar dari hotel, Jimmy terus menghela napas dalam hati.Semoga saja Laura bisa segera bangkit dari keterpurukan ini. Kalau terus seperti ini, dia sendiri tersiksa, orang-orang di sekitarnya juga ikut tersiksa. Bahkan dirinya yang cuma orang luar pun ikut terseret. Ini semua sebenarnya apa sih?Jimmy berjalan sambil menghela napas tak berdaya. Namun, baru saja keluar dari hotel, sekelompok orang langsung mengepungnya.Sekilas, Jimmy langsung mengenali Sammy, orang yang tadi dia tendang di bar."Itu dia orangnya! Hajar sampai mampus!" Begitu melihat Jimmy, Sammy langsung berteriak marah. Dengan belasan orang di sisinya, kepercayaan diri Sammy langsung meningkat drastis."Kamu benar-benar nggak tahu diri." Jimmy menatap Sammy dengan dingin. "Sampah pun berani menggonggong?""Kamu berani bilang aku sampah?!" Sammy langsung murka."Aku bukan bilang kamu sampah." Jimmy menggeleng. "Aku bilang ... kalian semua sampah."Menyebut mereka sampah saja sebenarnya terlalu tinggi. Toh sampah m
Bantu dia menghilangkan efek alkohol dulu saja!Soal nanti dia mau pulang atau tidak, biar dia yang menentukan sendiri.Sebagai mantan suami yang bahkan jarang sekali menyentuh tangannya, Jimmy hanya bisa melakukan sebatas ini.Setelah membuka kamar, Jimmy membawa Laura yang masih mabuk ke dalam. Saat dia hendak membantu menghilangkan efek alkohol, Laura malah memeluknya erat-erat sambil menangis. "Jangan pergi .... Peluk aku .... Aku takut .... Peluk aku ...."Sambil memeluk Jimmy, Laura terus merapatkan tubuhnya ke dada Jimmy. Meskipun tubuh lembut itu ada di pelukannya, Jimmy sama sekali tidak memiliki pikiran macam-macam. Yang dia rasakan hanyalah rasa kasihan."Aku nggak pergi." Jimmy menghela napas pelan, lalu perlahan melepaskan Laura. Lebih baik bantu dia sadar dulu.Jimmy menempelkan satu tangan di perut Laura, lalu menyalurkan energi ke dalam tubuhnya.Laura memejamkan mata, mulutnya terus bergumam, "Panas ... panas sekali ...."Sambil berbicara tidak jelas, dia menarik-narik
Nayaka datang dengan sangat cepat. Saat langit baru mulai gelap, dia sudah tiba.Keduanya sama-sama teman Jimmy dan sifat mereka juga mirip. Baru mengobrol sebentar, mereka sudah merasa sangat cocok.Saat mereka bertiga sedang asyik minum, tiba-tiba Jimmy menerima telepon dari Laura. "Jimmy ... aku benar-benar gagal. Aku ingin melakukan semuanya dengan baik, tapi nggak ada satu pun yang berhasil ....""Aku mencelakai ibuku, bersalah pada kakek dan ayahku .... Aku cuma bahan tertawaan ...."Di ujung telepon, suara Laura terdengar terisak, sepertinya dia mabuk. Di sekitarnya pun terdengar suara pria menggoda, juga musik keras yang memekakkan telinga.Bar! Jimmy langsung tahu di mana Laura berada."Kamu sekarang di mana?" tanya Jimmy dengan kening berkerut.Dia memang tidak suka tempat seperti bar. Menurutnya, bar adalah tempat penuh hal kotor.Laura jelas sudah mabuk, siapa tahu orang seperti apa yang akan dia temui di sana.Dengan suara linglung, Laura menjawab, "Bar Surga. Hahaha ....
Jimmy menarik napas, lalu memandang Ervina dan menenangkan, "Keluarga Bahrani juga nggak sehebat itu. Tenang saja, aku akan bereskan masalah ini.""Situasinya sudah begini! Kamu masih saja pura-pura?" sergah Laura dengan panik."Siapa yang pura-pura? Aku juga punya senjata pemungkas," timpal Jimmy m
Melihat Broto berlutut seperti kehilangan akal, semua orang kembali terperangah.Berlutut? Tidak disangka, Broto berlutut. Dia langsung berlutut hanya karena melihat Jimmy? Bahkan, orang lain pun belum sempat berbicara."Apa mungkin kaki Pak Broto keram?""Dasar bodoh. Kalau kakinya keram, mulutnya
"Minggir! Aku nggak ada waktu untuk dengar ocehanmu! Nanti saja baru katakan setelah Pak Broto dan Pak Felix tiba!" sergah Atta.Andra terkejut. Dia masih ingin berbicara, tetapi Atta menatapnya dengan sorot mata penuh niat membunuh.Dahi Andra berkeringat dingin. Dia beringsut mundur dengan gusar.
Ervina mencengkeram Jimmy erat-erat, takut Jimmy akan kabur jika dilepas.Wajah Jimmy menegang. Dia terus mengumpat dalam hati, 'Dasar idiot! Kalau aku mau kabur, aku sudah kabur sejak awal! Nggak mungkin ikut Laura pulang untuk ikut campur!'"Aku bukan mau kabur, tapi mau cari bantuan!" bantah Jimm







