Share

Bab 636

Penulis: Darrel Gilvano
"Menyewa satu hotel?" Mendengar perkataan staf itu, ketiganya langsung mengernyit.

Mereka hanya keluar sebentar untuk membeli pakaian dan makan malam, tahu-tahu hotel sudah disewa seseorang? Jelas-jelas mereka sudah memesan kamar lebih dahulu. Sekarang karena hanya karena ada orang yang menyewa seluruh hotel, mereka langsung diusir begitu saja?

"Kami sudah pesan kamar di hotel ini." Sabrina yang temperamennya lebih baik, maju dan menjelaskan situasinya kepada staf hotel.

"Sudah pesan kamar?" Sta
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 637

    Meskipun di sana ada Yunan dan Sabrina, Jimmy sama sekali tidak menunjukkan belas kasihan. Beberapa staf hotel sama sekali tidak mampu menahan kekuatan tangan Jimmy dan berturut-turut terjatuh ke lantai.Salah satu dari mereka menghalangi jalan Yunan menuju hotel. Yunan langsung menginjak tubuh orang itu dan melangkah lewat, membuatnya menjerit kesakitan.Melihat mereka memukul orang lalu menerobos masuk ke hotel, resepsionis segera mengangkat protofon dan memanggil petugas keamanan."Sudah, nggak usah panggil sekuriti!" Manajer hotel keluar dari ruangan belakang dan menatap Jimmy serta kedua wanita itu dengan wajah tidak bersahabat."Benar-benar nggak tahu diri! Kami sudah bersikap baik, kalian malah cari masalah! Kalau memang berani, silakan tetap nginap di sini! Tapi jangan kabur nanti!"Jimmy tersenyum tipis, lalu menoleh ke arah Yunan. "Kamu nggak mau tampar dia?""Bikin tanganku kotor saja." Wajah Yunan dipenuhi rasa jijik."Kalau begitu, biar aku saja. Aku nggak takut tanganku k

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 636

    "Menyewa satu hotel?" Mendengar perkataan staf itu, ketiganya langsung mengernyit.Mereka hanya keluar sebentar untuk membeli pakaian dan makan malam, tahu-tahu hotel sudah disewa seseorang? Jelas-jelas mereka sudah memesan kamar lebih dahulu. Sekarang karena hanya karena ada orang yang menyewa seluruh hotel, mereka langsung diusir begitu saja?"Kami sudah pesan kamar di hotel ini." Sabrina yang temperamennya lebih baik, maju dan menjelaskan situasinya kepada staf hotel."Sudah pesan kamar?" Staf itu tertegun, lalu segera berkata, "Tolong tunjukkan kartu kamar kalian. Kami akan menyuruh orang mengambilkan barang-barang kalian. Biaya kamar juga akan kami kembalikan.""Aku rasa kalian salah menangkap inti masalahnya." Jimmy menatap staf itu sambil mengernyit. "Kami pesan kamar lebih dulu, baru setelah itu hotel kalian disewa orang. Kalau kalian memang mau menyuruh kami pergi, setidaknya telepon dulu dan bicarakan baik-baik, minta persetujuan kami. Bukan langsung ngusir kami dengan cara s

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 635

    Meskipun sudah mengetahui kebenaran tentang jati diri kakek itu, mereka tidak menyebarkannya kepada siapa pun.Toh membiarkan warga Kota Hijoar tetap menyimpan rasa takut terhadap rumah tua itu juga tidak ada ruginya. Setidaknya, mereka tidak perlu khawatir ada orang yang mencoba merebut rumah itu lagi.Kini rumah itu memang sudah menjadi reruntuhan. Namun, bagi Sabrina tempat itu tetap merupakan kenangan yang berharga.Setelah sibuk mengurus berbagai hal hingga tengah hari, barulah mereka bertiga meninggalkan Kota Hijoar.Mereka mengembalikan mobil sewaan di kota kuno. Saat itu hari sudah cukup larut dan tidak ada lagi penerbangan menuju Bataram.Karena sejak semalam hingga sekarang mereka tidak sempat beristirahat, mereka pun memutuskan menginap semalam di kota kuno dan baru kembali ke Bataram keesokan harinya.Tak lama kemudian, mereka bertiga memesan kamar di sebuah hotel. Masing-masing mendapat satu kamar.Jimmy baru saja hendak mandi ketika terdengar ketukan di pintu. Ketika memb

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 634

    Efek racun itu benar-benar ganas. Meskipun Jimmy sudah mengerahkan seluruh kemampuan untuk melindungi meridian jantung lelaki tua itu, nyawanya tetap tidak bisa diselamatkan.Sejak dia memuntahkan darah pertama hingga meninggal, semuanya hanya berlangsung sekitar tiga menit.Memandang jasad lelaki tua itu, wajah Jimmy tampak muram. Padahal petunjuk sudah di depan mata! Namun, hingga akhir hayatnya lelaki tua itu tetap tidak mau mengungkap lokasi Purbaloka. Andai saja dia mau menyebutkan arah kasarnya pun sudah cukup.Sabrina menatap jasad lelaki tua itu dengan perasaan campur aduk. Untuk sesaat, dia juga tidak tahu harus berkata apa."Apa maksud kalimat terakhirnya?" Yunan mengernyit. "Apa orang yang dia sebut Tuan Kedua itu Ervon?"Jimmy berpikir sejenak, lalu mengangguk. "Seharusnya iya."Namun, setelah mendengar jawaban itu, kening Yunan justru makin berkerut. "Kalau begitu ... apa maksudnya dia gagal menjalankan amanat Ervon? Apa Ervon yang menyuruhnya menjaga rumah itu agar nggak

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 633

    Baru saja lelaki tua itu selesai mengucapkan satu kalimat, seteguk darah hitam kembali menyembur dari mulutnya."Jangan bicara!" sela Jimmy dengan suara berat. "Aku keluarkan racunnya dulu!""Ng ... nggak ada gunanya .... Racunnya sudah masuk ke jantung dan meridian .... Bahkan dewa pun ... sulit menyelamatkanku ...."Lelaki tua itu menggeleng pelan. Dia meraih tangan Jimmy dan menggenggamnya erat-erat, wajahnya dipenuhi kegembiraan."Sebelum mati ... aku masih bisa ... bertemu Tuan .... Mati sekarang pun ... aku nggak akan nyesal ....""Aku bilang jangan bicara!" bentak Jimmy sambil mendongak. Dia menatap lelaki tua itu dengan sorot mata tajam.'Sialan! Situasi belum jelas, kenapa malah langsung bunuh diri pakai racun? Apa nyawa benar-benar semurah itu?'Masih banyak pertanyaan yang ingin dia ajukan kepada lelaki tua ini. Dia tidak ingin orang tua ini mati begitu saja.Aliran energi sejati terus mengalir dari telapak tangan Jimmy ke tubuh lelaki tua itu. Namun, tak lama kemudian dia m

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 632

    Karena tidak ada yang mau menampung tiga "pembawa sial" itu, mereka terpaksa mencari tempat singgah sendiri.Setelah berkeliling cukup lama, mereka akhirnya menemukan sebuah rumah tua kosong yang nyaris roboh di kota itu.Meskipun bangunannya sudah sangat usang, setidaknya masih cukup untuk berteduh dari angin dan hujan.Toh mereka bertiga bukan tipe orang yang terlalu pilih-pilih, jadi untuk sementara mereka tinggal di sana.Untungnya, supermarket di kota itu masih belum menolak menjual barang kepada mereka. Mereka masih bisa membeli makanan dan minuman. Kalau tidak, mungkin mereka harus turun ke sungai untuk menangkap ikan.Malam harinya, setelah mengganjal perut dengan beberapa potong roti, mereka menyalakan lilin dan duduk mengobrol di dalam rumah reyot itu.Saat mereka sedang menganalisis berbagai kemungkinan, Jimmy tiba-tiba merasakan adanya aura yang tidak biasa.Akhirnya datang juga! Jimmy tersenyum puas. Dia segera memberi isyarat kepada Sabrina dan Yunan.Kelopak mata keduany

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 190

    Broto meratap dengan lirih, kepalanya tertunduk dalam-dalam. Dia tahu hari ini pasti akan datang. Namun, dia tak menyangka akan datang secepat ini.Tak heran Jimmy hanya memintanya datang seorang diri. Apa Jimmy memang berniat menagih perhitungan lama?Rasa takut tanpa batas langsung menyergap. Selu

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 181

    Andra yang diliputi amarah pun menampar dengan penuh tenaga. Tamparan itu jelas tidak ringan.Ervina yang tak sempat berdiri tegak langsung terempas jatuh ke tanah. "Kamu memukulku? Kamu benar-benar memukulku?"Ervina terduduk di lantai, menutup pipinya dengan tatapan kosong. Air mata menggenang saa

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 182

    Setelah menutup telepon dari pihak kepolisian, mereka sekeluarga bergegas menuju kantor kepolisian kota. Bahkan kalau polisi tidak menelepon, mereka pasti juga akan melapor.Sesampainya di sana, baru mereka sadar bukan hanya mereka yang datang, Melisa dan yang lain juga ada di sana. Orang-orang dari

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 176

    Keesokan pagi, saat Jimmy sedang memeriksa potensi bahaya keamanan di perusahaan, Cahyo menelepon. Ada orang lagi yang datang ke perusahaan mencarinya.Jimmy pergi ke ruang keamanan, baru sadar bahwa yang datang mencarinya ternyata adalah Ramos, sopir Andra."Paman Ramos, kok bisa ke sini?" tanya Ji

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status