Share

Bab 144

Penulis: Lilis
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-26 18:13:05

Cahaya pagi menembus celah reruntuhan batu, menyorot wajah Lin Yue yang berlumur debu dan darah kering. Hening. Tak ada suara selain desir angin yang melewati celah-celah gua yang setengah runtuh itu.

Pelan-pelan, Lin Yue membuka mata. Pandangannya buram, tubuhnya berat seperti baru saja ditarik kembali dari jurang maut.

“Pangeran… Mo…”kata itulah yang pertama ia ucapkan,ia benar benar tidak memikirkan dirinya.

Suaranya serak. Ia mencoba bangun, tapi tubuhnya menolak. Dada terasa sesak, bekas luka bakar di lengannya masih berdenyut.

Samar-samar ia melihat pecahan batu berlumur darah — tapi tak ada tanda-tanda pangeran Mo.

Hanya sisa aura hitam yang menempel di dinding, berputar pelan seperti kabut hidup.

Yueya, roh spiritualnya, muncul samar di belakang bahunya. Tubuh roh itu redup, sayapnya setengah transparan.

“Kau memaksakan diri terlalu jauh,Tuan…” bisiknya pelan.

Lin Yue menatap ke sekeliling, matanya mulai panas.

“Di mana dia?”Ia berjalan dengan tubuh tertat
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kebangkitan Sang Putri Terbuang   Bab 346

    Di saat Qingyan berlari mencari nonanya, pandangannya tertuju pada awan gelap yang sangat tebal di wilayah timur. Tempat itu sunyi—tidak ada satu pun iblis berkeliaran. Yang ada hanyalah hamparan bebatuan sejauh mata memandang. Langkah Qingyan melambat. Hatinya berdebar. Apakah nonanya ada di sana…? Tanpa berpikir panjang, Qingyan segera mengubah arah dan berlari menuju tempat itu. Aura ini… sangat menekan, batinnya. Langit menggelap. Bahkan tak ada burung yang berani terbang di sekitar wilayah itu. Nonanya berada dalam bahaya. Ia langsung mempercepat langkahnya, memaksa tubuhnya bergerak lebih cepat—tak peduli napasnya mulai tersengal. Ia tidak boleh terlambat. Sementara itu— Di hadapan Raja Iblis, sosok itu berdiri dengan naga hitam di sampingnya, menatap Lin Yue dengan tajam. “Hahaha! Aku yakin kau saat ini sudah ketakutan!” ucap Raja Iblis, tertawa terbahak-bahak. Lin Yue tersenyum tipis. Tatapannya dingin, menusuk lurus ke arah Raja Iblis. “Aku harus mengakui,” katany

  • Kebangkitan Sang Putri Terbuang   Bab 345

    Udara di sekeliling mendadak membeku, beratnya berlipat ganda, seolah dunia sendiri menahan napas. Aura yang turun dari pusaran itu sama dengan milik Raja Iblis—gelap, dingin, dan absolut. Bukan aura bawahan. Melainkan aura sesuatu yang kuatnya sama namun lebih mengintimidasi. Lalu raungan rendah terdengar,raungan yang sangat rendah. Namun cukup untuk membuat tanah bergetar dan jiwa bergetar. Dari tengah pusaran awan hitam itu, sesuatu muncul. Seekor Naga Hitam. Napas Lin Yue tertahan,tubuh nya bergetar karena aura yang tidak main main,tanganya menggenggam pedang nya dengan erat dan sedikit gemetar jujur harus Lin Yue akui benar benar sekarang ini ia terintimidasi dengan auranya. Itu bukan naga biasa,bukan pula makhluk yang seharusnya masih ada di dunia ini. Naga Hitam—ras yang telah punah ribuan tahun lalu. Tubuhnya teramat besar, memanjang menembus awan. Sisik-sisiknya hitam pekat, bukan hitam biasa—melainkan hitam tanpa dasar, seperti menatap kehampaan. Setiap sis

  • Kebangkitan Sang Putri Terbuang   Bab 344

    Aura iblis itu menekan tanpa ampun. Tubuh Lin Yue bergetar, tulangnya berderak halus, napasnya tersendat seolah udara menolak memasuki paru-parunya. Setiap detik terasa seperti batas terakhir yang bisa ia tahan. Raja Iblis tertawa pelan. Ia menikmati pemandangan itu. Saat keyakinannya mencapai puncak— saat ia yakin kemenangan sudah di tangannya— sesuatu berubah. Pola cahaya yang indah terbentuk di bawah kaki Lin Yue, menyebar cepat seperti ukiran kuno yang hidup. Dalam sekejap, aura di tubuhnya berbalik arah—naik, membumbung, menembus batas yang seharusnya tak bisa dilewati. Langit bergetar. Tekanan ilahi turun seperti selimut cahaya. Lin Yue melayang setengah jengkal dari tanah, auranya berubah jernih namun menakutkan— seperti kehadiran seorang Dewi yang baru saja bangkit. Tingkat Abadi. Satu langkah lagi menuju ranah para Dewa. Kekuatan dahsyat itu menekan sekeliling. Angin muncul entah dari mana, menyapu tanah, batu, dan sisa-sisa energi iblis hingga ber

  • Kebangkitan Sang Putri Terbuang   Bab 343

    Qingyan dan teman-temannya menatap kepergian Lin Yue yang semakin jauh, menerobos ke tengah kerumunan iblis-iblis lapar. Sosok itu perlahan mengecil di kejauhan, namun auranya justru terasa semakin menekan. Pandangan Qingyan bergeser ke arah Yu Yan—yang masih sempat mengibaskan ekornya dengan santai, seolah pertarungan di sekelilingnya hanyalah angin lalu. Qingyan terdiam sejenak. Entah apa yang dipikirkannya. Namun detik berikutnya— matanya berubah. Cahaya dingin menyala di dalamnya, penuh ambisi dan aura membunuh. Tubuhnya bergetar halus, bukan karena takut, melainkan karena menahan gejolak kekuatan yang ingin dilepaskan. Di sekelilingnya, para murid sekte masih bertahan dalam formasi. Kini, tanggung jawab menjaga mereka berada di tangan Qingyan dan Mo Han. Pedang beradu, raungan iblis mengguncang udara. Di tengah kekacauan itu, Qingyan melangkah mendekat ke sisi Mo Han dan memberikan sebuah kode—gerakan kecil, nyaris tak terlihat. “Mungkin… ini sudah waktunya,”

  • Kebangkitan Sang Putri Terbuang   Bab 342

    Dan sesaat kemudian, portal itu menghilang tanpa jejak. Lin Yue menatap mereka dengan senyum puas. Ia menyapu pandangan ke arah para tetua, lalu ke arah lawan-lawan mereka, sebelum akhirnya menoleh kepada teman-temannya. “Aku tidak tahu sampai mana aku bisa melindungi kalian,” ucap Lin Yue sambil menatap mereka satu per satu. “Tapi akan kuusahakan agar kalian tidak mati.” Pandangan itu kemudian berhenti pada Qingyan. Baru saat itu Lin Yue menyadari keberadaannya. Ia tersenyum hangat, lalu memeluk Qingyan dengan erat. Perlakuan itu begitu tiba-tiba hingga Qingyan terkejut. Lin Yue mengelus rambut panjang Qingyan dengan lembut. Bibirnya terbuka perlahan. “Qingyan… jika aku mati, maka kau adalah harapan mereka. Usahakan kau selamat.” Alis Qingyan berkerut. Ia masih mencerna kata-kata nonanya. “Apa maksudmu, Nona?” tanyanya, seolah tak benar-benar paham. “Dia sudah bangun. Ini di luar rencana kita,” jawab Lin Yue sambil menatap langit yang masih memerah. “Apa maksudmu… suamimu

  • Kebangkitan Sang Putri Terbuang   Bab 341

    Bersamaan dengan itu langit berubah yang awalnya gelap,entah kenapa menjadi merah darah. Langit yang tadinya bergejolak tiba-tiba membisu, seolah seluruh dunia menahan napas—karena sesuatu yang seharusnya tetap terkubur… baru saja membuka matanya. Sedangkan pasukan iblis yang awalnya berisik kini berlutut tanpa diperintah, tubuhnya gemetar bukan karena takut, melainkan karena kelegaan yang nyaris menyakitkan—rajanya telah kembali. ribuan tahun yang tidak sia sia akhirnya,setelah ribuan tahun raja iblis berhasil mendapatkan tubuh yang pas untuk wadahnya. Para tetua saling bertukar pandang, senyum tipis terukir di wajah mereka, namun jari-jari yang mencengkeram jubah bergetar—mereka menyadari kebangkitan itu terlalu cepat, dan mungkin… tidak lagi sepenuhnya berada dalam kendali mereka. Teman-teman Lin Yue saling berpandangan dengan wajah kebingungan, tidak ada yang mengerti apa yang baru saja mereka saksikan, namun perasaan tidak wajar itu terlalu nyata untuk diabaikan. Qingy

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status