Mag-log inSetelah perang itu usai, Lin Yue terduduk lemah di hadapan sebuah gundukan tanah yang masih basah oleh bekas galian. Di atasnya, terukir satu nama yang membuat dadanya terasa sesak—Qingyan. Ia terisak tanpa suara, bahunya bergetar hebat, air mata jatuh tanpa henti seolah tak pernah menemukan ujungnya. "Qingyan bagaimana disana gelap kah?."peryanyaan yang tidak masuk akal hang keluarvdari mulut Lin Yue secara spontan,setelah itu ia menangis dan memanggil nama Qingyan. Di sisinya berdiri para teman seperjuangan, juga suaminya, Pangeran Mo. Setelah perjuangan panjang yang menguras tenaga, darah, dan nyawa, akhirnya jiwa Pangeran Mo berhasil kembali dan kini ia dapat menemani Lin Yue sebagai suami yang utuh. Namun, kembalinya Pangeran Mo tak mampu menghapus luka yang tertinggal di hati Lin Yue. Kepergian Qingyan meninggalkan sayatan yang terlalu dalam. Gadis itu adalah segalanya bagi Lin Yue—pelindung, keluarga, dan cahaya di saat tergelap. Hingga kini, Lin Yue masih tak mampu memper
Ritual itu mencapai puncaknya. Pola darah di tanah menyala terang, membentuk lingkaran demi lingkaran yang saling bertaut. Cahaya merah merambat naik, melilit tubuh Qingyan seperti api yang hidup—membakar, memurnikan, dan menghisap sisa-sisa kekuatannya tanpa ampun. Udara bergetar. Langit menggelap sepenuhnya. Raja Iblis yang hampir pulih menjerit marah saat merasakan sesuatu yang salah. Namun raungan itu terputus ketika tubuh yang ia gunakan tiba-tiba kejang hebat. Ia terdiam. Matanya—mata Pangeran Mo—bergetar tak terkendali. “…Hah?” Untuk sesaat, ekspresinya berubah. “Raga ini…” gumamnya lirih. “Mulai menolakku?” Ia tertawa serak. “Jadi kau masih hidup di sana, Pangeran kecil…” bisiknya. “Bahkan di detik terakhir… kau masih berusaha merebut tubuhmu sendiri.”"Kau likirbkai bisa mengambil alih tubuhku jangan pernah bermimpi bisa mengambil hak yang bukan milikmu!!."ucapan pangeran Mo berdenging di kepalanya. Segel darah menekan semakin dalam. Raja Iblis men
Lin Yue menatap Qingyan, namun kesadarannya langsung tersentak ketika melihat tubuh gadis itu berubah total. “Qingyan… ada apa dengan penampilanmu?” Suaranya bergetar saat menatap tubuh Qingyan yang jauh lebih parah darinya—kulit robek di banyak tempat, darah mengalir tanpa henti. “Hei… hei… kenapa bisa seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi padamu?!” Kekhawatiran Lin Yue pecah. Dadanya terasa sesak melihat kondisi Qingyan. “Nona, jangan pedulikan aku,” ucap Qingyan cepat. “Aku senang… kau sudah sadar.” Ia memeluk Lin Yue erat, air matanya menetes tanpa bisa ditahan. “Qingyan… ini benar-benar tidak lucu,” ujar Lin Yue pelan sambil mengusap air mata di pipi gadis itu. Qingyan tersenyum hangat, membenarkan rambut Lin Yue yang kusut. “Ini tugasku, Nona. Melindungimu.” “Tapi apakah harus separah ini?” suara Lin Yue meninggi. “Aku tidak senang jika kau melindungiku sampai mengorbankan dirimu seperti ini!” Qingyan menatapnya lembut. “Justru itu yang aku sukai dar
Tubuh Lin Yue terangkat di udara, babak belur tanpa sisa. Wajahnya penuh darah, pakaiannya koyak, rambut panjangnya kusut berantakan. Napasnya tersengal, pandangannya kabur. Ia menatap langit,ia melihat fenghuang masih bertarung mati-matian melawan naga iblis, api dan bayangan hitam mengguncang langit dan membuat udara sesak oleh asap tebal. Namun dirinya tak bisa berbuat apa pun. Bahkan mengangkat jarinya pun tak sanggup. Di saat matanya kabur Lin Yue menangkap , sebuah sosok berlari ke arahnya. Ya itu Qingyan. Wajah gadis itu pucat, napasnya tersengal, matanya penuh kepanikan saat melihat Lin Yue. Lin Yue tersenyum tipis, tatapannya kosong. Air mata menetes perlahan—seolah semua perjuangannya sia-sia. “Nona!!” Qingyan berteriak histeris saat melihat kondisi Lin Yue yang nyaris hancur sepenuhnya. Tubuh penuh darah. Wajah pucat tak bernyawa. Raja Iblis menoleh malas. “Oh? Temanmu?” Ia tertawa kecil, menggoyangkan tubuh Lin Yue seperti kapas. “Hahaha… lihatlah t
Ledakan cahaya itu belum sepenuhnya memudar ketika Lin Yue sudah bergerak. Bukan menerjang membabi buta. Ia melangkah pelan tapi pasti. Satu langkah ringan, nyaris tanpa suara, tubuhnya menyelinap di sela-sela tekanan aura Raja Iblis seperti bayangan yang tahu persis ke mana harus pergi. Pedangnya berputar. Bukan ayunan besar— melainkan tebasan pendek, rapat, efisien. Raja Iblis menyipitkan matanya. Untuk pertama kalinya, ia bergerak. CLANG! Pedang Lin Yue dan pedang raja Iblis bertemu di udara.logam dan logam beradu sehingga mengeluarkan percikan api,mereka mengayunkan pedang mereka dengan sangat cepat bahkan Lin Yue pun harus fokus ke arah mana pedang raja iblis itu berayun. Dua sosok itu berputar. Langkah Lin Yue membentuk lingkaran kecil, kakinya meluncur di atas tanah yang retak. Setiap gerakannya presisi, seolah ia sedang menari. Raja iblis yang awalnya hanya meremehkannya kini ia menatap Lin Yue dengan tajam,setiap gerakannya terlihat anggun. Satu
Di saat Qingyan berlari mencari nonanya, pandangannya tertuju pada awan gelap yang sangat tebal di wilayah timur. Tempat itu sunyi—tidak ada satu pun iblis berkeliaran. Yang ada hanyalah hamparan bebatuan sejauh mata memandang. Langkah Qingyan melambat. Hatinya berdebar. Apakah nonanya ada di sana…? Tanpa berpikir panjang, Qingyan segera mengubah arah dan berlari menuju tempat itu. Aura ini… sangat menekan, batinnya. Langit menggelap. Bahkan tak ada burung yang berani terbang di sekitar wilayah itu. Nonanya berada dalam bahaya. Ia langsung mempercepat langkahnya, memaksa tubuhnya bergerak lebih cepat—tak peduli napasnya mulai tersengal. Ia tidak boleh terlambat. Sementara itu— Di hadapan Raja Iblis, sosok itu berdiri dengan naga hitam di sampingnya, menatap Lin Yue dengan tajam. “Hahaha! Aku yakin kau saat ini sudah ketakutan!” ucap Raja Iblis, tertawa terbahak-bahak. Lin Yue tersenyum tipis. Tatapannya dingin, menusuk lurus ke arah Raja Iblis. “Aku harus mengakui,” katany







