เข้าสู่ระบบAmarah Haris belum sepenuhnya mereda. Ditambah lagi, alamat rumah barunya bocor. Akhirnya dia memilih pindah rumah.Hanya saja, aku tidak menyangka hal ini juga akan melibatkan diriku. Setelah bercerai dengan Haris, aku mulai bekerja kembali. Tak disangka, di jalan pulang kerja aku dicegat oleh orang tuanya. Mereka berlutut di depanku sambil menangis."Mina, kami yang bersalah padamu.""Kami nggak seharusnya memisahkanmu dan Haris. Semua ini karena kami sudah tua dan pikun."Di sekitar kami mulai banyak orang yang menonton. Aku tidak tahan dan menelepon Haris. "Orang tuamu ada di sini."Beberapa menit kemudian, Haris muncul di hadapanku. Wajahnya tampak sangat lelah, benar-benar seperti orang yang sudah lama tidak tidur nyenyak. Lingkar hitam di bawah matanya terlihat jelas.Namun, aku sama sekali tidak merasa kasihan.Haris menoleh ke arah orang tuanya, mengerutkan kening dan bertanya, "Kalian ke sini buat apa?"Orang tuanya menggerakkan bibir, seolah-olah mereka juga tahu ini adalah
Begitu kejadian yang menimpa Haris hari ini terjadi, dia merasa bahkan saat pergi membeli sayur pun banyak orang yang menunjuk-nunjuk dan membicarakannya.Harga diri yang kuat membuatnya semakin membenci Haris. Dia pun menatap Haris dengan tajam dan berkata tanpa sungkan, "Kakak juga sudah nggak muda lagi. Walaupun sudah cerai, nggak seharusnya sejatuh ini. Lebih baik cari istri baru dan urus rumah dengan baik, itu baru benar."Ucapan itu jelas-jelas bermaksud mengusir Haris. Bahkan Ruslan yang mendengarnya pun merasa tidak enak hati.Dia pun menarik ujung lengan baju istrinya. Tak disangka, istrinya langsung naik pitam dan menampar Ruslan dengan keras."Apa aku salah bicara? Kamu tahu nggak, orang-orang memandangku seperti apa hari ini? Kamu mau punya kakak seperti ini, tapi aku nggak mau."Ruslan juga merasa tidak nyaman. Dia juga orang yang sangat menjaga harga diri. Masalah kakaknya membuat wajahnya ikut tercoreng. Memikirkan hal itu, dia hanya bisa berkata dengan suara lemah, "Sud
Aku malas berdebat dan langsung mengurus akta cerai bersamanya.Saat melihat akta cerai itu berada di telapak tanganku, aku sempat tertegun sesaat. Akhirnya berakhir.Haris memasukkan tangannya ke saku, berusaha sebisa mungkin menjaga martabatnya. Dia berkata,"Mina, semoga kamu nggak nyesal."Aku tidak ingin melanjutkan pembicaraan dengannya walau sepatah kata pun. Bagaimana mungkin aku menyesal? Yang kurasakan justru hanya rasa lega!Dia mengerutkan kening dan berkata, "Soal terakhir kali kamu menghabiskan tabunganku, aku belum mempermasalahkannya. Kapan kamu berencana mengembalikannya?"Baru saat itu aku menatapnya dengan sungguh-sungguh dan bertanya balik, "Mengembalikan apa? Bukankah itu harta bersama kita sebagai suami istri?""Soal pembagian harta, tentu aku akan menyuruh pengacara untuk menghubungimu. Jadi, Haris, semoga kita nggak bertemu lagi."Haris baru menyadari bahwa dia telah terjebak dalam rencanaku. Dia marah dan frustrasi, tetapi tidak berdaya, hanya bisa melihatku pe
Tak disangka, ucapan yang keluar dari mulutnya itujustru dia pakai sebagai alasan untuk menyerangku sekarang.Aku juga tidak berniat memanjakan Haris, jadi aku membuka mulut dan berkata, "Uang 100 juta-mu itu bahkan nggak cukup untuk menyewa seorang pengasuh.""Haris, aku sudah bekerja keras di rumah keluargamu selama ini. Setidaknya aku pantas mendapat sedikit imbalan, 'kan?"Setelah mengatakan itu, aku langsung menutup telepon. Tak disangka, orang yang lebih dulu datang mencariku bukan Haris, melainkan adiknya, Ruslan.Begitu melihatku, dia menyunggingkan senyuman palsu dan berkata, "Kak Mina, sepertinya akhir-akhir ini hidupmu cukup santai ya."Aku juga tidak memberinya wajah ramah. Mengingat dia telah membawa kabur mobilku, aku bertanya dengan suara dingin, "Kapan kamu berniat mengembalikan mobilku?"Wajah Ruslan langsung berubah masam. Dengan suara rendah, dia berkata, "Kak Mina kenapa sih dari kemarin ngomongnya soal mobil melulu? Kita 'kan satu keluarga. Punyamu ya punyaku."Aku
Aku membuka daftar kontak. Isinya penuh dengan pesan singkat dari Haris.[ Mina, kamu habiskan 140 juta uangku cuma dalam satu pagi? Kamu gila ya? ][ Kamu tahu aku harus kerja berapa lama buat ngumpulin uang sebanyak itu? ][ Kamu tahu nggak seberapa capeknya aku kerja? ][ Menikahi perempuan boros sepertimu adalah penyesalan terbesar dalam hidupku! ][ Aku nggak peduli kamu pakai cara apa, cepat ganti uang itu! Kalau nggak, kita lihat saja nanti! ]Aku langsung mematikan ponsel dan mengabaikan ancamannya.Soal harta kami sebagai suami istri, aku paling paham. Uang itu hampir menguras seluruh isi kantong Haris. Namun secara hukum, itu termasuk harta bersama suami istri.Uang segitu saja sudah cukup membuat Haris seperti anjing terpojok. Kalau begini saja dia sudah sampai mengancamku, kira-kira bagaimana reaksinya saat dia menghadapi rencana yang sudah kusiapkan selanjutnya?Soal rumah, aku sudah menghubungi agen properti dan bersiap menjualnya. Semua ini sama sekali tidak diketahui Ha
Begitu kantor berita mendengar kabar ini, mereka langsung tertarik. Mereka memang sedang pusing karena tidak punya isu panas untuk diangkat. Tak disangka, aku tiba-tiba menyodorkan tajuk utama dengan baik hati.Namun, pihak sana jelas tetap berhati-hati. "Apa yang kamu inginkan?"Aku menatap layar yang menampilkan Haris. Kedua mataku merah menyala. "Aku ingin namanya hancur. Aku ingin seluruh keluarganya membayar harga yang seharusnya mereka bayar."Haris diam-diam memakai gajinya sendiri untuk menyubsidi adiknya saja sudah sulit kuterima. Namun bagaimanapun, itu bukan uang yang kuhasilkan.Sekarang mereka malah bersekongkol memojokkan keluargaku sampai tak punya jalan keluar, sementara mereka sendiri meraup keuntungan besar.Pihak sana terdiam sejenak, lalu tertawa terbahak-bahak. "Itu tergantung barang yang kamu berikan sepadan dengan harganya atau nggak."Akhir-akhir ini Haris sedang sangat disorot. Di ruang siaran langsungnya terpampang judul besar yang mencolok.[ Setelah Menikah,