LOGINPutraku meninggal di bilik kamar mandi yang sempit. Kepalanya pecah. Ketika suamiku yang merupakan kepala sekolah datang, dia malah menggendong putra cinta pertamanya ke ambulans dan pergi begitu saja. Sebelum meninggal, putraku menghiburku, "Mama, jangan nangis. Nggak apa-apa kalau Papa nggak percaya padaku. Aku sama sekali nggak sedih. Aku cuma butuh Mama percaya padaku ...." Pada hari pemakaman putraku, aku menelepon Thomas. Thomas malah membentakku, "Lengan Xander harus dijahit gara-gara dilukai putramu! Kalau terus buat masalah, aku bakal menghabisinya setelah pulang nanti!" Putramu? Aku menatap kepala putraku yang berlubang dan tidak mengeluarkan darah lagi. Mata putraku terpejam. Benar, Louis putraku. Jadi, Thomas, karena putraku sudah meninggal, aku dan kamu tidak punya hubungan apa-apa lagi.
View MoreThomas tertegun menatapku. "Apa hubungannya dengan Raya?""Karena Raya pergi, kamu baru ingat padaku. Kalau Raya kembali, kamu bakal lupa lagi padaku. Ya, 'kan?"Thomas mengernyit. "Sudah kubilang, aku dan Raya cuma teman biasa. Kenapa kamu nggak percaya padaku?"Aku nggak menyangka Thomas akan begitu keras kepala. Jadi, aku memilih untuk membongkar semuanya. "Kalau teman biasa, ngapain dia meneleponmu tengah malam dan menyuruhmu datang untuk memperbaiki jaringan internet di rumahnya?""Kalau teman biasa, ngapain dia pakai piama bertali dan bersandar di pelukanmu? Bahkan, dia mengunggah foto itu di Instagram.""Kalau teman biasa, ngapain kamu begitu melindunginya? Kamu memberinya nilai tinggi waktu evaluasi dan membawanya jalan-jalan dengan uang pemerintah.""Kalau teman biasa, apa kamu bakal mengabaikan penjelasan putra kandung dan percaya pada omongan mereka? Pada akhirnya, putramu dibunuh mereka, 'kan?"Aku menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Aku tidak ingin melanjutka
Segera, hakim membuat keputusan. Xander dan beberapa murid yang terlibat dalam kasus perundungan mendapat hukuman yang setimpal.Selain itu, Xander juga harus membayar kompensasi. Sebagai wali Xander, Raya tentu harus membayarnya. Setelah mendapat uang itu, aku langsung menyumbangkannya kepada rakyat miskin.Raya mengambil cuti sehingga tidak pernah datang ke sekolah lagi. Dengar-dengar, dia juga pindah rumah karena terus digosip tetangga.Thomas pun dipecat. Ini karena Lionel mendapat bukti bahwa Thomas menerima suap. Hingga sekarang, Thomas masih dalam penyelidikan.Kehidupanku kembali normal, tetapi hatiku masih gelisah. Ketika berada di sekolah, aku sering kali menghentikan langkah kakiku secara mendadak karena melihat bayangan Louis.Di lapangan basket, aku seperti melihat seorang anak laki-laki yang bertubuh agak kurus, bermain basket dengan keterampilan yang tidak kalah dari pemain basket profesional.Di lintasan lari, aku seperti melihat seorang anak laki-laki yang berlari deng
Ketika Raya datang ke rumahku, Thomas sedang menelepon untuk meminta bantuan."Halo, Pak. Ya, ini aku Thomas. Aku ingin minta bantuanmu ...."Aku membuka pintu rumah dengan ekspresi datar. Raya menatapku dengan mata memerah."Di mana Thomas?" tanya Raya.Ketika melihatku tidak merespons, Raya hendak menerobos masuk. Namun, aku menendang perut wanita itu hingga membuatnya terjatuh."Lillia, kamu sudah gila ya?""Ya, aku memang gila. Sejak putramu membunuh putraku, aku jadi gila!"Raya tidak berani menatapku. Dia membentak, "Xander nggak menyerang putramu! Putramu yang melukainya duluan! Aku belum membuat perhitungan denganmu soal ini!"Aku tidak pernah melihat orang yang begitu tidak tahu malu."Kamu mau buat perhitungan denganku? Lapor polisi saja. Biar kulaporkan kamu yang menerobos masuk rumah orang seenaknya. Kebetulan, putramu pasti kesepian di dalam sana. Kamu temani saja dia," ejekku dengan dingin.Raya pun memulai sandiwaranya. Dia terduduk di lantai dan menangis tersedu-sedu. B
Saat aku pulang, malam sudah larut. Lampu di ruang tamu masih menyala. Tanpa melirik Thomas yang berdiri di depan potret Louis, aku langsung masuk ke kamar."Sayang ...."Langkah kakiku sontak terhenti. Aku merasa terkejut sekaligus sedih. Sudah bertahun-tahun Thomas tidak memanggilku seperti ini.Sejak Raya dan Xander kembali ke kehidupannya, Thomas hanya memanggil namaku, bahkan kadang memanggilku "hei". Yang satu adalah panggilan sopan yang profesional, yang satu lagi penuh hinaan.Aku tidak menghiraukan Thomas. Aku ingin masuk ke kamar, tetapi Thomas tiba-tiba menghampiri dengan tergesa-gesa dan meraih lenganku. Aku menoleh dengan murka. Namun, ketika melihat penampilannya, aku tak kuasa termangu. Baru beberapa jam berlalu, tetapi wajah Thomas terlihat sangat lelah dan lesu. Ada juga bekas tamparan dariku di wajahnya. Aku justru merasa lucu melihat penampilan menyedihkannya ini."Sayang, a ... aku nggak tahu Louis terluka. Ini salahku. Tolong maafin aku ya?""Maaf?" Aku terkekeh-k






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews