แชร์

Bab 2

ผู้เขียน: Merissa
Aku menggertakkan gigi kuat-kuat. Ponselnya kembali berdering.

Suara adiknya terdengar. "Kak, cepat datang ke rumahku!"

Suamiku melirikku dengan sorot mata yang rumit.

"Sayang, Ruslan lagi ada urusan. Masalah ini ... kita bicarakan setelah aku pulang." Selesai berbicara, dia langsung berbalik pergi, meninggalkanku sendirian di tempat itu.

Seluruh tenagaku seperti terkuras habis, tetapi satu pikiran semakin makin jelas. Pernikahan ini ... pasti akan kuakhiri.

....

Aku menunggu sampai tengah malam, barulah dia pulang. Tubuhnya bau asap rokok dan alkohol. Seperti biasa, dia mendekat, ingin memeluk pinggangku.

Hampir bersamaan saat dia menyentuhku, aku menjauh. Setiap sel di tubuhku berteriak menolak.

"Jangan sentuh aku! Aku jijik!"

Suamiku tersenyum menjilat padaku. "Aku tahu hari ini mood-mu jelek, pasti belum makan. Aku khusus beliin kamu sate. Makan sedikit ya?"

Lagi-lagi cara yang sama. Setiap kali menyentuh inti masalah, dia selalu menggunakan perhatian murahan seperti ini untuk mengalihkan topik.

Nadaku dingin. "Aku nggak sebodoh kamu yang masih bisa makan dalam kondisi begini. Waktu kita nikah, orang tuamu bilang nggak punya uang pensiun, minta kita kasih 4 juta setiap bulan. Uang itu sebenarnya nggak pernah sampai ke tangan orang tuamu, 'kan? Dari awal, uang itu buat adikmu, 'kan?"

Senyumannya membeku, tatapannya mulai menghindar.

"Sejak kapan kamu bantu dia bayar cicilan rumahnya?" Aku terus mendesak.

Dia terbata-bata cukup lama. "Sejak …. Sejak tahun dia menikah … dan beli rumah." Suaranya rendah.

Walaupun sudah punya firasat, saat mendengarnya langsung, aku tetap merasa darah panas menyerbu ke kepalaku. Aku menendangnya dengan sangat keras.

"Haris, lalu aku ini apa dalam semua perhitunganmu? Orang bodoh yang kamu ajak menghidupi adikmu?"

Aku teringat saat adiknya menikah, orang tuanya bahkan mengeluarkan 1 miliar untuk membantu.

Waktu itu, aku merasa tak nyaman. Dia memelukku dan berkata, "Ruslan dulu putus sekolah buat biayai aku kuliah. Ini sama saja dengan utang budiku padanya. Sudah, jangan permasalahkan ini lagi. Kita punya tangan dan kaki, bisa cari uang sendiri."

Aku percaya begitu saja. Aku bahkan menghabiskan 600 juta uang mas kawin dari orang tuaku dan 300 juta tabungan hasil kerjaku, ditambah dengan 100 juta milik Haris yang tersisa, semuanya kami kumpulkan jadi uang muka rumah kami.

Sekarang baru kuketahui kebenarannya. Dia bukan hanya tidak berusah menolak, malahan terus-menerus memberi!

Dia tiba-tiba berlutut dan menarik tanganku. Nadanya mendesak. "Istriku, aku tentu mencintaimu. Kalau aku nggak cinta, aku nggak akan menikah denganmu."

"Tapi aku merasa bersalah padanya. Dulu nilainya sebagus itu, tapi rela berkorban demi aku. Utang budi ini seumur hidup pun nggak akan lunas."

Ekspresiku datar. Lagi-lagi rasa bersalah.

Selama bertahun-tahun, batu besar ini menekan pundakku tanpa henti. Namun, kenapa harus aku yang membayar rasa bersalah itu?

Aku menarik kembali tanganku. Sisa kehangatan terakhir di hatiku pun padam.

"Utangnya sudah kamu bayar bertahun-tahun dengan mengorbankan lima tahunku. Itu sudah lebih dari cukup. Haris, kita cerai."

Dia tertegun, seolah-olah tak menyangka aku akan mengajukan cerai. Aku tak lagi menatapnya, langsung menarik koper yang sejak lama sudah kusiapkan dan pergi.

Aku berjalan ke tempat parkir, tetapi tak melihat BMW bernilai 1 miliar yang menjadi mas kawin dari orang tuaku. Padahal pagi tadi aku masih melihatnya.

Aku menelepon pengelola gedung, meminta mereka mengecek CCTV. Dengan tangan dan kaki sedingin es, aku berlari ke kantor pengelola untuk melihat rekaman.
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Kebohogan Suamiku Demi Menutupi Aib Keluarganya   Bab 10

    Amarah Haris belum sepenuhnya mereda. Ditambah lagi, alamat rumah barunya bocor. Akhirnya dia memilih pindah rumah.Hanya saja, aku tidak menyangka hal ini juga akan melibatkan diriku. Setelah bercerai dengan Haris, aku mulai bekerja kembali. Tak disangka, di jalan pulang kerja aku dicegat oleh orang tuanya. Mereka berlutut di depanku sambil menangis."Mina, kami yang bersalah padamu.""Kami nggak seharusnya memisahkanmu dan Haris. Semua ini karena kami sudah tua dan pikun."Di sekitar kami mulai banyak orang yang menonton. Aku tidak tahan dan menelepon Haris. "Orang tuamu ada di sini."Beberapa menit kemudian, Haris muncul di hadapanku. Wajahnya tampak sangat lelah, benar-benar seperti orang yang sudah lama tidak tidur nyenyak. Lingkar hitam di bawah matanya terlihat jelas.Namun, aku sama sekali tidak merasa kasihan.Haris menoleh ke arah orang tuanya, mengerutkan kening dan bertanya, "Kalian ke sini buat apa?"Orang tuanya menggerakkan bibir, seolah-olah mereka juga tahu ini adalah

  • Kebohogan Suamiku Demi Menutupi Aib Keluarganya   Bab 9

    Begitu kejadian yang menimpa Haris hari ini terjadi, dia merasa bahkan saat pergi membeli sayur pun banyak orang yang menunjuk-nunjuk dan membicarakannya.Harga diri yang kuat membuatnya semakin membenci Haris. Dia pun menatap Haris dengan tajam dan berkata tanpa sungkan, "Kakak juga sudah nggak muda lagi. Walaupun sudah cerai, nggak seharusnya sejatuh ini. Lebih baik cari istri baru dan urus rumah dengan baik, itu baru benar."Ucapan itu jelas-jelas bermaksud mengusir Haris. Bahkan Ruslan yang mendengarnya pun merasa tidak enak hati.Dia pun menarik ujung lengan baju istrinya. Tak disangka, istrinya langsung naik pitam dan menampar Ruslan dengan keras."Apa aku salah bicara? Kamu tahu nggak, orang-orang memandangku seperti apa hari ini? Kamu mau punya kakak seperti ini, tapi aku nggak mau."Ruslan juga merasa tidak nyaman. Dia juga orang yang sangat menjaga harga diri. Masalah kakaknya membuat wajahnya ikut tercoreng. Memikirkan hal itu, dia hanya bisa berkata dengan suara lemah, "Sud

  • Kebohogan Suamiku Demi Menutupi Aib Keluarganya   Bab 8

    Aku malas berdebat dan langsung mengurus akta cerai bersamanya.Saat melihat akta cerai itu berada di telapak tanganku, aku sempat tertegun sesaat. Akhirnya berakhir.Haris memasukkan tangannya ke saku, berusaha sebisa mungkin menjaga martabatnya. Dia berkata,"Mina, semoga kamu nggak nyesal."Aku tidak ingin melanjutkan pembicaraan dengannya walau sepatah kata pun. Bagaimana mungkin aku menyesal? Yang kurasakan justru hanya rasa lega!Dia mengerutkan kening dan berkata, "Soal terakhir kali kamu menghabiskan tabunganku, aku belum mempermasalahkannya. Kapan kamu berencana mengembalikannya?"Baru saat itu aku menatapnya dengan sungguh-sungguh dan bertanya balik, "Mengembalikan apa? Bukankah itu harta bersama kita sebagai suami istri?""Soal pembagian harta, tentu aku akan menyuruh pengacara untuk menghubungimu. Jadi, Haris, semoga kita nggak bertemu lagi."Haris baru menyadari bahwa dia telah terjebak dalam rencanaku. Dia marah dan frustrasi, tetapi tidak berdaya, hanya bisa melihatku pe

  • Kebohogan Suamiku Demi Menutupi Aib Keluarganya   Bab 7

    Tak disangka, ucapan yang keluar dari mulutnya itujustru dia pakai sebagai alasan untuk menyerangku sekarang.Aku juga tidak berniat memanjakan Haris, jadi aku membuka mulut dan berkata, "Uang 100 juta-mu itu bahkan nggak cukup untuk menyewa seorang pengasuh.""Haris, aku sudah bekerja keras di rumah keluargamu selama ini. Setidaknya aku pantas mendapat sedikit imbalan, 'kan?"Setelah mengatakan itu, aku langsung menutup telepon. Tak disangka, orang yang lebih dulu datang mencariku bukan Haris, melainkan adiknya, Ruslan.Begitu melihatku, dia menyunggingkan senyuman palsu dan berkata, "Kak Mina, sepertinya akhir-akhir ini hidupmu cukup santai ya."Aku juga tidak memberinya wajah ramah. Mengingat dia telah membawa kabur mobilku, aku bertanya dengan suara dingin, "Kapan kamu berniat mengembalikan mobilku?"Wajah Ruslan langsung berubah masam. Dengan suara rendah, dia berkata, "Kak Mina kenapa sih dari kemarin ngomongnya soal mobil melulu? Kita 'kan satu keluarga. Punyamu ya punyaku."Aku

  • Kebohogan Suamiku Demi Menutupi Aib Keluarganya   Bab 6

    Aku membuka daftar kontak. Isinya penuh dengan pesan singkat dari Haris.[ Mina, kamu habiskan 140 juta uangku cuma dalam satu pagi? Kamu gila ya? ][ Kamu tahu aku harus kerja berapa lama buat ngumpulin uang sebanyak itu? ][ Kamu tahu nggak seberapa capeknya aku kerja? ][ Menikahi perempuan boros sepertimu adalah penyesalan terbesar dalam hidupku! ][ Aku nggak peduli kamu pakai cara apa, cepat ganti uang itu! Kalau nggak, kita lihat saja nanti! ]Aku langsung mematikan ponsel dan mengabaikan ancamannya.Soal harta kami sebagai suami istri, aku paling paham. Uang itu hampir menguras seluruh isi kantong Haris. Namun secara hukum, itu termasuk harta bersama suami istri.Uang segitu saja sudah cukup membuat Haris seperti anjing terpojok. Kalau begini saja dia sudah sampai mengancamku, kira-kira bagaimana reaksinya saat dia menghadapi rencana yang sudah kusiapkan selanjutnya?Soal rumah, aku sudah menghubungi agen properti dan bersiap menjualnya. Semua ini sama sekali tidak diketahui Ha

  • Kebohogan Suamiku Demi Menutupi Aib Keluarganya   Bab 5

    Begitu kantor berita mendengar kabar ini, mereka langsung tertarik. Mereka memang sedang pusing karena tidak punya isu panas untuk diangkat. Tak disangka, aku tiba-tiba menyodorkan tajuk utama dengan baik hati.Namun, pihak sana jelas tetap berhati-hati. "Apa yang kamu inginkan?"Aku menatap layar yang menampilkan Haris. Kedua mataku merah menyala. "Aku ingin namanya hancur. Aku ingin seluruh keluarganya membayar harga yang seharusnya mereka bayar."Haris diam-diam memakai gajinya sendiri untuk menyubsidi adiknya saja sudah sulit kuterima. Namun bagaimanapun, itu bukan uang yang kuhasilkan.Sekarang mereka malah bersekongkol memojokkan keluargaku sampai tak punya jalan keluar, sementara mereka sendiri meraup keuntungan besar.Pihak sana terdiam sejenak, lalu tertawa terbahak-bahak. "Itu tergantung barang yang kamu berikan sepadan dengan harganya atau nggak."Akhir-akhir ini Haris sedang sangat disorot. Di ruang siaran langsungnya terpampang judul besar yang mencolok.[ Setelah Menikah,

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status