Home / Romansa / Kecanduan Dekapan Ayah Tiri / Sentuhan yang Memabukkan

Share

Sentuhan yang Memabukkan

Author: Aksara_Lizza
last update publish date: 2026-09-02 23:27:52

Sean menarik celana pendek dan celana dalam Dhita sekaligus, menariknya turun dengan satu gerakan tegas hingga kain itu jatuh ke lantai.

Tubuh Dhita kini telanjang sepenuhnya di atas meja dapur yang dingin.

Sean membuka resleting celananya, mengeluarkan kejantanannya yang sudah tegang penuh, urat-uratnya menonjol, ujungnya sudah basah oleh cairan pra-ejakulasi.

Ia menggesekkan batang itu di celah basah Dhita, naik turun perlahan, membiarkan cairan mereka bercampur. Dhita menggigit bibir, pingga
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kecanduan Dekapan Ayah Tiri   Sedikit Cemburu

    Sean mendorong lebih dalam. Satu hentakan kuat membuat tubuh Dhita terdorong ke atas kasur.Jeritannya terpotong menjadi erangan panjang.Sean menarik keluar hampir sepenuhnya, lalu menghantam masuk lagi dengan ritme yang langsung liar.Setiap dorongan padat, dalam, menekan dinding basah yang menyempit di sekelilingnya.Dhita mencengkeram bahu Sean. Kuku-kukunya menancap di kulit pria itu. Matanya terbuka, menatap mata Sean yang sudah gelap oleh gairah.Sean membalas tatapan itu tanpa berhenti bergerak. Napas mereka saling bertubrukan.Sean menarik tubuh Dhita ke atas. Dalam satu gerakan dia duduk bersandar di kepala ranjang, lalu mendudukkan Dhita di pangkuannya.Kejantanannya masih tertanam dalam.Dhita mengerang saat posisi itu membuatnya merasakan lebih dalam.Tangannya langsung melingkar di leher Sean. Jari-jarinya menyentuh rambut di tengkuk pria itu.Sean menciumnya lagi. Lidahnya masuk kasar, melilit, menghisap.Tangan kanannya menekan pinggang Dhita, memandu gerakan naik-turu

  • Kecanduan Dekapan Ayah Tiri   Malam yang Sunyi

    Dhita baru saja menutup pintu kamar ketika Sean menarik pergelangan tangannya. Gerakan itu tegas, tanpa keraguan.Dia membawanya masuk lebih dalam, menjauh dari pintu, sampai punggung Dhita menempel ke dinding dingin.Sean menunduk. Bibirnya menempel ke bibir Dhita tanpa pendahuluan. Ciuman itu langsung dalam.Lidah Sean masuk, menjilat, melilit lidah Dhita dengan gerakan liar yang membuat napas wanita itu tersangkut.Dhita menutup mata.Tangannya naik ke dada Sean, mencengkeram kemeja pria itu.Sean memiringkan kepala, memperdalam ciuman. Lidahnya bergerak lebih agresif, menghisap, menggigit bibir bawah Dhita pelan, lalu kembali menyesap dalam.Tangan Sean melingkar di pinggang ramping Dhita.Jari-jarinya menekan, menarik tubuh wanita itu lebih dekat sampai dada mereka saling menempel.Dia melepaskan ciuman hanya sejengkal, napasnya panas di bibir Dhita.Matanya menatap mata Sean yang sudah membara. Pupilnya melebar. Napasnya masih tersengal dari ciuman barusan. Dia tidak menjawab. H

  • Kecanduan Dekapan Ayah Tiri   Sudah Terikat Dengannya

    “Kau tidak sendirian lagi di rumah ini, Dhita… karena kita adalah orang yang sama.”Suara Sean masih menggantung di antara mereka ketika kilatan putih menyambar jendela perpustakaan.Dentuman petir menyusul, begitu keras hingga kaca bergetar.Dhita memekik tanpa suara dan tubuhnya langsung jatuh ke depan, menubruk dada Sean.Kedua lengannya melingkar di pinggang pria itu, jari-jari mencengkeram kain kemeja dengan kekuatan yang hampir putus asa.Sean tidak terkejut. Ia langsung mendekap punggung Dhita, satu tangan menahan tengkuknya, tangan lain mengusap tulang belikat dengan gerakan lambat dan stabil. Napasnya hangat di rambut Dhita.“Tidak apa-apa,” bisiknya rendah. “Aku di sini. Tidak ada yang akan terjadi padamu selama aku ada.”Dhita tidak menjawab. Wajahnya terbenam di dada Sean, mendengarkan detak jantung yang kuat dan teratur.Bau cologne dan whisky yang samar masih menempel di kulit pria itu. Untuk beberapa detik, hanya suara hujan yang menghantam atap dan napas mereka yang sa

  • Kecanduan Dekapan Ayah Tiri   Memiliki Nasib yang Sama

    "Masuklah, Dhita. Jangan berdiri di pintu seperti orang asing," ucap Sean tenang, memecah keheningan yang menyiksa.Dhita berdiri gemetar di ambang pintu, wajahnya pucat pasi diterpa cahaya lilin yang meliuk-liuk.Hawa dingin malam dan guncangan petir di luar membuat tubuhnya terus menggigil.Mendengar panggilan itu, Dhita melangkah masuk secara perlahan, namun ia berhenti beberapa langkah dari meja kerja Sean.Ia merapatkan kedua tangannya di depan dada, memeluk tubuhnya sendiri sebagai perisai dari intimidasi keberadaan pria itu."Om..." suara Dhita bergetar hebat, bercampur dengan emosi panik, cemas, dan rasa bersalah yang telah menumpuk hingga ke puncaknya. "Tolong, aku mohon, hentikan semua permainan gila ini."Sean tidak menyela. Ia hanya memegang gelas whisky-nya, memperhatikan setiap jengkal perubahan raut wajah Dhita di balik kegelapan."Kita berdua sudah melangkah terlalu jauh, Om Sean!" seru Dhita dengan nada tertekan yang ditahan agar tak terdengar sampai keluar."Ibu akan

  • Kecanduan Dekapan Ayah Tiri   Tak Tahan Lagi

    Sabtu sore tiba membawa badai hujan lebat yang mengguyur seisi kota tanpa henti.Di dalam rumah megah dua lantai itu, suasana terasa sunyi dan hampa bagaikan makam tak berpenghuni.Sarah masih tertahan di luar pulau untuk urusan ekspansi bisnis, sementara Randy masih berada di kota lain untuk urusan dinas luar kotanya.Bi Sumi sudah pulang sejak siang hari sebelum hujan deras turun, menyisakan Dhita dan Sean berdua saja di dalam bangunan luas tersebut.Dhita sengaja mengurung diri di dalam kamar tidurnya di lantai dua sejak pagi.Ia mencoba membentengi diri dengan menenggelamkan pikirannya ke dalam tumpukan buku tebal untuk persiapan ujian komprehensif.Namun, usaha penolakan itu terasa sia-sia. Deru angin kencang yang menghantam jendela kaca dan suara gemuruh air di talang atap terus-menerus memecah konsentrasinya.Setiap kali ia memejamkan mata untuk meredakan pusing, sentuhan kasar Sean di balik pintu ruang dosen dan bisikan intimidatif pria itu di dalam mobil terus berputar bagai

  • Kecanduan Dekapan Ayah Tiri   Kepanikan Dhita

    "Jangan sampai ada yang melihatmu keluar dari ruangan ini dengan penampilan kacau seperti itu," bisik Sean datar sebelum akhirnya membukakan pintu untuk Dhita beberapa saat lalu.Kini, kabin mobil SUV hitam milik Sean melaju membelah jalanan kota yang mulai basah disiram gerimis sore.Di kursi penumpang, napas Dhita masih belum sepenuhnya teratur.Tangannya gemetar hebat saat ia berusaha mengancingkan kembali kemejanya yang kusut dan merapikan rok plisketnya yang berantakan seusai kegilaan di balik pintu ruang kerja dosen.Aroma parfum maskulin Sean bercampur hawa dingin dari AC mobil menguar pekat, seolah terus mengikat kesadaran Dhita pada dosa yang baru saja terjadi.Dhita menarik kaca rias di atas pelindung matahari untuk membenahi rambutnya yang kusut. Namun, gerakannya seketika terhenti kaku.Di pantulan cermin kecil itu, ia melihat jejak noda merah keunguan yang tercetak jelas di leher bagian bawahnya, tepat di atas tulang selangka.Tidak hanya itu, saat Dhita membetulkan lenga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status