Sean meremas dada Dhita lebih dalam, jari-jarinya yang panjang dan kasar menekan lembut jaringan sensitif di bawah bra tipis.Jantung Dhita berdegup kencang, seolah ingin meledak di dalam dada. Ia menelan ludah, tubuhnya masih kaku di atas meja dapur, kedua kaki terentang di sisi pinggang Sean.“Om… Sean…” bisiknya lagi, suara serak, hampir seperti erangan.Sean tidak menjawab dengan kata-kata. Ia mengangkat wajahnya dari leher Dhita, menatap matanya yang berkaca-kaca.Jarak di antara mereka hanya sehelai napas. Kemudian, dengan gerakan yang amat lambat, Sean mencondongkan tubuh.Bibirnya mendarat di sudut bibir Dhita, bukan ciuman penuh, melainkan gesekan lembut yang sengaja menahan.Ia menggeser bibir itu perlahan ke tengah, menekan sedikit, lalu menarik diri hanya sejauh satu sentimeter.Dhita memegang erat kain celana Sean di dekat pahanya. Napasnya memburu. Sean tersenyum tipis, lalu kembali mendekat.Kali ini bibirnya menutup sepenuhnya di atas bibir Dhita. Ciuman itu dalam, lam
Last Updated : 2026-09-02 Read more