ログインDiabaikan oleh suaminya yang tak pernah pulang ke rumah, Dhita merasa kesepian. Di sisi lain, Sean, ayah tirinya yang baru beberapa bulan menikah dengan ibunya juga diperlakukan sama. Sama-sama kesepian, hidup dalam bayang-bayang pengkhianatan yang dilakukan oleh mereka, Dhita dan Sean terlibat dalam malam panas yang tak pernah Dhita bayangkan sebelumnya. Sentuhan Sean yang dominan dan posesif seketika meruntuhkan kewarasan. Alih-alih merasa bersalah, Dhita justru jatuh terlalu dalam, ia kini kecanduan setiap jengkal dekapan panas sang ayah tiri.
もっと見る"Ah, Randy. Aku sudah tidak tahan lagi. Sentuh aku, Sayang."
Suara Dhita terdengar pelan namun bergetar penuh harap.
Di balik remang lampu tidur kamar mereka, Dhita sengaja memiringkan tubuhnya, membiarkan garis leher dan lekuk tubuhnya terekspos sempurna.
Malam ini, ia mengenakan lingerie sutra merah muda yang baru dibelinya minggu lalu, sebuah pakaian tipis yang sengaja ia pilih untuk memancing perhatian pria yang berstatus sebagai suaminya selama satu tahun terakhir ini.
Namun, respons yang diterimanya justru membuat dadanya terasa dihantam beban berat.
Randy hanya menghela napas panjang tanpa menoleh. Pria itu sibuk melonggarkan dasinya, lalu merebahkan tubuh di tepi ranjang dengan raut wajah yang amat lelah.
"Dhita, tolonglah. Aku sangat lelah hari ini," ujar Randy halus, tetapi nada penolakannya terasa begitu dingin dan telak. "Pekerjaan di kantor menumpuk. Aku mengantuk dan hanya ingin beristirahat."
Dhita seketika bersungut-sungut. Wajah cantiknya tertekuk, rasa percaya dirinya mendadak runtuh menjadi kepingan-kepingan kecil yang menyakitkan.
"Tapi Randy, ini sudah minggu ketiga kau selalu beralasan lelah. Aku ini istrimu. Aku sudah mengenakan pakaian seperti ini, apakah kau sama sekali tidak tergoda?"
Randy memutar tubuhnya menghadap Dhita, lalu tersenyum tipis, sebuah senyum formalitas yang terasa sangat kering bagi Dhita.
"Bukan begitu, Sayang. Jika aku memaksakan diri sekarang dalam keadaan lelah, nanti ejakulasi terjadi terlalu cepat. Nanti kau juga yang tidak puas, bukan? Daripada hasilnya tidak maksimal, lebih baik kita menundanya lain kali."
Alasan yang sama. Selalu alasan teknis dan logis yang dilontarkan Randy untuk menutupi kenyataan bahwa pria itu memang tidak memiliki gairah terhadapnya.
Tanpa menunggu tanggapan Dhita, Randy bangkit dari ranjang, mengecup kening Dhita sekilas, sebuah kecupan kering tanpa impuls emosional lalu menepuk bahunya pelan.
"Beristirahatlah terlebih dahulu. Aku ingin mandi agar tubuh terasa sedikit lebih segar."
Dhita menatap punggung suaminya yang menghilang di balik pintu kamar mandi. Pintu terketuk menutup, menyisakan keheningan yang menyesakkan di dalam kamar ber-AC tersebut.
Dhita mengepalkan tangannya di atas seprai. Rasa ditolak, tidak diinginkan, dan tidak berharga menjalar cepat dari dadanya hingga ke ujung jari.
Penolakan halus Randy jauh lebih menyakitkan daripada makian terbuka.
Dengan perasaan campur aduk antara kesal dan haus akan kepastian, Dhita meraih kimono tipis bernuansa senada yang tergeletak di kursi vanity.
Ia pun membungkus tubuhnya yang hampir telanjang itu, mengikat talinya dengan asal, lalu melangkah keluar dari kamar.
Langkah kakinya menyusuri lorong lantai dua yang hening, menuruni tangga kayu menuju lantai bawah. Kerongkongannya terasa kering, mungkin akibat luapan emosi yang tertahan di tenggorokan.
Ia berjalan menuju dapur yang hanya diterangi lampu sorot temaram di atas kabinet.
Dhita meraih sebuah gelas kaca dari rak, melangkah menuju dispenser di sudut ruangan sambil terus bergumam pelan di balik napasnya.
"Pria yang sangat dingin. Jika akhirnya seperti ini, untuk apa dia mengajak berumah tangga," gumamnya gusar.
Namun, kalimatnya terputus seketika.
Langkahnya terhenti kaku saat matanya menangkap sesosok bayangan tinggi yang berdiri tepat di depan dispenser.
Seorang pria sedang berdiri membelakanginya, hanya mengenakan celana pendek hitam.
Punggungnya lebar, kokoh, dengan otot-otot tegap yang terbentuk sempurna dari pola hidup disiplin. Cahaya remang dapur menyorot lekuk otot punggung dan bahunya yang perkasa.
Gelas di tangan Dhita hampir saja terlepas. Ia terperanjat, menahan napasnya tepat di tenggorokan.
"Om... Om Sean?" pekik Dhita tertahan, matanya membelalak tak percaya.
Pria itu berbalik dengan gerakan tenang. Tatapan matanya yang tajam dan dalam langsung mengunci pandangan Dhita.
Sean. Pria berusia 38 tahun itu adalah ayah tirinya, pria yang baru saja menikahi ibunya tiga bulan lalu. Kehadiran Sean di rumah ini selalu membawa atmosfer yang canggung dan berat bagi Dhita.
Selain status kekeluargaan baru yang belum sepenuhnya ia terima, Sean juga merupakan profesor senior di universitas tempat Dhita menyelesaikan tingkat akhirnya.
Di kampus, Sean dikenal tegas, dingin, dan berkharisma. Di rumah ini, kehadirannya selalu terasa seperti dominasi yang tak tersentuh.
"Sedang apa kau di sini pada jam seperti ini, Dhita?" suara Sean terdengar berat, dalam, dan bergetar pelan di tengah keheningan malam.
Dhita mendadak salah tingkah. Ia sadar betul betapa tipisnya kimono yang membungkus tubuhnya saat ini.
Di bawah penerangan remang-remang, bahan sutra itu hampir tidak menyembunyikan kontur tubuhnya di balik lingerie. Dhita merapatkan lipatan kimononya dengan jemari yang gemetar.
"Aku... aku hanya merasa haus, Om Sean. Ingin mengambil air minum," jawab Dhita gugup.
Matanya berusaha keras fokus pada wajah Sean, tetapi dadanya yang berdegup kencang membuatnya sulit mengatur napas.
Sean tidak langsung menjawab. Pria itu berbalik perlahan, mengambil gelas di tangan Dhita tanpa bersuara, lalu menekan tuas dispenser.
Suara gemericik air yang mengalir mengisi gelas menjadi satu-satunya bunyi yang memecah ketegangan di antara mereka.
Ketika gelas itu terisi penuh, Sean berbalik kembali. Bukannya langsung menyerahkan gelas tersebut, Sean memegang gelas itu dengan satu tangan, sementara matanya yang pekat menyapu penampilan Dhita dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Tatapan itu bukan tatapan seorang ayah tiri yang khawatir, itu adalah tatapan menilai dari seorang pria dewasa yang sangat sadar akan dinamika di depannya.
Dhita menggeser tumpuan kakinya, merasa terintimidasi sekaligus anehnya, terangsang oleh perhatian intuitif yang diberikan Sean.
Sesuatu yang sama sekali tidak ia dapatkan dari Randy beberapa menit yang lalu di kamar atas.
Sean mengamati bagaimana dada Dhita naik turun dengan cepat, serta bagaimana jemari wanita muda itu mencengkeram kain kimono dengan ketakutan yang ganjil.
Satu alis Sean terangkat pelan. Bibirnya membentuk garis tipis yang sukar diartikan.
"Kau sedang melihat apa, Dhita?” tanya Sean dengan pelan.
“Kau tidak sendirian lagi di rumah ini, Dhita… karena kita adalah orang yang sama.”Suara Sean masih menggantung di antara mereka ketika kilatan putih menyambar jendela perpustakaan.Dentuman petir menyusul, begitu keras hingga kaca bergetar.Dhita memekik tanpa suara dan tubuhnya langsung jatuh ke depan, menubruk dada Sean.Kedua lengannya melingkar di pinggang pria itu, jari-jari mencengkeram kain kemeja dengan kekuatan yang hampir putus asa.Sean tidak terkejut. Ia langsung mendekap punggung Dhita, satu tangan menahan tengkuknya, tangan lain mengusap tulang belikat dengan gerakan lambat dan stabil. Napasnya hangat di rambut Dhita.“Tidak apa-apa,” bisiknya rendah. “Aku di sini. Tidak ada yang akan terjadi padamu selama aku ada.”Dhita tidak menjawab. Wajahnya terbenam di dada Sean, mendengarkan detak jantung yang kuat dan teratur.Bau cologne dan whisky yang samar masih menempel di kulit pria itu. Untuk beberapa detik, hanya suara hujan yang menghantam atap dan napas mereka yang sa
"Masuklah, Dhita. Jangan berdiri di pintu seperti orang asing," ucap Sean tenang, memecah keheningan yang menyiksa.Dhita berdiri gemetar di ambang pintu, wajahnya pucat pasi diterpa cahaya lilin yang meliuk-liuk.Hawa dingin malam dan guncangan petir di luar membuat tubuhnya terus menggigil.Mendengar panggilan itu, Dhita melangkah masuk secara perlahan, namun ia berhenti beberapa langkah dari meja kerja Sean.Ia merapatkan kedua tangannya di depan dada, memeluk tubuhnya sendiri sebagai perisai dari intimidasi keberadaan pria itu."Om..." suara Dhita bergetar hebat, bercampur dengan emosi panik, cemas, dan rasa bersalah yang telah menumpuk hingga ke puncaknya. "Tolong, aku mohon, hentikan semua permainan gila ini."Sean tidak menyela. Ia hanya memegang gelas whisky-nya, memperhatikan setiap jengkal perubahan raut wajah Dhita di balik kegelapan."Kita berdua sudah melangkah terlalu jauh, Om Sean!" seru Dhita dengan nada tertekan yang ditahan agar tak terdengar sampai keluar."Ibu akan
Sabtu sore tiba membawa badai hujan lebat yang mengguyur seisi kota tanpa henti.Di dalam rumah megah dua lantai itu, suasana terasa sunyi dan hampa bagaikan makam tak berpenghuni.Sarah masih tertahan di luar pulau untuk urusan ekspansi bisnis, sementara Randy masih berada di kota lain untuk urusan dinas luar kotanya.Bi Sumi sudah pulang sejak siang hari sebelum hujan deras turun, menyisakan Dhita dan Sean berdua saja di dalam bangunan luas tersebut.Dhita sengaja mengurung diri di dalam kamar tidurnya di lantai dua sejak pagi.Ia mencoba membentengi diri dengan menenggelamkan pikirannya ke dalam tumpukan buku tebal untuk persiapan ujian komprehensif.Namun, usaha penolakan itu terasa sia-sia. Deru angin kencang yang menghantam jendela kaca dan suara gemuruh air di talang atap terus-menerus memecah konsentrasinya.Setiap kali ia memejamkan mata untuk meredakan pusing, sentuhan kasar Sean di balik pintu ruang dosen dan bisikan intimidatif pria itu di dalam mobil terus berputar bagai
"Jangan sampai ada yang melihatmu keluar dari ruangan ini dengan penampilan kacau seperti itu," bisik Sean datar sebelum akhirnya membukakan pintu untuk Dhita beberapa saat lalu.Kini, kabin mobil SUV hitam milik Sean melaju membelah jalanan kota yang mulai basah disiram gerimis sore.Di kursi penumpang, napas Dhita masih belum sepenuhnya teratur.Tangannya gemetar hebat saat ia berusaha mengancingkan kembali kemejanya yang kusut dan merapikan rok plisketnya yang berantakan seusai kegilaan di balik pintu ruang kerja dosen.Aroma parfum maskulin Sean bercampur hawa dingin dari AC mobil menguar pekat, seolah terus mengikat kesadaran Dhita pada dosa yang baru saja terjadi.Dhita menarik kaca rias di atas pelindung matahari untuk membenahi rambutnya yang kusut. Namun, gerakannya seketika terhenti kaku.Di pantulan cermin kecil itu, ia melihat jejak noda merah keunguan yang tercetak jelas di leher bagian bawahnya, tepat di atas tulang selangka.Tidak hanya itu, saat Dhita membetulkan lenga
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.