Kecanduan Dekapan Ayah Tiri

Kecanduan Dekapan Ayah Tiri

last updateLast Updated : 2026-09-02
By:  Aksara_LizzaUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
9Chapters
12views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Diabaikan oleh suaminya yang tak pernah pulang ke rumah, Dhita merasa kesepian. Di sisi lain, Sean, ayah tirinya yang baru beberapa bulan menikah dengan ibunya juga diperlakukan sama. Sama-sama kesepian, hidup dalam bayang-bayang pengkhianatan yang dilakukan oleh mereka, Dhita dan Sean terlibat dalam malam panas yang tak pernah Dhita bayangkan sebelumnya. Sentuhan Sean yang dominan dan posesif seketika meruntuhkan kewarasan. Alih-alih merasa bersalah, Dhita justru jatuh terlalu dalam, ia kini kecanduan setiap jengkal dekapan panas sang ayah tiri.

View More

Chapter 1

Kecanggungan di Dapur

"Ah, Randy. Aku sudah tidak tahan lagi. Sentuh aku, Sayang."

Suara Dhita terdengar pelan namun bergetar penuh harap.

Di balik remang lampu tidur kamar mereka, Dhita sengaja memiringkan tubuhnya, membiarkan garis leher dan lekuk tubuhnya terekspos sempurna.

Malam ini, ia mengenakan lingerie sutra merah muda yang baru dibelinya minggu lalu, sebuah pakaian tipis yang sengaja ia pilih untuk memancing perhatian pria yang berstatus sebagai suaminya selama satu tahun terakhir ini.

Namun, respons yang diterimanya justru membuat dadanya terasa dihantam beban berat.

Randy hanya menghela napas panjang tanpa menoleh. Pria itu sibuk melonggarkan dasinya, lalu merebahkan tubuh di tepi ranjang dengan raut wajah yang amat lelah.

"Dhita, tolonglah. Aku sangat lelah hari ini," ujar Randy halus, tetapi nada penolakannya terasa begitu dingin dan telak. "Pekerjaan di kantor menumpuk. Aku mengantuk dan hanya ingin beristirahat."

Dhita seketika bersungut-sungut. Wajah cantiknya tertekuk, rasa percaya dirinya mendadak runtuh menjadi kepingan-kepingan kecil yang menyakitkan.

"Tapi Randy, ini sudah minggu ketiga kau selalu beralasan lelah. Aku ini istrimu. Aku sudah mengenakan pakaian seperti ini, apakah kau sama sekali tidak tergoda?"

Randy memutar tubuhnya menghadap Dhita, lalu tersenyum tipis, sebuah senyum formalitas yang terasa sangat kering bagi Dhita.

"Bukan begitu, Sayang. Jika aku memaksakan diri sekarang dalam keadaan lelah, nanti ejakulasi terjadi terlalu cepat. Nanti kau juga yang tidak puas, bukan? Daripada hasilnya tidak maksimal, lebih baik kita menundanya lain kali."

Alasan yang sama. Selalu alasan teknis dan logis yang dilontarkan Randy untuk menutupi kenyataan bahwa pria itu memang tidak memiliki gairah terhadapnya.

Tanpa menunggu tanggapan Dhita, Randy bangkit dari ranjang, mengecup kening Dhita sekilas, sebuah kecupan kering tanpa impuls emosional lalu menepuk bahunya pelan.

"Beristirahatlah terlebih dahulu. Aku ingin mandi agar tubuh terasa sedikit lebih segar."

Dhita menatap punggung suaminya yang menghilang di balik pintu kamar mandi. Pintu terketuk menutup, menyisakan keheningan yang menyesakkan di dalam kamar ber-AC tersebut.

Dhita mengepalkan tangannya di atas seprai. Rasa ditolak, tidak diinginkan, dan tidak berharga menjalar cepat dari dadanya hingga ke ujung jari.

Penolakan halus Randy jauh lebih menyakitkan daripada makian terbuka.

Dengan perasaan campur aduk antara kesal dan haus akan kepastian, Dhita meraih kimono tipis bernuansa senada yang tergeletak di kursi vanity.

Ia pun membungkus tubuhnya yang hampir telanjang itu, mengikat talinya dengan asal, lalu melangkah keluar dari kamar.

Langkah kakinya menyusuri lorong lantai dua yang hening, menuruni tangga kayu menuju lantai bawah. Kerongkongannya terasa kering, mungkin akibat luapan emosi yang tertahan di tenggorokan.

Ia berjalan menuju dapur yang hanya diterangi lampu sorot temaram di atas kabinet.

Dhita meraih sebuah gelas kaca dari rak, melangkah menuju dispenser di sudut ruangan sambil terus bergumam pelan di balik napasnya.

"Pria yang sangat dingin. Jika akhirnya seperti ini, untuk apa dia mengajak berumah tangga," gumamnya gusar.

Namun, kalimatnya terputus seketika.

Langkahnya terhenti kaku saat matanya menangkap sesosok bayangan tinggi yang berdiri tepat di depan dispenser.

Seorang pria sedang berdiri membelakanginya, hanya mengenakan celana pendek hitam.

Punggungnya lebar, kokoh, dengan otot-otot tegap yang terbentuk sempurna dari pola hidup disiplin. Cahaya remang dapur menyorot lekuk otot punggung dan bahunya yang perkasa.

Gelas di tangan Dhita hampir saja terlepas. Ia terperanjat, menahan napasnya tepat di tenggorokan.

"Om... Om Sean?" pekik Dhita tertahan, matanya membelalak tak percaya.

Pria itu berbalik dengan gerakan tenang. Tatapan matanya yang tajam dan dalam langsung mengunci pandangan Dhita.

Sean. Pria berusia 38 tahun itu adalah ayah tirinya, pria yang baru saja menikahi ibunya tiga bulan lalu. Kehadiran Sean di rumah ini selalu membawa atmosfer yang canggung dan berat bagi Dhita.

Selain status kekeluargaan baru yang belum sepenuhnya ia terima, Sean juga merupakan profesor senior di universitas tempat Dhita menyelesaikan tingkat akhirnya.

Di kampus, Sean dikenal tegas, dingin, dan berkharisma. Di rumah ini, kehadirannya selalu terasa seperti dominasi yang tak tersentuh.

"Sedang apa kau di sini pada jam seperti ini, Dhita?" suara Sean terdengar berat, dalam, dan bergetar pelan di tengah keheningan malam.

Dhita mendadak salah tingkah. Ia sadar betul betapa tipisnya kimono yang membungkus tubuhnya saat ini.

Di bawah penerangan remang-remang, bahan sutra itu hampir tidak menyembunyikan kontur tubuhnya di balik lingerie. Dhita merapatkan lipatan kimononya dengan jemari yang gemetar.

"Aku... aku hanya merasa haus, Om Sean. Ingin mengambil air minum," jawab Dhita gugup.

Matanya berusaha keras fokus pada wajah Sean, tetapi dadanya yang berdegup kencang membuatnya sulit mengatur napas.

Sean tidak langsung menjawab. Pria itu berbalik perlahan, mengambil gelas di tangan Dhita tanpa bersuara, lalu menekan tuas dispenser.

Suara gemericik air yang mengalir mengisi gelas menjadi satu-satunya bunyi yang memecah ketegangan di antara mereka.

Ketika gelas itu terisi penuh, Sean berbalik kembali. Bukannya langsung menyerahkan gelas tersebut, Sean memegang gelas itu dengan satu tangan, sementara matanya yang pekat menyapu penampilan Dhita dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Tatapan itu bukan tatapan seorang ayah tiri yang khawatir, itu adalah tatapan menilai dari seorang pria dewasa yang sangat sadar akan dinamika di depannya.

Dhita menggeser tumpuan kakinya, merasa terintimidasi sekaligus anehnya, terangsang oleh perhatian intuitif yang diberikan Sean.

Sesuatu yang sama sekali tidak ia dapatkan dari Randy beberapa menit yang lalu di kamar atas.

Sean mengamati bagaimana dada Dhita naik turun dengan cepat, serta bagaimana jemari wanita muda itu mencengkeram kain kimono dengan ketakutan yang ganjil.

Satu alis Sean terangkat pelan. Bibirnya membentuk garis tipis yang sukar diartikan.

"Kau sedang melihat apa, Dhita?” tanya Sean dengan pelan.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
9 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status