LOGIN"Buruan, Mas! Udah nyeri banget ini!" desak Vina yang terlihat begitu binal di depan suaminya. Aland masih ragu, jika ia teruskan maka ia tidak akan bisa mengendalikan dirinya. Karena sang istri belum mengatakan bahwa wanita itu sudah siap. "Tapi sayang, nanti kalau aku... Emmmpppttt!" Vina tak membiarkan suaminya bicara lagi. Wanita itu justru memasukkan pucuk buah melonnya itu tepat di dalam mulut suaminya. Hap! Aland dibuat kelojotan. Bagaimana bisa ia menolaknya. Susunan segar dari sumbernya. Namun, pria itu sadar jika ASI itu sangat dibutuhkan oleh sang anak sehingga ia tidak mengisapnya terlalu kuat. Ia hanya membantu mengurangi rasa nyeri itu agar istrinya tidak mengeluh kesakitan. "Ah! Mas..." Seperti sengatan listrik yang tiba-tiba menjalar, mengalir di setiap pembuluh darah. Membuat gelora asmara itu semakin berkobar. Rasa nyeri itu perlahan mulai menghilang. Aland pintar sekali membuat istrinya merasa nyaman, karena bagaimanapun juga kehangatan dan perhatian
Aland menoleh ke samping sambil memegangi tangan istrinya. "Kenapa belum tidur? Sudah larut malam, kamu harus istirahat supaya air susumu tetap deras," tanya pria itu pada istrinya, ia tahu jika sang istri masih menyusui putri mereka, baby Raisya. Vina justru menyandarkan kepalanya pada punggung sang suami. "Aku nggak bisa tidur," jawab wanita itu. Aland membalikkan badannya dan menatap wajah sang istri yang terlihat berbeda di malam itu. Vina terlihat lebih cantik dengan tubuh sintalnya berbalut kain satin warna putih tipis yang mengkilat dan berenda. Dadanya terlihat penuh dan berisi lantaran Vina masih menjadi ibu menyusui. Rambutnya digerai bebas, semakin membuat penampilan Vina begitu cantik. Kulitnya yang terang menggoda Aland untuk mengusap wajah Vina. "Apa yang membuatmu tidak bisa tidur?" tanya Aland. "Nggak tahu. Mungkin karena kamu nggak nemenin aku tidur, makanya aku nggak bisa tidur!" jawab wanita itu sambil memainkan jari tangannya pada dada Aland yang berbulu. Keg
Akhirnya Nyonya Ratna tahu bahwa semua ini hanya rencana sang keponakan saja. Putranya masih hidup dan sehat bugar. Disaat nyonya Ratna puas memeluk putranya. Wanita itu menghampiri Aland yang sedang berdiri di samping Vina. "Waduh! Tante ke sini lagi. Bisa gawat ini!" gerutu pria itu tampak berbisik pada istrinya. "Siap-siap kamu diomelin!" Vina justru menakut-nakuti suaminya. "Tega kamu, sayang! Bantuin suamimu dong!" balas Aland sambil terus berdiri di belakang dan memegangi pundak istrinya. "Ogah! Tanggung jawab kamu, Mas! Udah bikin Tante nganggap Erick itu roh gentayangan, gila kamu!" "Shit! Tapi seru, kan? Berasa lihat film komedi horor Suzana," balas Aland yang kali ini mulai muncul sifat gokilnya. Vina semakin dibuat pusing dengan perkataan suaminya yang tidak pernah serius. Nyonya Ratna semakin mendekat. Hingga akhirnya wanita itu berdiri di depan Vina dimana di belakang wanita itu ada Aland yang sedang bersembunyi. "Jadi, kamu udah berani bohongi Tante, iya?" Suara
Nyonya Ratna merasakan betul tangan putranya yang hangat. Tidak mungkin, bukankah katanya ia sudah mati? Tapi kenapa Nyonya Ratna merasa bahwa Erick masih hidup. "Erick!" Suara Nyonya gemetaran. Antara ragu dan yakin jika Erick masih hidup karena napas pria itu terasa sangat hangat. Seketika Erick memeluk ibunya yang masih bergeming. Ia bingung harus memeluk atau diam saja. Tapi, wanita itu sangat merasakan bahwa Erick seperti masih hidup. Dari kejauhan, Nyonya Rose dan Vina ikut terharu. Kedua wanita itu merasakan betapa sedihnya menjadi Nyonya Ratna. Namun karena prank yang dilakukan oleh Aland, nyonya Ratna masih belum yakin akan putranya yang masih hidup. Hal itu membuat Nyonya Rose mendekat dan meyakinkan Nyonya Ratna bahwa Erick memang masih hidup. Nyonya Rose dan Vina berjalan mendekati mereka. Sampai akhirnya Nyonya Rose berkata kepada Nyonya Ratna untuk percaya bahwa Erick sudah ada di pelukannya. "Ratna, sekarang Erick anakmu sudah ada dalam pelukanmu, tapi kenapa kamu
Aland cuma santai mendengar kata nyonya Ratna. "Beda alam? Siapa yang beda alam? Dia?" sahut Aland seraya menunjuk wajah Erick. Nyonya Ratna menganggukkan kepalanya. "Beda alam maksud Tante apa? Amfibi gitu? Dia kodok aku kadal?" lanjut Aland yang suka sekali mengerjai sang Tante. Sedangkan Vina yang sedang menyaksikan dari tempat lain semakin pening dan ingin sekali mencubit suaminya sendiri. "Astaga! Suamiku belum hilang juga absurd-nya!" gerutu wanita itu tampak dari kejauhan, ia berdiri bersama lainnya, termasuk Nyonya Rose. Nyonya Rose yang ikut menyaksikan itu, tentunya wanita itu terkejut dengan ucapan Aland. Dirinya baru sadar jika pria itu ternyata pandai sekali bercanda. "Tuan Aland lucu juga ya, Vin! Aku pikir dia selalu serius dan kejam. Ternyata dia ada benih-benih jadi pelawak!" bisik Nyonya Rose sambil tertawa kecil. "Begitulah, Tan. Jangan kaget melihatnya begitu. Suamiku emang agak-agak gila jika dia bersama orang-orang yang disayanginya. Tapi dia akan berubah m
Aland masih berdiri di sana. Kedua tangannya masuk ke saku celananya. Memperhatikan wajah Erick dengan teliti. "Kalau dilihat-lihat, wajahnya memang ada kemiripan dengan wajah Tante!" gumam Aland. "Hmmmm... Kalau bukan karena Tante Ratna. Mungkin aku tidak peduli dengan nyawamu. Sekarang pergilah, temui ibumu!" seru Aland. Erick terkejut, pria itu memperhatikan sekeliling. Ia hanya melihat deretan makam yang berjejer. "Ibu?" Erick bingung. "Di sana! Mamamu sedang mendoakanmu agar masuk surga," kata Aland sambil menunjuk ke arah Nyonya Ratna yang sedang berjongkok pada sebuah pusara yang dikiranya adalah kuburan sang anak. "Apa! Mendoakanku masuk surga?" sahut Erick makin bingung. "Yah, Tante Ratna mengira kamu sudah mati di tanganku. Lebih tepatnya dia mendoakanmu agar diampuni segala dosa-dosamu!" lanjut Aland lagi. "Hah! Jadi Mama menganggapku sudah mati?" Aland mengangguk. Erick menoleh ke arah Nyonya Ratna yang sedang berjongkok pada sebuah pusara entah itu punya siapa. "







