LOGINHidup Sugiono berubah sejak menemukan cincin akik misterius. Janda-janda desa mulai berdatangan meminta pertolongan. Saat namanya semakin terkenal, uang dan wanita terus mengelilinginya. Namun di balik keberuntungannya, para pemilik kekuatan gelap mulai memburu pusaka yang ada di jarinya.
View MoreSugiono mengusap peluh di dahinya. Pria paruh baya berusia awal empat puluhan hanya bisa menghela napas panjang menatap jalanan desa yang sepi. Pekerjaannya sebagai tukang pijat keliling sedang surut. Alih-alih dipanggil mengobati, dia lebih sering menjadi bahan tertawaan warga.
Sugiono kerap dianggap tukang pijat gadungan yang ilmunya tidak becus. Padahal, dia sudah belajar sungguh-sungguh soal titik saraf. Hanya saja, tenaganya memang dirasa kurang maksimal.
Karena tidak ada pemasukan sepeser pun, Sugiono terpaksa pergi ke ladang pinggir hutan siang harinya. Ia mengayunkan cangkul di bawah terik matahari, berniat menanam singkong sekadar menyambung hidup.
Trang...!
Mata cangkul Sugiono membentur benda keras di dalam tanah. Dia berhenti, berjongkok, lalu menyingkirkan gumpalan tanah basah dengan tangan kosong. Sebuah kotak kayu kecil seukuran kepalan tangan terlihat menyembul.
Sugiono perlahan membuka penutup kayunya. Sebuah cincin akik hitam tergeletak rapi di dalam, memancarkan kilau.
"Luar biasa... dengan tenaga murni sedahsyat ini, tidak akan ada lagi orang berani meremehkanku. Mulai sekarang, aku akan buktikan siapa ahli pengobatan sejati!" batin Sugiono bersorak kegirangan.
Seketika, rasa panas menyengat menjalar dari jari telunjuknya. Sugiono tersentak mundur sambil memegangi dadanya. Aliran energi tak kasatmata melesat masuk menembus pori-pori, mengalir deras ke seluruh pembuluh darahnya. Tulang-tulangnya bergemeretak pelan. Rasa pegal dan linu akibat mencangkul seketika lenyap tak berbekas.
Sugiono menatap kedua tangannya dengan tatapan takjub. Ada hawa hangat berpusat di telapak tangannya. Otot-otot lengannya yang tadinya kendur kini terasa jauh lebih kencang dan bertenaga. Pandangannya menjadi sangat tajam. Dia merasa seperti terlahir kembali menjadi pria bugar.
Baru saja Sugiono meresapi kekuatan barunya, terdengar suara langkah kaki terburu-buru. Ranto, adik kandungnya, datang dengan wajah panik meminta tolong agar Sugiono memijat Gendis, istrinya, yang sudah berbulan-bulan sakit urat pinggul. Inilah saat yang tepat bagi Sugiono menguji kemampuan barunya.
Suara rintihan terdengar dari dalam gubuk bambu pinggir desa. Gendis berbaring tengkurap di atas tikar. Badannya kaku. Ia tak lagi bisa melayani suaminya di ranjang.
Setiap kali pusaka suaminya mencoba mendekat, ia selalu menjerit kesakitan. Jalan satu-satunya hanya mendatangi Sugiono, kakak iparnya sendiri.
"Sabar, Nduk. Tahan sebentar," ucap Sugiono. Tangan kekarnya menggosokkan minyak zaitun ke pinggul Gendis. "Aliran darahmu kurang lancar, Nduk. Pasti terasa sakit."
"Nduk, apa bisa kamu lepaskan rokmu? Pakde jadi susah memijat jalur urat ke bawah," pinta Sugiono.
Gendis terkejut. "Tapi, Pakde... apa tidak bisa begini saja?"
"Akan sulit diurut kalau terhalang kain tebal," jelas Sugiono. "Tenang saja, Pakde tidak akan macam-macam. Kamu kan adik iparku sendiri. Kasihan Masmu kalau harus berpuasa berbulan-bulan."
Mendengar nama suaminya disebut, pertahanan Gendis runtuh. Perlahan, ia mengangkat pinggulnya sedikit lalu menurunkan roknya. Kini hanya tersisa dalaman berwarna merah terang.
Sugiono mulai memusatkan tenaga dalam ke ujung jarinya. Hawa hangat menjalar dari telapak tangannya langsung menembus pori-pori kulit Gendis. Jempol tangannya tak sengaja menyentuh bagian tengah sensitif milik Gendis.
"Ughhh..." Tubuh Gendis tersentak. Sensasi ngilu seketika bercampur dengan rasa nikmat asing. Napasnya mulai memburu kencang.
"Maaf, Nduk. Jalur urat utamanya memang berpusat di sekitar sini," kata Sugiono meyakinkan. Tiba-tiba, cincin akik hitam di jari Sugiono mendadak memanas.
Matanya mulai bersinar terang. Hawa panas mengalir deras dari telapak tangannya, menghancurkan gumpalan darah kotor penyumbat urat pinggul Gendis.
"Ahh, Pakde! Uhh, Pakdehh..." Tubuh Gendis menggeliat hebat di atas tikar.
Tangannya meremas lengan Sugiono sangat kuat. Kukunya sampai memutih menahan desiran panas.
"Tahan, Nduk! Tinggal buang sisa kotorannya!" Sugiono menekan satu titik saraf terakhir tepat di bawah pusar.
"Akhhhh!" Gendis memekik keras. Tubuhnya melengkung ke atas selama beberapa detik sebelum akhirnya ambruk lemas tak bertenaga. Napasnya terengah-engah memburu pasokan udara. Keringat membasahi seluruh leher dan dadanya.
Sugiono buru-buru menarik tangannya menjauh. "Sudah tuntas, Nduk," ucapnya sambil mengelap keringat di dahi.
Gendis tersipu malu, perlahan mengubah posisinya menjadi duduk. "Pakde, aku merasa agak ringan. Cuma nanti aku tidak tahu kalau Mas Ranto mengetes, apa kembali sakit atau tidak..."
Sugiono tertawa pelan. Matanya melirik bagian depan tubuh Gendis sekilas. "Oh iya, Nduk... bagaimana dengan dadamu? Apa bermasalah juga? Pakde hanya tak mau kalau Masmu berpindah ke lain hati kalau asetmu kurang kencang."
Wajah Gendis seketika memerah matang. Ia menunduk menatap dadanya sendiri. "Pakde bisa menyembuhkannya juga?"
Gendis sebenarnya masih agak ragu. Namun setelah merasakan pinggulnya benar-benar sembuh, rasa jijik di hatinya perlahan terkikis. Apalagi teringat testimoni sahabatnya—semenjak berobat ke Sugiono, suaminya jadi lebih ganas dan ia lebih kuat melayani di ranjang sampai pagi.
"Tapi...." Gendis makin tersipu malu, suaranya mengecil. "Bagian tengah dadaku biasanya memang suka nyeri Kalau sedang datang bulan, Pakde."
Siluman ular sanca mendesis keras.Mulutnya terbuka lebar memamerkan taring melengkung meneteskan bisa hitam. Racun gaib menetes mengenai meja kayu reyot Sugiono, langsung membakar papan hingga bolong berlubang mengeluarkan asap berbau busuk.Ular gaib melesat secepat kilat menargetkan leher Sugiono. Gerakannya sangat cepat menyambar.Namun, insting Sugiono jauh lebih gesit. Tenaga dalam pusakanya membuat tubuh renta seolah kembali berusia dua puluh tahun. Ia menghindar ke samping, membiarkan taring siluman menancap kosong memakan angin. Tangan kanan Sugiono menyambar ke depan bagai kilat, mencengkeram kuat leher bawah kepala siluman ular."Cuma siluman kelas teri!" bentak Sugiono.Siluman ular meronta ganas. Ekor panjangnya melilit membelit pinggang dan kaki Sugiono, berusaha meremukkan tulang rusuk sang dukun. Hawa dingin mematikan menyusup berusaha membekukan aliran darah Sugiono.Sugiono tertawa meremehkan. Cincin akik di jari manisnya menyala terang benderang. Dia memusatkan selu
Setiap kali ibu jari Sugiono menekan saraf dada bagian samping, tubuh Bu Tejo menegang melengkung ke atas. Keringat bercucuran membasahi wajah dan lehernya. Puncak dadanya menegang jelas di balik balutan kain tipis penutup tersisa. Sugiono menyalurkan tenaga dalam jauh lebih besar, berniat menghancurkan gumpalan hitam gaib di ulu hati sampai tuntas lebur tak bersisa sedetik pun.Tiba-tiba, Bu Tejo menjerit tertahan melengking nyaring. Mulutnya terbuka lebar mencari pasokan oksigen. Sejumput asap hitam pekat berbau anyir busuk keluar melesat dari rongga mulutnya, melayang ke udara sesaat lalu lenyap tertiup angin malam memasuki celah dinding bambu gubuk."Uhhh... Pakdehh..." Bu Tejo lemas tak berdaya. Tubuhnya ambruk sepenuhnya rata mencium anyaman tikar. Tarikan napasnya seketika terasa sangat ringan.Sugiono menarik tangannya santai, menyeka keringat di dahi menggunakan secarik kain lap usang. "Sudah bersih total. Santet penutup jalan napasmu sudah hancur lebur kembali ke pengirim as
Siang bolong matahari lumayan terik. Sugiono kebetulan sedang duduk santai di lincak depan gubuknya. Dia asyik merokok sambil mengipasi badannya menggunakan pelepah pisang. Mendengar suara motor berhenti, Sugiono menoleh.Bu Tejo turun dari motor. Napasnya terdengar agak ngos-ngosan. Dasternya basah keringat di bagian punggung dan leher."Siang-siang begini tumben mampir ke gubuk saya, Bu Tejo. Ada perlu apa?" sapa Sugiono santai."Pakde, tolong urut dada saya," ucap Bu Tejo blak-blakan. Dia membuka ritsleting tas selempangnya, memperlihatkan beberapa lembar uang merah. "Dada saya sesak minta ampun, Pakde. Udah ke dokter tapi dibilang nggak ada penyakit. Tolong sembuhkan saya."Sugiono melirik uang di dalam tas sekilas, lalu pandangannya turun ke arah dada Bu Tejo yang naik-turun dengan cepat. Tiba-tiba, cincin akik hitam di jari telunjuk Sugiono terasa hangat. Ada denyutan energi asing merespons dari arah tubuh Bu Tejo.Insting Sugiono langsung menangkap ada yang tidak beres. Ini buk
Sugiono menatap Gendis yang masih duduk dengan wajah memerah. "Tidak perlu malu, Nduk. Pakde sudah biasa mengobati wanita penderita penyakit bagian dadanya. Jalur darah tersumbat memang selalu bikin nyeri dan ngilu."Gendis menggigit bibir bawahnya. "Tapi.... Bagian tengah dadaku biasanya memang suka nyeri kalau sedang datang bulan, Pakde. Kadang bengkak kemerahan terus terasa sakit."Sugiono kembali duduk mendekat. "Sekarang buka bajumu. Pakde mau memijatnya sekalian biar peredaran darah lancar."Ia membuka tutup botol minyak zaitun di samping kakinya, mulai mengusap cairan licin ke kedua telapak tangannya sendiri. Bunyi gesekan telapak tangan terdengar jelas memecah kesunyian gubuk bambu."Tapi, Pakde... apa tidak bisa hanya memakai baju saja? Aku masih malu," keluh Gendis ragu-ragu. Tangannya memegangi ujung bawah kaos putihnya erat-erat."Pakde tidak ada waktu buat berpikiran mesum," balas Sugiono tegas. "Kain menghalangi transfer hawa murni dari tenaga pengobatan Pakde. Kalau mau
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.