LOGINRamli mulai menuangkan sabun peeling itu pada punggung sang majikan. Kemudian dengan gerakan tangan yang mantap, Ramli menggosok punggung Vina dari arah atas ke bawah. Vina memejamkan matanya, uap aromaterapi bercampur sentuhan tangan Ramli adalah sebuah kebahagiaan tersendiri. Ramli sendiri sedang menikmati punggung mulus sang majikan, satu tangannya sedang menggosok punggung namun tangan lainnya sedang berkelana mendaki gunung kembar Vina. Bisa dibayangkan bagaimana intim nya posisi mereka yang begitu dekat bahkan tanpa jarak. Vina sendiri tak mau berdiam diri, wanita itu menoleh ke arah Ramli dan tanpa aba-aba keduanya saling menyambar bibir masing-masing. Cecapan demi cecapan terdengar sangat erotis. Akhirnya Vina berbalik badan untuk mendapatkan sentuhan yang lebih dalam. Kini, keduanya dalam posisi saling berhadapan dan ciuman itu masih terpaut satu sama lainnya. Di saat asmara itu kian melanda. Di luar, seorang pria datang bertamu dan mengaku sebagai tukang ledeng yang diki
Sementara di tempat lain, Ramli masih bersama sang majikan. Tangannya masih memijit lembut pundak Vina perlahan turun ke bagian dada atas. Entah siapa yang mengomando, tiba-tiba tangan Ramli memijit sampai di dada bawah, ke bawah, dan semakin ke bawah. Bukannya melarang, Vina justru menikmatinya dan memberikan ruang banyak untuk pria itu. Sengaja Vina membusungkan dadanya dan membiarkan Ramli menyentuhnya bebas. "Ramli, aku suka sekali pijatanmu di sini. Jangan berhenti!" desah Vina sambil memegang kedua lengan kekar sang pelayan. Sementara tangan Ramli sangat terampil memijit dua gunung kembar itu secara presisi. Sedangkan ibu jari dan telunjuknya bertemu menekan ujung buah ceri yang mengkal dan mengeras itu. "Emmmm... Ssshhhh!" Sungguh, Ramli sangat pintar mencari titik-titik kelemahan sang wanita. Hanya sekali sentuh saja Vina sudah menggeliat tak karuan. Apalagi gerakan tangan pria itu bukan cuma sekedar memencet tombol tengah, tapi juga bergerak memutar seolah sedan
Sementara itu di tempat lain, Tuan Andreas memiliki rencana jahat hadiah untuk Ramli dan kedua anaknya. Setelah ia tahu bahwa Ramli adalah Aland Orlando. Pria itu memiliki ide gila untuk membunuh Aland dan anak-anaknya dengan cara yang bersih dan tentunya terbebas dari jeratan hukum. Datang seorang pria dengan membawa sebuah kotak besar berwarna hitam. Pria itu menghadap ke tuannya untuk menerima perintah yang tentunya akan dibayar mahal. "Selamat malam, Tuan! Saya sudah membawa pesanan Anda!" kata pria itu seraya melepaskan topi hitam yang dikenakannya. Tuan Andreas melihat kotak besar itu. Lalu pria itu duduk sambil memerintahkan untuk membukanya. Pria itu membuka tas besar itu. Setelah tas itu terbuka, pria itu memasukkan satu tangannya ke dalam untuk beberapa saat. Tuan Andreas menyipitkan matanya menunggu sesuatu yang akan dikeluarkan dari dalam tas. Setelah beberapa saat, pria itu mengangkat tangannya dengan seekor ular yang berbahaya dan tentunya berbisa. "Ini adalah king
Vina menunggu Ramli datang sambil memainkan kelopak bunga mawar yang ditabur di atas air mandinya. Cipratan air kecil sesekali mengenai wajahnya yang sudah polos tanpa make-up. Namun tetap saja, wajah wanita itu masih terlihat cantik dengan anak rambutnya yang basah mengenai wajahnya. Dalam beberapa detik, siapa sangka, kehangatan mulai terasa merayap di kedua sisi. Menekannya lembut dan memberikan pijatan yang nyaman di sana. Vina tersenyum sembari merasakan betapa enaknya pijatan itu. Kepalanya bersandar pada bibir bak mandi di mana perut Ramli sedikit menekan kepalanya. Wanita itu benar-benar menikmati setiap pijatan lembut itu, matanya masih terpejam dan tak ingin membukanya. "Apa anak-anak sudah tidur?" Pertanyaan itu tiba-tiba membuat Ramli tersenyum. "Sudah!" "Hmmmm... Dari dulu pijatan kamu sangat enak, Ramli!" puji Vina sambil terus memainkan air di dalam bak mandi itu. Sesekali ia menepuk-nepuk tangannya pada permukaan air sehingga membuat cipratan air yang tak sengaja
"Ngawinin Bu Vina? Kan udah!" jawab Ramli tanpa dosa. Mbok Yem mencubit lengan pria itu ikut gemas dan geregetan. "Hmmm, bukan gitu Ramli... Aduh biyung!" "Aduh, aduh! Sakit Mbok! Malah dicubit, lama-lama dagingku gosong-gosong kena cubit melulu di rumah ini, nggak Bu Vina, Mbok Yem, sukanya nyubit mulu!" protes Ramli sambil mengusap-usap bekas cubitan Mbok Yem. "Habisnya kamu itu lohh! Kalau jawab itu yang bener! Simbok udah serius, tapi kamu jawabnya asal-asalan!" kata wanita itu. Ramli tertawa kecil sambil garuk-garuk kepalanya. "Hehehe, kan Bu Vina belum cerai sama Pak Rangga, masih proses dan kapan saja mereka bisa rujuk! Lagian ya mana setuju itu si Tuan Andreas punya mantu kek ondel-ondel gini. Pasti pada diketawain sama para kolega bisnisnya. Horang kaya kok mantunya cuma pelayan? Ya nggak estetik lah Mbok!" jawab Ramli dengan wajah pasrah dan memelas. "Tapi Bu Vina dan Pak Rangga itu udah niat pisah. Dan Bu Vina udah melayangkan gugatan cerainya, bentar lagi mereka bakal
Vina masih tidak menyangka jika kedua orang tua Ramli dibunuh. Tentu saja wanita itu ikut simpati atas apa yang menimpa sang pelayan. "Ya Tuhan, maaf aku tidak tahu jika kedua orang tuamu...!" "Tidak apa-apa, sudah lupakan saja! Ibu hamil tidak boleh mikir yang sedih-sedih! Nanti anaknya nangisan!" jawab Ramli yang masih bisa bercanda. Meskipun begitu, tidak menampik jika pria itu sangat sedih. Kini, Vina melihat awan mendung di wajah sang pelayan. Sungguh, pria itu seperti menyimpan luka yang dalam atas kematian kedua orang tuanya. "Pasti tidak mudah hidup sendirian tanpa ayah atau ibu. Aku bisa merasakannya, mamaku meninggal saat aku berumur sepuluh tahun. Duniaku jadi gelap dan aku merasa seperti mimpi. Baru tadi pagi aku dan Mama saling bercanda bahkan Mama memberikan harapan besar kelak pasti ada laki-laki baik yang akan membahagiakanku, tapi malam harinya, aku melihat jenazah Mama dikebumikan, Mama tertabrak mobil saat menjemputku ke sekolah!" Kali ini Ramli ikut terse







