LOGINNyonya Ratna merasakan betul tangan putranya yang hangat. Tidak mungkin, bukankah katanya ia sudah mati? Tapi kenapa Nyonya Ratna merasa bahwa Erick masih hidup. "Erick!" Suara Nyonya gemetaran. Antara ragu dan yakin jika Erick masih hidup karena napas pria itu terasa sangat hangat. Seketika Erick memeluk ibunya yang masih bergeming. Ia bingung harus memeluk atau diam saja. Tapi, wanita itu sangat merasakan bahwa Erick seperti masih hidup. Dari kejauhan, Nyonya Rose dan Vina ikut terharu. Kedua wanita itu merasakan betapa sedihnya menjadi Nyonya Ratna. Namun karena prank yang dilakukan oleh Aland, nyonya Ratna masih belum yakin akan putranya yang masih hidup. Hal itu membuat Nyonya Rose mendekat dan meyakinkan Nyonya Ratna bahwa Erick memang masih hidup. Nyonya Rose dan Vina berjalan mendekati mereka. Sampai akhirnya Nyonya Rose berkata kepada Nyonya Ratna untuk percaya bahwa Erick sudah ada di pelukannya. "Ratna, sekarang Erick anakmu sudah ada dalam pelukanmu, tapi kenapa kamu
Aland cuma santai mendengar kata nyonya Ratna. "Beda alam? Siapa yang beda alam? Dia?" sahut Aland seraya menunjuk wajah Erick. Nyonya Ratna menganggukkan kepalanya. "Beda alam maksud Tante apa? Amfibi gitu? Dia kodok aku kadal?" lanjut Aland yang suka sekali mengerjai sang Tante. Sedangkan Vina yang sedang menyaksikan dari tempat lain semakin pening dan ingin sekali mencubit suaminya sendiri. "Astaga! Suamiku belum hilang juga absurd-nya!" gerutu wanita itu tampak dari kejauhan, ia berdiri bersama lainnya, termasuk Nyonya Rose. Nyonya Rose yang ikut menyaksikan itu, tentunya wanita itu terkejut dengan ucapan Aland. Dirinya baru sadar jika pria itu ternyata pandai sekali bercanda. "Tuan Aland lucu juga ya, Vin! Aku pikir dia selalu serius dan kejam. Ternyata dia ada benih-benih jadi pelawak!" bisik Nyonya Rose sambil tertawa kecil. "Begitulah, Tan. Jangan kaget melihatnya begitu. Suamiku emang agak-agak gila jika dia bersama orang-orang yang disayanginya. Tapi dia akan berubah m
Aland masih berdiri di sana. Kedua tangannya masuk ke saku celananya. Memperhatikan wajah Erick dengan teliti. "Kalau dilihat-lihat, wajahnya memang ada kemiripan dengan wajah Tante!" gumam Aland. "Hmmmm... Kalau bukan karena Tante Ratna. Mungkin aku tidak peduli dengan nyawamu. Sekarang pergilah, temui ibumu!" seru Aland. Erick terkejut, pria itu memperhatikan sekeliling. Ia hanya melihat deretan makam yang berjejer. "Ibu?" Erick bingung. "Di sana! Mamamu sedang mendoakanmu agar masuk surga," kata Aland sambil menunjuk ke arah Nyonya Ratna yang sedang berjongkok pada sebuah pusara yang dikiranya adalah kuburan sang anak. "Apa! Mendoakanku masuk surga?" sahut Erick makin bingung. "Yah, Tante Ratna mengira kamu sudah mati di tanganku. Lebih tepatnya dia mendoakanmu agar diampuni segala dosa-dosamu!" lanjut Aland lagi. "Hah! Jadi Mama menganggapku sudah mati?" Aland mengangguk. Erick menoleh ke arah Nyonya Ratna yang sedang berjongkok pada sebuah pusara entah itu punya siapa. "
Aland terkesiap. Wajahnya tegang tapi terlihat sangat lucu. Sedangkan Vina yang ikut duduk di samping nyonya Ratna, ia cuma bisa tertawa kecil mendengar jawaban suaminya. Entahlah, ada saja jawaban pria itu. "Oh, iya. Dia mati karena digelitik sampe tidak berdaya. Ah, Tante tahu sendiri aku ini sangat kejam, bukan. Meskipun cuma digelitik tapi bisa menghilangkan nyawa karena anak Tante itu susah sekali matinya!" jawab Aland dengan sangat percaya diri. Vina yang mendengar itu semakin memijit pelipisnya. Ulah suaminya benar-benar sangat konyol. Nyonya Ratna sendiri bingung, entah dirinya harus senang atau bersedih. Lantaran, alasan Aland sangat gokil dan hampir membuat wanita itu tertawa kecil. Mana ada orang terbunuh hanya karena digelitik. "Memangnya bisa ya mati dengan cara itu, Land?" tanya nyonya Ratna bingung. "Ya ada dong! Buktinya, aku sudah membuat Erick mati karena aku gelitikin. Dia nggak kuat nahan geli pas aku gelitikin keteknya, membuat napasnya sesak dan akhirnya
"Tolong, bisakah kau pertemukan aku dengan Tuan Aland?" mohon Erick pada anak buah Aland yang ada di ruangan itu. "Maaf, kami tidak bisa membiarkan orang lain untuk menemui bos kami tanpa seizin beliau, apalagi kamu!" jawab salah satu dari mereka. "Aku mohon, hanya sekali saja pertemukan aku dengannya. Setelah itu aku berjanji tidak akan mengganggunya lagi!" balas Erick. Saat ini pria itu sudah terlihat sangat sehat. Namun, anak buah Aland masih menjaganya dengan ketat. Di saat yang bersamaan, datang Romi untuk melihat keadaan Erick setelah mendapat donor dari bosnya. "Selamat pagi, Tuan Erick. Senang bisa melihatmu hari ini!" ucap Romi sesaat dirinya masuk ke dalam ruangan itu. "Di mana Tuanmu? Aku ingin bertemu dengannya!" "Bos kami ada di rumah. Ada urusan apa Anda ingin bertemu? Apa Anda ingin mencelakai beliau lagi? Tidak bisa, Anda harus melangkahi kami dulu sebelum menyentuh bos kami!" jawab Romi. Dengan tegas Erick menjawabnya. "Siapa yang ingin mencelakainya? Ak
Aland duduk di samping Nyonya Ratna. Ia meraih tangan perempuan itu. Tak bisa dipungkiri bahwa Aland sangat menyayanginya. Nyonya Ratna adalah mengganti ibunya yang telah tiada. Nyonya Ratna sendiri melihat kedatangan sang keponakan. Wanita itu tersenyum getir namun kedua matanya terlihat mengembun. Aland harus bersikap biasa dan tenang meskipun ia ingin sekali menangis. Ia mencoba untuk menghibur nyonya Ratna agar kondisi wanita itu semakin membaik pasca operasi. "Tante apa kabar? Maaf aku baru datang! Aku lihat Tante nggak mau makan, ya? Jangan dong, Tan!" Aland mengambil makanan yang sudah disiapkan untuk Nyonya Ratna. Lalu, ia menyendok nasi untuk disuapkan ke mulut Nyonya Ratna. "Mamam, ya! Ayo buka mulutnya, a,a!" Aland ikut membuka mulutnya agar Nyonya Ratna mau makan. Seperti seorang ibu yang sedang menyuapi anaknya. Sayangnya, Nyonya Ratna menggelengkan kepala. "Hmmmm, kenapa? Tante nggak suka sama makanannya? Apa Tante mau makan yang lain? Katakan saja nanti aku belik