Share

Bab 2

Auteur: Richy
Seperti anak kucing, dia melengkungkan pinggangnya dan suka dipukul pantatnya. Hatiku sampai berbunga-bunga kegirangan. Pesanan ini benar-benar bagus. Per jam cuma 160 ribu, tetapi aku bisa menyentuh gadis secantik ratu kampus.

Tak lama kemudian, aku kembali duduk di atas sepeda. Jihan mengajariku dengan sabar. Di depan ada jalan menurun, Jihan melepaskan tangan yang menopangku, lalu berkata, "Kamu coba meluncur turun sedikit."

Aku belum bisa. Pegangan tanganku tidak stabil. Sepeda tiba-tiba melaju kencang menuruni jalan. Dengan bunyi keras, selangkanganku menghantam keras bemper sepeda. Benturan itu membuat bagian bawahku nyeri hebat. Adik kecil yang barusan berdiri langsung melemas.

Aku tergeletak di tanah, memegangi bagian bawah sambil meraung kesakitan. Melihat itu, Jihan panik dan segera berlari menghampiri untuk menopangku. "Kamu nggak apa-apa? Kena di mana?"

Wajahku sampai memerah seperti tomat. Aku mengeluh, "Mana mungkin nggak apa-apa. Bagian bawahku sampai rusak. Entah dia masih bisa berdiri atau nggak. Kamu harus tanggung jawab!"

Mendengar itu, Jihan langsung panik. Dia belum pernah menghadapi hal seperti ini. Dia tertegun di tempat dan tidak tahu harus berbuat apa. Melihat kepolosannya, tiba-tiba muncul satu pikiran jahat di benakku.

"Cepat bantu raba, harus tetap sensitif. Kalau darahnya tersumbat di sini, bisa jadi penggumpalan."

Mahasiswi cantik ini tiba-tiba diminta menyentuh kemaluan pria. Wajahnya langsung memerah. "Ini ... ini sepertinya bukan ide bagus. Mana bisa bagian bawah disentuh sembarangan?"

Aku sengaja berpura-pura sangat kesakitan, meringkuk di tanah. "Sudah begini masih mikir yang lain. Kalau sampai nggak bisa berdiri lagi, kamu yang tanggung jawab."

"Hah? Kamu nggak boleh kenapa-napa. Sini, aku bantu raba." Sambil berbicara, dia mengulurkan telapak tangannya yang halus, perlahan meletakkannya di bagian bawahku.

"Tadi masih keras kayak tiang beton, sekarang kok jadi lemas begini," katanya dengan bingung.

Telapak tangannya kecil dan lembut, membuat seluruh tubuhku terasa panas. Namun, benturan barusan memang terlalu sakit. Untuk sementara masih belum bisa berdiri lagi.

"Kamu pakai sedikit tenaga, genggam, lalu gerakkan naik turun. Itu melancarkan darah supaya tetap mengalir."

Sebenarnya, di bawah sentuhannya, aku sudah merasa sedikit lebih baik, tidak sesakit sebelumnya. Perlahan juga mulai muncul rasa, tetapi diraba lewat celana rasanya terlalu samar. Aku ingin lebih ....

Mendengar itu, dia semakin malu. Melalui celana, telapak tangannya yang lembut menggenggamku.

"Kak, begini ya?" katanya sambil menggerakkan naik turun. Namun, terhalang celana tetap terasa kurang.

Aku langsung menurunkan celanaku. Benda itu berdiri tegak di depan matanya seperti cambuk keledai.

Dia malu dan memalingkan wajah, menutup mata dengan tangan. "Kak, kenapa tiba-tiba buka celana? Ini 'kan taman, masih ada orang."

Aku melirik sekeliling. Hari ini orang memang sedikit. Di kejauhan hanya tampak beberapa orang berlalu-lalang. Dari jarak itu sama sekali tidak mungkin melihat apa yang sedang kulakukan.

"Takut apa? Mereka juga nggak bisa lihat. Kamu bantu pegang dengan tangan."

Dia menggigit bibirnya, lalu mengulurkan tangan dengan gemetar. Matanya terpaku menatap benda itu, napasnya menjadi cepat, dadanya naik turun, terlihat sangat menggoda.

Melihatnya seperti itu, sepertinya dia belum pernah melihat kemaluan pria, tetapi di dalam hatinya justru ingin.

"Ini pertama kalinya kamu lihat kemaluan pria ya? Ngapain malu?"

Dia mengangguk malu-malu. Wajah putihnya dipenuhi rona merah. "Ya, ini pertama kali. Ternyata kalian pria benar-benar berbeda dengan wanita. Kelihatannya sangat perkasa."

Tangannya melayang di udara, lama tidak menggenggam. Aku hampir tidak sabar. "Ini untuk mengobatiku. Nggak apa-apa, cepat pegang."

"Kalau ... kalau begitu, aku pegang sebentar saja." Setelah berkata begitu, dia langsung menggenggamnya. Telapak tangannya yang lembut pas membentuk satu lingkaran.
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Kecantikan Pelatih Sepeda yang Centil   Bab 7

    Pelayan itu tersenyum tipis. Dia memberi isyarat dengan tangan, lalu deretan gadis itu pun mundur dengan tenang.Tak lama kemudian, datang lagi satu rombongan gadis lain. Wajah dan tubuh mereka sama-sama kelas atas. Semuanya berdandan dengan menggoda. Aroma parfum langsung menyergap hidung.Aku menyipitkan mata, menyapu pandangan ke sekeliling. Tiba-tiba, aku melihat sosok yang familier di antara kerumunan. Jihan mengenakan gaun pendek merah, riasan tebal, berdiri di barisan paling belakang dengan kepala sedikit tertunduk, senyuman tipis menghiasi wajahnya.Dia seolah-olah sengaja menghindari tatapanku, seakan-akan tidak ingin aku melihatnya.Aku menunjuk ke arahnya. "Aku mau dia."Tubuh Jihan sedikit menegang, lalu dia bertanya dengan panik, "Hari ini perutku agak sakit. Bisa izin dulu nggak?"Pelayan itu meliriknya dengan kesal. "Nggak bisa. Sakit perut juga ditahan. Tamu sudah pilih kamu. Kenapa dari tadi nggak izin?"Jihan tidak punya pilihan lain. Dia hanya bisa berjalan mendekat

  • Kecantikan Pelatih Sepeda yang Centil   Bab 6

    Aku berbalik dan berlari keluar dari gedung perusahaan. Rencana sudah tersusun rapi di kepalaku.Beberapa hari berturut-turut, aku menahan diri, sama sekali tidak menghubungi Jihan. Sampai akhirnya tiba akhir pekan berikutnya, Jihan datang sesuai janji untuk mengajariku latihan sepeda.Melihat dia berpakaian begitu seksi, aku jadi ingin tahu apa bedanya penampilannya saat mengenakan baju bersepeda dengan saat berada di KTV bisnis. Uang yang didapat dari KTV bisnis jelas jauh lebih besar dibanding mengajar sepeda. Lalu, kenapa dia masih memilih mengajar sepeda di akhir pekan?Aku merasa pasti ada sesuatu yang tidak beres di balik ini, jadi aku mencoba mengujinya dengan tenang. "Kamu sudah datang? Cara ngajarmu lumayan. Rasanya aku sudah hampir bisa."Dia menyipitkan mata sambil tersenyum. "Ah, nggak juga. Itu karena kamu sendiri yang cepat paham, jadi cepat bisa."Aku bertanya lagi, "Ngajar sepeda paling cuma dapat ratusan ribu per jam. Seminggu juga cuma dua jam. Kamu nggak kepikiran c

  • Kecantikan Pelatih Sepeda yang Centil   Bab 5

    Aku senang setengah mati. Aku pun menjadi semakin bersemangat berlatih sepeda. Tak lama kemudian, aku perlahan bisa belajar cara mengayuh sepeda.Seharian berlalu dengan cepat. Jihan harus pulang lagi. Kali ini, aku menarik tangannya dan mengajaknya makan."Jihan, besok 'kan akhir pekan. Aku sudah pesan restoran rumahan yang terkenal di pinggiran kota itu. Katanya suasananya bagus sekali. Kita ... pergi coba bersama?"Aku mengatakannya dengan penuh harap.Dia memiringkan kepala, bulu matanya bergetar ringan. "Kak, kamu baik banget. Tapi ... besok sepertinya aku sudah ada janji."Hatiku langsung terasa seperti terjatuh ke jurang yang dalam. Melihat wajahku yang kecewa, dia meneruskan, "Tapi kalau orang itu batal, aku telepon kamu ya? Tunggu kabarku."Kalimat singkat itu seketika menyalakan kembali api yang hampir padam di hatiku. Aku mengangguk seperti orang bodoh, menunggu telepon "keajaiban" itu dengan penuh suka cita.Namun, takdir justru mempermainkanku dengan kejam. Hari itu, aku t

  • Kecantikan Pelatih Sepeda yang Centil   Bab 4

    Dia memejamkan matanya dengan malu. Saat aku hendak mengerahkan tenaga, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari belakang.Aku menoleh dengan cepat, baru menyadari ada sepasang kakek nenek yang sedang berjalan-jalan di taman, menuju ke arah kami.Aku takut ketahuan, buru-buru menarik celanaku ke atas. Jihan juga segera mengenakan celananya, duduk di atas sepeda dengan wajah memerah.Kakek nenek itu lewat di samping kami, menatap kami dengan rasa ingin tahu. "Lagi bersepeda ya?"Aku mengangguk, menatap mereka dengan tatapan sedikit mengeluh. "Ya, ini pelatihku. Kami lagi belajar."Mata si kakek langsung melotot. "Pelatihnya masih muda dan cantik begini ya. Kamu harus belajar yang serius."Nenek di sampingnya menepuk si kakek. "Kamu ini, sudah tua masih saja melototi gadis kecil. Malu tahu!"Si kakek terkekeh, lalu berjalan melewati kami.Hatiku penuh omelan. Begitu mereka pergi, aku sudah tak sabar ingin kembali melepas celana Jihan. Namun saat itu, semangatnya seolah-olah sudah leny

  • Kecantikan Pelatih Sepeda yang Centil   Bab 3

    Seketika, aku merasa bagian bawahku panas, seperti ada aliran listrik yang menyetrum seluruh tubuh. Bulu kudukku bahkan berdiri semua saking nyamannya."Ah, kok ini panas sekali?" Di wajah Jihan terlintas sedikit kegembiraan. Dia berjongkok di tanah. Tangannya mulai bergerak naik turun.Saat dia berjongkok, celana bersepedanya semakin membentuk lekukannya. Bagian cekung itu kini terlihat semakin jelas.Harus diakui, tangan gadis ini benar-benar lembut. Rasa kesemutan yang nikmat membuatku merasa tulang-tulangku hampir meleleh. Mulutku setengah terbuka, napasku mulai terengah-engah.Mendengar suaraku, Jihan tiba-tiba tersadar. "Kak, enak ya? Apa aku seperti lagi bantuin kamu masturbasi?"Aku tersentak sebentar, lalu segera menjelaskan, "Memang gerakannya mirip, tapi tujuan utamanya buat melancarkan darah. Kalau darahnya tersumbat di dalam bisa buat jaringan mati."Jihan mengangguk ringan, lalu tangannya bergerak makin cepat. Astaga, dia benar-benar seperti penggoda alami. Rasanya enak s

  • Kecantikan Pelatih Sepeda yang Centil   Bab 2

    Seperti anak kucing, dia melengkungkan pinggangnya dan suka dipukul pantatnya. Hatiku sampai berbunga-bunga kegirangan. Pesanan ini benar-benar bagus. Per jam cuma 160 ribu, tetapi aku bisa menyentuh gadis secantik ratu kampus.Tak lama kemudian, aku kembali duduk di atas sepeda. Jihan mengajariku dengan sabar. Di depan ada jalan menurun, Jihan melepaskan tangan yang menopangku, lalu berkata, "Kamu coba meluncur turun sedikit."Aku belum bisa. Pegangan tanganku tidak stabil. Sepeda tiba-tiba melaju kencang menuruni jalan. Dengan bunyi keras, selangkanganku menghantam keras bemper sepeda. Benturan itu membuat bagian bawahku nyeri hebat. Adik kecil yang barusan berdiri langsung melemas.Aku tergeletak di tanah, memegangi bagian bawah sambil meraung kesakitan. Melihat itu, Jihan panik dan segera berlari menghampiri untuk menopangku. "Kamu nggak apa-apa? Kena di mana?"Wajahku sampai memerah seperti tomat. Aku mengeluh, "Mana mungkin nggak apa-apa. Bagian bawahku sampai rusak. Entah dia ma

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status