Share

Bab 3

Author: Richy
Seketika, aku merasa bagian bawahku panas, seperti ada aliran listrik yang menyetrum seluruh tubuh. Bulu kudukku bahkan berdiri semua saking nyamannya.

"Ah, kok ini panas sekali?" Di wajah Jihan terlintas sedikit kegembiraan. Dia berjongkok di tanah. Tangannya mulai bergerak naik turun.

Saat dia berjongkok, celana bersepedanya semakin membentuk lekukannya. Bagian cekung itu kini terlihat semakin jelas.

Harus diakui, tangan gadis ini benar-benar lembut. Rasa kesemutan yang nikmat membuatku merasa tulang-tulangku hampir meleleh. Mulutku setengah terbuka, napasku mulai terengah-engah.

Mendengar suaraku, Jihan tiba-tiba tersadar. "Kak, enak ya? Apa aku seperti lagi bantuin kamu masturbasi?"

Aku tersentak sebentar, lalu segera menjelaskan, "Memang gerakannya mirip, tapi tujuan utamanya buat melancarkan darah. Kalau darahnya tersumbat di dalam bisa buat jaringan mati."

Jihan mengangguk ringan, lalu tangannya bergerak makin cepat. Astaga, dia benar-benar seperti penggoda alami. Rasanya enak sekali.

Aku berbaring di tanah, seluruh tulang punggungku terasa seperti dialiri listrik. Kesemutan dari ujung ke ujung, semua sel di tubuhku meledak dengan rasa nyaman. Rasa sakit tadi lenyap tak bersisa. Aku sepenuhnya tenggelam dalam belaian itu dan benda itu pun semakin besar.

"Kak, kayaknya makin panas deh. Lebih keras dari tiang beton tadi." Dia menatap pemandangan itu dengan kaget. Wajahnya mendekat penuh rasa ingin tahu. Tanpa sadar mulutnya sedikit terbuka, memperlihatkan lidahnya yang merah muda.

Aku merasa seluruh tubuhku hampir meledak. Dengan tangan saja rasanya tidak cukup. Aku ingin dia pakai mulutnya.

"Ini tandanya benar. Darahnya sudah kamu lancarkan, makanya makin bengkak. Kamu harus pakai mulut buat bantu sedot keluar."

Begitu kata-kata itu keluar, wajah Jihan langsung dipenuhi keterkejutan, tetapi juga terselip sedikit kegembiraan. Dia memalingkan wajah, berkata dengan manja, "Aku nggak mau pakai mulut. Nggak ada cara lain ya?"

"Kita nggak punya alat, cuma bisa pakai mulut. Kalau telat sedikit saja, aku bisa rusak. Itu tanggung jawabmu nanti." Aku mengarang alasan dengan sabar. Tubuhku sudah hampir tak tahan.

Barulah dia dengan enggan menunduk, mengikat rambutnya. "Ya sudah, aku bantu. Tapi kalau kamu kenapa-napa, jangan salahkan aku."

Aku mengangguk, menatap bibir mungilnya yang seperti ceri perlahan mendekat ....

Sekejap, aku merasakan sensasi terbungkus yang kuat. Rongga mulutnya yang hangat sepenuhnya membungkusku. Ini jauh lebih nikmat berkali-kali lipat dibandingkan tangan.

Seluruh sel di tubuhku meledak di saat itu. Tubuhku tak kuasa menahan getaran. Telapak tanganku mencengkeram tanah dengan nikmat, jari-jari kakiku ikut menegang, berusaha menahan rasa gatal yang menusuk hingga ke tulang.

Tubuhnya pun ikut memanas hebat. Seluruh dirinya tenggelam sepenuhnya dalam gerakan itu. "Mm .... Kak ... enak ... enak banget. Aku merasa geli sekali, jadi mau juga ...."

Dia tiba-tiba mengangkat kepala menatapku. Tatapannya penuh hasrat. Hatiku bergejolak hebat. Tak kusangka, hanya belajar bersepeda bisa membawaku pada keberuntungan seperti ini.

"Mau? Kalau mau, duduk di atas."

Dia melepas celana bersepedanya dengan tidak sabar. Rahasia seorang gadis sepenuhnya tersingkap di depan mataku, tampak begitu merah muda. Rambutnya jarang, dengan tetesan air menggantung di atasnya.

Aku tak bisa menahan diri lagi. Aku langsung menariknya duduk dan memeluknya. Tubuhnya harum dan lembut. Pinggangnya yang ramping bisa kugenggam dengan satu tangan.

Aku menegakkan sepeda, dia perlahan duduk di sadel. Kedua kakinya menyentuh tanah ringan. Aku tiba-tiba membuka kedua pahanya. Dia tak kuasa menahan erangan kecil.

"Kak, kamu sudah pulih sepenuhnya?"

"Bukan cuma pulih, malah lebih kuat dari sebelumnya. Sekarang aku bakal bikin kamu merasakan kehebatan laki-laki sejati."

Setelah berkata begitu, aku menekukkan pinggangku, lalu mengentak dengan keras ....
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kecantikan Pelatih Sepeda yang Centil   Bab 7

    Pelayan itu tersenyum tipis. Dia memberi isyarat dengan tangan, lalu deretan gadis itu pun mundur dengan tenang.Tak lama kemudian, datang lagi satu rombongan gadis lain. Wajah dan tubuh mereka sama-sama kelas atas. Semuanya berdandan dengan menggoda. Aroma parfum langsung menyergap hidung.Aku menyipitkan mata, menyapu pandangan ke sekeliling. Tiba-tiba, aku melihat sosok yang familier di antara kerumunan. Jihan mengenakan gaun pendek merah, riasan tebal, berdiri di barisan paling belakang dengan kepala sedikit tertunduk, senyuman tipis menghiasi wajahnya.Dia seolah-olah sengaja menghindari tatapanku, seakan-akan tidak ingin aku melihatnya.Aku menunjuk ke arahnya. "Aku mau dia."Tubuh Jihan sedikit menegang, lalu dia bertanya dengan panik, "Hari ini perutku agak sakit. Bisa izin dulu nggak?"Pelayan itu meliriknya dengan kesal. "Nggak bisa. Sakit perut juga ditahan. Tamu sudah pilih kamu. Kenapa dari tadi nggak izin?"Jihan tidak punya pilihan lain. Dia hanya bisa berjalan mendekat

  • Kecantikan Pelatih Sepeda yang Centil   Bab 6

    Aku berbalik dan berlari keluar dari gedung perusahaan. Rencana sudah tersusun rapi di kepalaku.Beberapa hari berturut-turut, aku menahan diri, sama sekali tidak menghubungi Jihan. Sampai akhirnya tiba akhir pekan berikutnya, Jihan datang sesuai janji untuk mengajariku latihan sepeda.Melihat dia berpakaian begitu seksi, aku jadi ingin tahu apa bedanya penampilannya saat mengenakan baju bersepeda dengan saat berada di KTV bisnis. Uang yang didapat dari KTV bisnis jelas jauh lebih besar dibanding mengajar sepeda. Lalu, kenapa dia masih memilih mengajar sepeda di akhir pekan?Aku merasa pasti ada sesuatu yang tidak beres di balik ini, jadi aku mencoba mengujinya dengan tenang. "Kamu sudah datang? Cara ngajarmu lumayan. Rasanya aku sudah hampir bisa."Dia menyipitkan mata sambil tersenyum. "Ah, nggak juga. Itu karena kamu sendiri yang cepat paham, jadi cepat bisa."Aku bertanya lagi, "Ngajar sepeda paling cuma dapat ratusan ribu per jam. Seminggu juga cuma dua jam. Kamu nggak kepikiran c

  • Kecantikan Pelatih Sepeda yang Centil   Bab 5

    Aku senang setengah mati. Aku pun menjadi semakin bersemangat berlatih sepeda. Tak lama kemudian, aku perlahan bisa belajar cara mengayuh sepeda.Seharian berlalu dengan cepat. Jihan harus pulang lagi. Kali ini, aku menarik tangannya dan mengajaknya makan."Jihan, besok 'kan akhir pekan. Aku sudah pesan restoran rumahan yang terkenal di pinggiran kota itu. Katanya suasananya bagus sekali. Kita ... pergi coba bersama?"Aku mengatakannya dengan penuh harap.Dia memiringkan kepala, bulu matanya bergetar ringan. "Kak, kamu baik banget. Tapi ... besok sepertinya aku sudah ada janji."Hatiku langsung terasa seperti terjatuh ke jurang yang dalam. Melihat wajahku yang kecewa, dia meneruskan, "Tapi kalau orang itu batal, aku telepon kamu ya? Tunggu kabarku."Kalimat singkat itu seketika menyalakan kembali api yang hampir padam di hatiku. Aku mengangguk seperti orang bodoh, menunggu telepon "keajaiban" itu dengan penuh suka cita.Namun, takdir justru mempermainkanku dengan kejam. Hari itu, aku t

  • Kecantikan Pelatih Sepeda yang Centil   Bab 4

    Dia memejamkan matanya dengan malu. Saat aku hendak mengerahkan tenaga, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari belakang.Aku menoleh dengan cepat, baru menyadari ada sepasang kakek nenek yang sedang berjalan-jalan di taman, menuju ke arah kami.Aku takut ketahuan, buru-buru menarik celanaku ke atas. Jihan juga segera mengenakan celananya, duduk di atas sepeda dengan wajah memerah.Kakek nenek itu lewat di samping kami, menatap kami dengan rasa ingin tahu. "Lagi bersepeda ya?"Aku mengangguk, menatap mereka dengan tatapan sedikit mengeluh. "Ya, ini pelatihku. Kami lagi belajar."Mata si kakek langsung melotot. "Pelatihnya masih muda dan cantik begini ya. Kamu harus belajar yang serius."Nenek di sampingnya menepuk si kakek. "Kamu ini, sudah tua masih saja melototi gadis kecil. Malu tahu!"Si kakek terkekeh, lalu berjalan melewati kami.Hatiku penuh omelan. Begitu mereka pergi, aku sudah tak sabar ingin kembali melepas celana Jihan. Namun saat itu, semangatnya seolah-olah sudah leny

  • Kecantikan Pelatih Sepeda yang Centil   Bab 3

    Seketika, aku merasa bagian bawahku panas, seperti ada aliran listrik yang menyetrum seluruh tubuh. Bulu kudukku bahkan berdiri semua saking nyamannya."Ah, kok ini panas sekali?" Di wajah Jihan terlintas sedikit kegembiraan. Dia berjongkok di tanah. Tangannya mulai bergerak naik turun.Saat dia berjongkok, celana bersepedanya semakin membentuk lekukannya. Bagian cekung itu kini terlihat semakin jelas.Harus diakui, tangan gadis ini benar-benar lembut. Rasa kesemutan yang nikmat membuatku merasa tulang-tulangku hampir meleleh. Mulutku setengah terbuka, napasku mulai terengah-engah.Mendengar suaraku, Jihan tiba-tiba tersadar. "Kak, enak ya? Apa aku seperti lagi bantuin kamu masturbasi?"Aku tersentak sebentar, lalu segera menjelaskan, "Memang gerakannya mirip, tapi tujuan utamanya buat melancarkan darah. Kalau darahnya tersumbat di dalam bisa buat jaringan mati."Jihan mengangguk ringan, lalu tangannya bergerak makin cepat. Astaga, dia benar-benar seperti penggoda alami. Rasanya enak s

  • Kecantikan Pelatih Sepeda yang Centil   Bab 2

    Seperti anak kucing, dia melengkungkan pinggangnya dan suka dipukul pantatnya. Hatiku sampai berbunga-bunga kegirangan. Pesanan ini benar-benar bagus. Per jam cuma 160 ribu, tetapi aku bisa menyentuh gadis secantik ratu kampus.Tak lama kemudian, aku kembali duduk di atas sepeda. Jihan mengajariku dengan sabar. Di depan ada jalan menurun, Jihan melepaskan tangan yang menopangku, lalu berkata, "Kamu coba meluncur turun sedikit."Aku belum bisa. Pegangan tanganku tidak stabil. Sepeda tiba-tiba melaju kencang menuruni jalan. Dengan bunyi keras, selangkanganku menghantam keras bemper sepeda. Benturan itu membuat bagian bawahku nyeri hebat. Adik kecil yang barusan berdiri langsung melemas.Aku tergeletak di tanah, memegangi bagian bawah sambil meraung kesakitan. Melihat itu, Jihan panik dan segera berlari menghampiri untuk menopangku. "Kamu nggak apa-apa? Kena di mana?"Wajahku sampai memerah seperti tomat. Aku mengeluh, "Mana mungkin nggak apa-apa. Bagian bawahku sampai rusak. Entah dia ma

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status