Share

Bab 2.

Penulis: Al_Fazza
last update Terakhir Diperbarui: 2025-04-10 17:40:09

Hanya tersenyum tipis, sebagai tanggapan ungkapan gadis itu. Bintang mulai memeriksa denyut nadi pria dipangkuan Clara dengan kerutan alis yang memperlihatkan keseriusannya dalam menangani seorang pasien.

"Kondisinya memang sangat parah, racun yang ada didalam tubuhnya telah menyerang jantung, bahkan kearah pembuluh darah."

Clara membelalakan matanya, "Apa yang kamu katakan benar? Lalu bagaimana caramu mengobatinya?"

"Mudah saja... Jika ingin proses pemulihannya berjalan lancar, jangan ganggu aku untuk melakukan tugasku."

Mengeluarkan tiga jarum titik akupuntur, Bintang mulai menancapkannya kearah kening. Dan kedua dada dari ayah Clara.

Tugasnya saat ini adalah meringankan rasa sakit yang diderita pria itu melalui detoksifikasi jarum akupunturnya. Meski tidak sepenuhnya racun itu terangkat, setidaknya langkah ini akan meringankan rasa sakit yang diderita pasien.

Setelah mencabut ketiga jarum.

Darah hitam keluar dari bekas jarum akupuntur menancap. Kini semua orang dapat melihat kenyataan, bahwa penguasa keluarga Cahyo bukanlah terkena penyakit. Melainkan terkena racun!

"Be-benar benar racun..." Clara menatap wajah Bintang seakan tidak percaya. Hanya dengan sekali lihat, pemuda didepannya benar benar sudah mengetahui bahwa ayahnya terkena racun!

Mengeluarkan darah hitam yang keluar, Bintang mulai mengeluarkan secarik kertas kecil, lalu dia dengan cepat menuliskan beberapa bahan herbal mentah yang perlu digunakan oleh Clara untuk menuntaskan sisa racun yang terdapat didalam tubuhnya.

Melihat resep yang diberikan oleh Bintang, Clara hanya mengernyitkan dahinya, "Tuan kenapa bukan obat yang dapat dibeli di rumah sakit, atau apoteker? Lalu apa resep ini akan sangat berguna bagi pemulihan ayahku?"

Bintang tersenyum tipis, dia kemudian berkata, "Itu lebih dari cukup untuk membuat ayahmu pulih dalam waktu semalam. Sekarang aku telah melakukan tugasku, jadi seharusnya kamu tahu kan bagaimana caramu membalas budi?"

Terdiam sesaat, Clara mulai mengerti arah pembicaraan ini. Hingga dia merogoh saku celananya.

"Sial bahkan aku selalu lupa untuk membawa uang cash..." Menyatukan rahangnya, sepasang bola matanya mulai bersinar. Dia segera mengeluarkan kartu identitasnya dan memberikannya kepada Bintang.

"Tuan dapat menggunakan identitasku ini untuk tinggal di sementara di hotel Cahyo... Aku pasti akan mengantarkan beberapa uang jika memang bahan herbal yang tuan berikan ini manjur..."

Melihat sekilas kartu identitas itu, Bintang menganggukan kepalanya.

Pemilik hotel? Sepertinya identitas Clara bahkan keluarganya tak biasa. Merasa sudah mendapatkan apa yang dia inginkan. Bintang berjalan santai sembari mencari hotel yang dikelola oleh Clara.

"Siapa dia sebenarnya? Dari penampilannya yang sederhana seharusnya dia bukan berasal dari orang kaya di kota ini..."

"Nona Clara? Bagaimana kondisi ayahmu?" seorang pria paruh baya, bertubuh gempal tiba tiba berjongkok dihadapan Clara.

"Dokter Tirta kamu akhirnya tiba... Bisakah kamu memeriksa kondisi ayahku? Tadi ada seorang pemuda yang memeriksa dan mencoba menyembuhkan ayahku." Clara dengan cepat menanyakan kondisi ayahnya.

Mengerti akan hal itu, Dokter Tirta memeriksa denyut nadinya. Seketika matanya tertuju kearah bercak darah hitam yang menempel pada jaz ayah Clara dengan jelas.

"Clara siapa orang yang membantumu?"

Clara dengan cepat menunjuk kearah punggung Bintang yang telah menjauh. Melihat kearah itu, kedua rahang dokter Tirta mulai menyatu, namun dia segera dapat mengendalikan dirinya sendiri.

"Ayahmu saat ini memang tidak merasakan rasa sakit seperti sebelumnya. Namun ini hanya bersifat sementara, Clara bawa ayahmu kerumah sakit, aku akan mengobatinya."

"Benarkah? Jadi pemuda tadi itu berani sekali membohongiku?!"

"Ya sepertinya dia ingin mencari banyak keuntungan melalui identitasmu, tapi prioritas saat ini adalah kesehatan ayahmu, dia tak mungkin juga terus berkeliaran dengan bebas di kota ini setelah menipumu kan?"

"Benar..." Clara tersenyum mengerikan.

*

Lima belas menit berjalan menyusuri jalanan kota Awan. Akhirnya Bintang telah tiba didepan hotel bintang lima yang didepan pintunya dijaga ketat oleh dua security.

Saat hendak memasuki hotel itu.

"Berhenti... Pengemis dilarang memasuki kawasan hotel ini." Salah satu security segera menahan tubuh Bintang.

Menatap sepasang mata kemarahan security yang menahannya, Bintang segera mengeluarkan kartu identitas milik Clara. Dia sudah kelaparan, bagaimana bisa dia harus  terprovokasi oleh masalah sekecil itu?

"Ka-kartu milik nona... Kamu..." Dia menahan ungkapannya karena Bintang telah memotongnya.

"Aku tidak mencurinya, ataupun merampas identitas milik Clara... Aku mendapatkannya dengan usahaku sendiri, jika kalian menahanku, mungkin Clara akan memecat kalian."

Kedua security seketika menelan ludahnya, identitas milik Clara memang tak mungkin dapat dicuri ataupun terampas kecuali sengaja diberi oleh Clara itu sendiri. Sekarang selain membiarkan pemuda berpakaian sederhana itu memasuki hotel, keduanya kini terus saling pandang hingga diam mematung ditempat mereka berjaga.

Di depan resepsionist.

Sambutan tak ramah kembali di dapatkan Bintang, seorang wanita yang tengah menerima telepon dari pelanggan hotel mulai membuang muka. Jelas dia berniat mengacuhkan kehadiran Bintang yang menggunakan pakaian sederhana.

Mengerti tata krama bagaimana dia harus menunggu resepsionist itu menyelesaikan pekerjaannya. Setelah lima menit menunggu, bahkan telepon itu telah mati namun sang resepsionist tetap diam, Bintang seketika mengeluarkan identitas milik Clara.

"Aku memesan satu kamar dan kirimkan beberapa porsi makan termewah dihotel ini..."

"Kamu bercanda?"

Tidak menjawab, hanya menunjuk ke kartu identitas. Sontak sang resepsionis terpaku untuk sesaat.

Mencoba memegang kartu identitas itu untuk memastikan keasliannya. Tiba tiba dia menatap wajah Bintang dengan sepasang bola matanya yang bergetar seakan tidak percaya.

"Tu-tuan anda bisa menunggu di dalam kamar VIP nomor satu. Pelayan juga akan segera mengantarkan makanan yang anda inginkan. Harap ditunggu!"

Setelah tiba dan menunggu di dalam kamar VIP nomor satu.

Tak lama ketukan pintu terdengar, makanan mewah bertumpuk tumpuk jelas telah memasuki ruangannya yang membuat perutnya semakin liar ingin sekali mencerna semua makanan tersebut.

Sebelum sang pelayan itu pergi.

"Tuan jika boleh tahu, apa tuan memiliki hubungan dengan nona Clara?"

"Heem, tidak terlalu dekat, hanya kenal sesaat..."

Mendengar kejujuran ini, pelayan itu mulai melihat kearah kanan kiri, hingga merasa aman. Dia mulai berbisik.

"Sebelum hubungan semakin dekat, baiknya anda pergi dari sisi nona Clara..."

"Oh memang apa alasannya?"

"Dokter Tirta merupakan dokter terhebat di kota ini. Dia berambisi untuk mendapatkan nona Clara apapun resikonya. Jika hubungan anda terdengar olehnya, maka nyawa anda pasti dalam bahaya."

"Terimakasih atas peringataannya. Aku lapar, aku ingin makan dan tinggalkan aku sendiri."

Sedikit merasa kesal karena peringatannya seakan tidak berguna. Pelayan itu akhirnya meninggalkan Bintang yang tengah menikmati semua pesanan secara lahap.

Lima belas menit kemudian.

"Akhirnya, perutku telah terisi penuh... Sepertinya aku makan terlalu banyak?" berkata dalam hati, lalu mengeluarkan telepon genggam kuno pemberian gurunya. Bintang menunggu pesan dari kelima gurunya untuk menunggu misi yang harus dia kerjakan.

Namun hingga waktu berganti menjadi tengah malam.

"Apa mereka lupa?" merubah wajahnya menjadi kesal, Bintang ingin memejamkan matanya untuk mengistirahatkan tubuhnya.

Tapi tiba tiba ketukan pintu kamar terdengar begitu jelas. Hingga sebuah pikiran liar muncul dikepalanya.

"Hahahaha! Sudah ku duga! guruku pasti rindu aku kan? Jadi sengaja datang tengah malam untuk menemuiku?"

Bergegas membuka pintu dengan kobaran semangat yang tinggi. Bintang mulai membuka pintu, dia memperlihatkan sepasang mata liarnya kearah depan. Hingga saat pintu terbuka, wajah kekecewaan yang begitu tinggi terlihat pada kerutan kulit wajahnya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kedatangan Kembali Sang Pewaris Raja Naga!   297. Perjodohan yang tak terduga! TAMAT!

    Ardhana sama sekali tak berani menjawab. Dia terus berjalan, lalu tiba di depan ayahnya segera berlutut."Ayah, aku telah kembali..." wajahnya terlihat lesu."Duduklah... Ayah dan kelima ibumu ingin berbicara denganmu." pandangan tajam Raja Naga tertuju kearah Ardhana yang tak bisa melawan..Beberapa saat setelahnya. Dewi Kecantikan mulai memecah keheningan."Ardhana, apa kau tahu? Setelah beberapa waktu ini, banyak sekali yang ingin menemui mu?""Bahkan, gadis bernama Valsha setelah menemui keluarganya... Dia ingin sekali menemuimu." timpal Cantika adik dari Ardhana."Yaaa, aksimu benar benar diluar dugaan... Dendam kakekmu, tidak akan menimbulkan peperangan lagi.. Tapi sekarang, negara Dumai secara resmi menyatakan bahwa kita adalah sekutu kuatnya!" timpal Dewi Perang."Menatap lekat kearah ibu kandung, dan ayahnya secara hangat. Ardhana langsung ingin terus terang."Ayah ibu, memanggil kembali Ardhana untuk apa?"Dewi Medist tersenyum hangat, dia berjalan kearah tempat dimana putr

  • Kedatangan Kembali Sang Pewaris Raja Naga!   296.

    "Baik tuan muda..."Pria itu segera keluar dari penginapan, lalu mulai memanggil bantuan untuk menyebarkan informasi.Hingga tiga hari kemudian.Tepat didalam istana Naga Biru."Guru..." Kiana dengan penuh hormat berlutut dihadapan Bintang sang Raja Naga."Kiana, kenapa kamu kemari tak mengabari guru dulu?""Guru terlalu sibuk, lagi pula Kiana hanya sesaat singgah... Sepertinya putra anda..."Bintang memasang wajah sedikit kesal."Dia tidak bisa ku atur... Dia tidak tahu, setiap malam ibunya selalu memarahiku karena membiarkan putranya selalu bermain main diwilayah berbahaya...""Dia hebat seperti anda... Melewati sebuah hambatan, sepertinya bukan masalah untuknya"*Di dalam penginapan."Bagaimana? Apa kau telah menemukan jejaknya?""Maaf tuan muda... Kami sama sekali tidak menemukan identitasnya...""Ma-mana mungkin..."Komando seratus anggota Organisasi Naga Langit itu hanya menunduk. Namun wajah Ardhana menunjukan tekad untuk menemukan keberadaannya."Organisasi milik ayah ini sel

  • Kedatangan Kembali Sang Pewaris Raja Naga!   295.

    "Tuan muda..." Semua menundukan kepala tanpa berani memandang kearah wajah Ardhana.Yang pasti, seringaian dingin muncul pada salah satu sudut bibirnya."Keserakahan bagi manusia itu sifat yang wajar, dan aku akan memberikan kesempatan kedua kalinya bagi mu untuk membenah diri... "Zhang Wei segera berlutut, keringat sebesar biji jagung terus menetes."Ta-tapi bagaimana dengan permintaan investasinya?""Orang lain masih bisa berpatisipasi, tapi untukmu... Keluarlah dari pada aku yang bertindak...""I-ini... Mohon Tuan muda tidak berkecil hati atas kesalah pahaman yang terjadi..." dia tak bergeming sedikitpun dari tempatnya berlutut.Menggelengkan kepala pelan, Ardhana mulai berkata, " kau tak layak bekerja sama dengan Ardhana grup..."Tubuh Zhang Wei bergetar hebat. Dia benar benar tidak menyangka akan terjadinya hal seperti saat ini."Aku...""Silahkan keluar?" Nei menyeringai dingin.Setelah suasana kembali hening. Ardhana mulai menunjukan sikap kepemimpinannya. Tegas, penuh wibawa,

  • Kedatangan Kembali Sang Pewaris Raja Naga!   294.

    Gadis pengawal Joko mulai bersiap menarik pedang dari dalam sarungnya. Namun Ardhana segera menahan dengan telapak tangannya. Membuat pergerakan dari pengawal itu mati langkah. "Haiyaa... Hanya karena persaingan bisnis, kenapa kalian terlalu terburu buru untuk membunuh orang..." Braaaaaak! Ardhana menarik tubuh Joko agar menyingkir dari tempat duduknya. "A-apa maksudmu?!" "Ini kursi milikku?! Kau hanya tamu disini, jangan sok jagoan..." Gadis pengawal seketika memberi pesan dengan cara berbisik. Mendengar pesan itu, wajah Joko sedikit menegang. Tapi kedua matanya terlihat seperti tak terima. "Jadi benar, kau adalah Ardhana itu?!" "Haah?" semua tamu terkejut, kini hati mereka diliputi rasa takut, dan juga khawatir setelah menyinggung Ardhana. "Hahahaha! Kalian semua sudah dengarkan? Aku memang Ardhana... Jadi tak perlu menjelaskan..." Wuuuuuuush! Pedang pengawal dari Joko mulai terayun kedepan ke wajah Ardhana. "Tetap diam, atau pedang ini akan memotong lehermu..." Joko

  • Kedatangan Kembali Sang Pewaris Raja Naga!   293.

    Para penjaga hotel yang berniat menangkap Ardhana berguling sambil meringis kesakitan. Tulang lengan dua orang tampak menekuk ke arah yang tidak seharusnya. Ruangan yang semula penuh dengan gumaman bisnis berubah menjadi senyap. Setiap pengusaha menelan ludah, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi dan siapa sebenarnya lelaki berjas penuh lumpur yang kini duduk di kursi kehormatan itu."Ke-kenapa penjaga tuan Dani begitu lemah? Pengawal, lumpuhkan kaki, dan tangannya, kebetulan dengan memberi pelajaran pada penipu ini.. Pasti tuan Ardhana akan menganggapku sebagai penguasa yang kompeten!"Pengawal keluarga Zhang melangkah maju, namun suara dari Penguasa Dhani menggema kuat."Siapa yang berani ingin melumpuhkan kaki dan tangannya?!"Semua mata tertuju kearah tuan Dani. Dia berjalan dengan membawa satu jaz baru terlihat mahal, dan cukup elegan."Tu-tuan penguasa provinsi, lihatlah kursi penting tamu kehormatan kita, kini diambil oleh pemuda tak tahu diri?! A-aku hanya mencoba untuk

  • Kedatangan Kembali Sang Pewaris Raja Naga!   292.

    Tangan pemuda dari keluarga Hua mencengkeram kerah Ardhana begitu keras hingga jaz putih yang sudah bercak lumpur itu semakin kusut dan kotor. Beberapa pengusaha yang baru turun dari mobil mewah berhenti sejenak, memperhatikan keributan itu dengan tatapan meremehkan.“Hua Jing, ada apa?” tanya seorang wanita bergaun mahal sambil menyesap minuman botolan yang bahkan lebih mahal dari gaji bulanan pegawai biasa.“Ini pengemis,” jawab Hua Jing sambil mendorong dada Ardhana ke dinding marmer hotel. “Mengaku-ngaku sebagai Tuan Ardhana. Padahal rambutnya saja masih bau lumpur.”Beberapa pengusaha tertawa.“Jangan bilang… pengemis ini mau meminta jatah investasi lima triliun?”“Hahaha! Kalau begini, penjagaan di hotel penguasa Dani memang harus ditambah!”Ardhana menundukkan wajahnya sedikit, menutupi ekspresi kesalnya. Pada titik ini, biasanya ia sudah menghancurkan satu atau dua tulang rusuk orang sombong itu tapi hari ini ia harus tetap menjadi orang biasa. Tetap menjadi seorang direktur y

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status