LOGIN"Siapa Kalian?!" Bintang memincingkan matanya, meski tubuh ketiga pria yang mengetuk pintunya dua kali lipat lebih besar dari tubuhnya. Dia sama sekali tak merasa takut ketika melihat tatapan mereka yang terlihat seakan ingin menelan tubuhnya bulat bulat.
Ketiga pria itu sama sekali tidak menjawab. Melainkan mereka mendorong tubuh Bintang hingga salah satu diantara mereka mulai menutup pintu dan segera menguncinya.
"Seseorang memberi kami perintah untuk memberi pelajaran padamu... Bintang namamu kan?"
Salah satu pria kekar itu mulai melancarkan tinjunya. Namun secara mengejutkannya, Bintang hanya menggeser sedikit kakinya kebelakang. Lalu dengan mudahnya dia menangkap dengan tangan kirinnya, lalu menampar wajahnya dengan sekali tamparan!
Plaaaaaak!
Sepasang mata kedua rekan dari pria itu terbelalak. Tubuh mereka sama besarnya, namun kenapa hanya dengan satu tamparan rekan mereka dibuat terlempar seakan kapas yang tertiup angin?
Selain sangat cepat, tamparan yang dilancarkan oleh Bintang jelas membekas pada pipi pria itu. Bahkan dua gigi harus terlepas dari mulut yang mengakibatkan pria itu terus tersungkur menahan rasa sakit.
"Berani sekali melukai teman kami?! Bintang serahkan nyawamu!"
Kedua pria itu tersadar dari rasa keterkejutan. Mereka dengan cepat menghampiri Bintang yang diikuti oleh gerakan meninju kearah wajah Bintang secara bersamaan.
Namun hal mengejutkan lebih terjadi. Rasa sakit yang telah membuat rekan mereka tersungkur juga sama dirasakan oleh mereka.
Plaaaak! Plaaaaak!
Dua tamparan keras jelas mampir kearah pipi mereka secara kuat. Sangat cepat, bahkan mereka tidak menyangka bahwa Bintang merupakan seorang yang ahli dalam bela diri.
"Ka-kamu siapa sebenarnya?!"
"Bintang... Sebelum kalian pergi, sampaikan pada Dokter Tirta. Jika bertindak di lain waktu, aku pasti akan datang dan mematahkan kedua kakinya...," suaranya terdengar begitu dingin, sorot mata serta raut wajahnya terlihat begitu datar yang membuat tubuh ketiga pria kekar itu bergetar ketakutan.
"Ta-tapi bagaimana kamu tahu bahwa kami merupakan orang suruhan dokter Tirta?!" salah satunya mencoba memberanikan diri.
"Ada hal yang tidak perlu kalian ketahui... Tiga detik tidak keluar dari ruangan ini, mungkin kedua kaki kalianlah yang akan patah."
Mendengar ancaman nyata ini, jelas ketiga pria kekar itu segera membuka pintu dan kabur dari ruangan VIP nomor satu.
"Bahkan dokter Tirta berani mengutus orang untuk memasuki tempat ini dan membahayakan nyawaku... Jika itu orang lain, mungkin akan berakibat fatal. Sayang sekali, kamu malah menyinggungku." Setidaknya telah memberi peringatan agar tidak menganggunya.
Kini Bintang memilih duduk sembari melihat telepon genggam kunonya. Hingga tak lama saat matanya akan kembali terpejam. Dobrakan pintu yang begitu keras membuat jantungnya berdetak begitu kencang. Dia tidak berpikir adanya penjahat atau utusan dokter Tirta kembali rusuh. Malah dia berpikir mungkin salah satu gurunya, yaitu Dewi Perang memang datang ingin mengunjunginya.
"Guru tercin..." Ungkapannya terhenti, harapannya hilang ketika melihat rombongan pria berjaz hitam memasuki ruangannya.
Sesaat setelah itu, Clara dengan ayahnya dengan langkah tergesa gesa memasuki ruangan.
"Tu-tuan apa anda baik baik saja?!" Clara dengan cepat memeriksa tubuh Bintang.
"Hei ada apa denganmu?"
"A-aku dan ayahku segera datang kemari setelah mendapat kabar adanya tiga orang yang memaksa masuk keruangan tuan... Tapi, dimana mereka?"
Clara mencari ke seluruh ruangan, namun dia tidak menemukannya. Hingga Bintang yang menyadari akan kekhawatiran mereka mulai menunjuk kearah enam gigi yang berada diatas lantai.
"Mereka telah pergi."
Ayah Clara terdiam sejenak, dia juga menatap kearah enam buah potongan gigi yang tergeletak diatas lantai.
"Sebenarnya siapa pemuda ini? Menghadapi tiga preman, bahkan mampu mengobatiku hanya dengan waktu satu malam, pasti dia memiliki latar belakang yang luar biasa kan?" berkata dalam hati. Cahyo Guana mulai menangkupkan tinjunya sebagai tanda hormatnya.
"Tuan jika kondisi anda baik baik saja maka aku turut merasa senang. Dan maafkan aku yang tidak memberi keamanan tingkat tinggi pada ruangan VIP. Namun jika boleh tahu, siapa nama tuan, dan dari mana tuan berasal?"
"Ah iya, panggil saja aku Bintang! Dan soal keluargaku, sepertinya kalian tidak berhak sama sekali untuk mengetahuinya."
Cahyo Guana terdiam kembali, dia tidak mempermasalahkan sosok Bintang yang ingin menyembunyikan identitasnya. Hal ini bisa diartikan, pemuda didepannya memiliki sifat rendah hati, dan memiliki tekad yang tinggi untuk membantu orang lain yang membutuhkan pertolongannya.
"Bintang, nama yang bagus... Karena kamu telah menyembuhkanku dari racun yang telah lama menyerang tubuhku, bagaimana jika aku dan anakku menjamu Bintang untuk minum beberapa gelas Wine termahal di hotel ini?"
"Hmmmp boleh..." Merasa tak salah menerima tawaran ini, Bintang mengikuti Cahyo Guana dan Clara yang menuju kearah ruangan pribadi.
Setelah tiba.
Sesuai dengan ungkapan Cahyo Guana, wine termahal di kota awan akhirnya tersaji diatas meja.
"Minumlah dan jangan sungkan untuk menghabiskannya."
Menganggukan kepalanya, dan menakar botol wine kearah gelas kecil didepannya. Bintang dengan sekali teguk telah menghabiskannya. Namun dia tidak memperlihatkan reaksi yang diinginkan oleh Cahyo Guana.
"Dia sama sekali tidak memperlihatkan ekspresi kepuasan atau kenikmatan ketika meneguk wine termahal di kota Awan... Bintang pasti memang memiliki latar belakang yang sangat mengerikan. Jika bisa menjalin hubungan baik dengannya, bisa saja masa depan keluarga Cahyo akan mengalami masa keemasan yang tak terbayangkan..." Berkata melalui hati, Cahyo Guana menatap anaknya dengan tatapan serius.
Jelas Clara yang mengetahui niat ayahnya mulai mengerti. Umurnya juga sepadan dengan Bintang. Menjadi kekasih atau istrinya juga tidak akan rugi. Mengingat sosok Bintang pasti pemuda yang memiliki latar belakang luar biasa yang kini tengah mencari pengalaman dengan bakat terpendamnya.
Hingga pagi harinya.
Melihat Clara dan ayahnya mabuk parah, Bintang hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia yang ingin beristirahat mulai mengeluarkan dua pill berwarna putih bersih diatas meja.
"Telanlah pill diatas meja untuk meredakan efek alkohol ditubuh kalian... Aku akan kembali untuk beristirahat."
Keluar tanpa mendapatkan jawabkan apapun dan kembali kedalam kamarnya. Bintang tak menyadari, bahwa kabar tentang aksinya yang telah menyelamatkan nyawa Cahyo Wiguna telah tersebar dalam semalam.
"Bi-Bintang sialan itu sebenarnya berasal dari mana?! Bisa bisanya kalian malah babak belur ditangannya?! Dan lagi, dengan bagaimana bisa dia merebut ketenaranku menjadi dokter terhebat di kota ini? Jika dia terus berada di kota ini, bukankah rencana besarku bisa gagal ditangannya?!"
Ardhana sama sekali tak berani menjawab. Dia terus berjalan, lalu tiba di depan ayahnya segera berlutut."Ayah, aku telah kembali..." wajahnya terlihat lesu."Duduklah... Ayah dan kelima ibumu ingin berbicara denganmu." pandangan tajam Raja Naga tertuju kearah Ardhana yang tak bisa melawan..Beberapa saat setelahnya. Dewi Kecantikan mulai memecah keheningan."Ardhana, apa kau tahu? Setelah beberapa waktu ini, banyak sekali yang ingin menemui mu?""Bahkan, gadis bernama Valsha setelah menemui keluarganya... Dia ingin sekali menemuimu." timpal Cantika adik dari Ardhana."Yaaa, aksimu benar benar diluar dugaan... Dendam kakekmu, tidak akan menimbulkan peperangan lagi.. Tapi sekarang, negara Dumai secara resmi menyatakan bahwa kita adalah sekutu kuatnya!" timpal Dewi Perang."Menatap lekat kearah ibu kandung, dan ayahnya secara hangat. Ardhana langsung ingin terus terang."Ayah ibu, memanggil kembali Ardhana untuk apa?"Dewi Medist tersenyum hangat, dia berjalan kearah tempat dimana putr
"Baik tuan muda..."Pria itu segera keluar dari penginapan, lalu mulai memanggil bantuan untuk menyebarkan informasi.Hingga tiga hari kemudian.Tepat didalam istana Naga Biru."Guru..." Kiana dengan penuh hormat berlutut dihadapan Bintang sang Raja Naga."Kiana, kenapa kamu kemari tak mengabari guru dulu?""Guru terlalu sibuk, lagi pula Kiana hanya sesaat singgah... Sepertinya putra anda..."Bintang memasang wajah sedikit kesal."Dia tidak bisa ku atur... Dia tidak tahu, setiap malam ibunya selalu memarahiku karena membiarkan putranya selalu bermain main diwilayah berbahaya...""Dia hebat seperti anda... Melewati sebuah hambatan, sepertinya bukan masalah untuknya"*Di dalam penginapan."Bagaimana? Apa kau telah menemukan jejaknya?""Maaf tuan muda... Kami sama sekali tidak menemukan identitasnya...""Ma-mana mungkin..."Komando seratus anggota Organisasi Naga Langit itu hanya menunduk. Namun wajah Ardhana menunjukan tekad untuk menemukan keberadaannya."Organisasi milik ayah ini sel
"Tuan muda..." Semua menundukan kepala tanpa berani memandang kearah wajah Ardhana.Yang pasti, seringaian dingin muncul pada salah satu sudut bibirnya."Keserakahan bagi manusia itu sifat yang wajar, dan aku akan memberikan kesempatan kedua kalinya bagi mu untuk membenah diri... "Zhang Wei segera berlutut, keringat sebesar biji jagung terus menetes."Ta-tapi bagaimana dengan permintaan investasinya?""Orang lain masih bisa berpatisipasi, tapi untukmu... Keluarlah dari pada aku yang bertindak...""I-ini... Mohon Tuan muda tidak berkecil hati atas kesalah pahaman yang terjadi..." dia tak bergeming sedikitpun dari tempatnya berlutut.Menggelengkan kepala pelan, Ardhana mulai berkata, " kau tak layak bekerja sama dengan Ardhana grup..."Tubuh Zhang Wei bergetar hebat. Dia benar benar tidak menyangka akan terjadinya hal seperti saat ini."Aku...""Silahkan keluar?" Nei menyeringai dingin.Setelah suasana kembali hening. Ardhana mulai menunjukan sikap kepemimpinannya. Tegas, penuh wibawa,
Gadis pengawal Joko mulai bersiap menarik pedang dari dalam sarungnya. Namun Ardhana segera menahan dengan telapak tangannya. Membuat pergerakan dari pengawal itu mati langkah. "Haiyaa... Hanya karena persaingan bisnis, kenapa kalian terlalu terburu buru untuk membunuh orang..." Braaaaaak! Ardhana menarik tubuh Joko agar menyingkir dari tempat duduknya. "A-apa maksudmu?!" "Ini kursi milikku?! Kau hanya tamu disini, jangan sok jagoan..." Gadis pengawal seketika memberi pesan dengan cara berbisik. Mendengar pesan itu, wajah Joko sedikit menegang. Tapi kedua matanya terlihat seperti tak terima. "Jadi benar, kau adalah Ardhana itu?!" "Haah?" semua tamu terkejut, kini hati mereka diliputi rasa takut, dan juga khawatir setelah menyinggung Ardhana. "Hahahaha! Kalian semua sudah dengarkan? Aku memang Ardhana... Jadi tak perlu menjelaskan..." Wuuuuuuush! Pedang pengawal dari Joko mulai terayun kedepan ke wajah Ardhana. "Tetap diam, atau pedang ini akan memotong lehermu..." Joko
Para penjaga hotel yang berniat menangkap Ardhana berguling sambil meringis kesakitan. Tulang lengan dua orang tampak menekuk ke arah yang tidak seharusnya. Ruangan yang semula penuh dengan gumaman bisnis berubah menjadi senyap. Setiap pengusaha menelan ludah, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi dan siapa sebenarnya lelaki berjas penuh lumpur yang kini duduk di kursi kehormatan itu."Ke-kenapa penjaga tuan Dani begitu lemah? Pengawal, lumpuhkan kaki, dan tangannya, kebetulan dengan memberi pelajaran pada penipu ini.. Pasti tuan Ardhana akan menganggapku sebagai penguasa yang kompeten!"Pengawal keluarga Zhang melangkah maju, namun suara dari Penguasa Dhani menggema kuat."Siapa yang berani ingin melumpuhkan kaki dan tangannya?!"Semua mata tertuju kearah tuan Dani. Dia berjalan dengan membawa satu jaz baru terlihat mahal, dan cukup elegan."Tu-tuan penguasa provinsi, lihatlah kursi penting tamu kehormatan kita, kini diambil oleh pemuda tak tahu diri?! A-aku hanya mencoba untuk
Tangan pemuda dari keluarga Hua mencengkeram kerah Ardhana begitu keras hingga jaz putih yang sudah bercak lumpur itu semakin kusut dan kotor. Beberapa pengusaha yang baru turun dari mobil mewah berhenti sejenak, memperhatikan keributan itu dengan tatapan meremehkan.“Hua Jing, ada apa?” tanya seorang wanita bergaun mahal sambil menyesap minuman botolan yang bahkan lebih mahal dari gaji bulanan pegawai biasa.“Ini pengemis,” jawab Hua Jing sambil mendorong dada Ardhana ke dinding marmer hotel. “Mengaku-ngaku sebagai Tuan Ardhana. Padahal rambutnya saja masih bau lumpur.”Beberapa pengusaha tertawa.“Jangan bilang… pengemis ini mau meminta jatah investasi lima triliun?”“Hahaha! Kalau begini, penjagaan di hotel penguasa Dani memang harus ditambah!”Ardhana menundukkan wajahnya sedikit, menutupi ekspresi kesalnya. Pada titik ini, biasanya ia sudah menghancurkan satu atau dua tulang rusuk orang sombong itu tapi hari ini ia harus tetap menjadi orang biasa. Tetap menjadi seorang direktur y







