MasukSementara di sisi lain kerajaan.
Sebuah raven baru saja mendarat. Seorang prajurit memberikan surat pada Adipati Pedra yang kebetulan sedang bersama King Lumiere di aula istana.
‘’Dari Argorn, Your Majesty,’’ Pedra berujar saat melihat segel surat yang ia genggam.
Raja menga
‘’Kau harus sadar bahwa kau tidak memiliki siapapun yang dapat diandalkan selain ayah, Pascal. Dan ayah hanya memiliki satu pewaris, yaitu kau. Kau adalah ujung tombak kerajaan ini. Pedang dan shield milik Valliant. Kau harus melindungi mutiara di dalam sebuah kerang. Rakyatmu berada dalam perlindunganmu. Jadi pastikan agar cangkangmu tetap kokoh dan jangan sampai rapuh.’’‘’Aku berjanji, Ayah.’’ Angguknya sungguh-sungguh. Tatapannya begitu tajam nan menusuk. Sedikit meredakan amarah King Lumiere, karena Pascal pasti akan konsisten dengan perkataannya.Urat di dahi King Lumiere mengendur. Entah bagaimana Pascal akan menghadapi serangan dari delapan kerajaan di kawasan barat. Yang awalnya berjumlah sepuluh, namun dua di antaranya telah berhasil tunduk di bawah kuasa Valliant.
‘’Father?’’ sapa Pascal begitu King Lumiere masuk tanpa mengetuk.Hanya ia temukan Pascal seorang. Tanpa ada satupun pelayan di dalamnya. Berbaring di atas tempat tidur dengan kamar yang begitu terang.‘’Sebuah keajaiban kau sudah bangun sebelum tengah hari,’’ ucap raja, curiga. Matanya menyisir ke setiap sudut. Berbarengan dengan kepala pelayan pribadi Pascal yang baru saja bergabung.Sedangkan di bawah selimut, tangan Pascal sibuk membekap mulut Crysta. Berjaga-jaga bila gadis itu bersuara atau semacamnya. Walau Crysta meyakinkan berkali-kali bahwa ia tetap akan diam, tapi tetap saja Pascal tak mempercayainya.
‘’Itu adalah efek dari racun ermora jika tidak menyebar,’’ Penjelasan Pascal menjawab tanda tanya di wajah Crysta. Ia menyingkap helaian rambut yang menutupi wajah cantik itu. Entah itu bentuk perhatian atau hanya sekedar bantuan. Yang jelas Crysta merasa begitu disayang atas tindakan kecil tersebut.‘’Kalau dalam lima menit tidak ditangani, efeknya akan seperti menghadapi malaikat kematian. Suhu tubuhmu naik drastis. Kau akan merasa seperti dibakar dari dalam. Lalu kulitmu akan melepuh. Dan kau akan mati perlahan-lahan,’’ lanjutnya yang membuat Crysta bergidik ngeri.‘’Mengerikan sekali. Master of science Valliant tidak seharusnya menciptakan racun seperti itu.’’‘’Aku yang menciptakan
Dalam gerakan cepat, Pascal menarik Crysta hingga masuk ke dalam pelukannya. Membuat gadis itu terperanjat sekaligus tak menyangka akan ada di posisi seperti ini. Tubuh mereka menempel. Pascal juga semakin mengeratkan pelukan di belakang pinggulnya. Hingga satu-satunya cara untuk melihat Pascal adalah dengan menengadah di mana bibir keduanya berjarak begitu dekat.‘’Sejak kapan kau memiliki perasaan padaku?’’‘’Apa kau juga memiliki perasaan yang sama?’’ Crysta berharap Pascal berkata iya.‘’Jangan jawab pertanyaan dengan pertanyaan. Jawab saja.’’‘’Sejak kau memasuki aula istana dengan harimaumu,’’ Pangeran tampan nan be
Sementara di sisi lain kerajaan.Sebuah raven baru saja mendarat. Seorang prajurit memberikan surat pada Adipati Pedra yang kebetulan sedang bersama King Lumiere di aula istana.‘’Dari Argorn, Your Majesty,’’ Pedra berujar saat melihat segel surat yang ia genggam.Raja mengangkat tangannya ke udara, mempersilakan Pedra untuk membacanya. Namun perlu waktu begitu lama untuk Pedra menyampaikan isinya hingga raja berseru marah.‘’Katakan, Pedra!’’‘’Your Majesty, ini…’’Geram, akhirnya raja mengambil secara paksa. Memahami makna kata demi
‘’Aku adalah tamumu. Dan kau tidak ada di sini saat aku datang. Jadi hanya kau saja yang belum menyambutku,’’ tukasnya. Melihat ke arah jendela yang terbuka. Berharap Pascal melupakan topik itu. Karena sesungguhnya ia memang sangat rindu.Pascal mengulum senyum. Sejenak kemudian menggenggam tangan Crysta, mengecup punggung tangannya. ‘’Penyambutan yang seperti ini, Princess?’’Dengan senyum tertahan, Crysta memberanikan diri melihat mata indah milik Pascal. Jantungnya berdebar. Pipinya merona saat itu juga. ‘’Ya,’’ jawabnya malu. Entah kenapa Pascal begitu ramah tak seperti biasanya. Crysta berharap bahwa Pascal akan tetap seperti ini. Setidaknya ia tak akan merasa sungkan.‘’Aku sudah







