Masuk"Aku tidak memintamu untuk mencintaiku, aku hanya memintamu untuk patuh. Di rumah ini, aku adalah hukumnya." Hidup Alana hancur dalam semalam ketika ayahnya terlilit utang judi yang tak masuk akal. Satu-satunya jalan keluar bagi sang ayah adalah menyerahkan putri semata wayangnya kepada sahabat lamanya—seorang miliarder dingin yang dikenal kejam dan tak tersentuh, Julian Vance. Julian bukan pria biasa. Dia adalah pria yang selalu menatap Alana dengan tatapan posesif yang membuat bulu kuduknya berdiri, tatapan yang lebih dari sekadar tatapan seorang 'paman' kepada keponakannya. Dipaksa masuk ke dalam pernikahan kontrak, Alana terjebak di antara dua pilihan: menjadi boneka yang penurut di balik dinding mansion mewah Julian yang megah namun dingin, atau melawan pria yang memegang kendali atas segalanya—termasuk nyawa ayahnya. Namun, yang tidak diketahui Alana adalah, Julian telah merencanakan ini selama bertahun-tahun. Baginya, Alana bukan sekadar pembayaran utang, melainkan obsesi terlarang yang akhirnya berhasil ia miliki. Apakah ini pernikahan demi menyelamatkan sang ayah, atau Alana baru saja melangkah masuk ke dalam kandang iblis yang sesungguhnya?
Lihat lebih banyakSuara denting gelas kristal dan tawa teman-temannya masih terngiang di telinga Alana. Malam ini seharusnya menjadi puncak kebahagiaannya. Dengan selempang cum laude yang masih tersampir di bahu dan ijazah sarjana desain yang ia genggam erat, Alana merasa dunia berada di bawah kakinya. Masa depan yang cerah, karier impian, dan kebebasan akhirnya berada dalam jangkauan.
Namun, begitu taksi yang ditumpanginya berhenti di depan gerbang rumah keluarganya, kecemasan aneh mulai merayap di tengkuknya.
Rumah besar bergaya kolonial itu nampak gelap gulita. Tidak ada lampu teras yang menyala, hanya ada sebuah mobil sedan hitam mewah yang terparkir angkuh di depan pintu utama. Alana mengerutkan kening. Itu bukan mobil ayahnya. Ayahnya, Bram, jarang menerima tamu selarut ini, apalagi tamu dengan selera kendaraan semahal itu.
Alana melangkah masuk dengan ragu. "Ayah? Aku pulang!" serunya pelan.
Keheningan menyambutnya. Namun, saat ia mendekati ruang tamu, ia mendengar suara isak tangis yang tertahan. Alana mempercepat langkahnya, jantungnya berdegup kencang hingga terasa menyakitkan di dada. Begitu ia sampai di ambang pintu ruang tamu, pemandangan di depannya membuat ijazah di tangannya terjatuh ke lantai kayu dengan bunyi gedebuk yang tumpul.
Ayahnya, pria yang selalu ia pandang sebagai pahlawan, kini sedang bersujud di atas karpet. Tubuhnya bergetar hebat, wajahnya sembab oleh air mata dan keringat. Dan yang lebih mengerikan, Bram sedang bersujud di kaki seorang pria yang duduk dengan tenang di sofa kulit tunggal.
Pria itu mengenakan setelan jas abu-abu gelap yang sangat pas di tubuhnya yang tegap. Ia menyesap wiski dari gelas pendek dengan gerakan yang sangat elegan, seolah-olah pemandangan pria tua yang memohon di bawah kakinya hanyalah hiburan malam yang membosankan.
"A-Alana..." suara Bram tercekat begitu melihat putrinya.
Alana terpaku. Ia mengenali pria di sofa itu. Meskipun sudah sepuluh tahun berlalu, fitur wajah yang tajam, rahang yang tegas, dan sorot mata yang mengintimidasi itu tidak berubah. Hanya saja, sekarang ia terlihat jauh lebih berbahaya dan matang.
"Paman Julian?" bisik Alana tak percaya.
Julian Vance. Sahabat karib ayahnya sejak masa muda. Pria yang dulu sering membawakannya boneka saat ia masih kecil, pria yang menghilang dari kehidupan mereka setelah sukses besar membangun imperium bisnisnya di luar negeri. Namun, pria di depannya sekarang bukanlah 'paman' yang hangat. Atmosfer di sekitar Julian terasa dingin, pekat, dan mematikan.
Julian tidak langsung menjawab. Ia meletakkan gelas wiskinya di meja kaca, menimbulkan denting yang terdengar seperti lonceng kematian di ruangan yang sunyi itu. Ia mendongak, matanya yang berwarna abu-abu tajam mengunci pandangan Alana.
"Kau sudah besar, Alana," suara Julian berat dan bariton, mengirimkan getaran aneh yang belum pernah dirasakan Alana sebelumnya. "Dan kau jauh lebih cantik daripada foto-foto yang dikirimkan ayahmu kepadaku."
"Apa yang terjadi di sini? Ayah, bangun!" Alana berlari mendekati ayahnya, mencoba menarik bahu Bram agar berdiri. "Kenapa Ayah bersujud seperti ini?"
Bram tidak berani menatap putrinya. Ia hanya terus meratap. "Maafkan Ayah, Alana... Ayah bodoh. Ayah tertipu... Ayah pikir Ayah bisa menang kali ini."
"Menang apa?" Alana beralih menatap Julian dengan kemarahan yang mulai membakar ketakutannya. "Apa yang kau lakukan pada ayahku, Paman Julian?"
Julian menyilangkan kakinya dengan santai, mengabaikan panggilan 'paman' itu dengan kilatan dingin di matanya. "Bukan apa yang kulakukan padanya, manis. Tapi apa yang ayahmu lakukan pada dirinya sendiri. Dia bermain di klub pribadiku malam ini. Dia kalah besar. Sangat besar."
Julian mengeluarkan selembar kertas dari saku jasnya dan melemparkannya ke meja. Alana mengambilnya dengan tangan gemetar. Itu adalah surat pernyataan utang. Angka yang tertera di sana membuat kepala Alana berputar. Jutaan dolar.
"Dia mempertaruhkan sertifikat rumah ini, seluruh aset perusahaan yang tersisa, bahkan simpanan hari tuamu," lanjut Julian tanpa belas kasihan. "Semuanya sekarang milikku, Alana. Secara hukum, mulai besok pagi, kalian tidak punya tempat tinggal."
"Tidak mungkin..." Alana menggelengkan kepala, air mata mulai menggenang. "Ayah, katakan padaku ini tidak benar!"
Bram hanya bisa meraung pelan, menyembunyikan wajahnya di telapak tangannya. "Aku hanya ingin mengembalikan uang ibumu yang hilang di saham, Alana... aku pikir Julian akan memberiku keberuntungan..."
Alana berbalik menghadap Julian, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. "Kami akan membayarnya! Berikan kami waktu. Aku baru saja lulus, aku akan bekerja, kami akan menjual apa saja—"
"Waktu adalah kemewahan yang tidak dimiliki ayahmu," potong Julian. Ia berdiri, tinggi tubuhnya yang menjulang membuat ruang tamu itu terasa sangat sempit. Ia melangkah perlahan mendekati Alana. Alana ingin mundur, namun kakinya seolah terpaku ke lantai.
Julian berhenti tepat di depan Alana. Bau parfum sandalwood yang mahal dan aroma maskulin yang kuat mengepung indra penciuman Alana. Julian mengulurkan tangan, jemarinya yang panjang dan dingin menyentuh dagu Alana, memaksanya untuk mendongak menatap matanya.
"Julian, kumohon..." rintih Bram dari lantai. "Ambil rumahnya, ambil semuanya. Tapi jangan penjarakan aku. Berikan aku satu kesempatan lagi."
Julian terdiam sejenak, jarinya mengusap bibir bawah Alana dengan gerakan yang hampir terlihat seperti belaian, namun terasa seperti ancaman. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang mengerikan.
Ia melepaskan dagu Alana dan berbalik sedikit untuk menatap Bram yang masih bersujud, namun matanya tetap melirik ke arah Alana dengan tatapan penuh kepemilikan.
"Aku tidak butuh rumah tua ini, Bram. Aku punya puluhan mansion yang jauh lebih megah dari tempat kumuh ini," ucap Julian dengan nada bicara yang sangat datar namun berwibawa.
Ia kembali menatap Alana, kali ini dengan intensitas yang membuat Alana sesak napas. Suaranya merendah menjadi bisikan yang sangat dingin, menggema di seluruh ruangan.
"Aku butuh istrimu... atau putrimu sebagai gantinya."
Dunia Alana seolah runtuh seketika. Ijazah yang ia perjuangkan selama empat tahun kini terinjak di bawah sepatunya, tak lagi berarti apa-apa di hadapan pria yang baru saja menyatakan perang terhadap masa depannya.
Pemilik Seluruh Hidupku.Matahari sore merayap perlahan melintasi cakrawala Jakarta, menumpahkan semburat warna jingga, ungu, dan emas yang hangat di atas atap Menara Vance. Di balkon lantai dua yang luas di sayap utara mansion, desau angin berembus membawa aroma sisa hujan ringan yang sejuk. Suasana begitu hening, menyisakan kedamaian murni yang telah lama dinantikan oleh tempat ini.Alana berdiri bersandar pada pagar pembatas balkon yang terbuat dari besi tempa hitam. Ia mengenakan gaun rumah sederhana berpotongan longgar dari bahan katun lembut yang melambai ditiup angin. Sepasang mata indahnya menatap lurus ke arah langit senja, menikmati kedamaian yang kini melingkupi hidupnya. Tidak ada lagi ketakutan akan hari esok. Tidak ada lagi bayang-bayang masa lalu atau konspirasi berdarah yang mengintai dari kegelapan. Badai yang bergemuruh selama bertahun-tahun di dalam hidupnya telah benar-benar reda, digantikan oleh fajar kemenangan yang abadi.Di atas balkon ini, Alana tersenyum tipi
Enam bulan sejak tangis pertama Arthur Vance menghidupkan paviliun utara, mansion keluarga Vance tidak pernah kekurangan tawa. Namun pagi itu, sebuah kejutan besar telah menunggu Alana di ruang rias utamanya. Sebuah manekin setinggi tubuhnya berdiri di tengah ruangan, menyangga sebuah gaun pengantin putih yang teramat megah—mahakarya adibusana dari desainer ternama Paris yang dirajut dengan benang perak murni dan taburan payet yang menyerupai rasi bintang.Alana terpaku di ambang pintu, tangannya reflek menyentuh dadanya yang berdegup kencang. Dari arah belakang, Julian melangkah masuk dengan kemeja putih yang kancing atasnya terbuka, seulas senyum hangat terukir di wajah tegasnya. Ia melingkarkan lengannya di pinggang Alana, mengecup pundak istrinya lembut."Adrian... apa ini?" tanya Alana, suaranya bergetar pelan."Pernikahan kita dua tahun lalu dilakukan di dalam ruangan tertutup, dingin, dan diikat oleh selembar kertas kontrak bisnis yang mengurung kebebasanmu," bisik Julian, memb
Malam itu, jam dinding di kamar utama baru saja berdenting dua kali ketika kesunyian mansion Vance mendadak pecah oleh erangan halus. Alana mencengkeram sprei sutra di bawah tubuhnya, napasnya mendadak memburu saat gelombang rasa sakit yang tajam dan berpola mulai menghantam perut bagian bawahnya. Sembilan bulan penantian yang damai kini telah mencapai puncaknya.Julian, yang selalu terjaga pada riak terkecil dari istrinya, seketika membuka mata abu-abunya. Ia langsung bangkit dan menopang tubuh Alana yang bersandar pada tumpukan bantal."Kontraksi, Sayang?" tanya Julian, suaranya berat, tenang, namun menyembunyikan ketegangan yang masif.Alana mengangguk perlahan, peluh dingin mulai membasahi pelipisnya. "Iya, Adrian... kali ini rasanya jauh lebih kuat dan konstan."Julian tidak membuang waktu. Ia menekan tombol darurat interkom di samping ranjang. "Leo, aktifkan Protokol Delta. Dokter Adrian dan tim medis, siapkan ruang operasi bawah tanah sekarang juga."Dalam hitungan detik, selur
Mansion megah keluarga Vance di bawah langit Jakarta kini menjelma menjadi sebuah oase yang dipenuhi kehangatan. Jika dua tahun lalu perhatian Julian mewujud dalam bentuk dinding pengawasan yang kaku dan larangan yang mengekang, kini segalanya terasa begitu berbeda. Pria itu tidak lagi mengunci Alana di dalam kamar penjaranya; ia membangun sebuah tempat perlindungan yang luar biasa nyaman, selembut kain sutra yang melindungi tanpa menyakiti.Pagi itu, Alana melangkah masuk ke sudut ruang kaca di sayap barat yang telah disulap sepenuhnya. Ruangan yang dulunya dingin itu kini dipenuhi tanaman hijau penyaring udara, sofa ergonomis beludru yang menyangga punggungnya dengan sempurna, dan pencahayaan alami yang hangat untuknya membaca buku atau merancang sketsa.Julian masuk dengan membawa sebuah nampan kecil berisi potongan buah beri segar dan segelas susu almond hangat. "Semua bahan ini dikirim langsung dari perkebunan organik bersertifikasi di dataran tinggi pagi ini, Alana," ujar Julian
Kilau lampu kristal memantul di atas lantai marmer aula utama gedung kebudayaan di pusat kota Jakarta. Sore itu, atmosfer di dalam ruangan dipenuhi oleh bisik-bisik kagum dari para kritikus seni dan jurnalis. Di dinding-dinding galeri, berderet karya lukis menakjubkan dari para seniman muda yang se
Keheningan yang menyelubungi ruang kerja utama Vance Corp pagi itu terasa lebih pekat dan menindas daripada kegelapan di dasar laut. Sejak malam tragis di rumah sakit, seolah ada sesuatu yang mati di dalam diri Julian Vance. Pria tegap itu tidak lagi berbicara dalam kalimat panjang. Ia mengunci rap
Udara senja di pesisir itu mendadak terasa tipis, seolah oksigen di sekitar Alana tersedot habis oleh kehadiran pria yang berdiri di ujung jalan setapak. Jantung Alana berdegup kencang, menghantam rongga dadanya dengan ritme yang menyakitkan. Bayangan tentang Julian yang akan meledak dalam amarah,
Dinding apartemen kumuh di pinggiran Jakarta itu terasa seolah menghimpit Alana. Bau apek dari kasur tipis dan suara bising kendaraan di luar tidak lagi menjadi gangguan, melainkan pengingat betapa rentannya ia sekarang. Alana meringkuk, memeluk perutnya yang mulai menonjol, mencoba meyakinkan jani






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan