Share

Kehangatan Pelukan Tetangga
Kehangatan Pelukan Tetangga
Author: menthogomez

Istri Yang Kesepian

Author: menthogomez
last update Last Updated: 2026-01-07 21:11:30

Keseharian Vania Maharani hanyalah menjadi ibu rumah tangga sekaligus berjualan makanan lewat online shop. Dia memiliki anak laki-laki berusia tujuh tahun yang sudah menuju pertengahan kelas dua sekolah dasar. Suaminya? Entahlah, dia sendiri juga kebingungan jika ditanyai tentang Adit—sang suami yang bekerja di kapal pesiar dan pulang tak menentu.

"Vino! Buruan mandinya, ini udah jam berapa!" teriak Vania ketika anaknya belum keluar dari kamar mandi.

"Iya, bun!" balas Vino selang beberapa menit kemudian muncul menggunakan handuk yanv terlilit di pinggang. "Emang jam berapa, bun?"

"Setengah tujuh," jawab Vania setelah melihat ke arah jam didin di rumahnya. "Kalau sepuluh menit belum selesai kamu bakalan telat."

Vino hanya tersenyum memperlihatkan deretan gigi yang tampak sedikit ompong kemudian berlari masuk ke dalam kamar. Sedangkan Vania sibuk memasukkan bekal yang akan di bawa oleh anaknya ke sekolah pagi ini ke dalam tas. Dia tidak lupa menyiapkan sarapan berupa sandwich kesukaan sang anak agar semangat.

Lima menit kemudian pintu kamar terbuka menampilkan sosok Vino yang sudah berpakaian lengkap. Memang anak itu sangat cekatan dalam melakukan sesuatu, bahkan Vania keheranan melihatnya. Sambil menyuapi sandwich, dia memerhatikan anaknya sedang memakai sepatu dan juga dasi. Tepat suapan terakhir semua sudah siap tinggal berangkat.

"Berangkat dulu ya bun," pamit Vino bertepatan dengan mobil jemputan yang tiba di depan rumah.

"Iya, hati-hati."

Mobil berwarna putih yang berhenti di depan gerbang pun melaju setelah Vino masuk.

Vania segera masuk ke dalam rumah lagi, dia akan menyiapkan pesanan makanan untuk hari ini yaitu ayam katsu sambal matah. Sebelum membuat tentu saja dia harus pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan yang dibutuhkan. Dia pun segera bersiap-siap ganti pakaian yang lebih tertutup agar tidak menimbulkan fitnah. Karena dia cukup dikenal luas oleh orang-orang pasar.

Setelah siap dan memakai pakaian yang layak, Vania mengambil motor di garaso lalu melajukan menuju ke pos satpam. Dia menyapa Pak Joko—pria berusia empat puluhan itu dengan sopan. Begitu pintu dibuka oleh Pak Joko, motornya segera melaju tak lupa bilang terimakasih terlebih dahulu. Jarak antara perumahan yang dia tempati dengan pasar sekitar lima kilometer. Butuh waktu sepuluh hingga lima belas menit untuk tiba di sana dengan motor berkecepatan sedang.

"Mbok, aku mau beli ini." Vania sudah berada di pasar lalu memberikan catatan kepada penjual langganannya.

"Iya, Mbak Vania," balas Mbok Romlah sangat antusias akan kedatangannya. "Silahkan beli yang lain dulu segali mbok siapkan belanjaannya."

"Makasih, mbok."

Vania menuju ke penjual daging ayam untuk beli fillet sebanyak 1,5 kilo, oh ya, jumlah pesanan untuk nanti malam adalah 10 box. Dia berdiri di depan penjual daging ayam lalu memesan, tak lama daging sudah berada di tangannya. Setelah itu, dia kembali ke tempat Mbok Romlah dan pesanannya pun juga sudah selesai. Namun, tiba-tiba wanita paruh baya itu menyuruhnya untuk masuk ke dalam warung.

"Ada apa, mbok?" tanya Vania yang kebingungan dengan perlilaku wanita itu.

"Katanya dekat rumah eneng bakalan ada proyek besar-besaran ya?" balas Mbok Romlah setengah berbisik.

Vania menggeleng karena memang tidak mengetahui akan hal tersebut. "Proyek apa, mbok?"

"It-itu... apa namanya? Yang gedung besar buat pusat perbelanjaan." Mbok Romlah tampak mengingat-ingat nama.

"Mal?" tebak Vania langsung mendapat anggukkan antusias dari Mbok Romlah.

"Orang-orang pasar mau protes karena itu," ujar Mbok Romlah tampak kecewa. "Semoga aja tidak mematikan daya beli di pasar ini, ya."

"Tenang saja, mbok. Meskipun ada mal besar, aku cuman beli di tempat mbok saja." Vania menenangkan.

"Makasih, neng. Ya ampun, cantik-cantik begini suaminya minggat terus." Mbok Romlah mengusap lengan Vania penuh perhatian.

"Hehe, iya mbok. Kalau begitu aku pulang dulu, mau bikin pesanan," pamit Vania lalu ke luar dari warung.

"Iya-iya sana."

Vania tersenyum pada Mbok Romlah kemudian pergi menuju ke tempat di mana motornya terparkir. Beberapa orang yang dia kenal menyapa dan menawarkan jualan. Namun, karena hari ini menu yang akan dia buat cuman satu. Dia menolak halus tawaran mereka. Sesampainya di tempat parkir dan membayar jasa dia langsung pulang ke rumah.

••••

Beruntung dulu Vania sempat kursus memasak untuk menghilangkan rasa kesepian. Jadi, setiap kali dia merasakan hal tersebut berkutik di dapur akan menjadi pelampiasan untuknya. Terhitung sudah satu tahun suaminya tidak pulang dan dua bulan sejak terakhir kali memberi kabar. Saat itu, Adit memberi kabar dan tempat yang sedang disinggahi yaitu Turki.

Marinasi ayam sudah selesai kemudian Vania memasukkan ke dalam kulkas, dia mengambil daun jeruk, daun sereh, bawang merah, sedikit bawang putih, dan yang terakhir cabai rawit. Dia memotong semua menjadi potongan-potongan kecil lalu dicampur dan dimasak sebentar menggunakan minyak panas. Wangi khas sambal matah tercium di seluruh dapur rumahnya, mungkin sampai depan.

Selesai memasak sambal matah, selanjutnya Vania menyiapkan tepung panir dan tepung gandum yang sudah dicampur air. Karena menunggu marinasi ayam kurang lebih satu jam, dia tinggal bermain ponsel sembari melihat jika ada pesanan yang lain. Namun, saat berjalan ke ruang keluarga tiba-tiba bel rumah berbunyi tanda ada tamu yang datang.

Vania tak jadi mengambil ponsel dan memilih untuk membukakan pintu terlebih dahulu. "Iya, ada apa?" tanyanya bersamaan dengan menarik kenop pintu.

"Boleh numpang mandi, ngga? Air di rumah saya mati," ujar seorang pria muda yang berdiri di depan pintu hanya menggunakan celana pendek saja dan handuk tersampir di bahunya. Tubuh bagian atas terekspos sangat menggoda dengan otot-otot yang terbentuk sempurna.

Vania sampai tak bisa berkedip melihat sosok di depannya. Sesuatu yang aneh muncul di dalam tubuhnya, terasa panas.

"Halo, mbak? Boleh atau tidak, saya keburu malu kalau ada orang yang lihat." Pria itu mengibaskan tangan di depan wajah Vania.

"Eh-iya, boleh. Silahkan masuk," balas Vania tersadar dengan lamunan dan tak sengaja mempersilahkan masuk pria muda tampan itu. "Apa yang barusan aku lakuin?" gumamnya sedikit menyesal.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kehangatan Pelukan Tetangga   Keputusan Sepihak

    Pagi-pagi buta, Vania mendengar suara deru mobil yang berhenti di depan rumah. Dia segera bangkit untuk melihat siapa yang datang pukul empat dini hari. Sesampainya di depan, dia mendapati Mas Adit yang sangat berbeda dengan tiga bulan yang lalu turun dari mobil. Tubuh pria itu menjadi kurus dan kulitnya berubah agak gelap. Sebenarnya pekerjaan apa yang diberikan oleh Gerald pada Mas Adit hingga mampu membuat pria itu berubah total. Lantas Vania pun segera menghampiri suaminya untuk membantu bawa masuk barang bawaan yang sepertinya tidak banyak. Hanya ada satu koper dan satu kantung plastik bercorak zebra. "Mas sini, biar aku bantu." Vania meraih kantung plastik di tangan sang suami. Dia bisa merasakan aura yang berbeda, entah kenapa perasaannya tidak enak. "Kalau boleh tahu, mas kerja apa?" "Banyak, kalau aku sebutkan satu-persatu bisa sampai nanti sore," balas Adit melirik ke arah wanita di sebelahnya. Sungguh dia dari dulu memang tidak menyukai Vania sama sekali, kalau bukan

  • Kehangatan Pelukan Tetangga   Dilema

    Keraguan terus muncul di dalam hati Vania setelah melihat rumah tetangga yang sekarang kosong. Gerald seperti menghilang begitu saja, entah pergi ke mana dia tidak mendapatkan kabar. Bahkan pesan yang dia kirimkan sejak dua bulan yang lalu belum mendapatkan balasan. Untungnya di rumah ada Jessica sehingga dia tidak merasa kesepian. Coba saja jika tidak, apakah dia bisa melewati masa-masa kelam lagi? Dia juga tidak mendapat kabar dari suaminya, entah di mana pria itu berkerja. Uang yang akan dia gunakan untuk menyicil hutang Adit masih utuh karena Gerald tak pernah mau menerima."Mbak, akhir-akhir ini kok kelihatannya kayak ngga semangat gitu?" tanya Jessica yang duduk di sofa sambil menyusui. "Apa karena Mas Adit ngga ngasih kabar? Tenang aja mbak mas bakalan pulang kok minggu depan.""Kok kamu bisa tahu?" balas Vania menatap ke arah Jessica di sebelahnya."Kan minggu depan udah tiga bulan sejak Mas Adit pergi," jawab Jessica tersenyum lebar."Tiga bulan? Apa maksudnya? Mas Adit ngga

  • Kehangatan Pelukan Tetangga   Rumput Tetangga Lebih Hijau

    "Do you like it?" gumam Gerald posisinya berada di atas Vania sambil memeluk erat tubuh wanita itu."Hmm, ahh. Enak banget," balas Vania juga memeluk tubuh kekar milik Gerald. Sesekali dia mencakar punggung lebar pria itu saat tusukkan di lubang hangat miliknya begitu dalam.Permainan panas antara Vania dan Gerald sangat menggairahkan, mereka seperti ditakdirkan untuk saling melengkapi. Gerald tampak berkeringat karena sudah melakukannya selama dua kali dan belum cukup. Sedangkan Vania terkulai lemas di atas ranjang king size milik pria itu menerima sesuatu yang besar masuk ke dalam tubuhnya.Perasaan yang telah lama hilang mulai datang kembali, Vania mencintai pria ini meski hanya bercinta saja. Tubuhnya seakan meminta untuk dimainkan oleh Gerald tanpa berhenti sedetik pun. Meski terlihat lelah dia tetap melayani tenaga sosok yang mendesah kenikmatan di atasnya. Melihat bagaimana wajah itu tampak keenakan membuat dirinya ikut bergairah."Aku mau keluar lagi!" Gerald mendorong pinggul

  • Kehangatan Pelukan Tetangga   Rindu Akan Sentuhan

    "Kenapa kamu kasih kerjaan buat suamiku?" tanya Vania begitu menginjakkan kaki di rumah pria yang sedang makan salad sambil bekerja itu.Gerald menatap sejenak ke arah Vania lalu beralih ke layar laptop lagi. "Bagus, kan? Aku bisa berduaan sama kamu terus," godanya."Gerald," suara Vania datar. "Kita sudah sepakat untuk mengakhiri hubungan sesaat itu, bukan?""Aku mau mulai lagi, mumpung suamimu pergi jauh," balas Gerald tanpa menoleh sedikit pun."Di mana tempat kerja suamiku?""Adalah pokoknya," jawab Gerald kemudian berdiri mendekati Vania untuk sekedar melihat dari jarak dekat. "Kenapa kamu malam-malam datang ke sini sendirian, hmm?""Gerald!" Vania mendorong dada bidang pria itu agar menjauh. "Jangan aneh aneh, ya!"Gerald hanya tertawa kemudian berjalan menuju ke dapur untuk mencuci piring yang barusan dipakai. Dia menyadari jika Vania mengekor di belakangnya. "Biar dia bisa membayar hutangnya," ujarnya setelah menaruh piring ke rak."Kan bisa pakai uangku dulu, biar nanti aku y

  • Kehangatan Pelukan Tetangga   Alasan Dipecat

    Vania menunggu kedatangan suaminya yang tiga hari belum pulang semenjak kedatangan para penagih hutang. Dia sangat kesal melihat cara pria itu menyelesaikan masalah dengan kabur. Entah ke mana perginya karena dia tidak mengenal lebih tentangnya. Bahkan sepuluh tahun menikah, hubungan mereka hanya sebatas tahu nama dan keluarga saja.Teman? Vania belum pernah dikenalkan dengan orang terdekat dengan Adit kecuali beberapa keluarga pria itu. "Kamu beneran ngga tahu teman Mas Adit sama sekali?" tanya Vania ke pada Jessica yang sedang menyusui sang anak sembari duduk di sofa sebelahnya."Ngga tahu, mbak. Mas Adit punya hutang aja aku juga ngga tahu," jawab Jessica wajahnya tampak begitu kesal."Sama, mbak juga. Selama ini yang mbak tahu Mas Adit cuman bekerja di kapal pesiar dan selalu memberi uang bulanan lebih dari cukup," ujar Vania menatap anak Jessica yang cukup menggemaskan?"Kok bisa gitu, mbak kan istrinya?" sahut Jessica tampak tidak terima. "Apa Mas Adit ngga pernah memperlakukan

  • Kehangatan Pelukan Tetangga   Tamu Tak Diundang

    Debaran aneh selalu datang ketika Vania berbicara atau bertemu dengan Gerald. Pria itu adalah orang pertama yang bisa membuatnya sampai seperti ini. Dulu waktu bersama Adit, dia tidak terlalu menaruh hati karena dipertemukan bukan dari sebuah takdir. Melainkan kenalan lewat ayah dan ibunya, lambat laun menjadi cinta karena terbiasa.Berbeda dengan Gerald, pria yang jauh lebih muda darinya memandang dia seperti seorang wanita pujaan hati. Entah mengapa, setelah kejadian di masa lalu, dia bisa merasakan bagaimana pria lain yang mendekatinya karena nafsu semata atau cinta dari lubuk hati. Saat bersama Gerald, Vania diperlakukan layaknya wanita yang memiliki nilai tinggi bukan sekedar pemuas saja."Mau tanya, apa?" Gerald duduk di sofa. Seperti biasa, Vino berada di pangkuan sembari main ponsel."Apa aku mengatakan sesuatu yang aneh waktu itu?" tanya Vania ikut duduk setelah memberikan segelas air putih. Karena pria itu tidak mau jus atau sirup."Oh, memangnya kamu ngga ingat?" Gerald mer

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status