Masuk
Keseharian Vania Maharani hanyalah menjadi ibu rumah tangga sekaligus berjualan makanan lewat online shop. Dia memiliki anak laki-laki berusia tujuh tahun yang sudah menuju pertengahan kelas dua sekolah dasar. Suaminya? Entahlah, dia sendiri juga kebingungan jika ditanyai tentang Adit—sang suami yang bekerja di kapal pesiar dan pulang tak menentu.
"Vino! Buruan mandinya, ini udah jam berapa!" teriak Vania ketika anaknya belum keluar dari kamar mandi. "Iya, bun!" balas Vino selang beberapa menit kemudian muncul menggunakan handuk yanv terlilit di pinggang. "Emang jam berapa, bun?" "Setengah tujuh," jawab Vania setelah melihat ke arah jam didin di rumahnya. "Kalau sepuluh menit belum selesai kamu bakalan telat." Vino hanya tersenyum memperlihatkan deretan gigi yang tampak sedikit ompong kemudian berlari masuk ke dalam kamar. Sedangkan Vania sibuk memasukkan bekal yang akan di bawa oleh anaknya ke sekolah pagi ini ke dalam tas. Dia tidak lupa menyiapkan sarapan berupa sandwich kesukaan sang anak agar semangat. Lima menit kemudian pintu kamar terbuka menampilkan sosok Vino yang sudah berpakaian lengkap. Memang anak itu sangat cekatan dalam melakukan sesuatu, bahkan Vania keheranan melihatnya. Sambil menyuapi sandwich, dia memerhatikan anaknya sedang memakai sepatu dan juga dasi. Tepat suapan terakhir semua sudah siap tinggal berangkat. "Berangkat dulu ya bun," pamit Vino bertepatan dengan mobil jemputan yang tiba di depan rumah. "Iya, hati-hati." Mobil berwarna putih yang berhenti di depan gerbang pun melaju setelah Vino masuk. Vania segera masuk ke dalam rumah lagi, dia akan menyiapkan pesanan makanan untuk hari ini yaitu ayam katsu sambal matah. Sebelum membuat tentu saja dia harus pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan yang dibutuhkan. Dia pun segera bersiap-siap ganti pakaian yang lebih tertutup agar tidak menimbulkan fitnah. Karena dia cukup dikenal luas oleh orang-orang pasar. Setelah siap dan memakai pakaian yang layak, Vania mengambil motor di garaso lalu melajukan menuju ke pos satpam. Dia menyapa Pak Joko—pria berusia empat puluhan itu dengan sopan. Begitu pintu dibuka oleh Pak Joko, motornya segera melaju tak lupa bilang terimakasih terlebih dahulu. Jarak antara perumahan yang dia tempati dengan pasar sekitar lima kilometer. Butuh waktu sepuluh hingga lima belas menit untuk tiba di sana dengan motor berkecepatan sedang. "Mbok, aku mau beli ini." Vania sudah berada di pasar lalu memberikan catatan kepada penjual langganannya. "Iya, Mbak Vania," balas Mbok Romlah sangat antusias akan kedatangannya. "Silahkan beli yang lain dulu segali mbok siapkan belanjaannya." "Makasih, mbok." Vania menuju ke penjual daging ayam untuk beli fillet sebanyak 1,5 kilo, oh ya, jumlah pesanan untuk nanti malam adalah 10 box. Dia berdiri di depan penjual daging ayam lalu memesan, tak lama daging sudah berada di tangannya. Setelah itu, dia kembali ke tempat Mbok Romlah dan pesanannya pun juga sudah selesai. Namun, tiba-tiba wanita paruh baya itu menyuruhnya untuk masuk ke dalam warung. "Ada apa, mbok?" tanya Vania yang kebingungan dengan perlilaku wanita itu. "Katanya dekat rumah eneng bakalan ada proyek besar-besaran ya?" balas Mbok Romlah setengah berbisik. Vania menggeleng karena memang tidak mengetahui akan hal tersebut. "Proyek apa, mbok?" "It-itu... apa namanya? Yang gedung besar buat pusat perbelanjaan." Mbok Romlah tampak mengingat-ingat nama. "Mal?" tebak Vania langsung mendapat anggukkan antusias dari Mbok Romlah. "Orang-orang pasar mau protes karena itu," ujar Mbok Romlah tampak kecewa. "Semoga aja tidak mematikan daya beli di pasar ini, ya." "Tenang saja, mbok. Meskipun ada mal besar, aku cuman beli di tempat mbok saja." Vania menenangkan. "Makasih, neng. Ya ampun, cantik-cantik begini suaminya minggat terus." Mbok Romlah mengusap lengan Vania penuh perhatian. "Hehe, iya mbok. Kalau begitu aku pulang dulu, mau bikin pesanan," pamit Vania lalu ke luar dari warung. "Iya-iya sana." Vania tersenyum pada Mbok Romlah kemudian pergi menuju ke tempat di mana motornya terparkir. Beberapa orang yang dia kenal menyapa dan menawarkan jualan. Namun, karena hari ini menu yang akan dia buat cuman satu. Dia menolak halus tawaran mereka. Sesampainya di tempat parkir dan membayar jasa dia langsung pulang ke rumah. •••• Beruntung dulu Vania sempat kursus memasak untuk menghilangkan rasa kesepian. Jadi, setiap kali dia merasakan hal tersebut berkutik di dapur akan menjadi pelampiasan untuknya. Terhitung sudah satu tahun suaminya tidak pulang dan dua bulan sejak terakhir kali memberi kabar. Saat itu, Adit memberi kabar dan tempat yang sedang disinggahi yaitu Turki. Marinasi ayam sudah selesai kemudian Vania memasukkan ke dalam kulkas, dia mengambil daun jeruk, daun sereh, bawang merah, sedikit bawang putih, dan yang terakhir cabai rawit. Dia memotong semua menjadi potongan-potongan kecil lalu dicampur dan dimasak sebentar menggunakan minyak panas. Wangi khas sambal matah tercium di seluruh dapur rumahnya, mungkin sampai depan. Selesai memasak sambal matah, selanjutnya Vania menyiapkan tepung panir dan tepung gandum yang sudah dicampur air. Karena menunggu marinasi ayam kurang lebih satu jam, dia tinggal bermain ponsel sembari melihat jika ada pesanan yang lain. Namun, saat berjalan ke ruang keluarga tiba-tiba bel rumah berbunyi tanda ada tamu yang datang. Vania tak jadi mengambil ponsel dan memilih untuk membukakan pintu terlebih dahulu. "Iya, ada apa?" tanyanya bersamaan dengan menarik kenop pintu. "Boleh numpang mandi, ngga? Air di rumah saya mati," ujar seorang pria muda yang berdiri di depan pintu hanya menggunakan celana pendek saja dan handuk tersampir di bahunya. Tubuh bagian atas terekspos sangat menggoda dengan otot-otot yang terbentuk sempurna. Vania sampai tak bisa berkedip melihat sosok di depannya. Sesuatu yang aneh muncul di dalam tubuhnya, terasa panas. "Halo, mbak? Boleh atau tidak, saya keburu malu kalau ada orang yang lihat." Pria itu mengibaskan tangan di depan wajah Vania. "Eh-iya, boleh. Silahkan masuk," balas Vania tersadar dengan lamunan dan tak sengaja mempersilahkan masuk pria muda tampan itu. "Apa yang barusan aku lakuin?" gumamnya sedikit menyesal.Kebiasaan Gerald yang sering membuat Vania kaget dan sedikit berdebar adalah pria itu selalu memeluk atau mencium tentu saja tanpa diketahui anaknya. Dia merasa seperti memiliki suami lain yang bisa seenak jidat masuk ke dalam rumahnya karena diajak main Vino. Sungguh lama kelamaan ada perasaan yang tumbuh meskipun pada dasarnya antara mereka tak ada apapun. Hanya simbiosis mutualisme saja, di mana Vania sedang membutuhkan kehangatan sedangkan pria itu mungkin perlu tantangan bermain dengan istri orang. Malam yang biasanya hanya ada Vania dan Vino kini tambah satu orang yaitu Gerald. Pria itu jadi kebiasaan makan malam di rumahnya mentang mentang sangat disukai oleh anaknya. Terkadang dia berpikir kenapa pria yang masih muda ini rela datang ke rumahnya selain bercinta. Dia ingin sekali menanyakan semua, tapi hubungan mereka hanyalah sebatas pemuas hasrat saja. Sampai sekarang yang dia ketahui hanya umur dan nama panjangnya saja. Geraldino Abimanyu berusia tujuh tahun lebih muda da
Intensitas pertemuan Vania dan Gerald semakin sering apalagi setelah kejadian malam itu. Ditambah pula Vino yang sedang libur sekolah menjadi alasan karena bocah itu sering ke rumah sebelah. Di perumahan ini tak banyak tetangga yang ikut campur karena jarak antara dua unit rumah ke yang lainnya cukup jauh sekitar seratus meter. Dari pihak pembuat perumahan ini memang diberi jarak yang seperti itu. Dua rumah dengan model berbeda yang pertama seperti milik Vania mewah namun hanya memiliki satu lantai. Sedangkan satunya lagi seperti milik Gerald dengan lantai 2, nanti setiap seratus meter ada dua rumah dengan bentuk yang sama. Bayangkan saja seluas apa perumahan di tempat yang sejak awal menikah sudah Vania tempati sebagai hadiah pernikahan dari ibunya. Harganya sudah pasti mahal kalau dipikir-pikir lagi dia sangat beruntung. "Akhir-akhir ini wajahmu berseri-seri banget," ujar Mbok Romlah ketika Vania datang untuk membeli dagangannya. "Suaminya sudah pulang, ya?" Sambungnya sambil me
Vania tak memakai sehelai benang pun di tubuhnya sedangkan Gerald terus mengencangkan hentakan tangan yang berada di dalam dirinya. Kepala pria itu menunduk tepat di antara selangkangan lalu dia merasakan lidah yang panjang bermain di klitoris seperti sedang memakan eskrim. Tubuhnya langsung menggelinjang tak tahan dengan sentuhan yang diberikan secara langsung. Kedua tangannya reflek menjabak rambut pria yang tampak masih mebikmati kegiatannya itu. Desahan demi desahan terdengar dari mulut Vania sampai membuat bola matanya naik dan hanya terlihat putih saja. Artinya dia sangat menikmati permainan yang diberikan Gerald saat ini, tak cukup dengan semuanya. Pria itu menyudahi kegiatan menyeruput eskrim dan beralih melepas celana yang sejak tadi masih terpakai. Menunjukkan ereksi di atas rata-rata karena sangat besar, panjang, dan penuh dengan urat. Siap untuk menghancurkan benteng lawannya. "Boleh?" tanya Gerald menundukkan kepala untuk ditaruh di atas perut rata milik Vania. Dia me
Vania masih mencari pria yang bisa disewa untuk mengambilkan rapot anaknya hingga pukul delapan pagi. Dia kebingungan karena tinggal tiga puluh menit lagi sisa waktu akan habis. Undangan dari pihak sekolah sendiri ditunjukkan pukul sembilan malam. Jadi, setidaknya dia memberi jeda tiga puluh menit untuk memberi arahan ke pada orang yang akan disewanya nanti. Pasalnya sudah sepuluh menit berlalu Vania tak kunjung mendapatkan seseorang yang mau. Bahkan dia sampai memasuki pasar hanya demi mencari orang yang menurutnya cocok dijadikan sebagai suami bohongan. Namun, apa yang dia harapkan? Mereka memiliki kesibukan masing-masing meski dibayar cukup tinggi tetap saja tidak mau. Apalagi setelah mendengar tempat di mana anaknya bersekolah yaitu SD Internasional. Akhirnya Vania memilih untuk pulang saja, dia akan mencari cara lain atau memohon guru dari anaknya agar bisa diambil oleh ibunya saja. Namun, dari depan pos satpam Vania melihat sosok Gerald sedang menggendong Vino. Mereka saling
Rasa bersalah terus menyelimuti diri Vania karena kejadian kemarin malam, Gerald tampak memakai gips di lengan kanannya. Kata pria itu, pekerjaannya jadi terganggu bahkan sampai tidak masuk selama tiga hari berturut-turut. Alhasil, Vania lebih memilih untuk menurunkan gengsi agae bisa merawat Gerald hingga sembuh. Saat ini dia sedang memasak untuk diberikan pada pria itu meski harus dipaksa terlebih dahulu. Setelah selesai memasak Vania segera membawakam bubur kacang ijo itu menuju ke rumah Gerald. Sebelumnya dia sudah menyiapkan segala kebutuhan Vino sebelum berangkat ke sekolah satu jam yang lalu. Dengan hati-hati dia berjalan agar tidak tumpah, sampai di depan pintu rumah pria itu. Vania tak mengetuk, langsung masuk begitu saja tanpa permisi terlebih dahulu. Vania masih kesal dengan Gerald, bisa-bisanya kejadian yang membuat pria itu sampai tersiksa seperti ini masih dibercandain. Gila, ya? Hampir tiga hari terakhir dia mengomeli Gerald gara-gara bercanda tentang ereksi. Dia me
Beberapa hari terakhir, Vania selalu menghindari kontak mata maupun fisik saat bertemu dengan Gerald. Dia bahkan meminta anaknya yang kecanduan main di rumah pria itu untuk tidak berlama-lama di sana. Sungguh kejadian yang membuat dunianya berubah seratus delapan puluh derajat. Bagaimana tidak? Sampai sekarang bahkan isi otaknya masih terngiang-ngiang bagaimana bentuk tubuh Gerald malam itu. Sebagai wanita yang telah lama tak dijamah Vania rasa gairah di dalam dirinya mulai bangkit. Apalagi dengan kedatangan Gerald yang mana mempunyai fisik hampir sempurna. Pria itu berhasil memporak-porandakan apa yang dia jaga selama ini. Dia kembali menjadi seorang wanita yang mendambakan kehangatan ranjang. Dan, sangat berharap suaminya pulang sekarang juga. Seperti sehari-hari, Vania sedang menjaga anaknya yang bermain dengan tetangga yang seumuran di taman komplek. Oh ya, perumahan ini banyak penghuninya, ada sekitar 20 kepala keluarga yang tinggal di sini. Berbeda dengan komplek yang lain,







