LOGINSuara beberapa orang tampak sibuk di depan rumah Viona, mereka sedang memindahkan barang milik tetangga. Dia melihat ke depan untuk sekedar menyapa saja, tak disangka jika pria muda yang beberapa hari lalu datang ke rumah ini untuk numpang mandi ada di sana. Matanya saling bertemu, dia hanya tersenyum kemudian masuk ke dalam rumah lagi untuk memeriksa anaknya.
Siang menjelang sore ini, Vania akan mengajak Vino jalan-jalan sekalian itung-itung reward karena telah menyelesaikan pesanan cukup banyak. Ya, setelah ayam katsu sambal matah ada beberapa yang pesan lagi serta menu lainnya seperti ayam goreng madu, ayam geprek, dan beberapa cemilan. Dia cukup senang karena mendistraksi bayang-bayang tentang pria bertelanjang dada itu dari pikirannya. "Udah selesai?" tanya Vania masuk ke dalam kamar anaknya. "Hari ini mau pergi ke mana dulu? Toko mainan atau makan sushi?" "Makan dulu, bun." Jawab Vino telah selesai berpakaian rapi tinggal berangkat saja. "Bun, aku pengen punya hp kayak temen-temen," rengeknya kemudian. "Hush, ngga boleh. Kamu masih kecil jangan mainan hp dulu, bunda bakal beliin kalau kamu udah SMP atau habis sunat saja." Vania mencoba untuk bijak. Takut jika masih kecil diberi hp akan menjadi kecanduan dan mengurangi performa belajar. "Pengennya sekarang, bun." Vino tampak makin rewel. "Aku rela tidak jajan atau pergi-pergian sama bunda asal dibeliin hp." Helaan nafas terdengar dari mulut Vania kemudian dia mengelus lembut rambut anaknya. "Boleh deh kalau gitu asal ada syaratnya," ujarnya sambil duduk di sofa ruang keluarga. "Duduk dulu deh." Vino menurut ikut duduk di sebelah ibunya lalu menatap wanita itu lamat-lamat menunggu apa syarat yang akan diucapkan. "Apa, bun?" "Hmm, kamu harus dapat ranking tiga besar terus sampai kelas enam. Kalau misalnya bisa, bunda bakal beliin. Jika dalam kurun waktu itu kamu turun dari tiga besar hp-nya bunda sita. Dan, tidak boleh bermain terus-terusan, bunda bakal kasih waktu, ada saatnya main dan berhenti," jelas Vania dengan lembut. "Baik, bun. Berarti hp-nya dibeliin bunda setelah aku dapat ranking di sekolah dulu?" Vino memang anak yang mudah mengerti. "Iya, nak." "Oke, ayo bun kita jalan-jalan." Saat itu juga Vania tertawa padahal beberapa menit yang lalu Vino mengatakan kalau rela tidak jajan atau berpergian. Sekarang, lihatlah bocah laki-laki itu sudah berlari ke luar rumah mendahului dirinya yang ingin mengambil kunci motor dulu. Kebiasaan Vania yang tak pernah terlewatkan jika sedang mendapat uang banyak hasil kerja kerasnya. Menyenangkan anak semata wayangnya yang sangat dia cintai sepenuh hati. Di luar rumah mobil yang membawa barang-barang tetangga sudah hilang, begitu pula pria itu. Namun, Vino juga menghilang yang membuat Vania panik seketika, dia mencari di sekitar garasi rumah. Tidak ada, lalu menuju ke rumah tetangga barunya itu. Ternyata anaknya sedang bermain bersama pria muda yang lagi-lagi tak memakai pakaian bagian atas. "Vino?" panggil Vania seketika membuat dua lelaki beda generasi itu menoleh bersamaan. "Jadi, ikut bunda pergi?" "Jadi dong, bun. Ini tadi aku lihatin om Gerald beresin mainan kesukaannya, bun. Banyak loh mobil kecil-kecil, apa tadi namanya?" celoteh Vino tampak tertarik lalu melihat ke arah pria itu. "Hot Wheels," balas pria bernama Gerald memamerkan senyum indahnya. "Iya itu namanya, bun. Nanti beliin, ya?" pinta Vino yang ingin mainan seperti pria itu. "Iya, nanti bunda beliin. Maaf ya, mas, anak saya ngerepotin," ujar Vania merasa tidak enak. "Oh, nggapapa kok. Saya malah suka kalau ada yang tertarik dengan hobi saya. Sebenernya saya juga mau minta maaf karena numpang mandi di rumah, mbak." Gerald berdiri mendekati ibu dan anak itu. Vania tersenyum kembali teringat siang itu yang mana dia pura-pura tidur saat Gerald sudah selesai mandi. "Mau bagaimana lagi, air di rumah mas mati. Lain kali kalau butuh bantuan bilang aja," tawarnya tak bisa lama-lama memandang tubuh yang terpahat indah itu. "Iya, mbak. Mau pergi ke mana sore-sore begini?" "Oh, mau jajanin anak. Kalau begitu saya permisi dulu," pamit Vania membawa Vino lekas pergi dari halaman rumah Gerald. Baru juga sampai di pelataran rumah dan ingin naik ke motor tiba-tiba Vino bertanya. "Bunda, hobi itu apa? Apa ayah punya hobi yang menyenangkan juga?" Saat itu Vania langsung tertegun, memang selama suaminya pulang jarang sekali pria itu berinteraksi dengan anaknya sendiri. Bahkan setiap di rumah masih selalu sibuk dengan pekerjaan, ke luar sampai malam, kadang sampai pagi juga. Entahlah, dia juga tidak mengerti apa arti pernikahan ini bagi Adit? Setidaknya pria itu masih memberinya nafkah hingga saat ini, meski tak terlalu banyak, cukup untuk makan berdua. "Ngga tahu, nanti kalau ayah pulang kamu tanya aja sendiri," jawav Vania dengan wajah tenang. "Kapan pulangnya, bun?" "Hmm, mungkin bulan depan." •°• Setelah menidurkan Vino, Vania kembali ke kamarnya untuk melihat apakah besok akan ada pesanan. Di atas ranjang dia mulai menscroll layar ponselnya sambil membalas satu persatu chat yang masuk. Ada beberapa pesanan meski dalam jumlah yang kecil, dia selalu menyanggupi semua itu hitung-hitung meningkatkan branding. Sampai ketukan pintu terdengar disertai suara bel yang ikut berbunyi. Perasaan Vania campur aduk, bagaimana jika yang berada di depan pintu adalah Gerald dalam keadaan shirtless lagi? Akhirnya dengan keberanian dia membuka pintu dan sesuai yang dikira tamunya adalah pria itu. Kali ini memakai setelan jas yang membuat ketampanannya naik berkali-kali lipat meskipun dia lebih suka saat tanpa baju. Apa sih yang sedang Vania pikirkan? Terlalu lama sendiri juga tak baik baginya. "Mbak jualan makanan, ya?" tanya Gerald bahkan sebelum disuruh masuk. "Masuk dulu, mas. Ngga enak di lihat tetangga," jawab Vania mempersilahkan pria itu masuk dengan pintu yang masih terbuka lebar. "Iya, mas. Saya jualan makanan dan camilan," sambungnya setelah duduk di sofa ruang tamu. "Bisa bikinin buat 50 orang, ngga? Apa aja yang penting bisa dimakan, teman-teman saya mau berkunjung ke rumah baru saya." Gerald tampak begitu panik. "Kapan mas butuhnya?" tanya Vania dengan nada dibuat setenang mungkin. "Lusa, kalau butuh bantuan nanti saya panggilkan pembantu saya," balas Gerald dengan wajah penuh harapan. "Bisa kok, saya punya tenaga orang yang saya percayai. Jadi, mas ngga usah repot-repot bawa pembantu untuk datang. Menunya terserah saya?" "Iya, kalau bisa jangan ada makanan berat. Dan, banyakin yang manis-manis." Gerald menatap sekitar. "Bisa, mas. Mau bayar uang muka dulu?" Prinsip Vania adalah bayar uang muka terlebih dahulu baru dibuatkan. "Ya, berapa totalnya?" tanya Gerald sambil merogoh dompet di dalam saku. "Satu juta dulu nggapapa, mas. Nanti kalau kurang bisa dibicarakan lagi," jawab Vania kebingungan dengan tingkah aneh pria yang duduk di depannya. Gerald mengulurkan uang yang baru saja diambil dari dalam dompet kepada Vania. "Entah itu berapa mbak, hitung aja dulu." Vania mulai menghitung, "Kebanyakan satu juta, mas." Ujarnya ingin mengembalikan sisanya namun ditolak oleh pria yang kini sudah berdiri. "Ambil aja, mbak. Kalau misal masih kurang boleh minta lagi setelah acara selesai," ujar Gerald berdiri di depan pintu. "Kenapa sih, mas? Kayak buru-buru gitu?" Akhirnya Vania memberanikan diri untuk bertanya. Dia merasa tidak nyaman dengan sikap pria itu. "Sebelum pergi saya boleh bertanya, mbak?" "Silahkan," balas Vania sambil menduga-duga apa yang akan ditanyakan oleh Gerald. "Suami mbak ada di dalam?" Seketika Vania tertawa cukup keras. "Kirain ada apa, mas-mas. Suami saya kerja di pelayaran, saya di rumah ini sama anak saja. Jangan bilang mas takut kalau tiba-tiba suami saya muncul?" tebaknya. Gerald bengong saat melihat senyuman yang barusan terpampang jelas di depannya. Ada apa ini? Kenapa jantungnya berdetak kencang? "Halo, mas!" "Eh, iya, mbak. Aman berarti," ujar Gerald merasa lega kemudian pamit untuk pulang dengan jantung yang masih berdebar kencang. 'Dia istri orang, jangan diembat!' Batinnya saat berjalan kaki menuju rumah. Di sisi lain, Vania baru menyadari jika dirinya terlalu akrab dengan Gerald. Dia menggelengkan kepala lalu menutup pintu, sepertinya pria itu lebih muda darinya. "Tetangga baru yang cukup baik," gumamnya sambil menatap uang dua juta di tangannya.Pagi-pagi buta, Vania mendengar suara deru mobil yang berhenti di depan rumah. Dia segera bangkit untuk melihat siapa yang datang pukul empat dini hari. Sesampainya di depan, dia mendapati Mas Adit yang sangat berbeda dengan tiga bulan yang lalu turun dari mobil. Tubuh pria itu menjadi kurus dan kulitnya berubah agak gelap. Sebenarnya pekerjaan apa yang diberikan oleh Gerald pada Mas Adit hingga mampu membuat pria itu berubah total. Lantas Vania pun segera menghampiri suaminya untuk membantu bawa masuk barang bawaan yang sepertinya tidak banyak. Hanya ada satu koper dan satu kantung plastik bercorak zebra. "Mas sini, biar aku bantu." Vania meraih kantung plastik di tangan sang suami. Dia bisa merasakan aura yang berbeda, entah kenapa perasaannya tidak enak. "Kalau boleh tahu, mas kerja apa?" "Banyak, kalau aku sebutkan satu-persatu bisa sampai nanti sore," balas Adit melirik ke arah wanita di sebelahnya. Sungguh dia dari dulu memang tidak menyukai Vania sama sekali, kalau bukan
Keraguan terus muncul di dalam hati Vania setelah melihat rumah tetangga yang sekarang kosong. Gerald seperti menghilang begitu saja, entah pergi ke mana dia tidak mendapatkan kabar. Bahkan pesan yang dia kirimkan sejak dua bulan yang lalu belum mendapatkan balasan. Untungnya di rumah ada Jessica sehingga dia tidak merasa kesepian. Coba saja jika tidak, apakah dia bisa melewati masa-masa kelam lagi? Dia juga tidak mendapat kabar dari suaminya, entah di mana pria itu berkerja. Uang yang akan dia gunakan untuk menyicil hutang Adit masih utuh karena Gerald tak pernah mau menerima."Mbak, akhir-akhir ini kok kelihatannya kayak ngga semangat gitu?" tanya Jessica yang duduk di sofa sambil menyusui. "Apa karena Mas Adit ngga ngasih kabar? Tenang aja mbak mas bakalan pulang kok minggu depan.""Kok kamu bisa tahu?" balas Vania menatap ke arah Jessica di sebelahnya."Kan minggu depan udah tiga bulan sejak Mas Adit pergi," jawab Jessica tersenyum lebar."Tiga bulan? Apa maksudnya? Mas Adit ngga
"Do you like it?" gumam Gerald posisinya berada di atas Vania sambil memeluk erat tubuh wanita itu."Hmm, ahh. Enak banget," balas Vania juga memeluk tubuh kekar milik Gerald. Sesekali dia mencakar punggung lebar pria itu saat tusukkan di lubang hangat miliknya begitu dalam.Permainan panas antara Vania dan Gerald sangat menggairahkan, mereka seperti ditakdirkan untuk saling melengkapi. Gerald tampak berkeringat karena sudah melakukannya selama dua kali dan belum cukup. Sedangkan Vania terkulai lemas di atas ranjang king size milik pria itu menerima sesuatu yang besar masuk ke dalam tubuhnya.Perasaan yang telah lama hilang mulai datang kembali, Vania mencintai pria ini meski hanya bercinta saja. Tubuhnya seakan meminta untuk dimainkan oleh Gerald tanpa berhenti sedetik pun. Meski terlihat lelah dia tetap melayani tenaga sosok yang mendesah kenikmatan di atasnya. Melihat bagaimana wajah itu tampak keenakan membuat dirinya ikut bergairah."Aku mau keluar lagi!" Gerald mendorong pinggul
"Kenapa kamu kasih kerjaan buat suamiku?" tanya Vania begitu menginjakkan kaki di rumah pria yang sedang makan salad sambil bekerja itu.Gerald menatap sejenak ke arah Vania lalu beralih ke layar laptop lagi. "Bagus, kan? Aku bisa berduaan sama kamu terus," godanya."Gerald," suara Vania datar. "Kita sudah sepakat untuk mengakhiri hubungan sesaat itu, bukan?""Aku mau mulai lagi, mumpung suamimu pergi jauh," balas Gerald tanpa menoleh sedikit pun."Di mana tempat kerja suamiku?""Adalah pokoknya," jawab Gerald kemudian berdiri mendekati Vania untuk sekedar melihat dari jarak dekat. "Kenapa kamu malam-malam datang ke sini sendirian, hmm?""Gerald!" Vania mendorong dada bidang pria itu agar menjauh. "Jangan aneh aneh, ya!"Gerald hanya tertawa kemudian berjalan menuju ke dapur untuk mencuci piring yang barusan dipakai. Dia menyadari jika Vania mengekor di belakangnya. "Biar dia bisa membayar hutangnya," ujarnya setelah menaruh piring ke rak."Kan bisa pakai uangku dulu, biar nanti aku y
Vania menunggu kedatangan suaminya yang tiga hari belum pulang semenjak kedatangan para penagih hutang. Dia sangat kesal melihat cara pria itu menyelesaikan masalah dengan kabur. Entah ke mana perginya karena dia tidak mengenal lebih tentangnya. Bahkan sepuluh tahun menikah, hubungan mereka hanya sebatas tahu nama dan keluarga saja.Teman? Vania belum pernah dikenalkan dengan orang terdekat dengan Adit kecuali beberapa keluarga pria itu. "Kamu beneran ngga tahu teman Mas Adit sama sekali?" tanya Vania ke pada Jessica yang sedang menyusui sang anak sembari duduk di sofa sebelahnya."Ngga tahu, mbak. Mas Adit punya hutang aja aku juga ngga tahu," jawab Jessica wajahnya tampak begitu kesal."Sama, mbak juga. Selama ini yang mbak tahu Mas Adit cuman bekerja di kapal pesiar dan selalu memberi uang bulanan lebih dari cukup," ujar Vania menatap anak Jessica yang cukup menggemaskan?"Kok bisa gitu, mbak kan istrinya?" sahut Jessica tampak tidak terima. "Apa Mas Adit ngga pernah memperlakukan
Debaran aneh selalu datang ketika Vania berbicara atau bertemu dengan Gerald. Pria itu adalah orang pertama yang bisa membuatnya sampai seperti ini. Dulu waktu bersama Adit, dia tidak terlalu menaruh hati karena dipertemukan bukan dari sebuah takdir. Melainkan kenalan lewat ayah dan ibunya, lambat laun menjadi cinta karena terbiasa.Berbeda dengan Gerald, pria yang jauh lebih muda darinya memandang dia seperti seorang wanita pujaan hati. Entah mengapa, setelah kejadian di masa lalu, dia bisa merasakan bagaimana pria lain yang mendekatinya karena nafsu semata atau cinta dari lubuk hati. Saat bersama Gerald, Vania diperlakukan layaknya wanita yang memiliki nilai tinggi bukan sekedar pemuas saja."Mau tanya, apa?" Gerald duduk di sofa. Seperti biasa, Vino berada di pangkuan sembari main ponsel."Apa aku mengatakan sesuatu yang aneh waktu itu?" tanya Vania ikut duduk setelah memberikan segelas air putih. Karena pria itu tidak mau jus atau sirup."Oh, memangnya kamu ngga ingat?" Gerald mer







