แชร์

Tak Sengaja Mengintip

ผู้เขียน: menthogomez
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-08 17:18:37

"Mbak tolong bantuin yang dibungkus aja," ujar Vania pada teman yang sedang membantunya untuk menyiapkan lima puluh porsi makanan ringan.

"Buat siapa sih, Van?" tanya Mbak Umi yang baru beberapa menit lalu. Dia sedang mengerjakan apa yang disuruh oleh Vania dengan cekatan di dapur. "Kok banyak banget, tumben kamu ambil."

"Eum, tetangga sebelah, mbak." Vania agak ragu untuk memberi jawaban. "Dia baru pindah seminggu yang lalu dan ini untuk acara pindahan rumah barunya."

"Oalah," balas Mbak Umi sambil menganggukkan kepala paham. "Sudah berkeluarga atau belum?" tanyanya kemudian.

"Belum kayaknya, mbak. Laki-laki, masih muda juga," jawab Vania sedang memasukkan beberapa kue tradisional di dalam tempat pengukus.

Lagi-lagi Mbak Umi menganggukan kepala, tapi wajahnya terlihat masih penasaran dengan tetangga sebelah. Namun, wanita itu tak lagi mengajukan pertanyaan yang masih tersimpan di kepala. Takut membuat Vania kurang nyaman saat menjawab, biarlah nanti saat mengantarkan makanan Mbak Umi melihat sendiri bagaimana tampang lelaki itu.

Mereka berdua tampak cekatan dan cepat, seperti seorang profesional yang sudah bekerja sama selama tahunan. Vania telah selesai mengukus kue tradisional dan matang, kini giliran membuat sup buah dan es teler sesuai apa yang dia rencanakan kemarin. Tidak lupa, dia juga membuat brownies dan biskuit dengan taburan choco chips agar terlihat lebih modern.

Tinggal yang terakhir yaitu membungkus kue dan menaruh di tempat yang menggugah mata saat melihatnya. Memang Vania sengaja memanggil Mbak Umi sorenya saja, karena dia cukup kewelahan jika disuruh merapikan dan membungkus satu persatu. Sehingga bantuan dari orang lain sangat dibutuhkan disaat-saat terahir sebelum diserahkan pada pembeli.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, Vania dan Mbak Umi telah menyelesaikan semuanya. Ditata dengan sedemikian rupa dan tampak begitu menggiurkan bagi orang yabg melihat. Pasti mereka akan mencicipi saat itu juga. Vania berdiri membuka pintu sambil menunggu kedatangan Gerald, pesanannya mau dibawakan ke sana atau diambil sendiri.

"Mbak, bisa tolong antar ke sini!" pekik Gerald yang mengintip dari balik tembok pembatas antara rumahnya dengan Vania.

Vania mengangguk lalu tersenyum dan kembali ke dalam rumah, dia meminta bantuan Mbak Umi untuk membawakan beberapa kue. Dia tak mengerti kenapa wanita yang 5 tahun lebih tua darinya itu senyum-senyum sendiri. Bahkan lebih semangat membawakan makanan ke rumah sebelah dibanding dirinya. Vania hanya menggelengkan kepala dengan antusias Mbak Umi yang cukup penasaran dengan tetangganya.

Sampi di rumah Gerald, hal pertama yang dilihat Vania adalah berbagai macam koleksi mulai dari Hot Wheels yang pernah dilihat olehnya hingga beberapa miniatur dari beberapa tokoh anime. Dia mengetahui itu karena memang suka nonton berbagai jenis tontonan. Drama China, Korea, Jepang, bahkan Thailand. Tidak lupa series negara barat serta anime.

Mata Vania sampai tak berkedip melihat miniatur yang sepertinya sangat mahal itu. Meski menyukai anime, dia tidak sampai yang maniak seperti Gerald ini. Dia berhenti di meja lonjong yang sudah disusun rapi, menaruh makanan yang dipesan oleh pria itu bersama Mbak Umi yang memilih untuk tinggal di sana sebentar. Sedangkan dia kembali ke dalam rumah untuk mengambil sisanya yaitu sup buah dan es teler.

"Loh, siapa anda?" tanya Gerald saat melihat manusia asing yang masuk di rumahnya. "Mbak Vania, mana?"

"Ohh." Mbak Umi menutup mulutnya saat memperhatikan lelaki yang dimaksud Vania tadi. Sangat mempesona. "Saya yang bantu-bantu Vania, kenalkan Umi," ujarnya sembari menjulurkan tangan.

"Ohh, Gerald," balas Gerald sembari menggaruk kepala yang tak gatal. "Yaudah, nanti kalau selesai tinggalin aja."

"Iy-iya," ujar Mbak Umi gugup. Ternyata sifat lelaki itu sangat mengerikan. Tatapan tajam nan menusuk terhunus ke arahnya.

Selang beberapa menit Vania datang membawa tremos berwarna hijau muda dan pink yang di dalamnya berisi minuman. Dia menaruh ke atas meja kemudian menengok ke arah Mbak Umi. "Kenapa pucat gitu, mbak?" tanyanya mendapati wanita yang sebelumnya bahagia menjadi ketakutan.

"Nggapapa, Vani. Kamu hati-hati ya sama tetanggamu itu, wajahnya serem banget!" ujar Mbak Umi kemudian memilih untuk pergi dari rumah itu sekalian pamit pulang.

Vania mengerutkan dahi, apanya yang menakutkan, padahal orangnya asik begitu baik pula. Mbak Umi tidak bisa menilai orang kayaknya. Dia segera menata agar lebih rapi lagi sambil menunggu kedatangan Gerald yang cukup lama itu. Saat sedang sibuk tiba-tiba sebuah tangan mencomot makanan di atas meja. Reflek Vania memukul karena tidak sopan, yang beli saja belum merasakan.

"Siapa kamu?" tanya Vania menoleh. Dia terkejut melihat orang tak dikenal sedang tersenyum ke arahnya.

"Aku?" Pria berpakaian jas, tapi serampangan itu menunjuk dirinya sendiri. "Teman dari orang yang punya rumah ini," sambungnya memakan kue yang baru saja dia comot.

"Maaf," ujar Vania menundukkan kepala karena berkelakuan sembrono. "Bisa tolong panggilkan, Gerald?"

Namun, belum sempat mendapat jawaban dari pria itu segerombolan orang masuk dengan pakaian yang cukup modis. Ada wanita dan pria, terlihat masih sangat muda-muda. Vania yang merasa tersingkirkan pun segera ke luar dari rumah tersebut tanpa permisi. Nanti saja lah atau besok dia meminta kekurangan uang yang diberikan oleh Gerald saat memesan.

•°•

Suara berisik dari rumah sebelah membuat Vania tak bisa tidur sedangkan Vino malah sudah mimpi indah. Dia berada di depan televisi sambil menonton film lewat aplikasi berbayar hanya untuk menunggu kebisingan usai. Malam semakin larut dan suara pun tak terdengar lagi, dia mendengar motor dan mobil satu persatu pergi dari rumah Gerald.

Akhirnya Vania bisa merebahkan tubuh di atas kasur juga meski harus menunggu hingga pukul dua belas malam. Namun, saat ingin memejamkan mata dia kebelet buang air kecil dan memilih untuk pergi ke toilet sebentar. Setelah selesai dia tak langsung pergi ke kamar, tapi melipir dulu ke halaman belakang. Sepertinya dia mendengar teriakan seseorang, takut sih, tapi apa boleh buat jiwanya yang penasaran tersulut.

"Akhh, iya, di sana sayang! Lebih dalam lagi!"

"Jangan salahkan aku kalau besok kamu ngga bisa jalan!"

"Iya, sayang! Hujami aku dengan ereksimu yang sangat enak itu, akhh!"

"Sialan!"

Vania langsung menutup mulutnya takut jika bersuara karena terkejut dengan apa yang barusan dia lihat. Gerald sedang menghujami seorang wanita dengan sangat bergairah, menyodok begitu kuat sampai membuat lawan mainnya kewelahan. Vania berdiri di balik pintu belakang tak berani membuka, namun rasa penasaran lebih tinggi dibanding ketakutannya.

Dengan sangat hati-hati Vania membuka kembali pintu belakang rumahnya. Mendongak ke atas balkon rumah Gerald yang mana pria itu sedang melakukan adegan intim. Ternyata masih di sana, fokusnya hanya pada pria itu, tanpa sehelai benang di tubuhnya dan terlihat jelas ereksi yang panjang dan besar keluar-masuk di lewat vagina wanita itu. Mungkin sampai membentur serviksnya.

Sambil bersender di dekat pintu, tanpa sadar Vania mendamba apa yang sedang dia lihat sekarang. Dia pun memegang buah dadanya sendiri sambil sesekali diremas dan satu tangan lainnya masuk ke dalam celana untuk bermain kewanitaannya yang sudah basah. Dia ingin merasakan hentakan kuat dari Gerald di dalamnya. Matanya terpejam membayangkan hal tersebut.

Saat mata Vania terbuka lagi, dia menyadari jika dua orang yang tadi berada di balkon telah hilang. Dia ingin masuk ke dalam rumah, tapi sebuah panggilan terdengar.

"Apa yang barusan kamu lakukan?" tanya Gerald dengan suara cukup keras dan masih dalam keadaan tanpa sehelai benang di tubuhnya ke luar dari kamar yang terhubung ke balkon.

Vania menggelengkan kepala cepat kemudian masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu. "Kamu sudah gila!" gumamnya sambil memukul kepalanya sendiri.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Kehangatan Pelukan Tetangga   Keputusan

    Kebiasaan Gerald yang sering membuat Vania kaget dan sedikit berdebar adalah pria itu selalu memeluk atau mencium tentu saja tanpa diketahui anaknya. Dia merasa seperti memiliki suami lain yang bisa seenak jidat masuk ke dalam rumahnya karena diajak main Vino. Sungguh lama kelamaan ada perasaan yang tumbuh meskipun pada dasarnya antara mereka tak ada apapun. Hanya simbiosis mutualisme saja, di mana Vania sedang membutuhkan kehangatan sedangkan pria itu mungkin perlu tantangan bermain dengan istri orang. Malam yang biasanya hanya ada Vania dan Vino kini tambah satu orang yaitu Gerald. Pria itu jadi kebiasaan makan malam di rumahnya mentang mentang sangat disukai oleh anaknya. Terkadang dia berpikir kenapa pria yang masih muda ini rela datang ke rumahnya selain bercinta. Dia ingin sekali menanyakan semua, tapi hubungan mereka hanyalah sebatas pemuas hasrat saja. Sampai sekarang yang dia ketahui hanya umur dan nama panjangnya saja. Geraldino Abimanyu berusia tujuh tahun lebih muda da

  • Kehangatan Pelukan Tetangga   Tidak Ingin Jatuh Lebih Dalam

    Intensitas pertemuan Vania dan Gerald semakin sering apalagi setelah kejadian malam itu. Ditambah pula Vino yang sedang libur sekolah menjadi alasan karena bocah itu sering ke rumah sebelah. Di perumahan ini tak banyak tetangga yang ikut campur karena jarak antara dua unit rumah ke yang lainnya cukup jauh sekitar seratus meter. Dari pihak pembuat perumahan ini memang diberi jarak yang seperti itu. Dua rumah dengan model berbeda yang pertama seperti milik Vania mewah namun hanya memiliki satu lantai. Sedangkan satunya lagi seperti milik Gerald dengan lantai 2, nanti setiap seratus meter ada dua rumah dengan bentuk yang sama. Bayangkan saja seluas apa perumahan di tempat yang sejak awal menikah sudah Vania tempati sebagai hadiah pernikahan dari ibunya. Harganya sudah pasti mahal kalau dipikir-pikir lagi dia sangat beruntung. "Akhir-akhir ini wajahmu berseri-seri banget," ujar Mbok Romlah ketika Vania datang untuk membeli dagangannya. "Suaminya sudah pulang, ya?" Sambungnya sambil me

  • Kehangatan Pelukan Tetangga   Kenikmatan Yang Hampir Terlupakan

    Vania tak memakai sehelai benang pun di tubuhnya sedangkan Gerald terus mengencangkan hentakan tangan yang berada di dalam dirinya. Kepala pria itu menunduk tepat di antara selangkangan lalu dia merasakan lidah yang panjang bermain di klitoris seperti sedang memakan eskrim. Tubuhnya langsung menggelinjang tak tahan dengan sentuhan yang diberikan secara langsung. Kedua tangannya reflek menjabak rambut pria yang tampak masih mebikmati kegiatannya itu. Desahan demi desahan terdengar dari mulut Vania sampai membuat bola matanya naik dan hanya terlihat putih saja. Artinya dia sangat menikmati permainan yang diberikan Gerald saat ini, tak cukup dengan semuanya. Pria itu menyudahi kegiatan menyeruput eskrim dan beralih melepas celana yang sejak tadi masih terpakai. Menunjukkan ereksi di atas rata-rata karena sangat besar, panjang, dan penuh dengan urat. Siap untuk menghancurkan benteng lawannya. "Boleh?" tanya Gerald menundukkan kepala untuk ditaruh di atas perut rata milik Vania. Dia me

  • Kehangatan Pelukan Tetangga   Melangkah Lebih Dalam

    Vania masih mencari pria yang bisa disewa untuk mengambilkan rapot anaknya hingga pukul delapan pagi. Dia kebingungan karena tinggal tiga puluh menit lagi sisa waktu akan habis. Undangan dari pihak sekolah sendiri ditunjukkan pukul sembilan malam. Jadi, setidaknya dia memberi jeda tiga puluh menit untuk memberi arahan ke pada orang yang akan disewanya nanti. Pasalnya sudah sepuluh menit berlalu Vania tak kunjung mendapatkan seseorang yang mau. Bahkan dia sampai memasuki pasar hanya demi mencari orang yang menurutnya cocok dijadikan sebagai suami bohongan. Namun, apa yang dia harapkan? Mereka memiliki kesibukan masing-masing meski dibayar cukup tinggi tetap saja tidak mau. Apalagi setelah mendengar tempat di mana anaknya bersekolah yaitu SD Internasional. Akhirnya Vania memilih untuk pulang saja, dia akan mencari cara lain atau memohon guru dari anaknya agar bisa diambil oleh ibunya saja. Namun, dari depan pos satpam Vania melihat sosok Gerald sedang menggendong Vino. Mereka saling

  • Kehangatan Pelukan Tetangga   Syarat Meminta Bantuan

    Rasa bersalah terus menyelimuti diri Vania karena kejadian kemarin malam, Gerald tampak memakai gips di lengan kanannya. Kata pria itu, pekerjaannya jadi terganggu bahkan sampai tidak masuk selama tiga hari berturut-turut. Alhasil, Vania lebih memilih untuk menurunkan gengsi agae bisa merawat Gerald hingga sembuh. Saat ini dia sedang memasak untuk diberikan pada pria itu meski harus dipaksa terlebih dahulu. Setelah selesai memasak Vania segera membawakam bubur kacang ijo itu menuju ke rumah Gerald. Sebelumnya dia sudah menyiapkan segala kebutuhan Vino sebelum berangkat ke sekolah satu jam yang lalu. Dengan hati-hati dia berjalan agar tidak tumpah, sampai di depan pintu rumah pria itu. Vania tak mengetuk, langsung masuk begitu saja tanpa permisi terlebih dahulu. Vania masih kesal dengan Gerald, bisa-bisanya kejadian yang membuat pria itu sampai tersiksa seperti ini masih dibercandain. Gila, ya? Hampir tiga hari terakhir dia mengomeli Gerald gara-gara bercanda tentang ereksi. Dia me

  • Kehangatan Pelukan Tetangga   Kecelakaan Kecil

    Beberapa hari terakhir, Vania selalu menghindari kontak mata maupun fisik saat bertemu dengan Gerald. Dia bahkan meminta anaknya yang kecanduan main di rumah pria itu untuk tidak berlama-lama di sana. Sungguh kejadian yang membuat dunianya berubah seratus delapan puluh derajat. Bagaimana tidak? Sampai sekarang bahkan isi otaknya masih terngiang-ngiang bagaimana bentuk tubuh Gerald malam itu. Sebagai wanita yang telah lama tak dijamah Vania rasa gairah di dalam dirinya mulai bangkit. Apalagi dengan kedatangan Gerald yang mana mempunyai fisik hampir sempurna. Pria itu berhasil memporak-porandakan apa yang dia jaga selama ini. Dia kembali menjadi seorang wanita yang mendambakan kehangatan ranjang. Dan, sangat berharap suaminya pulang sekarang juga. Seperti sehari-hari, Vania sedang menjaga anaknya yang bermain dengan tetangga yang seumuran di taman komplek. Oh ya, perumahan ini banyak penghuninya, ada sekitar 20 kepala keluarga yang tinggal di sini. Berbeda dengan komplek yang lain,

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status