LOGIN"Mbak tolong bantuin yang dibungkus aja," ujar Vania pada teman yang sedang membantunya untuk menyiapkan lima puluh porsi makanan ringan.
"Buat siapa sih, Van?" tanya Mbak Umi yang baru beberapa menit lalu. Dia sedang mengerjakan apa yang disuruh oleh Vania dengan cekatan di dapur. "Kok banyak banget, tumben kamu ambil." "Eum, tetangga sebelah, mbak." Vania agak ragu untuk memberi jawaban. "Dia baru pindah seminggu yang lalu dan ini untuk acara pindahan rumah barunya." "Oalah," balas Mbak Umi sambil menganggukkan kepala paham. "Sudah berkeluarga atau belum?" tanyanya kemudian. "Belum kayaknya, mbak. Laki-laki, masih muda juga," jawab Vania sedang memasukkan beberapa kue tradisional di dalam tempat pengukus. Lagi-lagi Mbak Umi menganggukan kepala, tapi wajahnya terlihat masih penasaran dengan tetangga sebelah. Namun, wanita itu tak lagi mengajukan pertanyaan yang masih tersimpan di kepala. Takut membuat Vania kurang nyaman saat menjawab, biarlah nanti saat mengantarkan makanan Mbak Umi melihat sendiri bagaimana tampang lelaki itu. Mereka berdua tampak cekatan dan cepat, seperti seorang profesional yang sudah bekerja sama selama tahunan. Vania telah selesai mengukus kue tradisional dan matang, kini giliran membuat sup buah dan es teler sesuai apa yang dia rencanakan kemarin. Tidak lupa, dia juga membuat brownies dan biskuit dengan taburan choco chips agar terlihat lebih modern. Tinggal yang terakhir yaitu membungkus kue dan menaruh di tempat yang menggugah mata saat melihatnya. Memang Vania sengaja memanggil Mbak Umi sorenya saja, karena dia cukup kewelahan jika disuruh merapikan dan membungkus satu persatu. Sehingga bantuan dari orang lain sangat dibutuhkan disaat-saat terahir sebelum diserahkan pada pembeli. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, Vania dan Mbak Umi telah menyelesaikan semuanya. Ditata dengan sedemikian rupa dan tampak begitu menggiurkan bagi orang yabg melihat. Pasti mereka akan mencicipi saat itu juga. Vania berdiri membuka pintu sambil menunggu kedatangan Gerald, pesanannya mau dibawakan ke sana atau diambil sendiri. "Mbak, bisa tolong antar ke sini!" pekik Gerald yang mengintip dari balik tembok pembatas antara rumahnya dengan Vania. Vania mengangguk lalu tersenyum dan kembali ke dalam rumah, dia meminta bantuan Mbak Umi untuk membawakan beberapa kue. Dia tak mengerti kenapa wanita yang 5 tahun lebih tua darinya itu senyum-senyum sendiri. Bahkan lebih semangat membawakan makanan ke rumah sebelah dibanding dirinya. Vania hanya menggelengkan kepala dengan antusias Mbak Umi yang cukup penasaran dengan tetangganya. Sampi di rumah Gerald, hal pertama yang dilihat Vania adalah berbagai macam koleksi mulai dari Hot Wheels yang pernah dilihat olehnya hingga beberapa miniatur dari beberapa tokoh anime. Dia mengetahui itu karena memang suka nonton berbagai jenis tontonan. Drama China, Korea, Jepang, bahkan Thailand. Tidak lupa series negara barat serta anime. Mata Vania sampai tak berkedip melihat miniatur yang sepertinya sangat mahal itu. Meski menyukai anime, dia tidak sampai yang maniak seperti Gerald ini. Dia berhenti di meja lonjong yang sudah disusun rapi, menaruh makanan yang dipesan oleh pria itu bersama Mbak Umi yang memilih untuk tinggal di sana sebentar. Sedangkan dia kembali ke dalam rumah untuk mengambil sisanya yaitu sup buah dan es teler. "Loh, siapa anda?" tanya Gerald saat melihat manusia asing yang masuk di rumahnya. "Mbak Vania, mana?" "Ohh." Mbak Umi menutup mulutnya saat memperhatikan lelaki yang dimaksud Vania tadi. Sangat mempesona. "Saya yang bantu-bantu Vania, kenalkan Umi," ujarnya sembari menjulurkan tangan. "Ohh, Gerald," balas Gerald sembari menggaruk kepala yang tak gatal. "Yaudah, nanti kalau selesai tinggalin aja." "Iy-iya," ujar Mbak Umi gugup. Ternyata sifat lelaki itu sangat mengerikan. Tatapan tajam nan menusuk terhunus ke arahnya. Selang beberapa menit Vania datang membawa tremos berwarna hijau muda dan pink yang di dalamnya berisi minuman. Dia menaruh ke atas meja kemudian menengok ke arah Mbak Umi. "Kenapa pucat gitu, mbak?" tanyanya mendapati wanita yang sebelumnya bahagia menjadi ketakutan. "Nggapapa, Vani. Kamu hati-hati ya sama tetanggamu itu, wajahnya serem banget!" ujar Mbak Umi kemudian memilih untuk pergi dari rumah itu sekalian pamit pulang. Vania mengerutkan dahi, apanya yang menakutkan, padahal orangnya asik begitu baik pula. Mbak Umi tidak bisa menilai orang kayaknya. Dia segera menata agar lebih rapi lagi sambil menunggu kedatangan Gerald yang cukup lama itu. Saat sedang sibuk tiba-tiba sebuah tangan mencomot makanan di atas meja. Reflek Vania memukul karena tidak sopan, yang beli saja belum merasakan. "Siapa kamu?" tanya Vania menoleh. Dia terkejut melihat orang tak dikenal sedang tersenyum ke arahnya. "Aku?" Pria berpakaian jas, tapi serampangan itu menunjuk dirinya sendiri. "Teman dari orang yang punya rumah ini," sambungnya memakan kue yang baru saja dia comot. "Maaf," ujar Vania menundukkan kepala karena berkelakuan sembrono. "Bisa tolong panggilkan, Gerald?" Namun, belum sempat mendapat jawaban dari pria itu segerombolan orang masuk dengan pakaian yang cukup modis. Ada wanita dan pria, terlihat masih sangat muda-muda. Vania yang merasa tersingkirkan pun segera ke luar dari rumah tersebut tanpa permisi. Nanti saja lah atau besok dia meminta kekurangan uang yang diberikan oleh Gerald saat memesan. •°• Suara berisik dari rumah sebelah membuat Vania tak bisa tidur sedangkan Vino malah sudah mimpi indah. Dia berada di depan televisi sambil menonton film lewat aplikasi berbayar hanya untuk menunggu kebisingan usai. Malam semakin larut dan suara pun tak terdengar lagi, dia mendengar motor dan mobil satu persatu pergi dari rumah Gerald. Akhirnya Vania bisa merebahkan tubuh di atas kasur juga meski harus menunggu hingga pukul dua belas malam. Namun, saat ingin memejamkan mata dia kebelet buang air kecil dan memilih untuk pergi ke toilet sebentar. Setelah selesai dia tak langsung pergi ke kamar, tapi melipir dulu ke halaman belakang. Sepertinya dia mendengar teriakan seseorang, takut sih, tapi apa boleh buat jiwanya yang penasaran tersulut. "Akhh, iya, di sana sayang! Lebih dalam lagi!" "Jangan salahkan aku kalau besok kamu ngga bisa jalan!" "Iya, sayang! Hujami aku dengan ereksimu yang sangat enak itu, akhh!" "Sialan!" Vania langsung menutup mulutnya takut jika bersuara karena terkejut dengan apa yang barusan dia lihat. Gerald sedang menghujami seorang wanita dengan sangat bergairah, menyodok begitu kuat sampai membuat lawan mainnya kewelahan. Vania berdiri di balik pintu belakang tak berani membuka, namun rasa penasaran lebih tinggi dibanding ketakutannya. Dengan sangat hati-hati Vania membuka kembali pintu belakang rumahnya. Mendongak ke atas balkon rumah Gerald yang mana pria itu sedang melakukan adegan intim. Ternyata masih di sana, fokusnya hanya pada pria itu, tanpa sehelai benang di tubuhnya dan terlihat jelas ereksi yang panjang dan besar keluar-masuk di lewat vagina wanita itu. Mungkin sampai membentur serviksnya. Sambil bersender di dekat pintu, tanpa sadar Vania mendamba apa yang sedang dia lihat sekarang. Dia pun memegang buah dadanya sendiri sambil sesekali diremas dan satu tangan lainnya masuk ke dalam celana untuk bermain kewanitaannya yang sudah basah. Dia ingin merasakan hentakan kuat dari Gerald di dalamnya. Matanya terpejam membayangkan hal tersebut. Saat mata Vania terbuka lagi, dia menyadari jika dua orang yang tadi berada di balkon telah hilang. Dia ingin masuk ke dalam rumah, tapi sebuah panggilan terdengar. "Apa yang barusan kamu lakukan?" tanya Gerald dengan suara cukup keras dan masih dalam keadaan tanpa sehelai benang di tubuhnya ke luar dari kamar yang terhubung ke balkon. Vania menggelengkan kepala cepat kemudian masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu. "Kamu sudah gila!" gumamnya sambil memukul kepalanya sendiri.Pagi-pagi buta, Vania mendengar suara deru mobil yang berhenti di depan rumah. Dia segera bangkit untuk melihat siapa yang datang pukul empat dini hari. Sesampainya di depan, dia mendapati Mas Adit yang sangat berbeda dengan tiga bulan yang lalu turun dari mobil. Tubuh pria itu menjadi kurus dan kulitnya berubah agak gelap. Sebenarnya pekerjaan apa yang diberikan oleh Gerald pada Mas Adit hingga mampu membuat pria itu berubah total. Lantas Vania pun segera menghampiri suaminya untuk membantu bawa masuk barang bawaan yang sepertinya tidak banyak. Hanya ada satu koper dan satu kantung plastik bercorak zebra. "Mas sini, biar aku bantu." Vania meraih kantung plastik di tangan sang suami. Dia bisa merasakan aura yang berbeda, entah kenapa perasaannya tidak enak. "Kalau boleh tahu, mas kerja apa?" "Banyak, kalau aku sebutkan satu-persatu bisa sampai nanti sore," balas Adit melirik ke arah wanita di sebelahnya. Sungguh dia dari dulu memang tidak menyukai Vania sama sekali, kalau bukan
Keraguan terus muncul di dalam hati Vania setelah melihat rumah tetangga yang sekarang kosong. Gerald seperti menghilang begitu saja, entah pergi ke mana dia tidak mendapatkan kabar. Bahkan pesan yang dia kirimkan sejak dua bulan yang lalu belum mendapatkan balasan. Untungnya di rumah ada Jessica sehingga dia tidak merasa kesepian. Coba saja jika tidak, apakah dia bisa melewati masa-masa kelam lagi? Dia juga tidak mendapat kabar dari suaminya, entah di mana pria itu berkerja. Uang yang akan dia gunakan untuk menyicil hutang Adit masih utuh karena Gerald tak pernah mau menerima."Mbak, akhir-akhir ini kok kelihatannya kayak ngga semangat gitu?" tanya Jessica yang duduk di sofa sambil menyusui. "Apa karena Mas Adit ngga ngasih kabar? Tenang aja mbak mas bakalan pulang kok minggu depan.""Kok kamu bisa tahu?" balas Vania menatap ke arah Jessica di sebelahnya."Kan minggu depan udah tiga bulan sejak Mas Adit pergi," jawab Jessica tersenyum lebar."Tiga bulan? Apa maksudnya? Mas Adit ngga
"Do you like it?" gumam Gerald posisinya berada di atas Vania sambil memeluk erat tubuh wanita itu."Hmm, ahh. Enak banget," balas Vania juga memeluk tubuh kekar milik Gerald. Sesekali dia mencakar punggung lebar pria itu saat tusukkan di lubang hangat miliknya begitu dalam.Permainan panas antara Vania dan Gerald sangat menggairahkan, mereka seperti ditakdirkan untuk saling melengkapi. Gerald tampak berkeringat karena sudah melakukannya selama dua kali dan belum cukup. Sedangkan Vania terkulai lemas di atas ranjang king size milik pria itu menerima sesuatu yang besar masuk ke dalam tubuhnya.Perasaan yang telah lama hilang mulai datang kembali, Vania mencintai pria ini meski hanya bercinta saja. Tubuhnya seakan meminta untuk dimainkan oleh Gerald tanpa berhenti sedetik pun. Meski terlihat lelah dia tetap melayani tenaga sosok yang mendesah kenikmatan di atasnya. Melihat bagaimana wajah itu tampak keenakan membuat dirinya ikut bergairah."Aku mau keluar lagi!" Gerald mendorong pinggul
"Kenapa kamu kasih kerjaan buat suamiku?" tanya Vania begitu menginjakkan kaki di rumah pria yang sedang makan salad sambil bekerja itu.Gerald menatap sejenak ke arah Vania lalu beralih ke layar laptop lagi. "Bagus, kan? Aku bisa berduaan sama kamu terus," godanya."Gerald," suara Vania datar. "Kita sudah sepakat untuk mengakhiri hubungan sesaat itu, bukan?""Aku mau mulai lagi, mumpung suamimu pergi jauh," balas Gerald tanpa menoleh sedikit pun."Di mana tempat kerja suamiku?""Adalah pokoknya," jawab Gerald kemudian berdiri mendekati Vania untuk sekedar melihat dari jarak dekat. "Kenapa kamu malam-malam datang ke sini sendirian, hmm?""Gerald!" Vania mendorong dada bidang pria itu agar menjauh. "Jangan aneh aneh, ya!"Gerald hanya tertawa kemudian berjalan menuju ke dapur untuk mencuci piring yang barusan dipakai. Dia menyadari jika Vania mengekor di belakangnya. "Biar dia bisa membayar hutangnya," ujarnya setelah menaruh piring ke rak."Kan bisa pakai uangku dulu, biar nanti aku y
Vania menunggu kedatangan suaminya yang tiga hari belum pulang semenjak kedatangan para penagih hutang. Dia sangat kesal melihat cara pria itu menyelesaikan masalah dengan kabur. Entah ke mana perginya karena dia tidak mengenal lebih tentangnya. Bahkan sepuluh tahun menikah, hubungan mereka hanya sebatas tahu nama dan keluarga saja.Teman? Vania belum pernah dikenalkan dengan orang terdekat dengan Adit kecuali beberapa keluarga pria itu. "Kamu beneran ngga tahu teman Mas Adit sama sekali?" tanya Vania ke pada Jessica yang sedang menyusui sang anak sembari duduk di sofa sebelahnya."Ngga tahu, mbak. Mas Adit punya hutang aja aku juga ngga tahu," jawab Jessica wajahnya tampak begitu kesal."Sama, mbak juga. Selama ini yang mbak tahu Mas Adit cuman bekerja di kapal pesiar dan selalu memberi uang bulanan lebih dari cukup," ujar Vania menatap anak Jessica yang cukup menggemaskan?"Kok bisa gitu, mbak kan istrinya?" sahut Jessica tampak tidak terima. "Apa Mas Adit ngga pernah memperlakukan
Debaran aneh selalu datang ketika Vania berbicara atau bertemu dengan Gerald. Pria itu adalah orang pertama yang bisa membuatnya sampai seperti ini. Dulu waktu bersama Adit, dia tidak terlalu menaruh hati karena dipertemukan bukan dari sebuah takdir. Melainkan kenalan lewat ayah dan ibunya, lambat laun menjadi cinta karena terbiasa.Berbeda dengan Gerald, pria yang jauh lebih muda darinya memandang dia seperti seorang wanita pujaan hati. Entah mengapa, setelah kejadian di masa lalu, dia bisa merasakan bagaimana pria lain yang mendekatinya karena nafsu semata atau cinta dari lubuk hati. Saat bersama Gerald, Vania diperlakukan layaknya wanita yang memiliki nilai tinggi bukan sekedar pemuas saja."Mau tanya, apa?" Gerald duduk di sofa. Seperti biasa, Vino berada di pangkuan sembari main ponsel."Apa aku mengatakan sesuatu yang aneh waktu itu?" tanya Vania ikut duduk setelah memberikan segelas air putih. Karena pria itu tidak mau jus atau sirup."Oh, memangnya kamu ngga ingat?" Gerald mer







