Masuk“Apa yang terjadi padamu dan Raden Wiraguna, Nawang? Mengapa kalian muncul dalam pikiranku? Namun... tubuh ini juga bukan milikku. Lalu, ingatan itu... sebenarnya milikku atau milik Nawang?” hati Alea bergumam. Suasana Pendopo Pawiyatan masih tenggelam dalam keheningan. Para murid duduk bersila, mata terpejam, mengikuti wejangan Ki Jayengkara. Cahaya matahari mulai menembus, menimpa wajah Nawang yang tampak damai, meski sesekali jemarinya bergetar halus. “Belajarlah mengenali suara hatimu sendiri…” suara Ki Jayengkara mengalun pelan. “Karena di sanalah tempat semesta berbisik.” Namun tanpa sepengetahuan siapa pun di dalam pendopo, di luar halaman rombongan Panembahan Senopati baru saja lewat. Langkah mereka berhenti begitu suara lembut Ki Jayengkara terdengar sampai ke jalan batu yang membelah taman. Panembahan menoleh ke arah pendopo, memicingkan mata. “Pawiyatan?” gumamnya. Ki Juru Martani yang berjalan di sampingnya ikut menunduk hormat. “Benar, Kanjeng. Hari ini gilir
“Anak-anakku,” suaranya dalam namun lembut, “dalam jagad manusia, yang paling sukar dikalahkan bukan musuh di medan perang, melainkan nafsu dalam diri sendiri.” Semua murid menunduk. Suasana seketika hening. Ki Jayengkara melanjutkan, “Banyak yang belajar menulis aksara, membaca kitab, menembang tembang. Namun sedikit yang mau belajar mengenal dirinya sendiri. Padahal, tanpa mengenal diri, ilmu lain akan kehilangan maknanya.” Alea memperhatikan dengan saksama, merasa kata-kata itu seperti menampar pelan. “Kenal diri sendiri…” gumamnya pelan, seolah kata itu punya bobot lain untuknya yang sedang terjebak di tubuh orang lain. Ki Jayengkara lalu mengambil kendi kecil di depannya, menuangkan air ke mangkuk tanah liat. “Air ini,” katanya, “bening karena diam. Jika kau goyangkan, ia menjadi keruh. Begitulah batin manusia. Siapa yang hatinya tak tenang, maka takkan mampu melihat kebenaran.” Alea terpaku. Sekilas, wajahnya memantul di permukaan air dalam kendi kecil itu, yang s
Pendopo Pawiyatan terletak di luar Keputren, di sisi barat taman keraton. Bangunannya besar, terbuka di keempat sisinya, dengan tiang-tiang jati tinggi menjulang dan lantai batu hitam berkilat. Di dalamnya, sudah terdengar suara gamelan disetem pelan dan beberapa putri duduk bersila, masing-masing ditemani dayang mereka. Alea menelan ludah. "Jadi ini… kayak kelas seni-nya kerajaan, ya?" Kenanga mengangguk. “Benar, Gusti. Di sinilah para putri dan bangsawan muda berlatih kehalusan tutur dan gerak. Kadang Panembahan pun datang diam-diam untuk melihat hasil didikan para guru.” “Wah… tekanan banget itu.” Alea berbisik, tapi tetap melangkah masuk. Begitu sampai di sana, beberapa kepala menoleh. Beberapa putri berbisik pelan, mungkin membicarakan penampilan Nawang yang sempat dikabarkan sakit. Di antara mereka, ada satu sosok yang menonjol, wajahnya teduh, senyumnya lembut tapi auranya kuat. Raden Ajeng Pembayun. Busananya putih gading dengan selendang merah muda di bahu, sed
Hatinya tiba-tiba bergetar. Ada sesuatu yang terasa ganjil, seolah potongan puzzle masa lalu mulai menyatu di kepalanya. Ia menatap ke arah taman dalam yang mulai tersinari mentari. Cahaya keemasan menyentuh dedaunan basah, tapi pikirannya melayang jauh. “Raden Rangga…” gumamnya lirih, hampir tak terdengar. “Bukankah… dia yang akhirnya—” Suara itu terhenti di tenggorokan. Napasnya tertahan. Dalam ingatannya, kilasan sejarah yang pernah ia baca di buku muncul seperti bayangan kabur. Raden Rangga, putra Panembahan Senopati, cerdas, gagah, sakti dan berbakat. Tapi juga, terlalu berani menentang takdir. Ia pernah diyakini akan menjadi penerus tahta. Adipati Anom Mataram sebelum akhirnya keadaan berubah. Panembahan memilih Raden Mas Jolang. Dan Rangga… merasa dikhianati. Alea menatap kosong ke tanah, jantungnya berdetak pelan namun berat. Dalam benaknya, adegan-adegan dari catatan sejarah muncul bagai film yang tak ingin ia tonton. Pemberontakan Raden Rangga. Pertumpaha
Dengan langkah kaku, Alea mendekat. Di hadapannya berdiri sosok perempuan berwibawa, Nyai Mas Semangkin yang masih dalam balutan busana sederhana untuk beribadah, namun aura mereka jauh lebih berat dari siapapun yang pernah Alea temui. Sang Nyai menatapnya lembut, senyumnya samar. “Rara Nawang… kau tampak lelah. Namun kau tetap hadir bersama kami pagi ini. Itu pertanda baik.” Alea, masih kikuk, menunduk dalam-dalam. “I-iya… maksud saya… nggih, Gusti Nyai.” Nyai Mas Semangkin menatap lembut, tapi di balik sorot matanya terselip sesuatu yang sulit ditebak. Sebelum Alea sempat merespons lebih lanjut, langkah halus terdengar dari belakang. Para dayang langsung menunduk serempak. Suara lembut tapi berwibawa terdengar, “Pagi yang sejuk, bukan begitu, Semangkin?” Alea menelan ludah. Kanjeng Ratu Waskitajawi berdiri tak jauh darinya cahaya lampu minyak menyorot wajah Sang Ratu yang tampak tenang, namun setiap gerakannya memancarkan kekuasaan. Nyai Mas Semangkin segera menu
Cahaya rembulan masih samar bergantung di langit, sementara kokok ayam pertama baru saja terdengar dari kejauhan. Di dalam Keputren, Kenanga berjalan perlahan mendekati amben Putri Nawang, membawa lampu minyak kecil di tangannya. Ia mendekat, lalu berbisik lembut. “Gusti Rara, sudah waktunya bersiap untuk ibadah pagi.” Nawang atau Alea yang kini mengisi raganya, bergerak sedikit di balik kelambu. Dengan mata setengah terpejam, ia mengibaskan tangan malas. “Apa-apaan sih! Masih gelap gini udah ribut-ribut!” gumamnya kesal. Kenanga tetap sabar, menunduk sedikit. “Mohon maaf, Gusti Rara. Kalau terlambat sholat subuh nanti tidak baik.” Belum sempat kalimat itu selesai, Nawang tiba-tiba bangun setengah duduk dengan rambut awut-awutan, wajah masih kucel karena kebluk. “APA? Subuh-subuh? Aku aja baru tidur dua jam yang lalu! Kenapa, sih, di sini orang-orang nggak bisa kasih aku tidur tenang sedikit aja?” Kenanga terkejut, buru-buru menunduk dalam-dalam. “Aku hany







