LOGINBhumi Suryatara pernah memiliki segalanya—pekerjaan yang mapan, cinta yang hangat, dan masa depan yang ia yakini akan cerah. Namun dalam sekejap, semuanya hancur. Ia dikhianati, dan dipermalukan hingga tak lagi punya alasan untuk hidup. Malam itu, ia memutuskan mengakhiri segalanya. Tapi takdir justru berkata lain. Ia terbangun lagi dengan membawa sebuah kalung giok naga yang begitu istimewa. Sebuah kalung dengan misi yang membawa Bhumi pada kekayaan dan menjadi rebutan para wanita cantik di kota itu!
View MorePagi harinya, Bhumi sudah bangun sebelum matahari terbit. Ia tidak bisa tidur nyenyak setelah menerima kartu nama ancaman dari Handoko. Namun pria itu memutuskan untuk tidak mundur. Justru ini saatnya menekan balik.“Janu, bangun! Kita kirim paket!” teriak Bhumi sambil merapikan kemeja.Janu yang masih mengantuk berguling di kasur. “Paket apa lagi, Bum? Jangan bilang kita mau jadi kurir.”“Kurir ancaman.”Janu langsung duduk. “Apa?!”Tanpa banyak bicara, Bhumi memasukkan USB berisi rekaman dan surat ke dalam amplop coklat. Ia juga menyertakan foto-foto pertemuan Handoko dengan Widodo sebagai pelengkap. Semua ia kemas rapi, lalu memanggil kurir langganan kontrakan.“Kirim ke alamat ini. Kantor Handoko Group di pusat kota. Nyatakan untuk Pak Handoko pribadi,” pesan Bhumi pada kurir.Kurir itu mengangguk, lalu pergi dengan motor roda tiga.Janu berdiri di samping Bhumi, matanya masih sayu. “Lo yakin ini bukan bunuh
Dua hari setelah pertemuannya dengan Sasha, Bhumi duduk di sebuah kafe sederhana dekat pasar antik. Di hadapannya, seorang pria paruh baya berkacamata tebal sedang menyantap nasi goreng dengan lahap. Pria itu bernama Bambang, mantan jurnalis yang kini beralih profesi menjadi detektif swasta. Indra yang merekomendasikannya.“Jadi, Anda mau saya memotret pertemuan Widodo dan Handoko?” tanya Bambang di sela suapan.“Iya, Pak. Saya punya info mereka akan bertemu besok malam di sebuah restoran daerah kemang,” jawab Bhumi sambil menyodorkan amplop coklat berisi uang muka. “Ini tiga puluh juta untuk biaya operasional. Nambah lagi lima puluh kalau fotonya jelas.”Bambang mengernyit, mengamati amplop itu dengan jari-jarinya yang gemuk. “Wah, besar juga. Tapi memotret dua orang itu risikonya tinggi, Mas. Mereka punya banyak pengawal.”“Saya tidak minta foto selfie dengan mereka. Cukup dari kejauhan, asalkan wajah mereka terlihat jelas.”“Hmm…
Malam itu, Bar Lestiani terasa berbeda. Lampu neon merah muda yang biasanya berkedip riang kini redup, seolah ikut merasakan kegalauan pemiliknya. Hanya beberapa pelanggan yang duduk di sudut-sudut, berbincang dengan suara pelan. Musik akustik dari panggung kecil terdengar sayup, seperti lagu sedih yang tak berkesudahan.Bhumi masuk bersama Janu. Begitu melewati pintu, matanya langsung mencari Sasha. Wanita itu berdiri di balik meja bar, rambutnya diikat longgar, wajahnya pucat tanpa riasan. Ada lingkaran hitam di bawah matanya—tanda semalaman tidak tidur.“Sasha,” sapa Bhumi sambil duduk di kursi depan bar.“Kau datang,” sahut Sasha pelan. Suaranya serak, seperti habis menangis atau tidak minum cukup air. “Aku sudah tunggu sejak sore.”Janu ikut duduk di samping Bhumi, matanya berkeliling waspada. “Aman? Nggak ada preman Handoko di sini?”“Tidak. Aku tutup bar lebih awal. Hanya beberapa pelanggan tetap yang masih bertahan.” Sasha mengelu
Mobil putih Selina melaju kencang meninggalkan pasar antik. Bhumi duduk di kursi penumpang, masih terkejut dengan penyelamatan mendadak itu. Janu di kursi belakang masih gemetar, memegangi dasi yang nyaris copot.“Selina, kau datang tepat waktu,” ucap Bhumi sambil menghela napas lega.“Aku lihat mobil kakek di depan toko Indra. Aku tahu ada yang tidak beres,” jawab Selina dengan mata tetap fokus ke jalan. Wajahnya tegang, bibirnya sedikit mengerucut. “Kakek sudah keterlaluan. Dia tidak punya hak mengintimidasi temanku.”“Dia cuma mau ‘mengundang’ku, katanya.”Selina mendengus kecil. “Undangan paksa, maksudnya. Aku tahu cara kakek. Kalau kau ikut mereka, kau akan dibawa ke restoran mewah lalu diberi ‘pilihan’ yang sebenarnya bukan pilihan.”Bhumi tersenyum masam. “Kau kenal betul kakekmu.”“Karena aku sudah melihatnya melakukan hal yang sama pada banyak orang.” Selina menepuk setir dengan jemari lentiknya. “Tapi kali ini berbeda. Aku tidak akan diam.”Mobil berbelok ke arah kontrakan B






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.