Share

Bab 6

Author: Fortunata
last update publish date: 2026-01-19 22:29:17

Namun, Aveline memilih untuk tidak bertanya lebih jauh.

Ia malas berurusan dengan server error yang menjadi jawab di setiap pertanyaan penting.

Aveline berjalan melewati Lilia dan para power rangers. Dengan hati yang dongkol, ia mulai menyantap makan siangnya. Hambar.

Sepertinya rasa makanan ini mengikuti suasana hatinya yang mendung.

Tak lama kemudian, Ashford dan Edward datang dan bergabung di meja Saintess Lilia.

Edward melirik Aveline dengan senyum sinisnya, sementara Ashford hanya memandangnya datar.

“Tambah lagi dua bodyguard,” gerutu Aveline dalam hati.

“Lengkap sudah.”

Melihat Lilia dan Ashford tertawa bersama, Aveline justru tidak merasakan apa pun.

Dulu, Sarah adalah penggemar berat dua tokoh utama ini. Namun, menjalani empat kehidupan yang berakhir tragis perlahan mengikis rasa kagum itu—hingga tak tersisa apa pun selain kelelahan.

Ia benar-benar ingin menjalani kehidupan tenang sebagai nona kaya.

Menjadi pengajar di desa juga menyenangkan – pikir Aveline.

Jika dipikirkan kembali, Lilia dan Ash memang tampak serasi. Aveline bahkan ikut merasa senang.

Hanya saja…

rasa takut itu masih tertinggal di dadanya.

[Kuingatkan sekali lagi. Kau harus membunuh Saintess Lilia jika ingin tetap hidup.]

“Aku yang akan menentukan tindakanku,” balas Aveline dingin dalam hati.

[Baik. Namun sekali lagi kuingatkan—itu satu-satunya cara agar kau bisa hidup.]

“Kalau begitu,” desah Aveline,

“beri tahu aku cara membunuhnya.”

[Server Error!]

Aveline mendecih pelan.

Baiklah. Itu tandanya aku harus memikirkan caraku sendiri.

Messanger,” lanjutnya,

“apa sebenarnya yang bisa kau lakukan untuk membantuku sampai aku… bisa membunuh Saintess Lilia?”

Ia sendiri tidak yakin apakah ia benar-benar bisa membunuh Lilia. Masa depan terasa buram.

Bisa saja ia terus mengulang hidup—hingga entah di kehidupan keberapa, Aveline akhirnya terpaksa melakukannya.

[Informasi.]

“Cih…”

Informasi macam apa yang bisa kau berikan kalau server error saja muncul terus?

Pandangan Aveline kembali tertuju pada Saintess Lilia.

Ia mulai berpikir—jika ia ingin mendekati Lilia, ia harus membuat gebrakan. Sesuatu yang cukup besar hingga membuat Lilia datang sendiri menghampirinya.

Jika Lilia yang mendekat lebih dulu, para power ranger itu tidak bisa berbuat apa-apa, bukan?

Messanger,” tanya Aveline dalam hati,

“apakah kau bisa memberiku informasi tentang Bumi?”

[Bisa!]

“Kalau begitu… bisakah kau memberiku informasi tentang masa depan dunia ini?”

[Server Error!]

“Lalu bagaimana dengan struktur dunia ini?”

[Tergantung pertanyaanmu.]

Aveline menghela napas panjang.

Tidak bisa diandalkan. Sama sekali.

“Saintess, mohon berikan kami kehormatan untuk mengunjungi rakyat bersama Anda!”

Suara itu datang dari salah satu pengikut Lilia—Lucy, putri Marquis Moeir.

Aveline bahkan sudah malas mengingat namanya. Entah mengapa gadis itu harus berteriak seolah seluruh ruangan perlu tahu aktivitas Lilia.

Seingat Aveline, Lilia memang hampir setiap hari melakukan inspeksi. Negara ini cukup tertinggal, dan selalu ada masalah baru yang harus ditangani oleh Lilia.

Tak jarang, Lilia jatuh sakit karena kelelahan.

Hmmm…

Bukankah pekerjaannya akan jauh lebih mudah jika menggunakan G****e Form?

Lilia bisa langsung menerima keluhan, memilah prioritas, bahkan mendelegasikan pekerjaannya tanpa harus terlalu banyak bekerja.

Sayangnya, Sarah—yang kini berada dalam tubuh Aveline—hanyalah seorang akuntan di kehidupan sebelumnya. Bukan ilmuwan.

Terus… bagaimana caranya membuat G****e Form?

Bukankah lebih masuk akal jika membuat smartphone lebih dulu? Atau apa ada cara lain yang bisa digunakan sementara sambil menunggu g****e form selesai dikembangkan?

Apakah aku harus berpikir seperti pebisnis sekarang? Merekrut seseorang yang bisa melakukannya. Aku punya banyak uang sekarang. Investasi bukanlah hal yang sulit.

[Anda bisa membuat ponsel di dunia ini.]

Aveline membeku.

“Apa?”

“Bagaimana caranya?” tanyanya cepat.

Aveline tak sadar jika suaranya terdengar keluar. Ia tak lagi berbicara dalam hati.

Semua orang di kantin meliriknya.

Aveline sendiri memilih berdehem dan lanjut makan.

[Menggunakan batu sihir.]

Detik itu juga, Aveline teringat sesuatu.

Tiga tahun dari sekarang, negara tetangga akan berinovasi menciptakan batu komunikasi—alat yang bekerja seperti video call. Dan kunci dari penemuan itu adalah satu nama.

Miller Edser.

Mata Aveline langsung menangkap sosok Miller di sudut ruangan.

Miller Edser—rakyat biasa yang berhasil masuk akademi elit ini. Kecerdasannya tak diragukan. Selalu menjadi juara pertama. Haus akan ilmu pengetahuan.

Kutu buku sejati!

Entah bagaimana caranya, di masa depan, ia akan direkrut oleh negara tetangga dan menjadi ilmuwan utama mereka.

“Berarti…” gumam Aveline pelan,

“aku harus membuka klub baru di akademi ini untuk mendapatkan Miller Edser.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kehidupan Kelima Sang Antagonis   Bab 18 : Perjalanan Pertama (4)

    Xing-xing menoleh ke arah pak tua yang sejak tadi hanya diam di balik meja. Karena Xing-xing yang ditawari pekerjaan, ia tidak ingin ikut campur lebih jauh.Aveline mengikuti arah pandangnya, lalu tersenyum santai.“Tenang saja,” ucapnya ringan.“Pak tua juga bisa membantu.”Ia menyilangkan tangan di depan dada, terlihat begitu percaya diri.“Akan ada saatnya aku meminta rekomendasi novel romansa. Untuk hal seperti itu… sebaiknya kau yang memilih bukunya untukku.”Aveline menoleh sekilas ke arah pak tua.“Aku tidak terlalu menyukai seleranya,” lanjut Aveline setengah berbisik.Hening sesaat.Kemudian—Xing-xing dan Aveline tertawa bersamaan.Suasana toko yang tadinya kaku perlahan mencair.“Baiklah,” kata Xing-xing akhirnya, masih menyisakan senyum.“Aku setuju.”Namun matanya kembali menyipit, penuh rasa ingin tahu.“Tapi… bagaimana caramu menghidupkan tokoh dalam Bayangan Mata Duke?”Aveline mengangkat satu jari ke bibirnya.“Rahasia.”Kemudian, ia tersenyum tipis. Membayangkan usah

  • Kehidupan Kelima Sang Antagonis   Bab 17 : Perjalanan Pertama (3)

    Seni teater di kerajaan ini sebenarnya belum berkembang.Setidaknya… belum untuk dua tahun ke depan.Akan tetapi, Aveline tahu masa depan.Dalam kehidupan sebelumnya, Xing-xing—gadis kecil yang kini menjaga toko buku sederhana ini—akan menikah dengan seorang pedagang kaya. Bersama suaminya, ia menjadi sponsor utama pertunjukan teater adaptasi dari novel Bayangan Mata Duke.Pertunjukan itu meledak.Bukan hanya sukses—tetapi fenomenal.Xing-xing menjadi salah satu orang pertama yang Aveline cari untuk dijadikan koneksi di kehidupan lalu.Dan satu hal yang selalu berhasil memancing percakapan mereka adalah novel Bayangan Mata Duke.Xing-xing sangat mencintai novel itu."Apa maksudmu?" tanya Xing-xing tiba-tiba, matanya menyipit tajam."Apa kau benar-benar tahu apa yang baru saja kau bicarakan?"Ia menutup bukunya perlahan."Novel Bayangan Mata Duke adala

  • Kehidupan Kelima Sang Antagonis   Bab 16 : Perjalanan Pertama (2)

    Beberapa jam kemudian, Miller masih berusaha memproses semua ini.Sekarang ia benar-benar berada di dalam kereta kuda sihir yang melaju melewati perbatasan kerajaan. Pemandangan di luar jendela berubah perlahan—hutan, ladang, lalu desa-desa kecil yang belum pernah ia lihat sebelumnya.Aveline menahan tawa saat melihat ekspresi Miller.Pria itu terlihat seperti anak kecil yang baru pertama kali melihat dunia di luar rumahnya.Miller akhirnya menyadari tatapan itu. Ia segera memperbaiki posisi duduknya, meluruskan punggung dan merapikan pakaiannya seperti yang diajarkan dalam kelas tata krama."Jangan tertawa," gerutunya kesal.Aveline menutup mulutnya, pura-pura menyesal."Maaf… maaf."Namun mata birunya masih dipenuhi tawa."Tapi ekspresi wajahmu benar-benar lucu."Ia sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Miller dengan menggodanya."Matamu bahkan berbinar-binar."Kali ini Avel

  • Kehidupan Kelima Sang Antagonis   Bab 15 : Perjalanan Pertama

    Aveline berbalik untuk pergi, langkahnya cepat dan tegas.Di dalam kepalanya ia benar-benar reka adegan berkali-kali dimana ia menjulurkan jari tengah tepat di depan wajah Ashford dan Lucy.Namun, kepergiannya tentu saja tidak mulus seperti yang diharapkan. Kerumunan murid menghalangi jalan Aveline.Bisik-bisik terdengar di mana-mana. Banyak yang terlihat bahagia menikmati opera sabun ini.Aveline berhenti di depan para power rangers Lilia yang menghadang dengan tidak tahu malu. Bahunya menegang."Saya serius dengan pernyataan saya, Duke Muda," ucapnya dingin. Aveline pun kembali menoleh pada Ashford.Namun, Ashford bahkan tidak terlihat peduli.Tatapannya datar. Seolah ancaman Aveline hanyalah omong kosong yang tidak perlu ditanggapi.Para pengikut Ash dan Lilia langsung bergerak.Beberapa orang menarik lengan Aveline dengan kasar."Berani sekali kau berbicara seperti itu!""Berlututlah!"Tubuh Aveline didorong ke depan.Kesabarannya akhirnya habis.Dalam satu gerakan cepat, api meny

  • Kehidupan Kelima Sang Antagonis   Bab 14 : Drama Murahan

    “Apa yang Anda bicarakan? Nona Aveline hanya meminta saya menjadi guru privatnya.”Ash menatap Miller tajam, jelas tidak puas dengan jawaban itu. Alisnya sedikit berkerut, seolah masih ingin menggali lebih jauh.Namun sebelum ia sempat bertanya lagi, suara gaduh terdengar dari luar ruang klub.Ash langsung menoleh.Dari balik kerumunan siswa, terlihat siluet Lilia berdiri di tengah. Tanpa berpikir panjang, Ash segera berlari menghampiri.“Ada apa ini?”Suaranya yang menggelegar langsung membuat kerumunan mendadak sunyi.Di tengah kerumunan itu, Lilia berdiri berhadapan dengan Aveline.Lucy memegang lengan Lilia, seolah menahannya agar tidak jatuh. Wajah sang saintess terlihat pucat, matanya membesar ketakutan.Ash segera mendekat dan merengkuh Lilia ke dalam pelukannya.“Ada apa, Lili? Mengapa kau terlihat sangat ketakutan? Apa yang terjadi?”Dari sisi lain, Aveline memperhatikan mereka dengan saksama.Sial.Ia mengutuk dirinya sendiri dalam hati. Ia benar-benar lupa bahwa hari ini ad

  • Kehidupan Kelima Sang Antagonis   Bab 13 : Aku Secantik Ini

    Jujur saja Aveline agak mirip dengan Sarah.Sarah bisa terbilang seorang pekerja kantoran yang kompeten. Tiap tahun ia selalu mendapat kenaikan jabatan.Sebagai alumni dari kampus yang bahkan tidak terkenal, Sarah benar-benar mengharumkan almamaternya.Sarah sempat berpikir setidaknya dia bisa sedikit berbangga diri akan pencapaiannya bukan? Konsisten belajar dan bekerja hingga dini hari bukanlah hal yang mudah.Sebagai hasilnya, Sarah menjadi karyawan kesayangan. Semakin pandai Sarah, semakin besar tanggung jawab yang ditimpakan padanya.Pekerjaan menumpuk tanpa henti.Aveline pun mirip dengannya. Karakter antagonis satu ini konsisten melakukan hal-hal yang bisa membuatnya dekat dengan Ashford.Dekat dengan Ashford sama dengan memiliki skill yang menguntungkan kerajaan karena Ashford sendiri merupakan seorang pangeran.Karyawan yang cakap memang sering diperas paling keras.Perbedaannya Sarah dan Aveline hanya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status