Share

Bab 7

Author: Fortunata
last update Petsa ng paglalathala: 2026-01-19 23:00:34

Aveline pun mulai menjalankan rencananya.

Saat waktu makan siang tiba, Aveline membawa nampannya dan dengan santai duduk di kursi kosong di sebelah Miller.

Miller Edser yang tengah hanyut dalam pusaran buku tebalnya langsung mengerutkan kening. Wajahnya jelas menunjukkan tanda tidak suka.

Ia menutup buku dengan gerakan cepat, lalu mengangkat nampannya dan berniat pergi.

“Aku berniat merekrut orang sepintar dirimu,” ucap Aveline tanpa basa-basi.

“Kau butuh uang, bukan?”

Gerakan Miller terhenti.

Apa yang barusan dikatakan wanita yang tidak pernah berbicara denganku ini? – batin Miller.

Nampannya kembali diletakkan di atas meja, dan ia duduk perlahan, menatap Aveline dengan penuh kewaspadaan.

“Dari mana kau tahu aku membutuhkan uang?” tanyanya curiga.

Tentu saja dari novel. Dan dari empat kehidupan sebelumnya.

Cerita tentang penyakit ibumu yang bertambah parah di tahun ini bahkan tidak pernah berubah selama empat kehidupan.

“Tentu saja,” jawab Aveline tenang.

“Rakyat biasa yang bersekolah di sini semuanya penerima beasiswa. Hampir tak ada dari kalian yang bisa makan siang dengan layak setiap hari. Kau tidak ingin menambah uang jajanmu?”

Alasan itu terdengar masuk akal bagi Miller.

Miller mengendurkan sedikit kewaspadaannya.

“A… apa yang kau inginkan?”

“Satu hal yang pasti, aku tidak akan menerima tawaran apa pun jika kau berniat berbuat jahat pada Saintess Lilia.”

Aveline menggeleng pelan. “Aku tidak akan memintamu berbuat kriminal.”

“Aku baru saja mendirikan klub baru,” katanya.

“Klub karya ilmiah. Aku ingin kau bergabung. Dan aku ingin kau meneliti kemungkinan menciptakan teknologi… video call.”

Kening Miller berkerut.

“Video… apa?”

Aveline berdehem ringan. Sedikit panik karena salah ucap. Mana ada orang di dunia ini yang tahu istilah video call?

“Maksudku—teknologi yang memungkinkan aku menghubungimu dari jarak jauh tanpa surat,” jelasnya.

“Dan pada saat yang sama, aku juga bisa melihat wajahmu.”

Miller terdiam.

Ia menatap Aveline seolah mencoba memastikan apakah gadis di depannya ini serius atau hanya sedang menguji kesabarannya.

“A… apa yang akan kau lakukan jika aku tidak berhasil?” tanyanya pelan.

“Tentu kau harus berhasil,” jawab Aveline tanpa ragu.

“Aku yakin kau mampu. Nilaimu jauh di atas kami semua. Otakmu jelas jauh lebih cerdas dariku.”

Ia tersenyum tipis.

“Tidak ada salahnya, bukan, mempekerjakan orang cerdas?”

Aveline kemudian mencondongkan tubuh sedikit ke depan.

“Aku akan memberimu gaji dua puluh lima Els per bulan. Jika hasil kerjamu bagus, aku juga akan menyediakan fasilitas kesehatan—untukmu dan keluargamu.”

Miller membeku.

Dua puluh lima Els.

Jumlah itu setara dengan UMR pekerja istana. Dengan uang sebanyak itu, keluarga Edser bisa makan dengan layak, membeli pakaian yang pantas. Mereka bisa hidup selayaknya manusia.

“U… untuk keluargaku juga?” suara Miller nyaris bergetar.

“Tentu saja,” jawab Aveline tanpa ragu.

“Jika kau berhasil menemukan teknologi yang kumaksud dan mengikuti arahanku dengan baik, kau akan mendapatkan fasilitas kesehatan penuh.”

“Jika kau sakit, kau akan dirawat oleh dokter keluargaku. Orang tua dan adikmu juga. Bahkan suatu hari nanti, jika kau memiliki istri, ia pun akan mendapat fasilitas yang sama.”

Aveline berhenti sejenak.

“Ah, tapi jika adikmu yang menikah, fasilitas itu tidak berlaku untuk pasangan mereka. Semua ini adalah imbalan atas kerja kerasmu—untukmu dan keluarga intimu.”

“Jadi, kau harus bekerja sebaik mungkin untuk bisa hidup nyaman.”

Miller terdiam lama, tawaran Aveline sangatlah menggiurkan.

Miller juga tidak bisa merepotkan Saintess Lilia untuk mengobati ibunya. Banyak sekali jumlah penduduk dengan penyakit yang perlu segera ditangani. Keluarganya bisa dikucilkan karena dianggap memonopli Saintess Lilia.

Tapi tetap saja Miller tidak bisa percaya, semua yang baru saja ia dengar terlalu indah untuk menjadi kenyataan. Namun jauh di dalam dirinya, ia tahu Aveline sangat serius.

Aveline, yang mengetahui masa depan, tahu satu hal pasti.

Miller Edser mampu.

Dan ia akan memastikan semua sumber daya tersedia untuknya.

“Kau… Apa alasanmu memulai klub ini?” tanya Miller.

Miller masih belum bisa mempercayai Aveline.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Kehidupan Kelima Sang Antagonis   Bab 29 : Inspeksi (5)

    "Apakah benar-benar tidak ada cara lain?" gumam Aveline pelan, suaranya nyaris tenggelam di tengah suasana kacau ini.Dokter senior itu hanya menatapnya sekilas dan langsung membalikkan punggung. Ia sendiri juga tidak bisa berbuat apa-apa. Meski saintess bisa melakukan sesuatu, ia tak mungkin memaksa saintess, bisa-bisa saintess ambruk.Sang dokter kembali fokus pada pekerjaannya—mengobati yang bisa ia tangani sekarang, tangannya bergerak cepat menyiapkan alat-alat operasi tanpa jeda.Aveline menunduk.Dadanya kian perih.Sesak.Semakin lama terasa semakin sakit.Seberat inikah konsekuensi yang harus ia tanggung?Tapi... ini semua salah Ashford. Pria itu yang lebih dulu menghinanya.Lalu... kenapa?Kenapa tidak ada hukuman bagi pemeran utama yang jahat? Apakah karena dia pemeran utama maka dia bisa terampuni?Kenapa selalu villain yang harus menanggung semuanya?Bibir Aveline menegang.Rasa muak perlahan memenuhi dirinya.Ia bahkan mulai bertanya dalam hati—Kapan semua ini akan berak

  • Kehidupan Kelima Sang Antagonis   Bab 28 : Inspeksi (4)

    Aveline melangkah maju, mendekat ke arah tempat tidur.Ia menunduk, mengamati kondisi si pasien dari jarak yang lebih dekat. Semakin ia dekati, bau busuk semakin tercium jelas.Meski tidak memiliki pengetahuan medis, Aveline seolah bisa merasakannya.Kondisi ini... gawat.Sangat gawat."Saya mohon..." suara kecil itu bergetar. "Dilihat dari pakaian anda, anda pasti seorang nona bangsawan yang berkuasa. Saya mohon... selamatkan kakak saya...."Tangis anak itu pecah.Dan seolah menjadi pemicu, suara-suara lain mulai bermunculan."Tolong selamatkan ayah...""Tolong selamatkan suami saya! Dia penopang keluarga kami... kami tidak akan bisa hidup tanpa dia...""Kakakku dulu...""Ibu... ibuku dulu..."Mereka berlutut satu per satu, bahkan bersimpuh hingga kepala menyentuh lantai.Tangisan, harapan, putus asa—semuanya bercampur menjadi satu, menekan dada Aveline hingga sesak.Ia berdiri di tengah mereka.Tak berdaya."Baiklah... baiklah..." ucap Aveline akhirnya, mencoba menenangkan situasi,

  • Kehidupan Kelima Sang Antagonis   Bab 27 : Inspeksi (3)

    "Dari awal pun aku sudah mengerti. Kau tidak perlu menjelaskan padaku sedemikian rupa," ucap Ashford kesal.“Aku tahu kau pasti mengerti. Hanya saja penjelasanku tertuju pada Duvon bodoh itu!” gerutu Aveline dalam hati, menahan keinginan untuk menyemburkan kalimatnya."Baiklah, kalau mengerti, mari kita mulai," ujar Aveline singkat.Ash dan Duvon pun mengambil kertas dari tangan Aveline.“Tetap saja akan lebih mudah jika memiliki spreadsheet yang bisa diedit bersama,” gerutu Aveline-lagi.Namun, Aveline hanya bisa menghembuskan nafas kasar dan mulai bekerja.Tak butuh lama, mereka bertiga tenggelam dalam pekerjaan.Namun di sisi lain, Ashford masih seperti anak kecil yang girang karena menemukan hal baru. Tangannya bergerak mengisi data, tapi pikirannya melayang.Semudah ini?Ia mulai bertanya-tanya.Apakah sebenarnya Aveline ini... jenius?Atau setidaknya, jauh lebih cerdas

  • Kehidupan Kelima Sang Antagonis   Bab 26 : Inspeksi (2)

    Ashford terdiam sejenak. Tak lama kemudian, senyumnya berubah sumringah."Itu merupakan ide brilian..." ucap Ash penuh kekaguman.Ewh... Itu standar! Pengetahuan umum! Bukan brilian!Aveline hanya tertawa kecil, canggung. Ia mengalihkan pandangannya, tidak ingin menanggapi lebih jauh pujian yang menurutnya berlebihan itu.Tanpa berlama-lama, mereka pun mencari kepala desa.Langkah kaki mereka menyusuri area desa yang sedikit berdebu, dengan beberapa warga yang sesekali melirik berharap mendapat penanganan segera. Dari jauh, terlihat seorang pria tua yang sedang duduk dengan santai sambil berkipas dengan kertas.Begitu menemukan orang yang dicari, Aveline langsung menjelaskan maksud dan rencananya.Namun, reaksi yang ia terima jauh dari yang diharapkan.Wajah kepala desa itu langsung terlihat lesu."...sepertinya tidak perlu sampai seperti itu, Nona," ucapnya meremehkan, "Nama-nama ini benar-benar hanya sedikit. Tidak akan memakan waktu lama untuk mengerjakannya. Saya yakin sekali akan

  • Kehidupan Kelima Sang Antagonis   Bab 25 : Inspeksi

    Hidup sebagai Aveline membuat Sarah terbiasa dengan perang.Darah dan mayat bukanlah sesuatu yang membuatnya ngeri lagi.Hanya saja, kali ini—Korban berjatuhan… karena keputusan yang ia ambil.Dada Aveline terasa sesak.[ Apa rencanamu? Apa kau sudah memikirkan cara untuk membunuh saintess Lilia? ]Messanger lagi-lagi muncul. Aveline yang mengamati sekitar langsung terasa buyar."Kau lagi. Diamlah!" batin Aveline.Aveline pun mendengus kesal dan lagi-lagi disaksikan oleh orang-orang disekitarnya."Ahhh... salah lagi gue..." batin Aveline.Namun, ya sudah lah! Apa yang perlu dipusingkan? Bukankah Aveline memang karakter antagonis di dunia ini?Kali ini, Aveline menghela nafas lebih panjang.“Jika kau tidak suka berada di sini, kau bisa pulang.”Suara dingin itu datang tiba-tiba.Ashford sudah berdiri di hadapannya.Aveline menatapnya malas.

  • Kehidupan Kelima Sang Antagonis   Bab 24 : Semua ini salahmu (4)

    “HEH?! Kalau saja kau menuruti perintahku kemarin, kencanmu tidak akan terganggu. Semua ini salahmu sendiri, dasar bodoh!” teriak Aveline dalam hati.Namun pada kenyataannya—Aveline hanya tersenyum tipis.Ia membuka mulut, siap menyusun kalimat penolakan yang sopan serta diplomatis.Sayangnya—“Aku tidak menerima penolakan, nona.”Rick langsung memotongnya.Tatapannya dingin, penuh tekanan. Pria itu tahu Aveline pasti tidak akan setuju dengan mudah.“Kau bisa mengancam stabilitas kerajaan jika terus menolak perintahku. Seperti yang kusebutkan tadi, ini bukan hukuman dalam arti sebenarnya. Kau tidak perlu membantu jika tidak ingin… cukup hadir dan menyimak.”Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan.“Intinya, kau hanya perlu ada di sana.”Ada?Aku ini apa—dekorasi?Jika tidak perlu melakukan apapun, bukan

  • Kehidupan Kelima Sang Antagonis   Bab 15 : Perjalanan Pertama

    Aveline berbalik untuk pergi, langkahnya cepat dan tegas.Di dalam kepalanya ia benar-benar reka adegan berkali-kali dimana ia menjulurkan jari tengah tepat di depan wajah Ashford dan Lucy.Namun, kepergiannya tentu saja tidak mulus seperti yang diharapkan. Kerumunan murid menghalangi jalan Aveline

  • Kehidupan Kelima Sang Antagonis   Bab 13 : Aku Secantik Ini

    Jujur saja Aveline agak mirip dengan Sarah.Sarah bisa terbilang seorang pekerja kantoran yang kompeten. Tiap tahun ia selalu mendapat kenaikan jabatan.Sebagai alumni dari kampus yang bahkan tidak terkenal, Sarah benar-benar mengharumkan almamaternya.Sarah sempat berpikir s

  • Kehidupan Kelima Sang Antagonis   Bab 12 : Kekuatan Apa Ini? (2)

    Aveline mendekati pria itu perlahan.Langkahnya terasa berat."Jika aku datang lebih cepat… apakah pria ini akan selamat?" gumamnya lirih. "Apa kali ini aku memang harus mengabdikan seluruh hidupku di medan perang tanpa harus kembali?"Ia segera menggeleng keras, menepis pikiran bodoh itu sebelum s

  • Kehidupan Kelima Sang Antagonis   Bab 11 : Kekuatan Apa ini?

    Keluargaku mungkin tak akan peduli jika aku terbunuh.Pembawa masalah dalam keluarga telah tiada. Bukankah itu justru kabar baik bagi mereka? – batin Aveline.Bibir Aveline terangkat tipis.“Kau terdengar sangat yakin bisa mengalahkanku,” ucapnya sinis pada Nora. “Padahal… kau belum pernah menang d

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status