MasukAveline pun mulai menjalankan rencananya.
Saat waktu makan siang tiba, Aveline membawa nampannya dan dengan santai duduk di kursi kosong di sebelah Miller.
Miller Edser yang tengah hanyut dalam pusaran buku tebalnya langsung mengerutkan kening. Wajahnya jelas menunjukkan tanda tidak suka.
Ia menutup buku dengan gerakan cepat, lalu mengangkat nampannya dan berniat pergi.
“Aku berniat merekrut orang sepintar dirimu,” ucap Aveline tanpa basa-basi.
“Kau butuh uang, bukan?”Gerakan Miller terhenti.
Apa yang barusan dikatakan wanita yang tidak pernah berbicara denganku ini? – batin Miller.
Nampannya kembali diletakkan di atas meja, dan ia duduk perlahan, menatap Aveline dengan penuh kewaspadaan.
“Dari mana kau tahu aku membutuhkan uang?” tanyanya curiga.
Tentu saja dari novel. Dan dari empat kehidupan sebelumnya.
Cerita tentang penyakit ibumu yang bertambah parah di tahun ini bahkan tidak pernah berubah selama empat kehidupan.“Tentu saja,” jawab Aveline tenang.
“Rakyat biasa yang bersekolah di sini semuanya penerima beasiswa. Hampir tak ada dari kalian yang bisa makan siang dengan layak setiap hari. Kau tidak ingin menambah uang jajanmu?”Alasan itu terdengar masuk akal bagi Miller.
Miller mengendurkan sedikit kewaspadaannya.
“A… apa yang kau inginkan?”
“Satu hal yang pasti, aku tidak akan menerima tawaran apa pun jika kau berniat berbuat jahat pada Saintess Lilia.”Aveline menggeleng pelan. “Aku tidak akan memintamu berbuat kriminal.”
“Aku baru saja mendirikan klub baru,” katanya.
“Klub karya ilmiah. Aku ingin kau bergabung. Dan aku ingin kau meneliti kemungkinan menciptakan teknologi… video call.”Kening Miller berkerut.
“Video… apa?”Aveline berdehem ringan. Sedikit panik karena salah ucap. Mana ada orang di dunia ini yang tahu istilah video call?
“Maksudku—teknologi yang memungkinkan aku menghubungimu dari jarak jauh tanpa surat,” jelasnya.
“Dan pada saat yang sama, aku juga bisa melihat wajahmu.”Miller terdiam.
Ia menatap Aveline seolah mencoba memastikan apakah gadis di depannya ini serius atau hanya sedang menguji kesabarannya.“A… apa yang akan kau lakukan jika aku tidak berhasil?” tanyanya pelan.
“Tentu kau harus berhasil,” jawab Aveline tanpa ragu.
“Aku yakin kau mampu. Nilaimu jauh di atas kami semua. Otakmu jelas jauh lebih cerdas dariku.”Ia tersenyum tipis.
“Tidak ada salahnya, bukan, mempekerjakan orang cerdas?”
Aveline kemudian mencondongkan tubuh sedikit ke depan.
“Aku akan memberimu gaji dua puluh lima Els per bulan. Jika hasil kerjamu bagus, aku juga akan menyediakan fasilitas kesehatan—untukmu dan keluargamu.”
Miller membeku.
Dua puluh lima Els.
Jumlah itu setara dengan UMR pekerja istana. Dengan uang sebanyak itu, keluarga Edser bisa makan dengan layak, membeli pakaian yang pantas. Mereka bisa hidup selayaknya manusia.“U… untuk keluargaku juga?” suara Miller nyaris bergetar.
“Tentu saja,” jawab Aveline tanpa ragu.
“Jika kau berhasil menemukan teknologi yang kumaksud dan mengikuti arahanku dengan baik, kau akan mendapatkan fasilitas kesehatan penuh.”“Jika kau sakit, kau akan dirawat oleh dokter keluargaku. Orang tua dan adikmu juga. Bahkan suatu hari nanti, jika kau memiliki istri, ia pun akan mendapat fasilitas yang sama.”
Aveline berhenti sejenak.
“Ah, tapi jika adikmu yang menikah, fasilitas itu tidak berlaku untuk pasangan mereka. Semua ini adalah imbalan atas kerja kerasmu—untukmu dan keluarga intimu.”
“Jadi, kau harus bekerja sebaik mungkin untuk bisa hidup nyaman.”
Miller terdiam lama, tawaran Aveline sangatlah menggiurkan.
Miller juga tidak bisa merepotkan Saintess Lilia untuk mengobati ibunya. Banyak sekali jumlah penduduk dengan penyakit yang perlu segera ditangani. Keluarganya bisa dikucilkan karena dianggap memonopli Saintess Lilia.
Tapi tetap saja Miller tidak bisa percaya, semua yang baru saja ia dengar terlalu indah untuk menjadi kenyataan. Namun jauh di dalam dirinya, ia tahu Aveline sangat serius.
Aveline, yang mengetahui masa depan, tahu satu hal pasti.
Miller Edser mampu.
Dan ia akan memastikan semua sumber daya tersedia untuknya.“Kau… Apa alasanmu memulai klub ini?” tanya Miller.
Miller masih belum bisa mempercayai Aveline.
Xing-xing menoleh ke arah pak tua yang sejak tadi hanya diam di balik meja. Karena Xing-xing yang ditawari pekerjaan, ia tidak ingin ikut campur lebih jauh.Aveline mengikuti arah pandangnya, lalu tersenyum santai.“Tenang saja,” ucapnya ringan.“Pak tua juga bisa membantu.”Ia menyilangkan tangan di depan dada, terlihat begitu percaya diri.“Akan ada saatnya aku meminta rekomendasi novel romansa. Untuk hal seperti itu… sebaiknya kau yang memilih bukunya untukku.”Aveline menoleh sekilas ke arah pak tua.“Aku tidak terlalu menyukai seleranya,” lanjut Aveline setengah berbisik.Hening sesaat.Kemudian—Xing-xing dan Aveline tertawa bersamaan.Suasana toko yang tadinya kaku perlahan mencair.“Baiklah,” kata Xing-xing akhirnya, masih menyisakan senyum.“Aku setuju.”Namun matanya kembali menyipit, penuh rasa ingin tahu.“Tapi… bagaimana caramu menghidupkan tokoh dalam Bayangan Mata Duke?”Aveline mengangkat satu jari ke bibirnya.“Rahasia.”Kemudian, ia tersenyum tipis. Membayangkan usah
Seni teater di kerajaan ini sebenarnya belum berkembang.Setidaknya… belum untuk dua tahun ke depan.Akan tetapi, Aveline tahu masa depan.Dalam kehidupan sebelumnya, Xing-xing—gadis kecil yang kini menjaga toko buku sederhana ini—akan menikah dengan seorang pedagang kaya. Bersama suaminya, ia menjadi sponsor utama pertunjukan teater adaptasi dari novel Bayangan Mata Duke.Pertunjukan itu meledak.Bukan hanya sukses—tetapi fenomenal.Xing-xing menjadi salah satu orang pertama yang Aveline cari untuk dijadikan koneksi di kehidupan lalu.Dan satu hal yang selalu berhasil memancing percakapan mereka adalah novel Bayangan Mata Duke.Xing-xing sangat mencintai novel itu."Apa maksudmu?" tanya Xing-xing tiba-tiba, matanya menyipit tajam."Apa kau benar-benar tahu apa yang baru saja kau bicarakan?"Ia menutup bukunya perlahan."Novel Bayangan Mata Duke adala
Beberapa jam kemudian, Miller masih berusaha memproses semua ini.Sekarang ia benar-benar berada di dalam kereta kuda sihir yang melaju melewati perbatasan kerajaan. Pemandangan di luar jendela berubah perlahan—hutan, ladang, lalu desa-desa kecil yang belum pernah ia lihat sebelumnya.Aveline menahan tawa saat melihat ekspresi Miller.Pria itu terlihat seperti anak kecil yang baru pertama kali melihat dunia di luar rumahnya.Miller akhirnya menyadari tatapan itu. Ia segera memperbaiki posisi duduknya, meluruskan punggung dan merapikan pakaiannya seperti yang diajarkan dalam kelas tata krama."Jangan tertawa," gerutunya kesal.Aveline menutup mulutnya, pura-pura menyesal."Maaf… maaf."Namun mata birunya masih dipenuhi tawa."Tapi ekspresi wajahmu benar-benar lucu."Ia sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Miller dengan menggodanya."Matamu bahkan berbinar-binar."Kali ini Avel
Aveline berbalik untuk pergi, langkahnya cepat dan tegas.Di dalam kepalanya ia benar-benar reka adegan berkali-kali dimana ia menjulurkan jari tengah tepat di depan wajah Ashford dan Lucy.Namun, kepergiannya tentu saja tidak mulus seperti yang diharapkan. Kerumunan murid menghalangi jalan Aveline.Bisik-bisik terdengar di mana-mana. Banyak yang terlihat bahagia menikmati opera sabun ini.Aveline berhenti di depan para power rangers Lilia yang menghadang dengan tidak tahu malu. Bahunya menegang."Saya serius dengan pernyataan saya, Duke Muda," ucapnya dingin. Aveline pun kembali menoleh pada Ashford.Namun, Ashford bahkan tidak terlihat peduli.Tatapannya datar. Seolah ancaman Aveline hanyalah omong kosong yang tidak perlu ditanggapi.Para pengikut Ash dan Lilia langsung bergerak.Beberapa orang menarik lengan Aveline dengan kasar."Berani sekali kau berbicara seperti itu!""Berlututlah!"Tubuh Aveline didorong ke depan.Kesabarannya akhirnya habis.Dalam satu gerakan cepat, api meny
“Apa yang Anda bicarakan? Nona Aveline hanya meminta saya menjadi guru privatnya.”Ash menatap Miller tajam, jelas tidak puas dengan jawaban itu. Alisnya sedikit berkerut, seolah masih ingin menggali lebih jauh.Namun sebelum ia sempat bertanya lagi, suara gaduh terdengar dari luar ruang klub.Ash langsung menoleh.Dari balik kerumunan siswa, terlihat siluet Lilia berdiri di tengah. Tanpa berpikir panjang, Ash segera berlari menghampiri.“Ada apa ini?”Suaranya yang menggelegar langsung membuat kerumunan mendadak sunyi.Di tengah kerumunan itu, Lilia berdiri berhadapan dengan Aveline.Lucy memegang lengan Lilia, seolah menahannya agar tidak jatuh. Wajah sang saintess terlihat pucat, matanya membesar ketakutan.Ash segera mendekat dan merengkuh Lilia ke dalam pelukannya.“Ada apa, Lili? Mengapa kau terlihat sangat ketakutan? Apa yang terjadi?”Dari sisi lain, Aveline memperhatikan mereka dengan saksama.Sial.Ia mengutuk dirinya sendiri dalam hati. Ia benar-benar lupa bahwa hari ini ad
Jujur saja Aveline agak mirip dengan Sarah.Sarah bisa terbilang seorang pekerja kantoran yang kompeten. Tiap tahun ia selalu mendapat kenaikan jabatan.Sebagai alumni dari kampus yang bahkan tidak terkenal, Sarah benar-benar mengharumkan almamaternya.Sarah sempat berpikir setidaknya dia bisa sedikit berbangga diri akan pencapaiannya bukan? Konsisten belajar dan bekerja hingga dini hari bukanlah hal yang mudah.Sebagai hasilnya, Sarah menjadi karyawan kesayangan. Semakin pandai Sarah, semakin besar tanggung jawab yang ditimpakan padanya.Pekerjaan menumpuk tanpa henti.Aveline pun mirip dengannya. Karakter antagonis satu ini konsisten melakukan hal-hal yang bisa membuatnya dekat dengan Ashford.Dekat dengan Ashford sama dengan memiliki skill yang menguntungkan kerajaan karena Ashford sendiri merupakan seorang pangeran.Karyawan yang cakap memang sering diperas paling keras.Perbedaannya Sarah dan Aveline hanya







